Wednesday, March 23, 2016

Bukan Hanya Soal Taksi Konvensional dan Modern, tapi Lebih Kepada Taat Pada Aturan Operasional Angkutan Jalan


Selasa (22/3) saat terjadi huru hara demo pengemudi taksi konvensional yang menentang operasional taksi berbasis aplikasi, saya bersama rekan kerja berhasil aman menumpang taksi konvensional dari jalur Jakarta Utara menuju Jakarta Timur dan sekitarnya. Agak mengerikan memang saat itu, mengingat kondisi angkutan umum yang sedang berunjuk rasa hingga adanya pemberhentian taksi yang kedapatan mengangkut penumpang, karena jelas-jelas tidak ikut mengusung tuntutan rekan seprofesinya.

 

Dalam perjalanan saya berbincang dengan supir taksi berwarna biru tersebut, katanya, kehadiran taksi online memang sudah sangat-sangat mengurangi pendapatan para supir taksi konvensional. Hal ini tentu kita sudah mengetahuinya dari banyak pemberitaan. Namun ada hal yang saya cermati dan memang perlu ditegaskan lebih lanjut bagi para pengusaha taksi online yang sedang digemari saat ini, yaitu tentang ketaatan pada peraturan pemerintah mengenai kewajiban pengusaha agkutan umum.

 

Diberbagai media sosial tidak sedikit beredar kecaman yang ditujukan kepada pengemudi taksi konvensional yang meminta agar mereka memahami kemajuan teknologi, bahkan diminta juga untuk memahami kebutuhan masyarakat yang menginginkan moda transportasi yang lebih aman, nyaman dan harga terjangkau. Jika pertanyaannya dibalik, apakah masyarakat pernah sedikit saja ikut memahami mengapa para pengemudi taksi konvensional melakukan unjuk rasa? Pernahkah kita memahami akan turunnya pendapatan mereka? Pernahkah kita memahami gusarnya mereka saat mengetahui hari menjelang malam tapi pendapatan belum juga bisa menutup setoran? Pernahkah?

 

Jika tidak sedikitpun pernah terfikirkan hal tersebut, maka tidak elok pula kita gembar gembor meminta para pengemudi taksi untuk memahami kebutuhan kita. Pantas disebut apa jika demikian? Egois.

 

Terus membiarkan taksi online untuk beroperasi dan membiarkan pengemudi taksi konvensional sakit hati tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Selain itu, menutup oeprasi taksi online juga bukan sebuah keputusan yang benar. Atau bahkan meminta taksi konvensional untuk berubah mengikuti perkembangan zaman hingga menurunkan tarif juga bukan hal yang mudah. Lalu bagaimana jalan keluar yang bisa memenangkan keduanya?

 

Nah, sekarang kembali lagi pada pertanyaan bagi siapa saja yang dengan semangat mengepalkan tangan untuk meminta taksi konvensional memahami akan perkembangan zaman, hingga mencoba menurunkan tarif dengan teknik promo tertentu, apakah telah mengetahui dan memahami dengan benar bahwa mekanisme operasional angkutan umum ada Undang-undangnya? Ada Peraturan Pemerintah yang memayungi. Ada ketentuan negara yang mengatur. Apakah telah paham benar tentang hal ini?

 

Jika belum sekaranglah saatnya kita bersama-sama belajar untuk memahami ; kendaraan yang dalam dalam kegiatan sehari-harinya melakukan aktifitas untuk kepentingan umum, diperuntukkan bagi masyarakat, ada proses pembayaran, ada penumpang, ada pengemudi, maka bisa dikatakan masuk sebagai sebagai angkutan umum. Dan tentu saja moda transportasi ini ada aturannya, jika menamakan dirinya sebagai taksi maka ada ketentuan yang harus dipatuhi, yaitu ; ada argo meter yang ditetapkan oleh pemerintah. Pengemudinya pun harus memiliki SIM A Umum.

 

Bagi yang hidup di kota besar yang merasa setiap inchi gerak geriknya selalu berkejaran dengan waktu sangat meras diuntungkan dengan adanya taksi online? Ya sangat setuju!

Masyarakat membutuhkan biaya transportasi yang murah? Setuju!

Masyarakat membutuhkan kenyamanan dari sebuah angkutan umum? Setuju!

Tidak boleh munafik karena siapapun tentu membutuhkan biaya hidup yang murah, tapi cepat tersedia dan nyaman saat digunakan? Setuju sekali!

