Friday, January 8, 2016

Anak Presiden Tak Harus Jadi Ahli Politik

Putra sulung Presiden Joko Widodo ini memang beda dengan para keturunan Presiden lainnya. Sebut saja Edhi Baskoro atau yang akrab disapa Ibas, dimana ia mengikuti benar jejak ayahnya yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk terjun dan bergulat bebas dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Lalu saudara kandungnya, Agus, yang juga menurunkan jejak tentara ayahnya, SBY.

Contoh lainnya ialah Puan Maharani yang tak tak jauh beda dengan bunda tercinta yaitu Megawati Soekarno Putri yang hingga kini masih asyik berada di kubangan politik yang pelik ini.

Lalu mengapa Gibran, begitu anak pertama Presiden Jokowi ini disapa, tidak mengikuti jejak ayahnya di dunia politik dan seakan tak peduli? Apakah ini bentuk dari modernisasi kehidupan yang ada di dibangun di keluarga Presiden RI Ke 7 ini?

Jokowi, seorang yang terlihat sederhana mulai dari beliau menjabat sebagai Walikota Solo hingga kini menjadi orang nomor satu di Indonesia terlihat tidak berhasil menetaskan pangeran baru yang akan meneruskan perjuangan politiknya di negeri ini. Lihat saja kini Gibran tengah seru-seruan dengan dunia kulinernya yang ia rintis sendiri tanpa embel-embel ayahnya yang merupakan seorang pucuk pimpin Republik Indonesia. Walaupun tidak bisa dipungkiri kepiawaiannya berbisnis ini merupakan turunan dari sang Ayah yang sebelum menjabat sebagai Walikota Solo merupakan seorang pengusaha meubel ternama.

Dua laki-laki ini benar-benar saling tak nyambung akan profesinya saat ini. Gibran terus saja berupaya menciptakan resep-resep masakan baru dan dijajakan melalui warung kulinernya, sementara sang Ayah tengah baku hantam dengan berbagai jenis koruptor dan permasalahan tata kota yang terjadi di Indonesia. Lalu sang Ibu tetap setia menampingi Pak Jokowi kemanapun ia pergi. Bagaimana Gibran? Selvy Ananda sanga istri tercinta yang baru saja menggelar acara syukuran 7 bulan kehamilannya juga selalu ada disampingnya saat mengaduk adonan martabak spesialnya.

Gibran adalah salah satu contoh putera bangsa yang mencoba berdiri di atas kaki sendiri berdasarkan minat dan bakat yang telah yakin untuk ditekuni. Lelaki muda ini nampak tak ingin memanfaatkan kekuasaan besar ayahnya yang tentu saja ia akan sangat mudah mendapatkan hal-hal yang diinginkan di bumi pertiwi ini. Sebut saja ingin masuk dan berkembang dalam suatu partai politik, hal ini amat mudah dan cenderung seujung kuku tingkat kemudahannya.

Tapi sekali lagi Gibran berbeda. Ia mengembangkan bisnis kulinernya dengan baik yang tentu saja hal ini amat jauh dengan dunia perpolitikan Indonesia yang kenyataan amat dekat dengan Ayahnya. Ingin menjadi ketua dalam suatu partai politik pun Gibran pasti bisa, pintu pasti terbuka dan kursi pasti telah tersedia.

Namun apakah ini justru suatu bukti dari seorang anak Presiden yang telah mengerti benar rumitnya pekerjaan sang ayah, besarnya tanggung jawab mengabdi untuk masyarakat, dan tingginya godaan perbuatan yang tidak halal seperti suap, korupsi dan sejenisnya hingga ia memutuskan untuk berpunggungan dengan tugas dan tanggung jawab ayahnya saat ini? Bisa jadi. Karena anak presiden tak harus jadi ahli politik toh?

Pilihan Gibran kali ini telah memberi warna yang berbeda untuk wajah keluarga kepresidenan Indonesia. Tidak ada yang salah atas sebuah pilihan hidup. Jika Ibu seorang Bidan maka anak tertarik untuk menjadi Bidan juga atau bahkan Dokter, ya boleh saja. Atau justru memilih untuk menjadi seorang penyanyi, ini adalah hak asasi. Karena setiap orang berhak hidup dengan pilihan hatinya sendiri-sendiri.

Mungkin juga Gibran tak ingin bermain api karena takut terbakar, ataupun tak ingin bermain air karena takut basah. Biar saja sang Ayah yang mengabdi untuk negeri ini dan Gibran ambil bagian untuk menyiapkan martabak saja bagi ayah tercinta yang tentu lelah mengurus problematika di Indonesia yang tak kunjung terbuka ikat simpulnya.

(dnu, ditulis sambil kuliah, 9 Januari 2016, 09.48 WIB)