Sunday, January 3, 2016

Pribadi Elegan, Pribadi yang Toleran

Malam pergantian tahun baru masehi nampaknya semakin memiliki magnet tersendiri terutama bagi kaum muda mudi. Euforia H-1 tidak dapat dielakkan lagi, mulai dari sekedar penyediaan jagung, ikan, ayam atau makanan lainnya untuk dibakar, hingga rencana jalan-jalan keliling kota malam-malam yang tentu tidak naik delman. Kegembiraan menyambut tahun baru masehi ini amat dielu-elukan oleh hampir seluruh umat di dunia.

Siapa yang bisa mengurangi kebiasaan perayaan ini? Jelas tidak ada, karena setiap individu atau kelompok memiliki pemahamannya sendiri-sendiri.

Bagi umat muslim memang tidak dianjurkan melakukan perayaan terhadap pergantian tahun masehi. Terdapat banyak alasan terkait hal ini, salah satunya adalah penganut agama islam lebih tepat merayakan pergantian tahun baru islam yakni tahun Hijriyah.

Pendapat lain membeberkan terkait sejarah perayaan tahun baru masehi yang jelas tidak sesuai dengana ajaran agama Islam. Maka yang merayakannya dianggap menyerupai suatu kaum yang berbeda syariat dengan umat muslim.

Ditengah euforia yang semakin berkembangnya zaman semakin menggila ini, para ulama, pejabat maupun petinggi di daerah-daerah juga banyak yang menghimbau agar masyarakat melakukan perayaan tahun baru masehi dengan wujud ibadah. Bagi umat islam disarankan untuk berdoa bersama di masjid, yang kristiani berdoa bersama di gereja, begitu juga dengan umat budha agar berdoa di wihara, dan umat hindu berdoa bersama di pura.

Ditengah himbauan yang amat baik ini tetap saja tidak bisa dipungkiri kegembiraan masyarakat dalam menyambut tahun baru yang dianggap membawa harapan baru tetap saja membuncah. Ditambah lagi pusat-pusat perayaan malam tahun baru kian menyebar di berbagai titik kota.

Ironisnya tuh disini, sementara ada yang menghimbau agar tidak melakukan perayaan apapun, namun keramaian dalam rangka menghitung mundur tahun baru terpampang nyata di depan mata. Apakah hal ini bisa dibilang sebagai godaan? Ya, bisa saja.

Nah bagi yang memiliki pemahaman "tidak perlu melakukan perayaan apapun di malam tahun baru / sebaiknya menggelar acara ibadah dalam menyambut tahun baru / ini bukan tahun baru islam, so tak perlu bergembira macam apapun / dll, tetaplah pada pendirian itu.

Hal-hal yang menurut kita baik hendaknya dapat ditularkan kepada rekan lainnya. Dengan catatan hal tersebut bisa memberikan energi postif bagi lingkungan kita.

Hal yang pantang dilakukan adalah memaksakan pemikiran kita untuk diterima oleh orang lain. Apa yang menurut kita baik maka kita mati-matian menerapkannya pada yang lain. Jelas ini bukan toleran. Yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan hal baik apa yang kita ketahui, lalu biarkan orang lain memahami dan menelaahnya sendiri. Jika sepaham, ia pun akan menerimanya bulat-bulat tanpa paksaan.

Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang merayakan malam pergantian tahun ini. Dan bagi pribadi yang mengaku berilmu serta berwawasan luas hendaknya tidak mencibir ataupun memandang aneh terhadap siapapun yang turut ambil bagian dalam perayaan.

Tidak perlu memaksakan kehendak, menyampaikannya dengan berapi-api tentang pemahaman yang berbeda, mengatakan bahwa merayakan adalah tidak benar dan kitalah yang paling benar, atau yang lainnya.

Pribadi elegan adalah pribadi yang senantiasa menjunjung tinggi toleransi dengan siapapun, terlebih antar umat beragama. Seyogyanya kita tetap menghormati pilihan hidup orang lain, namun dengan tetap menyampaikan hal-hal kebaikan. Diterima atau tidak itu adalah pilihan mereka.

Hal penting lainnya adalah bagi pemilik paham yang dianggap baik dan benar agar tidak hanya di mulut saja. Jika menurut kita di malam pergantian tahun sebaiknya kita bergabung dengan acara-acara doa bersama, maka lakukanlah. Tunjukkanlah bahwa kita melakukan hal-hal yang menurut kita baik. Walk the talk. Lakukan apa yang kamu katakan. Sehingga orang lain akan menilai diri kita sebagai pribadi yang baik luar dalam.

Jika kita hanya menyampaikan ke sana ke mari tentang tak perlunya ikut dalam kemeriahan perayaan malam tahun baru yang hingar bingar, namun kita sendiri tidak melakukan hal yang lebih baik, mungkin tepat ini dinamakan sebagai cibiran. Hanya mencibir, mengatakan sesuatu adalah tidak benar namun kita juga tidak melakukan hal yang lebih benar.

Hal ini bukanlah pembiaran atau membiarkan yang salah tetap salah dan tetap dilakukan. Tapi menurut saya ini adalah bentuk toleransi dalam hidup bermasyarakat. Rasanya pun tak perlu membuat tulisan sebesar-besar gaban, spanduk sepanjang-panjang jalan kenangan bertuliskan larangan merayakan malam pergantian tahun baru masehi. Kalau kita tidak setuju dengan kebiasaan yang terjadi setiap tahun ini, maka lakukan saja apa yang menurut kita baik dan benar. Lalu himbau kepada yang lain, dan biarkan mereka terinspirasi atas pebuatan yang kita lakukan.

So, bentuk kesyukuran macam apa yang kamu lakukan dalam menyambut tahun baru masehi kali ini? Bebas saja. Toh sudah sama-sama tahu kan mana yang baik dan mana yang tidak?

(dnu, ditulis sambil ngerendem kaki biar imut haha..., 31 Desember 2015, 13.33 WIB)