 

Tapi yang harus diingat adalah, semua ada aturannya..., pun bagi operasional kendaraan roda empat yang melabelkan diri sebagai taksi. Setelah semuanya bersaing secara sehat dengan sama-sama mematuhi peraturan yang ada maka permasalahannya mengerucut pada pelayanan, kemudahan dipanggil saat dibutuhkan, ataupun kenyamanan kendaraan. Sehingga dikemudian hari sudah tidak ada lagi perang tarif yang bisa melenggangkan yang satu namun disisi lain ada yang merasa dibunuh.

 

Selanjutnya, mau jadi penumpang setia taksi konvensional maupun online bebas saja. Yang pasti harus tetap setia kepada pasangan masing-masing.

 

(dnu, ditulis sambil apa hayoooo... ada yang tau? Hahaha....., 24 Maret 2016, 10.22 WIB)

 

Berikut berita yang saya baca di http://www.koran-jakarta.com/uber-dan-grab-diusulkan-jadi-rental/ Semoga bisa jadi referensi dan pembuka wawasan.

 

Jika ingin menjadi operator angkutan harus tunduk pada aturan Undang-Undang 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan.

 

JAKARTA – Hasil pertemuan antara pemerintah dan angkutan berbasis aplikasi menghasilkan kesimpulan sementara, yakni jika transportasi online ingin mendapatkan izin dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) harus berbentuk perusahaan rental mobil.

 

Ini merupakan usulan hasil keputusan rapat bersama antara Plt Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Sugihardjo, Donny Sutadi sebagai Ko- misaris Uber Indonesia, Legal Manager Grab Indonesia Teddy Trianto Antono, Ketua Umum DPP Organda Adrianto dan Kadishub DKI Jakarta Andriansyah.

 

“Kalau bentuk rental kan banyak di DKI, angkutan-angkutan rental yang punya izin, kalau punya cepat silahkan kerjasama dengan yang punya izin, tapi mereka katakan akan membentuk koperasi silahkan juga, tapi semuanya harus mengikuti aturan yang ada,” kata Sugihardjo di Jakarta, Rabu (23/3).

 

Selain itu, tambahnya, ada dua solusi atas polemik taksi konvensional dengan taksi on- line. Namun, solusi ini belum menjadi keputusan mutlak dari pemerintah.

 

Sugihardjo menjelaskan, pertemuan ini merupakan tindak lanjuti dari arahan Menteri Perhubungan Ignasius jonan yang mengundang Organda, Uber, Grab hingga Kadishub DKI Jakarta untuk mencari so- lusi bagaimana pengaturan taksi online.

 

”Kami sudah tanyakan, pilihannya ada dua, apakah sebagai operator angkutan atau sebagai Informasi Teknologi (IT) provider atau penyedia jasa aplikasi,” katanya.

 

Sugihardjo menjelaskan, jika memilih sebagai operator angkutan, tentu harus tunduk pada aturan Undang-Undang 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan.

 

“Dia harus memenuhi berbagai aturan mengenai badan hukumnya yang kedua kendaraannya harus terdaftar, kalau operasinya sebagai taksi, taksi cirinya harus pakai argo meter yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda),” katanya.

 

Sugihardjo menambahkan, jika taksi online ini sebagai rental car (mobil sewa), maka dimungkinkan juga dengan pelat hitam dan tanda khusus yang diberikan oleh pihak kepolisian. Hal ini dikarenakan semua angkutan umum harus terdaftar baik kaitannya dengan uji KIR maupun dengan aspek-aspek pengamanannya.

 

“Dan pengemudinya, jika di-diclare angkutan umum, maka pengemudinya harus mempunyai SIM umum, kalau jenisnya bus SIM B umum, kalau penumpang SIM A umum. Itu diatur di UU, tinggal pilihannya mau jadi operator lakukan itu. Tapi kalau mau jadi penyedia jasa aplikasi itu silahkan,” katanya.

 

Tidak hanya itu, jika Uber dan Grab memilih sebagai penyedia jasa aplikasi, harus bekerja sama dengan pengusaha angkutan umum resmi yang sudah terdaftar. Seperti Grab, ada namanya Grab Taxi yang itu tidak menyalahi dan kerjasama dengan operator-operator taksi yang tidak punya sistem aplikasi itu tetap jalan, dan itu ada yang dilanggar.

 

Revisi Permenhub

 

Sementara itu, pengamat transportasi Agus Pambagyo mengatakan bahwa saat ini pemerintah sedang mengkaji untuk melegalkan angkutan umum berbasis online sebagai angkutan umum resmi (legal) bagi masyarakat Indonesia.

