Tuesday, February 16, 2016

Pemberlakuan Kartu Identitas Anak, Uji Nyali Kepatuhan Administrasi Orang Tua


Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada tahun 2016 ini pemerintah Indonesia mulai memberlakukan kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) bagi setiap anak mulai usia 0 – 17 tahun kurang 1 hari. Untuk bisa membuat KIA dibutuhkan dokumen berupa Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga. Disini terlihat jelas maksud pemerintah dalam membuat catatan kependudukan melaui KIA ini yakni target utamanya adalah tertib administrasi sehingga dapat terdata dengan baik berapa jumlah penduduk yang sebenarnya.

 

Salah satu manfaat yang bisa didapat oleh seorang anak setelah memiliki KIA adalah bisa menabung sendiri di bank tanpa dibutuhkan KTP orang tuanya. Selebihnya adalah kepatuhan sebagai warga negara terhadap negaranya.

 

Sebagai ibu dari dua orang anak yakni satu putra dan satu putri saya melihatnya pemberlakukan KIA ini erat kaitannya dengan upaya pemerintah dalam melakukan tertib administrasi yang tidak hanya untuk anak. Melalui KIA akan terlihat seberapa baik surat-surat kependudukan yang dimiliki orang tuanya, karena jika orang tuanya tidak atau belum memiliki Kartu Kerluarga sudah tentu tidak dapat membuatkan KIA untuk anaknya.

 

Sekali mendayung dua sampai tiga pulau terlampaui. Dengan demikian maka tidak perlu dikhawatirkan lagi setiap orang tua yang taat hukum akan segera mengurus surat-surat kependudukan yang belum dimilikinya. Walaupun memang kepemilikan KIA saat ini belum wajib hukumnya, namun hal ini bisa menjadi trigger bagi para orang tua yang sayang anak agar melakukan perbaikan administrasi kependudukannya.

 

Dengan adanya program ini tentu diharapkan tidak ada lagi anak-anak yang lahir tanpa pernikahan resmi orang tuanya. Tidak ada lagi anak yang tidak mengenal siapa orang tuanya, dan tidak ada lagi anak yang tidak tahu dimana ayah atau ibunya. Mungkin harapan ini berlebihan, tapi lihat saja, persyaratan mengajukan KIA adalah akte kelahiran dan Kartu Keluarga, maka sudah bisa dipastikan jika seorang anak memiliki 2 dokumen ini maka ia mengetahui siapa orang tuanya. Dan hal lainnya ialah akan meminimalisir kelahiran seorang bayi lucu yang tanpa identitas orang tuanya. Karena apa? Setiap anak berhak memiliki Kartu Identitas Anak.

 

Kini adalah waktu yang tepat jika kita ingin mendukung sepenuhnya program pemerintah Indonesia. Bisa jadi hal sederhana melalui KIA ini dapat mengubah pola kerja “sensus penduduk” yang selama ini dilakukan secara manual menjadi lebih terdata dengan mudah dan berbasis komputerisasi.

 

Keberadaan seorang anak bisa lebih mudah dipantau oleh pemerintah melalui program KIA. Dan bisa saja data KIA dapat dijadikan dasar bagi pemerintah dalam melakukan sosialisasi tidakan-tindakan preventif atas sebuah penyakit menular misalnya.

 

Contohnya jika sedang marak suatu penyakit yang menyerang anak-anak, maka pemerintah dapat dengan mudah mengetahui seberapa banyak penduduk dalam rentang usia tersebut dan penyebaran tempat tinggalnya seperti apa. Dengan demikian dinas kesehatan dapat lebih mudah mengatur sosialisasi atau kampanye pencegahan atau apapun terkait pernyakit tersebut.

 

Berbeda dengan kondisi yang tidak diketahui seberapa banyak warga yang berusia anak-anak yang pemetaan tempat tinggalnya dimana saja, akan lebih sulit dan lama untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.

 

Banyak perbaikan yang bisa dilakukan pemerintah berdasarkan data KIA ini. Untuk itu kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya menaati dan menjalankan program yang tidak sulit dilakukan ini. Jika semua persyaratan sudah lengkap maka kita telah siap mengajukan permohonan pembuatan KIA.

 

Anak terdata, orang tua pun bahagia.

 

(dnu, ditulis sambil bersenandung tak merdu “kau mendekat kau menjauh kau kembali saat butuh, ku bersumpah kau kan rasakan rasanya aku.....” haha...., 17 Februari 2016, 12.48 WIB)

Friday, February 12, 2016

Tulisan DNU: Wahai Wanita Ketahuilah, Dirimu Lebih Berharga Dar...

Tulisan DNU: Wahai Wanita Ketahuilah, Dirimu Lebih Berharga Dar...: Banyak yang mengatakan bahkan turut merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Aktualisasi yang terjadi pada hari ini umum...

