Saturday, January 30, 2016

Pak Jokowi, Tolong Jangan Jadikan Kang Emil Sebagai Pemimpin Jakarta


Kabar kabur dan isu tentang Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil akan mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta mulai merebak. Atas dukungan PKS, suami Atalia Praratya ini dikabarkan akan menjadi salah satu bakal calon dalam Pilkada Jakarta.

Kang Emil seorang arsitek yang amat pandai mengatur tata kota memang telah terlihat hasil kerja baiknya. Beliau yang kini menjabat sebagai Walikota Bandung memang tampak sebagai pemimpin idaman. Lihat saja kota kembang yang saat ini semakin cantik berkat sentuhan perangkat kota yang menjadi tim kerjanya, serta hasil pemikirannya. Bandung menjadi lebih nyaman, tertata rapi, serta semakin menarik untuk disinggahi.

Program kerja yang Kang Emil susun untuk seluruh warganya juga tidak main-main. Dalam satu minggu ada hari yang dia khususkan untuk semuanya menggunakan bahasa Inggris. Ada juga hari khusus untuk bersepeda atau bike to work, dan hari-hari lainnya yang telah ia susun prgramnya sendiri-sendiri.

Terlihat jelas bagaimana Kang Emil menunaikan amanat negara ini dengan penuh kecintaan, hingga kini menghasilkan Bandung sebagai kota yang elok nan rupawan.

Sosok pribadi seorang Ridwan Kamil juga sangat dielu-elukan masyarakat, bukan hanya warga Bandung saja, tetapi di luar kota tersebut juga demikian, termasuk saya seorang penduduk Jakarta.

Sosok pemimpin yang humble, merakyat, rendah hati dan mampu masuk ke berbagai kalangan masyarakat ada dalam diri Kang Emil. Rasanya apa-apa saja yang beliau dan Ibu Wali lakukan, bukanlah sebuah pencitraan atau mencari perhatian. Kesannya memang demikian, Pak Walikota Bandung yang memang senang bermain air di aliran sungai kecil hasil sulapan tata kotanya. Selain itu terlihat juga beliau sebagai laki-laki penyuka aktivitas ekstrim, yakni ayunan di sebuah taman di Kota Bandung yang juga hasil buatannya.

Kang Emil adalah sosok pribadi yang tegas, berkarakter, bisa kerja, namun rendah hati. Bangsa Indonesia patut berbangga hati memiliki pria seperti Kang Emil, ia mampu memberikan aksi kerja dengan hasil yang nyata, dilengkapi dengan perangai humble yang luar biasa, serta dukungan ilmu dan wawasan yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya.

Kang Emil tak hanya pandai berkata-kata tapi juga membuat nyata semua hasil kerjanya. Pak Jokowi, berbanggalah masih ada Kang Emil di Indonesia.

Terkait uraian diatas, hendaknya Pak Presiden mampu melihat penyebaran orang baik di negeri ini. Dimana Indonesia amat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang nyaris lengkap kebaikannya seperti Ridwan Kamil.

Di Jakarta sudah ada Pak Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok yang juga terlihat hasil kerja cerdasnya. Dan tentu banyak calon-calon pemimpin lainnya yang bisa membangun Jakarta sekaligus menyelesaikan semua problematikanya.

Perbaikan tata kota dan pembangunan tanah air dibutuhkan oleh seluruh kota-kita di Indonesia, dan tentunya kita sebagai warga negara menginginkan terjadinya pembangunan yang adil dan merata, tidak hanya berpusat di beberapa kota besar saja.

Alangkah eloknya jika orang-orang seperti Kang Emil dan Pak Ahok terus menyebar ke seluruh penjuru negeri. Sehingga pembangunan terus bangkit dari setiap lini provinsi. Sehingga semuanya merata, karena orang pintarnya Indonesia ada di mana-mana, alias tidak dikumpulkan di Jakarta saja.

Pembangunan yang merata akan membawa dampak kebangkitan ekonomi yang juga merata. Ke depannya bangsa Indonesia bisa lebih makmur jaya dan senantiasa mampu menghadapi berbagai permasalahan kota yang ada. Karena apa? Orang pintarnya menyebar, tidak di satu titik saja.

