Friday, February 12, 2016

Empati untuk Para LGBT


Mengikuti perkembangan berita mengenai kasus LGBT makin lama makin mengerikan dan membingungkan. Titik kebingungannya lebih kepada apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang katanya normal untuk menolong saudara-saudara kita yang memiliki kelainan tersebut (LGBT). Selama ini yang banyak dilakukan masyarakat adalah menghujat, bantai habis, mengumpat, hingga sumpah serapah tak terkira. Bukan hanya kepada kaum LGBT saja, tetapi juga kepada restoran dan wadah-wadah lainnya yang dikabarkan mendukung legalisasi LGBT.

 

Jika kita semua setuju bahwa LBGT adalah suatu penyakit dan bukan hak asasi, maka sudah seharusnya kita memiliki empati kepada kaum tersebut. Bagaimana caranya kita yang tidak terkena penyakit tersebut turut membantu penyembuhannya, dan bukan menghujatnya hingga mengusirnya dari bumi ini.

 

Kebanyakan yang terjadi saat ini adalah penghujatan atas sebuah penyimpangan hasrat seksual dari para penderita penyakit tersebut, sumpah serapah yang keji, dengan tanpa sama sekali kita menaruh empati. Bagaimana bisa kita dikatakan sebagai makhluk sosial yang berhati mulia dan normal bisa melakukan hal tersebut? Dimana sisi kemanusiaan kita? Toh kita sepakat bahwa hal tersebut adalah penyakit. Dan terhadap suatu penyakit pasti ada obat sebagai penyembuhnya bukan?

 

Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam mendukung penyembuhan bagi para saudara-saudara kita yang diberikan ujian oleh Tuhan YME dengan kelainan “rasa” tersebut. Misalnya dengan mengajaknya berkegiatan rohani yang bisa mengembalikan fikiran sehatnya, hingga mengajaknya hadir ditengah-tengah kehidupan sosial yang berkegiatan normal. Misalnya diajak banyak membaca buku-buku pengetahuan, aktif dalam kegiatan kerohanian, atau mengajaknya bergabung dalam komunitas yang sesuai dengan hobi dan kesukannya. Sehingga ia bisa melupakan keanehan yang ada dalam dirinya, dan karena sudah berada dalam lingkungan yang sehat bukan tidak mungkin semuanya akan kembali normal.

 

Kelainan ‘rasa’ yang dialami oleh seseorang hingga ia masuk dalam lingkaran LGBT sesungguhnya merupakan ujian hidup yang ia terima dari Tuhan YME. Keadaan ini adalah bukan atas kehendaknya, pun keinginan dalam hati kecilnya tentu tidak melenceng seperti itu. Setiap manusia pasti ingin dilahirkan dalam keadaan yang paling baik yakni normal lahir dan batin, namun siapa yang bisa menyangkal semua kehendakNya.

 

Maka dari itu, kita sebagai makhluk yang mengaku normal sudah sepatutnya menunjukkan empati kepada mereka yang tengah diberikan ujian yang tidak mudah ini. Mereka tentu ingin sembuh, hanya saja kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar yang bisa jadi memperlambat atau bahkan tidak turut membentuk penyembuhan tersebut.

 

Hujatan, makian dan celaan bukanlah jalan keluar yang tepat untuk memberantas keberadaan kaum LGBT. Mereka perlu disembuhkan, bukan menuai cacian atau hinaan.

 

(dnu, ditulis sambil memandangi rintik hujan yang syahdu di ujung minggu tepat saya mengenakan baju ungu, 12 Februari 2016, 16.26 WIB)