 

”Untuk melegalkan ang- kutan umum berbasis aplikasi secara cepat adalah dengan merevisi Peremenhub No.35 tahun 2003. Saat ini kami bersama berbagai pihak yang terkait menyiapkan draft revisi Permenhub No.35 tahun 2003,” katanya.

 

Revisi tersebut, lanjut Agus, berisi mengenai persyaratan angkutan umum online yang harus dipenuhi meliputi, harus berbadan hukum, berplat no- mor warna kuning, uji kir setiap 6 bulan,memiliki pool, memiliki bengkel, serta pesyaratan lain sebagaimana perusahaan angkutan umum.

 

Dengan demikian, katanya, angkutan umum online yang telah dilegalkan bisa beroperasi karena sudah memenuhi standar keselamatan. Sedangkan proses pembahasan revisi Permenhub No.35 tahun 2003 tidak lama.

 

“Pembahasannya sudah dilakukan sejak seminggu lalu dan diharapkan awal April sudah bisa diterbitkan Permenhub baru. Dalam Permenhub yang baru nanti, akan diatur tarif angkutan umum onlien berdasarkan jenis kendaraan yang dipakai dengan menggunakan range tarif atas dan bawah,” katanya. mza/AR-2

 

Saturday, March 12, 2016

Pembeli Bukan Raja, Penjual Bukan Raja di Raja

Tipe calon pembeli itu memang beragam ya, ada yang manis, sopan, santun, baik, agak cuek cenderung tidak peduli dengan harga yang penting pesan, namun ada juga yang saklek dan membawa peraturan sendiri untuk disepakati saat membeli.

Contohnya adalah kisah kasih kisruh yang belum lama saya alami, behadapan dengan calon pembeli yang tidak mau memahami ketentuan jual beli yang telah saya tetapkan.

Adalah Mbak Cantik calon pembeli yang berencana memesan cake untuk acara yang akan digelar 4 bulan mendatang. Bolak balik ia minta dikirimkan contoh cake yang sudah pernah saya buat, namun ia tak mau mengerti dengan penawaran yang saya ajukan. Menurut saya cara ini adalah win win solution untuk saya selaku pedagang dan dia selaku calon pembeli. Saya katakan padanya untuk bisa melihat-lihat contoh cake di web saya yaitu www.etalasedewi.com atau di instagram @etalase_dewi_ atau di fanpage facebook Etalase Dewi. Tapi dengan keras hati ia mengatakan “tolong dikirimkan saja via bbm gambar-gambarnya…”. Omaygot, oke, saya paham, pembeli adalah raja, walaupun jari-jari saya pada akhirnya lelah karena harus send one by one gambar-gambar cake kepadanya. Oke, geleng-geleng kepala sesi satu telah saya lalui.

Lalu saya pun mulai pada gelengan kepala yang ke dua, yakni tentang penawaran harga. Ia tidak mau dikenakan ongkos kirim selaku biaya yang memang saya tetapkan untuk pengiriman cake. Menurutnya harga yang saya berikan sudah mahal, maka tidak perlu lagi ada ongkos kirim. Saat saya katakan bahwa semua pembeli yang menginginkan cakenya dikirim pasti saya kenakan ongkos kirim, karena dalam pengiriman ini saya menggunakan jasa orang lain, dengan cepat ia menjawab bahwa itu bukan urusan dia. Waw! Yes, you’re my problem also! hihi….. Entahlah ya apakah ia berfikir tak perlu lagi memahami segala urusan penjual karna pembeli adalah sebesar-besarnya raja? Mungkin saja.

Untuk yang ke tiga saya kembali geleng-geleng kepala, pasalnya setelah kami deal harga yang dikenakan ongkos kirim, lagi-lagi kami berselisih paham tentang pola pembayaran. Saya menerapkan untuk segala pembelian produk di etalase ini pembayarannya sudah harus lunas pada H-2. Karena apa? Pembuatan cake perlu segera saya proses, dan untuk menghasilkan produk yang berkualitas maka alasan waktu pengerjaan juga menjadi hal yang utama. Pembayaran 100% diawal juga sebenarnya juga bukan hal yang kaku bin saklek yang harus dipenuhi setiap pembeli. Bisa saja melakukan DP terlebih dahulu namun harus disampaikan dengan cara yang manis.