Kang Emil dan Ibu Atalia atau Ibu Cinta, kini Bandung sedang lucu-lucunya, sedang cantik-cantiknya dan sedang bangkit-bangkitnya. Semua adalah berkat Anda berdua. Bangunlah Bandung seutuhnya bahkan Jawa Barat seluas-luasnya, untuk mencapai citra Indonesia yang rupawan berkat Bandung yang menawan.

Pak Presiden, Kang Emil ini adalah salah satu contoh pemimpin bangsa yang tak perlu diragukan lagi hasil kerjanya. Salah satu buktinya ialah betapa masyarakat Bandung amat mencintai dirinya. Karena apa? Kang Emil bisa kerja.

Jika boleh usul, sebaiknya orang-orang seperti ini disebar ke kota-kota lain di Indonesia yang belum cukup maju. Agar ia menjadi pemimpin disana dan memajukan tanah Indonesia.

Jadi, Indonesia bisa maju secara keseluruhan, bukan hanya beberapa kotanya saja yang membiarkan kota tertinggal jalan perlahan tanpa ada tenaga rupawan yang mampu membangkitkan.

Note : Tapi kalo Kang Emil mau jadi salah satu bakal calon Gubernur Jakarta ya boleh aja... sok, mangga Kang ^^

(dnu, ditulis sambil makan burger ikan, 30 Januari 2016, 15.31 WIB)

Friday, January 29, 2016

Welcome to the real life!

Selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya!

Ketika kamu berbuat tak lucu tapi ada yang menertawakan.
Ketika kamu berbuat baik tapi ada yang nyinyir dibilang cari perhatian.
Ketika kamu berjalan lancar tapi ada yang curiga kamu punya pintu kemana saja miliknya Doraemon.
Ketika kamu bekerja keras tapi ada yang menatap santai dan menganggap kamu berlebihan.
Ketika kamu berkiblat pada yang baik tapi kamu malah dikucilkan.
Ketika kamu meniru yang mulia tapi ada yang bilang justru kamu sesat adanya.

Ketika kamu mencintai tapi yang dicintai hanya berkata terima kasih dan berlalu pergi.
Ketika kamu tak bisa melupakan yang terkasih tapi ternyata dirimu sudah bersih sejak lama dan tak lagi berbekas di hatinya.
Ketika kamu lemah lunglai hampir mati karena mental yang rusak akibat satu orang mantan.
Ketika kamu menutup seluruh pintu hatimu karena hanya ingin kau buka untuk dia yang justru tak ingin masuk kembali.
Ketika kamu mencoba bahagia tapi ada yang berkata kamu hanya berpura-pura.
Ketika kamu berusaha menebar energi positif tapi ada yang berkata kamu hanya sedang menebar pesona.

Dan ketika semua itu terjadi maka hanya satu yang perlu kamu lakukan, yakni tetap berdiri di pintumu, berjalanlah maju tanpa ragu, dan biarkan yang terbaik memasuki hatimu lalu kamu kembali pulang dan menutup pintu itu bersamanya.

Salam cinta ^^

(dnu, ditulis sambil makan permen asem ala jaman baheula, 30 Januari 2016, 09.47 WIB)
 
 

Sunday, January 24, 2016

Mengapa Tak Ada Kesedihan Di Wajah Jessica?



Kasus kematian Mirna usai menikmati secangkir kopi kini tengah hangat-hangatnya menjadi perbincangan publik. Hingga kini pihak kepolisian belum juga mengumumkan siapa tersangka dalam kasus kematian perempuan cantik ini.

Tiga perempuan muda yang dikabarkan mereka berteman, kini telah kehilangan satu sahabat terkasihnya yakni Mirna. Hal ini terjadi saat pertemuan antar 3 sahabat cantik, yakni Mirna, Jessica dan Hanny.

Mirna yang datang bersama Hanny, menikmati secangkir kopi di sebuah kafe yang berada di salah satu mall terbesar di Ibu kota. Seluruh masyarakat telah mengetahui pemberitaan ini, dimana kopi yang telah merenggut nyawa Mirna adalah dipesan oleh temannya, Jessica, yang telah datang lebih dulu di kafe tersebut. Atas rantai cerita yang seperti ini, wajar saja jika Jessica banyak dimintakan keterangan baik oleh pihak kepolisian maupun oleh para kuli tinta atau wartawan. Jessica dan Hanny pun kerap menjalani aksi rekonstruksi yang dibutuhkan oleh penyidik demi memperjelas uraian kisah hingga melayangnya nyawa sahabat mereka.

