Saturday, March 12, 2016

Pembeli Bukan Raja, Penjual Bukan Raja di Raja

Tipe calon pembeli itu memang beragam ya, ada yang manis, sopan, santun, baik, agak cuek cenderung tidak peduli dengan harga yang penting pesan, namun ada juga yang saklek dan membawa peraturan sendiri untuk disepakati saat membeli.

Contohnya adalah kisah kasih kisruh yang belum lama saya alami, behadapan dengan calon pembeli yang tidak mau memahami ketentuan jual beli yang telah saya tetapkan.

Adalah Mbak Cantik calon pembeli yang berencana memesan cake untuk acara yang akan digelar 4 bulan mendatang. Bolak balik ia minta dikirimkan contoh cake yang sudah pernah saya buat, namun ia tak mau mengerti dengan penawaran yang saya ajukan. Menurut saya cara ini adalah win win solution untuk saya selaku pedagang dan dia selaku calon pembeli. Saya katakan padanya untuk bisa melihat-lihat contoh cake di web saya yaitu www.etalasedewi.com atau di instagram @etalase_dewi_ atau di fanpage facebook Etalase Dewi. Tapi dengan keras hati ia mengatakan “tolong dikirimkan saja via bbm gambar-gambarnya…”. Omaygot, oke, saya paham, pembeli adalah raja, walaupun jari-jari saya pada akhirnya lelah karena harus send one by one gambar-gambar cake kepadanya. Oke, geleng-geleng kepala sesi satu telah saya lalui.

Lalu saya pun mulai pada gelengan kepala yang ke dua, yakni tentang penawaran harga. Ia tidak mau dikenakan ongkos kirim selaku biaya yang memang saya tetapkan untuk pengiriman cake. Menurutnya harga yang saya berikan sudah mahal, maka tidak perlu lagi ada ongkos kirim. Saat saya katakan bahwa semua pembeli yang menginginkan cakenya dikirim pasti saya kenakan ongkos kirim, karena dalam pengiriman ini saya menggunakan jasa orang lain, dengan cepat ia menjawab bahwa itu bukan urusan dia. Waw! Yes, you’re my problem also! hihi….. Entahlah ya apakah ia berfikir tak perlu lagi memahami segala urusan penjual karna pembeli adalah sebesar-besarnya raja? Mungkin saja.

Untuk yang ke tiga saya kembali geleng-geleng kepala, pasalnya setelah kami deal harga yang dikenakan ongkos kirim, lagi-lagi kami berselisih paham tentang pola pembayaran. Saya menerapkan untuk segala pembelian produk di etalase ini pembayarannya sudah harus lunas pada H-2. Karena apa? Pembuatan cake perlu segera saya proses, dan untuk menghasilkan produk yang berkualitas maka alasan waktu pengerjaan juga menjadi hal yang utama. Pembayaran 100% diawal juga sebenarnya juga bukan hal yang kaku bin saklek yang harus dipenuhi setiap pembeli. Bisa saja melakukan DP terlebih dahulu namun harus disampaikan dengan cara yang manis.

Sayangnya berbeda dengan Mbak Cantik yang satu ini, dengan penuh percaya diri ia berkata “pokoknya saya akan DP dulu……, pokonya saya maunya tahu beres aja, hari H cake datang dan hasilnya bagus, dan saya akan lakukan pembayaran dengan DP sekian persen dan sisanya saat hari H setelah cake saya pastikan hasilnya memuaskan…”.

Hohoho…… ini adalah warung saya dan saya amat berhak menetapkan peraturan sesuka jidat saya. Kasarnya sih gitu hahaah…. Tapi tenang saja… semua bisa dinegosiasikan kok…. bisa diomongin lagi… peraturan yang saya buat tidak sekaku kanebo kering, masih bisa luwes mengikuti maunya pembeli. Namun catatannya adalah yuk kita diskusi yang asik, dengan cara bicara yang baik, karena kita berdua sama-sama cantik! Hahahaa…

Demikian kisah kasih kisruh saya yang terjadi belum lama ini. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi semuanya, sehingga kita bisa saling memahami bahwa antara penjual dan pembeli memiliki haknya masing-masing, dan semuanya bisa dibicarakan untuk mendapatkan keputusan yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Yang membeli jangan selalu beranggapan bahwa dirinya adalah raja dan yang menjual juga jangan selalu beranggapan bahwa dirinya adalah raja di raja.

(dnu, ditulis sebagai pelarian ngerjain studi kasus yang bikin pusing zzzzzzzz……, 12 Maret 2016, 15.13 WIB)
Cc. Edwin Sholeh​