Sayangnya berbeda dengan Mbak Cantik yang satu ini, dengan penuh percaya diri ia berkata “pokoknya saya akan DP dulu……, pokonya saya maunya tahu beres aja, hari H cake datang dan hasilnya bagus, dan saya akan lakukan pembayaran dengan DP sekian persen dan sisanya saat hari H setelah cake saya pastikan hasilnya memuaskan…”.

Hohoho…… ini adalah warung saya dan saya amat berhak menetapkan peraturan sesuka jidat saya. Kasarnya sih gitu hahaah…. Tapi tenang saja… semua bisa dinegosiasikan kok…. bisa diomongin lagi… peraturan yang saya buat tidak sekaku kanebo kering, masih bisa luwes mengikuti maunya pembeli. Namun catatannya adalah yuk kita diskusi yang asik, dengan cara bicara yang baik, karena kita berdua sama-sama cantik! Hahahaa…

Demikian kisah kasih kisruh saya yang terjadi belum lama ini. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semuanya, sehingga kita bisa saling memahami bahwa antara penjual dan pembeli memiliki haknya masing-masing, dan semuanya bisa dibicarakan untuk mendapatkan keputusan yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Yang membeli jangan selalu beranggapan bahwa dirinya adalah raja dan yang menjual juga jangan selalu beranggapan bahwa dirinya adalah raja di raja.

(dnu, ditulis sebagai pelarian ngerjain studi kasus yang bikin pusing zzzzzzzz……, 12 Maret 2016, 15.13 WIB)
Cc. Edwin Sholeh​

Wednesday, March 9, 2016

Rahasia Kecantikan Wanita

Yuuukk... yang cantik... yang cantik... yang cantiik..... Ikhlas dan tulus memang tidak mudah, pasti adaaaa aja halangannya. Setuju?!

Tapi yaaa... ternyata, keikhlasan dan ketulusan adalah rahasia kecantikan seorang wanita, namun tidak semua wanita mengetahui hal itu. Rasa tulus dan ikhlas datangnya dari hati yang terdalam, dengan penuh kesadaran.

Nah, bagi siapa saja yang ingin menjadi cantik luar dalam, yuk bareng-bareng kita mulai belajar ilmu ikhlas dan tulus. Kita mulai saja dari hal yang paling sederhana, misalnya ada teman yang ngomongin kita di belakang tapi beriitanya sampe ke telinga kita akibat teman lain yang menyampaikan, yuk coba diterima aja.

Kalau ada teman yang berfungsi sebagai tukang pos seperti itu, yaitu menyampaikan kepada kita tentang apa yang terjadi di belakang kita, mari mulai diikhlaskan saja. Pertama, buat apa ya kita peduli berlebihan kepada orang yang senengnya ngomong di belakang. Betul tak?

Kedua, belum tentu juga lho sodara sodaraa tentang kebenaran apa yang teman kita selaku tukang pos tersebut sampaikan. Belum tentu benar adanya... belum tentu benar kejadiannya. sepakat kah???

Jadi kalau ingin menjalani hidup lebih santai nan damai, mulailah meminimalisir hal-hall yang tidak perlu difikirkan, untuk dibuang jauh-jauh. Kalau ada teman yang menyampaikan ini itu tentang kita yang belum tentu jelas kebenarannya, disenyumin aja. Dengarkan saat ia bercerita, lalu berikan senyuman dipenghujungnya. Karena apa? Kita hidup atas kehendak Allah SWT, bukan kehendak orang lain.

Setelah kita mampu bersikap lebih santai, tidak mudah marah, tidak mudah tersulut emosinya, maka sedikit demi sedikit kita sudah mempelajariilmu ikhlas dan tulus. Dimana letaknya? Saat kita mampu menerima semua pendapat manusia dengan hati yang tenang, senyuman dan lengkap dengan prasangka baik, disanalah posisi keikhlasan dan ketulusan mulai terjaga.

Sekali lagi, ketika kita memiliki hati yang baik dan bersih, serta tidak suka bergunjing maka kecantikan yang ada di dalam diri akan memancar ke luar. Jadi secara batin baik dan secara lahirpun terlihat cantik.

Gimana? Bismillah bareng-bareng ya...

Yuuk kita bikin barisan wanita cantik yang tak mudah sakit hati ^^

(dnu, ditulis sambil minum jus sirsak rasa tomat haha..., 9 Maret 2016, 16.13)


Tuesday, March 8, 2016

Yusril Ihza Mahendra dan Shalat Gerhana



Fenomena Gerhana Matahari memang menarik perhatian seluruh umat manusia, karena kejadian alam yang luar biasa ini hanya terjadi 350 tahun sekali untuk melintasi garis bumi yang sama dengan saat ini. Termasuk juga menarik perhatian para politisi dan bakal calon Gubernur DKI Jakarta Yusril Ihza Mahendra.