Berkali-kali Jessica muncul di layar kaca guna memberikan keterangan kepada publik, berkali-kali itu pula terlihat keanehan di wajah cantiknya, yakni mengapa tak nampak sedikitpun kesedihan di wajahnya, dimana ia baru saja kehilangan sahabatnya?

Jessica justru nampak begitu tenang setiap kali menceritakan kejadian yang menghebohkan itu. Bisa jadi wajah tenangnya memang sebagai ungkapan “saya berani karena benar”. Karena sesuai dengan apa yang diceritakannya bahwa kecurigaan yang mengarah pada dirinya adalah tidak benar. Seperti kita ketahui bersama bahwa berbagai pihak membutuhkan banyak keterangan dari dirinya dikarenakan dialah yang memesan kopi yang diminum Mirna.

Mengapa Jessica terlihat sangat tenang? Berbagai pertanyaan dari wartawan ia jawab dengan begitu lugasnya. Kalaupun ia memang benar tak bersalah sehingga ia merasa tidak perlu takut, tetap saja cukup aneh jika Jessica tak merasa sedih atas kepergian Mirna untuk selamanya.

Rasa sedih maupun kehilangan tak terlihat sedikitpun di wajah Jessica. Mengapa demikian?? Bukahkan mereka bertiga bersahabat? Satu sahabatnya meninggal dunia dan ia begitu santai nan gemulai? Entalah.

Kita memang harus tetap menjunjung tinggi prasangka tak bersalah terhadap Jessica. Sehingga bisa saja hal ini merupakan bentuk kekuatan Jessica untuk tidak menampakkan kepada khalayak ramai akan kesedihannya. Bisa jadi.

Jessica begitu lugas menyampaikan urut-urutan kejadian segelas kopi yang berhasil merenggut nyawa temannya, tak ada mimik sedih sedikitpun setiap kali ia bercerita. Dengan penuh kekuatan yang cenderung santai Jessica sigap menjawab setiap pertanyaan dari wartawan, lengkap dengan tebaran senyum manisnya.

Jessica dan Mirna bersahabat kan? Sahabatnya meninggal di depan mata dan tak bersedih? Aneh.

(dnu, ditulis usai menonton tayangan pemberitaan kematian Mirna, 24 Januari 2015, 19.56 WIB)

Saturday, January 23, 2016

Cerita yang Ditulis Tuhan Selalu Happy Ending

Nah, bersabarlah, karena Allah SWT adalah sebaik-baik penulis skenario kehidupan kita. Dia adalah Sang Maha Sutradara.

Kita sebagai makhluknya hanya bertugas menjalankan semua yang telah digariskan sesuai perannya masing-masing.

Setiap kisah yang dibuatNya pasti berakhir dengan baik. Jika tak baik, percayalah, cerita belum selesai dan perjalanan masih amat panjang.

Jangan berhenti di satu titik lalu kita bergegas membuat sebuah kesimpulan. Teruslah menatap jauh ke depan. Karena dalam kegelapan kita pasti menemukan setitik cahaya sebagai penuntun perjalanan.

Berfikirlah positif.
Bangunlah energi kehidupan yang positif.
Selalu berprasangka baik, niscaya semua yang baik-baik akan hadir dan menghampiri. Bukan hanya sekedar mampir tapi menetap dan bersarang lalu menjelma menjadi kasih sayang yang akan selalu menjadi bayang-bayang.

Karena bayangan selalu mengikuti kemanapun kita pergi.

(dnu, ditulis sambil pusing setengah mabok karena sakit kepala tak jua sirna, 21 Januari 2016, 08.26 WIB)


Sunday, January 17, 2016

Teruntuk yang Berpura-pura Bahagia

Bahagia memang telah menjadi jawaban klise dari banyak orang saat ditanya ; apa yang kau cari di dunia ini? Tak sedikit yang menjawab ; kebahagiaan. Begitu juga jika ditanya ; apa cita-cita mu? Kadang kala seseorang menjawab ; saya ingin bahagia di dunia maupun di akherat.