Wahai Wanita Ketahuilah, Dirimu Lebih Berharga Dari Sekadar Coklat


Banyak yang mengatakan bahkan turut merayakan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang. Aktualisasi yang terjadi pada hari ini umumnya dilakukan oleh para remaja, muda mudi yang umumnya berpasangan. Sang pria biasanya menghadiahkan kekasihnya sebatang coklat atau lebih mahal lagi mengajaknya makan malam bersama di restoran kenamaan. Lalu sebaliknya, sang wanita merasa begitu bahagia apabila kekasihnya melakukan hal tersebut sambil ribuan kali mengucapkan aku cinta dan sayang padamu.

 

Refleksi apa yang terlihat disini? Cinta kasih seorang wanita hanya seharga coklat atau seporsi makanan di restoran yang harganya pasti terjangkau.

 

Fenomena yang miris seperti ini selalu terjadi setiap tahun. Lebih menyedihkan lagi tidak sedikit remaja muslim yang turut ambil bagian dalam perayaan ini. Katanya ini hanya sebatas lucu-lucuan atau ikut-ikutan saja. Waw! Yang seperti ini justru lebih bahaya lagi! Hal yang tidak sesuai syariah agama Islam kok buat lucu-lucuan? Pernah dengar kan bahwa apabila kita menyerupai suatu kaum maua kita termasuk didalamnya? Nah, apakabar kalau kita ikut-ikutan budaya yang seperti itu? Kita termasuk dalam kaumnya dong??

 

Mencari pendamping hidup memang tidak mudah, namun kunci yang bisa dijadikan pegangan adalah carilah seseorang yang bisa membawamu dalam kebaikan, minimal mengingatkan lalu bersama-sama menuju kebahagiaan yang syariah.

 

Bagaimana dengan pasangan yang ikut merayakan hari yang katanya disebut sebagai Hari Kasih Sayang dan memberi sebatang coklat yang dibeli di mini market? Lalu sang wanita menerimanya sambil jejingkrakan tak terkira karena melihat perwujudan cinta sang kekasih yang romastis malam itu. Aaahh... sadarkah bahwa dengan begini sang wanita hanya seharga coklat??? Sebaliknya, cinta sang pria hanya seharga coklat!!!

 

Mbak-mbak muslimah, para ukhti shaliha, yuk lupakan coklat, lupakan pacar. Hanya ingat Allah SWT yang pasti akan memberimu teman hidup yang paling baik dengan cinta yang lebih dari sekadar coklat. Karena Allah SWT adalah sang Maha Cinta pemilik kasih sayang seluas alam semesta.

 

(dnu, ditulis sambil kuliah, 13 Februari 2016, 11.49 WIB)  

Empati untuk Para LGBT


Mengikuti perkembangan berita mengenai kasus LGBT makin lama makin mengerikan dan membingungkan. Titik kebingungannya lebih kepada apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang katanya normal untuk menolong saudara-saudara kita yang memiliki kelainan tersebut (LGBT). Selama ini yang banyak dilakukan masyarakat adalah menghujat, bantai habis, mengumpat, hingga sumpah serapah tak terkira. Bukan hanya kepada kaum LGBT saja, tetapi juga kepada restoran dan wadah-wadah lainnya yang dikabarkan mendukung legalisasi LGBT.

 

Jika kita semua setuju bahwa LBGT adalah suatu penyakit dan bukan hak asasi, maka sudah seharusnya kita memiliki empati kepada kaum tersebut. Bagaimana caranya kita yang tidak terkena penyakit tersebut turut membantu penyembuhannya, dan bukan menghujatnya hingga mengusirnya dari bumi ini.

 

Kebanyakan yang terjadi saat ini adalah penghujatan atas sebuah penyimpangan hasrat seksual dari para penderita penyakit tersebut, sumpah serapah yang keji, dengan tanpa sama sekali kita menaruh empati. Bagaimana bisa kita dikatakan sebagai makhluk sosial yang berhati mulia dan normal bisa melakukan hal tersebut? Dimana sisi kemanusiaan kita? Toh kita sepakat bahwa hal tersebut adalah penyakit. Dan terhadap suatu penyakit pasti ada obat sebagai penyembuhnya bukan?

 

Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam mendukung penyembuhan bagi para saudara-saudara kita yang diberikan ujian oleh Tuhan YME dengan kelainan “rasa” tersebut. Misalnya dengan mengajaknya berkegiatan rohani yang bisa mengembalikan fikiran sehatnya, hingga mengajaknya hadir ditengah-tengah kehidupan sosial yang berkegiatan normal. Misalnya diajak banyak membaca buku-buku pengetahuan, aktif dalam kegiatan kerohanian, atau mengajaknya bergabung dalam komunitas yang sesuai dengan hobi dan kesukannya. Sehingga ia bisa melupakan keanehan yang ada dalam dirinya, dan karena sudah berada dalam lingkungan yang sehat bukan tidak mungkin semuanya akan kembali normal.