Pria yang sedang ramai dibicarakan atas kegiatannya berbelanja di pasar dengan mengenakan kaos bergambar kartun Mickey Mouse ini, pagi tadi juga turut melaksanakan ibadah shalat Gerhana sebagaimana disunnahkan bagi umat muslim dimanapun berada. Dengan bertindak sebagai imam shalat, melalui foto yang dipampang di akun twitter @yusrilihza_Mhd, Yusril terlihat khusyuk menunaikannya. Namun ada satu hal yang membuat saya selaku penyuka Yusril Ihza Mahendra gerah tak terkira. Hal tersebut adalah perilaku beliau yang mengupload adegan shalatnya dalam beberapa twitt pic, lengkap dengan keterangannya yang sangat tidak elok dilakukan oleh seorang calon pemimpin bangsa.

Diantara gambar-gambar tersebut adalah gambar saat Yusril berdiri shalat, bersujud, dan menengadahkan tangan tampak sedang berdoa usai shalat. Keterangan gambar yang diberikan pun cukup jelas, kurang lebih seperti ini “saat shalat gerhana, bersujud saat shalat gerhana, dan menengadahkan tangan usai shalat gerhana”.

Entahlah ya pencitraan macam apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pria tampan ini, apakah ingin dilihat taat beribadah, muslim sejati atau apa? Tapi yang pasti apapun tujuannya sangat tidak pantas sebuah ibadah digembar-gemborkan ke khalayak umum ditambah lagi dengan cara yang amat gamblang.

Dalam kicauannya Yusril juga mengatakan bahwa foto-foto tersebut diambil oleh salah seorang staffnya yang beraagama Kristen, sehingga saat ibadah berlangsung ybs memang tidak turut melakukan shalat gerhana, tapi…. tetap saja hal ini tidak perlu disajikan ke muka umum. Lebih indah rasanya jika Yusril ingin menunjukkan bahwa dirinya turut melakukan Ibadah saat terjadi gerhana matahari, cukup dengan berfoto selfie lalu berikan caption “yuk bareng-bareng kita shalat Gerhana…”. Titik, itu saja. Dengan kalimat tersebut juga khalayak ramai sudah paham bahwa Yusril turut menunaikan shalat geerhana. Jangan terlalu terbuka, nanti riya jatuhnya.

Selanjutnya melalui tulisan ini saya cumau bilang ;
“Sayang aja sih Pak… ibadah yang semestinya hanya menjadi rahasia kita dan Allah SWT tapi ini dipublikasikan kemana-mana… nanti pahalanya berkurang deh… L… Maaf ya Pak….“

(dnu, ditulis sambil makan rambutan, 9 Maret 2016, 10.37 WIB)

Selamat Hari Perempuan Internasional, Selamat Berbakti Bagi Seluruh Muslimah Indonesia!



Kadang kala kita boleh berbangga hati, termasuk juga dalam peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada hari ini (8/3). Dimana sebagai perempuan Indonesia cukup banyak momen peringatan yang khusus ditujukan kepada kaum hawa, yaitu adanya Hari Kartini dan Hari Ibu.

8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional, hal ini dianggap sebagai penghargaan atas keberhasilan kaum perempuan dalam bidang politik, ekonomi dan sosial.

Begitu banyak kelebihan yang Tuhan berikan kepada sosok yang dikenal cengeng namun istimewa ini, diantaranya mengandung jabang bayi hingga melahirkan, menyusui dan lain-lain. Selain itu bagi kaum muslimah ada 3 keutamaan yang hanya ada dalam diri wanita yakni :

·        Saat masih kecil perempuan adalah pembuka pintu syurga bagi ayahnya. Segala amal bbaiknya akan kembali kepada ayahnya yang telah menjadikannya perempuan yang sholeha.
·        Saat dewasa dan sudah berstatus sebagai istri, perempuan menjadi pelengkap agama suaminya dan menjadi temannya menuju syurga.
·        Dan saat menjadi Ibu, syurga ada di telapak kakinya, serta derajat seorang Ibu menjadi lebih tinggi dari ayah.

Seorang Ibu juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Ia dituntut untuk menjadi pribadi yang cerdas, karena Ibu yang cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas pula.