Apa sebenarnya makna bahagia itu? Ada yang bilang ; bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat fotomu saja aku sudah bahagia. Ada lagi jawaban ekstrim sepasang insan yang terpisah oleh kenyataan ; aku bahagia jika kau bahagia. Masih ada lagi yang berkata ; aku adalah pecinta senja, walaupun aku sendiri namun aku telah bahagia walau dengan memandang senja saja.

Mengapa begitu banyak manusia yang seolah-olah bahagia namun sebenarnya bisa dikatakan tidak? Siapa sebenarnya penjual kebahagiaan itu? Tidakkah kamu lelah berpura-pura bahagia? Terus menebar senyum yang padahal hatimu menangis? Menguatkan lisan berkata “i’m okay...” yang padahal hatimu tergerus?

Ada pendapat yang mengatakan bahwa berpura-pura bahagia sesungguhnya membutuhkan energi yang tidak sedikit. Bagaimana seseorang diminta untuk memberikan bahasa tubuh yang santai walau dalam sedih, dan bagaimana seseorang dipaksa untuk banyak tertawa agar menunjukkan dirinya benar-benar bahagia.

Saya sudah move on... sesungguhnya orang yang berkata demikian adalah belum move on yang sebenar-benarnya. Adakah orang baik berkata “saya itu orang baik.....” ?

Karena sesungguhnya predikat diri tidak ditunjukkan dari ucapan namun dari perbuatan dan segala yang tercermin dalam keseharian.

Untukmu yang berpura-pura bahagia,

Menangis itu tidak haram. Menangis itu diperbolehkan.
Menangis itu bukan cengeng, dan menangis itu bukan berarti tak kuat.

Tapi menangis adalah tumpahan segala kekuatan yang terpendam, namun tidak dalam bentuk kata-kata melainkan air mata. Menangislah untuk melegakan dan menangislah untk sebuah kemenangan.

Selesai kamu menangis maka kekuatan sebagai sumber kebahagiaan yang sesungguhnya pasti akan datang.

(dnu, ditulis karena terinspirasi komennya boss widodo pujakesuma, 18 Januari 2015, 12.52 WIB)

Friday, January 15, 2016

Jaga Batasan #kamitidaktakut Agar Tidak Takabur

Kejadian teror bom di Sarinah, Jakarta yang terjadi pada Kamis (14/1) lalu berhasil melahirkan berbagai istilah dan fokus baru di dunia maya. Mulai dari membahas polisi yang rupawan, sepatu yang digunakan sang teroris hingga lahirlah hastag #kamitidaktakut. Hastag ini dimaksudkan agar seluruh warga DKI Jakarta khususnya dan warga negera Indonesia pada umumnya tidak takut dalam menghadapi berbagai teror macam apapun.

Kejadian yang mengerikan ini telah berhasil diamankan oleh jajaran kepolisian, tentara dan berbagai petinggi negara ini hanya dalam waktu hitungan jam saja. Jakarta kembali tenang namun tetap perlu tingkat kewaspadaan yang tinggi. Berkat kerjasama yang baik antar berbagai pihak maka kondisi Ibukota negara yang sempat memanas cepat kembali pulih walau police line masih terpasang di sejumlah titik kejadian.

Atas kejadian ini ada hal kecil yang ingin saya soroti yakni mengenai hastag #kamitidaktakut. Kalimat ini memang terdengar sangat optimis, berani, siap perang melawan teroris, bahkan siap sedia menyelamatkan bumi Indonesia dari siapa saja yang berani menyerangnya. Tapi disisi lain saya melihat masih ada konotasi yang negatif dari hastag ini jika diucapkan dan disebarkan terlalu berlebihan.

Jika hastag #kamitidaktakut dituangkan dalam sebuah spanduk berukuran besar, diucapkan sambil berteriak bersama-sama, mengusung spanduk tinggi-tinggi dan perbuatan mengelu-elukan lainnya, menurut saya ini bisa nyaris berlebihan.