 

Kelainan ‘rasa’ yang dialami oleh seseorang hingga ia masuk dalam lingkaran LGBT sesungguhnya merupakan ujian hidup yang ia terima dari Tuhan YME. Keadaan ini adalah bukan atas kehendaknya, pun keinginan dalam hati kecilnya tentu tidak melenceng seperti itu. Setiap manusia pasti ingin dilahirkan dalam keadaan yang paling baik yakni normal lahir dan batin, namun siapa yang bisa menyangkal semua kehendakNya.

 

Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang mengaku normal sudah sepatutnya menunjukkan empati kepada mereka yang tengah diberikan ujian yang tidak mudah ini. Mereka tentu ingin sembuh, hanya saja kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar yang bisa jadi memperlambat atau bahkan tidak turut membentuk penyembuhan tersebut.

 

Hujatan, makian dan celaan bukanlah jalan keluar yang tepat untuk memberantas keberadaan kaum LGBT. Mereka perlu disembuhkan, bukan menuai cacian atau hinaan.

 

(dnu, ditulis sambil memandangi rintik hujan yang syahdu di ujung minggu tepat saya mengenakan baju ungu, 12 Februari 2016, 16.26 WIB)

Sunday, February 7, 2016

Nice to meet you Pak Anies

Dengan tatapan matanya yang tajam namun teduh, beliau berkata seperti ini kepada saya sesaat sebelum menerima buku -Berbagi Cinta di 4 Kota- :

"Wow! You have to sign it and put your mobile phone..."

Hohoho... dengan mata yang masih terbelalak saya segera menandatangani buku tersebut dan tak lupa menuliskan nomor telepon yang biasa saya gunakan.

Tanpa butuh waktu lama segera saya serahkan sebuah buku berwarna biru kepada Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ini. Tidak perlu sapuan blush on bolak balik, pipi saya telah merah merona seketika saat itu.

Saya cuma bisa bilang ;
"Pak Anies, ini persembahan saya untuk anak bangsa..."

Nice too meet you Pak Menteri...
Selamat membaca...
Selamat membaca buku yang biasa nan sederhana, yang ditulis oleh perempuan yang bukan apa-apa, namun semuanya disusun dengan penuh cinta...^^

#DNU



Pesan Rindu

Karena aku percaya, pesan rindu ini pasti akan sampai kepadamu, walau entah bagaimana caranya.

Mungkin saja terbang bersama hembusan angin, mengalir mesra bersama rintik hujan, atau menyelinap pergi bersama kumpulan debu-debu di jalanan.

Karena aku percaya, pesan rindu ini tidak hanya berayun-ayun lucu di atas lembutnya pucuk ilalang, melainkan sampai kepadamu walau entah bagaimana caranya.

(dnu, pernah menulis sambil antri sembako? Saya belum pernah! tongue emoticon, 4 Januari 2016, 18.43 WIB)


Everything Happens for A Reason

Nah ini diaa... jangan kepo, jangan selaluuuu aja pengen tau tentang semuanya. Karena apa? Belum tentu ada hak kita di sana untuk tau lebih dalam plus alasan-alasan yang ada. Sadar diri, itu lebih tepatnya.
Percaya aja, semua yang terjadi adalah kehendak dari Allah SWT dan itu pasti yang terbaik.

Karena kadang kalau kita mengetahui sesuatu pikirannya malah jadi macem-macem. Santai aja, karena bisa jadi diam itu lebih baik. Hidup akan lebih tenang walau sebenarnya telah terjadi hal yang tidak kita inginkan. Tapi karena kita ngga tau kenapa itu bisa terjadi ya kita bisa tetep santai aja.

Bisa jadi, dengan caraNya Allah SWT menutup mata serta telinga kita tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kebaikan kita sendiri. Allah SWT mengamankan kita nih dari hal-hal yang apabila kita kita mengetahuinya kita bisa nangis, sakit hati, marah, atau nyaris pingsan.

Nah, Allah SWT yang Maha Baik selalu punya caraNya sendiri dalam menyayangi hambanya. Sekalipun cara yang dilakukanNya menurut kita menyakitkan ataupun menyedihkan.

Sekali lagi, percaya aja bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita. Tau ataupun tidak tau tentang alasannya tetap saja itu yang terbaik.

So, ini hal penting yang perlu dilakukan terhadap orang lain terlebih mantan. Gak usah kepo! Kenapa dia begini, kenapa dia begitu, buat apa dia begini buat apa dia begitu. Stop! Everything happens for a reason. Dan kita, nggak selalu punya hak untuk mengetahui alasannya.

Love you!

(dnu, ditulis sambil makan bakso mercon, 6 Februari 2016, 12.38 WIB)