Bagi para orang tua yang memiliki anak perempuan juga patut ekstra kerja keras dalam menjaga tumbuh kembangnya. Pasalnya dewasa ini semakin banyak kekerasan yang terjadi dan menimpa kaum wanita, misalnya penganiayaan terhadap pembantu rumah tangga, perdagangan perempuan, hingga pelecehan seksual yang menimpa anak dibawah umur.

Adalah bukan hal yang sederhan tentang apa yang sudah Allah SWT anugerahkan kepadanya, untuk itu sebagai kaum hawa marilah kita bersama-sama berubah menjadi lebih baik agar selalu mampu membukakan pintu syurga bagi ayah dan menjadi teman sang suami untuk menuju syurga.

Menjaga keistimewaan dan kemuliaan sebagai seorang perempuan tidaklah mudah,untuk itu teruslah berbakti kepada diri, keluarga, agama dan negeri melalui tahapan-tahapan yang paling sederhana. Menaati semua perintah suami dan agama menjadi salah satu kunci sebagai muslimah yang sejati. Selanjutnya bisa diteruskan untuk berbakti kepada negeri, karena wanita akan semakin mulia jika mampu berbagi kepada sesama.

(dnu, ditulis sambil makan es campur, 8 Maret 2016, 19.41 WIB) 


Friday, March 4, 2016

Pola Pendidikan Finlandia yang Bersahabat dengan Anak

“Di Finlandia, anak-anak baru boleh bersekolah setelah berusia 7 tahun”

Point pertama ini menurut saya sangat tepat, sudah sesuai dengan ketentuan pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dimana untuk bisa bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri seorang anak harus sudah berusia 7 tahun.

Tapi di Indonesia cukup banyak berdiri SD swasta yang bisa menerima calon murid walaupun belum berusia 7 tahun.

Bagi orang tua zaman sekarang nampaknya telah menjadi gengsi yang cukup besar jika anaknya bisa masuk sekolah lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Misalnya, sudah masuk SD saat usia masih kurang dari 6 tahun. Serta dengan berbagai alasan para orang tua kerap “memaksakan diri” agar anaknya bisa segera mencicipi bangku sekolah.

Selain gengsi, ada juga yang berpendapat bahwa tumbuh kembang seorang anak bisa lebih baik jika disegerakan masuk sekolah. Siapa yang berpendapat seperti ini? Kebanyakan diungkapkan oleh para pasangan orang tua yang bekerja, dimana mereka tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak di siang hari, dan juga tidak adanya orang yang bisa mengasuh anaknya tersebut. Maka pilihannya jatuh pada menyekolahkan anak di usia yang belum waktunya.

Alih-alih menitipkan anak di tempat penitipan anak (Day Care), terselip juga pendapat “disana anak tidak dititipkan hanya untuk bermain, tapi juga belajar...” Lagi-lagi seorang anak belajar hal-hal yang lebih tinggi dari kemampuannya.

Bahkan banyak ditemukan anak berusia 4 tahun namun sudah belajar membaca, menulis dan berhitung. Bukankah hal ini terlalu dini untuk dilakukan? Dan kenyataannya kejadian ini banyak ditemukan di Indonesia.

Finlandia menetapkan batasan usia masuk SD di angka 7 tahun tentu dengan alasan yang tepat, yakni pada usia tersebut adalah kondisi dimana seorang anak sudah siap baik secara fisik maupun mental.

Pernah ingat di Indonesia zaman dahulu kala, jika seorang anak ingin masuk SD maka tangan kanannya harus telah mampu menggapai telinga kirinya melalu atas kepala? Adalah contoh sederhana yang menurut saya kesiapan fisik adalah hal utama yang juga perlu dipertimbangkan.

Budaya orang tua yang telah mengajarkan anaknya belajar sedini mungkin memang cukup kuat di Indonesia ini. Dengan berbagai alasan mereka menempuh jalannya masing-masing untuk menyekolahkan anaknya, mulai dari masuk pada usia yang terlalu dini hingga pergi sekolah yang tak pulang-pulang alias jam sekolah yang lebih dari 7 jam!

Yuk sebagai orang tua kita perhatikan lagi anak-anak kita apakah sudah berada di usia yang paling tepat untuk mengenyam pendidikan atau belum ^^. Satu hal yang harus diingat, dunia anak dibawah 7 tahun adalah berlari, berputar dan menari, membaca, menulis dan berhitung.

(dnu, ditulis sambil makan biskuit di asrama Sunan Giri, 5 Maret 2016, 08.51 WIB)