Hati-hati, jangan terlalu berani mengucapkan ini, jangan terlalu gembira mengucapkan “kami tidak takut”, karena hal ini terkesan menantang. Kita menantang teroris datang lagi, kita menantang keadaan yang mencekam untuk muncul kembali, bahkan bisa dibilang kita menantang keadaan. Hati-hati, ini bisa menjurus pada takabur.

Bukan berarti tidak setuju untuk diungkapkan dan disebarkan kemana-mana, hanya bermaksud mengingatkan satu sama lain agar tetap menjaga pada porsinya agar tidak terkesan menantang, sombong, hingga nyaris takabur.

Kita berani karena kita memang tidak takut, tapi kita juga tetap perlu waspada. Jaga hati, jaga ucapan dan jaga batasan.
 
Love all of you!

#DNU

Friday, January 8, 2016

Anak Presiden Tak Harus Jadi Ahli Politik

Putra sulung Presiden Joko Widodo ini memang beda dengan para keturunan Presiden lainnya. Sebut saja Edhi Baskoro atau yang akrab disapa Ibas, dimana ia mengikuti benar jejak ayahnya yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk terjun dan bergulat bebas dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Lalu saudara kandungnya, Agus, yang juga menurunkan jejak tentara ayahnya, SBY.

Contoh lainnya ialah Puan Maharani yang tak tak jauh beda dengan bunda tercinta yaitu Megawati Soekarno Putri yang hingga kini masih asyik berada di kubangan politik yang pelik ini.

Lalu mengapa Gibran, begitu anak pertama Presiden Jokowi ini disapa, tidak mengikuti jejak ayahnya di dunia politik dan seakan tak peduli? Apakah ini bentuk dari modernisasi kehidupan yang ada di dibangun di keluarga Presiden RI Ke 7 ini?

Jokowi, seorang yang terlihat sederhana mulai dari beliau menjabat sebagai Walikota Solo hingga kini menjadi orang nomor satu di Indonesia terlihat tidak berhasil menetaskan pangeran baru yang akan meneruskan perjuangan politiknya di negeri ini. Lihat saja kini Gibran tengah seru-seruan dengan dunia kulinernya yang ia rintis sendiri tanpa embel-embel ayahnya yang merupakan seorang pucuk pimpin Republik Indonesia. Walaupun tidak bisa dipungkiri kepiawaiannya berbisnis ini merupakan turunan dari sang Ayah yang sebelum menjabat sebagai Walikota Solo merupakan seorang pengusaha meubel ternama.

Dua laki-laki ini benar-benar saling tak nyambung akan profesinya saat ini. Gibran terus saja berupaya menciptakan resep-resep masakan baru dan dijajakan melalui warung kulinernya, sementara sang Ayah tengah baku hantam dengan berbagai jenis koruptor dan permasalahan tata kota yang terjadi di Indonesia. Lalu sang Ibu tetap setia menampingi Pak Jokowi kemanapun ia pergi. Bagaimana Gibran? Selvy Ananda sanga istri tercinta yang baru saja menggelar acara syukuran 7 bulan kehamilannya juga selalu ada disampingnya saat mengaduk adonan martabak spesialnya.

Gibran adalah salah satu contoh putera bangsa yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri berdasarkan minat dan bakat yang telah yakin untuk ditekuni. Lelaki muda ini nampak tak ingin memanfaatkan kekuasaan besar ayahnya yang tentu saja ia akan sangat mudah mendapatkan hal-hal yang diinginkan di bumi pertiwi ini. Sebut saja ingin masuk dan berkembang dalam suatu partai politik, hal ini amat mudah dan cenderung seujung kuku tingkat kemudahannya.

Tapi sekali lagi Gibran berbeda. Ia mengembangkan bisnis kulinernya dengan baik yang tentu saja hal ini amat jauh dengan dunia perpolitikan Indonesia yang kenyataan amat dekat dengan Ayahnya. Ingin menjadi ketua dalam suatu partai politik pun Gibran pasti bisa, pintu pasti terbuka dan kursi pasti telah tersedia.

Namun apakah ini justru suatu bukti dari seorang anak Presiden yang telah mengerti benar rumitnya pekerjaan sang ayah, besarnya tanggung jawab mengabdi untuk masyarakat, dan tingginya godaan perbuatan yang tidak halal seperti suap, korupsi dan sejenisnya hingga ia memutuskan untuk berpunggungan dengan tugas dan tanggung jawab ayahnya saat ini? Bisa jadi. Karena anak presiden tak harus jadi ahli politik toh?

Pilihan Gibran kali ini telah memberi warna yang berbeda untuk wajah keluarga kepresidenan Indonesia. Tidak ada yang salah atas sebuah pilihan hidup. Jika Ibu seorang Bidan maka anak tertarik untuk menjadi Bidan juga atau bahkan Dokter, ya boleh saja. Atau justru memilih untuk menjadi seorang penyanyi, ini adalah hak asasi. Karena setiap orang berhak hidup dengan pilihan hatinya sendiri-sendiri.

Mungkin juga Gibran tak ingin bermain api karena takut terbakar, ataupun tak ingin bermain air karena takut basah. Biar saja sang Ayah yang mengabdi untuk negeri ini dan Gibran ambil bagian untuk menyiapkan martabak saja bagi ayah tercinta yang tentu lelah mengurus problematika di Indonesia yang tak kunjung terbuka ikat simpulnya.

(dnu, ditulis sambil kuliah, 9 Januari 2016, 09.48 WIB)

Wednesday, January 6, 2016

Mengapa Lebih Galak yang Berhutang?

Saya pernah mendengar pendapat bahwa kehidupan masa kini identik dengan berhutang dan kepemilikan kartu kredit. Kalau tidak memiliki kartu kredit terkesan gaya hidupnya tidak asik atau tidak mencapai langit.

Aktifitas pembelian sandang, pangan, maupun papan kini umum dibeli dengan cara berhutang. Bukan hanya membeli rumah, tapi dewasa ini tak sedikit individu yang kegiatan makan siangnya saja dengan cara menggesek kartu kredit.

Mungkin perkembangan zaman yang semakin edan memaksa seluruh harga sandang, pangan maupun papan tak begitu mudah dijangkau bagi sebagian orang. Jadilah mereka yang membutuhkan terpaksa memenuhinya dengan cara berhutang.

Dalam kehidupan sehari-hari pun kadang kita terlibat dalam dunia perhutangan, baik kita sebagai penghutang ataupun yang memberi hutang. Apakah ada yang punya pengalaman memberi hutang tapi susaaahh sekali mengharapkan uang kita kembali ke pelukan? Mungkin banyak ya.

Tidak sedikit orang yang mengingkari janjinya untuk menepati dalam hal pembayaran hutang. Saat mengajukan pinjaman begitu memelasnya sampai-sampai bersumpah sana sini untuk meyakinkan kita bahwa uang akan dikembalikan tepat pada waktu tertentu.

Repotnya lagi jika yang memohon untuk dipinjamkan uang adalah teman dekat kita sendiri. Jika kita memang ada uang, sungguh tak enak toh untuk menolaknya? Berbekal kepercayaan, hubungan pertemanan yang baik dan janji sumpah serapah yang telah diucapkan maka dengan baik hati kita pinjamkanlah uang yang kita miliki. Tujuannya apa? Cuma satu, membantu teman, sahabat. Ya kan?

Tapi tak sedikit juga rusaknya hubungan pertemanan bermula disini. Gara-gara hutang, persahabatan yang telah dibangun berabad-abad hancur seketika.

Fenomena yang amat menarikpun banyak terjadi di sesi ini, yaitu kemarahan yang amat sangat bisa keluar dari orang yang meminjam uang kita. Karena apa? Ditagih bayar hutang, karena sudah melewati batas waktu perjanjian.

Sejauh mengamati lingkungan sekitar para pemberi hutang biasanya merasa tidak enak jika harus menagih, maka ia hanya menunggu kesadaran orang yang meminjamnya saja. Ditunggu... ditunggu... dan ditunggu.... namun jika sudah melewati batas waktu maka menagih adalah salah satu jalan yang ditempuh. Tapi apa yang terjadi, banyak lho yang berhutang malah marah-marah karena diminta menunaikan kewajibannya hahaha....

Entah apa ini namanya, kok yang berhutang malah lebih galak ya?

.... dan saya hanya ingin menulis sampai di sini saja.... hahaha....

(dnu, ditulis sambil duduk manis nunggu jemputan, 6 Januari 2016, 18.02 WIB)

Sunday, January 3, 2016

Kecewa

Saat seseorang mendadak diam, hening, tenang dan tak lagi rumit terhadapmu, percayalah bahwa ia sudah mencapai suatu titik yang disebut dengan kecewa. Titik yang posisinya lebih tinggi dari amarah.

Kecewa adalah sebuah rasa ingin menarik diri dan memutuskan pergi dari semua yang telah membuat sakit hati.

Saat orang kesayanganmu telah diam dan tak lagi meributkan banyak hal tentangmu, tak lagi berisik tentang hal-hal sepelemu.... percayalah bahwa ia telah benar-benar kecewa.

#DNU


Refleksi Diri

Sering-sering ngaca biar tau diri. Tunjukkan kepada semua yang terbaik darimu dan bagimu. Walau tetap saja masih banyak manusia yang lebih senang dan percaya kepada fitnah semata

Go ahead!
Still be who you are

#DNU


Pribadi Elegan, Pribadi yang Toleran

Malam pergantian tahun baru masehi nampaknya semakin memiliki magnet tersendiri terutama bagi kaum muda mudi. Euforia H-1 tidak dapat dielakkan lagi, mulai dari sekedar penyediaan jagung, ikan, ayam atau makanan lainnya untuk dibakar, hingga rencana jalan-jalan keliling kota malam-malam yang tentu tidak naik delman. Kegembiraan menyambut tahun baru masehi ini amat dielu-elukan oleh hampir seluruh umat di dunia.

Siapa yang bisa mengurangi kebiasaan perayaan ini? Jelas tidak ada, karena setiap individu atau kelompok memiliki pemahamannya sendiri-sendiri.

Bagi umat muslim memang tidak dianjurkan melakukan perayaan terhadap pergantian tahun masehi. Terdapat banyak alasan terkait hal ini, salah satunya adalah penganut agama islam lebih tepat merayakan pergantian tahun baru islam yakni tahun Hijriyah.

Pendapat lain membeberkan terkait sejarah perayaan tahun baru masehi yang jelas tidak sesuai dengana ajaran agama Islam. Maka yang merayakannya dianggap menyerupai suatu kaum yang berbeda syariat dengan umat muslim.

Ditengah euforia yang semakin berkembangnya zaman semakin menggila ini, para ulama, pejabat maupun petinggi di daerah-daerah juga banyak yang menghimbau agar masyarakat melakukan perayaan tahun baru masehi dengan wujud ibadah. Bagi umat islam disarankan untuk berdoa bersama di masjid, yang kristiani berdoa bersama di gereja, begitu juga dengan umat budha agar berdoa di wihara, dan umat hindu berdoa bersama di pura.

Ditengah himbauan yang amat baik ini tetap saja tidak bisa dipungkiri kegembiraan masyarakat dalam menyambut tahun baru yang dianggap membawa harapan baru tetap saja membuncah. Ditambah lagi pusat-pusat perayaan malam tahun baru kian menyebar di berbagai titik kota.

Ironisnya tuh disini, sementara ada yang menghimbau agar tidak melakukan perayaan apapun, namun keramaian dalam rangka menghitung mundur tahun baru terpampang nyata di depan mata. Apakah hal ini bisa dibilang sebagai godaan? Ya, bisa saja.

Nah bagi yang memiliki pemahaman "tidak perlu melakukan perayaan apapun di malam tahun baru / sebaiknya menggelar acara ibadah dalam menyambut tahun baru / ini bukan tahun baru islam, so tak perlu bergembira macam apapun / dll, tetaplah pada pendirian itu.

Hal-hal yang menurut kita baik hendaknya dapat ditularkan kepada rekan lainnya. Dengan catatan hal tersebut bisa memberikan energi postif bagi lingkungan kita.

Hal yang pantang dilakukan adalah memaksakan pemikiran kita untuk diterima oleh orang lain. Apa yang menurut kita baik maka kita mati-matian menerapkannya pada yang lain. Jelas ini bukan toleran. Yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan hal baik apa yang kita ketahui, lalu biarkan orang lain memahami dan menelaahnya sendiri. Jika sepaham, ia pun akan menerimanya bulat-bulat tanpa paksaan.

Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang merayakan malam pergantian tahun ini. Dan bagi pribadi yang mengaku berilmu serta berwawasan luas hendaknya tidak mencibir ataupun memandang aneh terhadap siapapun yang turut ambil bagian dalam perayaan.

Tidak perlu memaksakan kehendak, menyampaikannya dengan berapi-api tentang pemahaman yang berbeda, mengatakan bahwa merayakan adalah tidak benar dan kitalah yang paling benar, atau yang lainnya.

Pribadi elegan adalah pribadi yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi dengan siapapun, terlebih antar umat beragama. Seyogyanya kita tetap menghormati pilihan hidup orang lain, namun dengan tetap menyampaikan hal-hal kebaikan. Diterima atau tidak itu adalah pilihan mereka.

Hal penting lainnya adalah bagi pemilik paham yang dianggap baik dan benar agar tidak hanya di mulut saja. Jika menurut kita di malam pergantian tahun sebaiknya kita bergabung dengan acara-acara doa bersama, maka lakukanlah. Tunjukkanlah bahwa kita melakukan hal-hal yang menurut kita baik. Walk the talk. Lakukan apa yang kamu katakan. Sehingga orang lain akan menilai diri kita sebagai pribadi yang baik luar dalam.

Jika kita hanya menyampaikan ke sana ke mari tentang tak perlunya ikut dalam kemeriahan perayaan malam tahun baru yang hingar bingar, namun kita sendiri tidak melakukan hal yang lebih baik, mungkin tepat ini dinamakan sebagai cibiran. Hanya mencibir, mengatakan sesuatu adalah tidak benar namun kita juga tidak melakukan hal yang lebih benar.

Hal ini bukanlah pembiaran atau membiarkan yang salah tetap salah dan tetap dilakukan. Tapi menurut saya ini adalah bentuk toleransi dalam hidup bermasyarakat. Rasanya pun tak perlu membuat tulisan sebesar-besar gaban, spanduk sepanjang-panjang jalan kenangan bertuliskan larangan merayakan malam pergantian tahun baru masehi. Kalau kita tidak setuju dengan kebiasaan yang terjadi setiap tahun ini, maka lakukan saja apa yang menurut kita baik dan benar. Lalu himbau kepada yang lain, dan biarkan mereka terinspirasi atas pebuatan yang kita lakukan.

So, bentuk kesyukuran macam apa yang kamu lakukan dalam menyambut tahun baru masehi kali ini? Bebas saja. Toh sudah sama-sama tahu kan mana yang baik dan mana yang tidak?

(dnu, ditulis sambil ngerendem kaki biar imut haha..., 31 Desember 2015, 13.33 WIB)

Jangan Lupa Berbagi...

Bisa dijadiin resolusi 2016, gemar berbagi

Berbagilah dalam keadaan apapun kamu.
Berbagi jangan nunggu kaya.
Berbagi jangan nunggu banyak duit.
Berbagi jangan nunggu banyak harta.
Berbagi jangan nunggu tua.
Karena berbagi bisa diwujudkan dalam bentuk apa saja. Berbagi waktu, ilmu ataupun tenaga.

Berbagilah tanpa henti.

Jangan lupa berbagi karena kasihmu begitu berarti.

#DNU


Alirkanlah Cinta....

Mengalirkan cinta, membagi rasa.... Agar bahagia selalu ada di mana-mana... Buku "Berbagi Cinta Di 4 Kota" bisa dibaca juga di Perpustakaan Daerah Jakarta - Cikini Raya.

Love you!


 #DNU


Sederhana namun Tetap Bersahaja

Tak melulu harus yang wah, indah dan mempesona di tengah taburan bunga mahal berkilauan. Atau berada di taman pusaka bunga dunia yang keren nan cantik tak terkira.

Tapi di sini, di tanah rumput yang hanya ada satu bunga ini, kian siap berdiri sendiri dengan tetap Berbagi Cinta murni.

Karena buat apa ada di keramaian kalau nyatanya tetap saja terasa sendirian. Lebih baik hanya ada satu teman namun ia setia menemani sampai entah kapan.

#DNU