Monday, May 30, 2016

Cinta Itu Butuh Jarak

Katanya untuk menyimpan rindu.
Katanya untuk memendam rasa.
Dan katanya untuk mengumpulkan segenap rasa sayang.

Cinta yang terpisah ruang dan waktu katanya adalah bumbu sedap untuk menguji kalbu.
Bagaimana dua insan bisa saling bertahan, dan bagaimana dua insan bisa tetap saling menumbuhkan.

Cinta yang terpisah ribuan kilo meter katanya adalah kumpulan kasih yang menggelora.
Tetap berada dalam tempatnya masing-masing, hingga Yang Maha Kuasa turun tangan untuk mempertemukan. Namun adalah masa yang indah jika dua nama terpaut setiap malam dalam doa.
Saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Katanya cinta itu butuh jarak.
Tentu saja benar, agar tak ada yang turut campur dalam rasa, asa dan rencana.
Merangkai warna hanya berdua, dari ribuan langkah yang terpisah.

(dnu, ditulis sambil kedip-kedip nahan mata pusing tak berglasses, 30 Mei 2016, 12.47 WIB)

Sunday, May 29, 2016

Kemauan Adalah yang Paling Mahal



Usai meonton berita tentang seorang Polisi yang tak segan menjadi tukang pulung sampah usai jam kerja setiap harinya, saya berfikir dalam hidup ini apa sih yang paling mahal. Adalah “kemauan” menjadi hal yang paling mahal karena tidak mudahnya dipenuhi oleh setiap orang.

Lihat saja Bripka Seladi, seorang Polisi yang bekerja sebagai bintara di Satuan Polisi Lalulintas Polres Malang Kota dengan pangkat Bripka atau Brigadir Kepala, serta bertugas juga di bagian pengurusan penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) roda empat di Polres yang sama, ia tak malu untuk menjadi pemulung sampah.

Di televisi ia bercerita tak sedikit orang yang berusaha memberikannya sejumlah uang demi bisa segera terbit SIM-nya tanpa harus melalui tes yang semestinya. Setiap kali ada yang mencoba memberikan “uang suap”, setiap kali itu pula Bripka Seladi menolaknya. Lalu bagaimana Bripka Seladi berusaha mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup dia dan keluarganya? Kini, siapa sih yang tidak tahu bahwa Bripka Seladi memulung sampah setiap usai bekerja?.

Inilah yang namanya kemauan atau niat. Kemauan untuk tetap berada pada jalur pekerjaan yang benar dan halal. Adalah bukan hal yang mudah di zaman seperti sekarang ini kita bisa menjunjung tinggi kekuatan untuk menolak hal-hal yang tidak semestinya, dan tentu kita sama-sama tahu bahwa godaan setan ada dimana-mana. Kemauan berikutnya adalah kemauan untuk mencari pekerjaan halal lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, walau harus dengan menjadi pemulung sampah. Lalu yang ke tiga adalah kemauan untuk tetap menjadi diri sendiri.

Bripka Seladi telah mengajarkan kita semua tentang mahalnya sebuah “kemauan”. Kadang kala manusia kerap berfikir tentang kesulitas-kesulitan yang mungkin dihadapi dalam melakukan sesuatu. Sehingga bayang-bayang kekhawatiran tersebut berhasil membuat kita mundur perlahan dan tak melakukan apa-apa, hingga otomatis rasa “mau” untuk berubah demi sesuatu yang lebih baik lagi-lagi pupus begitu saja. Karena apa? Kekhawatiran yang kadang tak beralasan.

Jika sering terdengar ungkapan “hidup saya begini-begini aja…. ngga berubah dari dulu….”, mengapa demikian? Karena kita tidak mau berubah! Tidak mau mengubah diri. Tidak mau melakukan perubahan. Bahkan bisa dikatakan tidak mau membuat semuanya berubah. Toh setiap manusia menginginkan kehidupan yang lebih baik setiap harinya bukan? Lantas apa yang perlu dilakukan? Yang pertama “mau”. Mau berubah. Mau menerima perubahan. Mau melakukan upaya yang lebih keras dan lebih menantang! Ini namanya apa? Yup, inilah ikhtiar.

Ikhtiar adalah yang Tuhan YME inginkan. Berproseslah agar semuanya berubah. Jangan hanya pandai bergumam meratapi kemajuan pekerjaan orang lain, hidup orang lain, pendidikan orang lain, hingga peningkatan harta orang lain tanpa pernah mau melakukan perubahan di dalam diri sendiri.

Setelah ada kata “mau” di dalam kepala, niscaya seluruh hati, jiwa dan raga akan mendukung. Alam semestapun akan mendukung apa yang menjadi niat baik setiap manusia. Rasa malu pun akan hilang. Lihat saja Bripka Seladi, bagaimana ia dengan bahagia menjadi pemulung sampah dengan tetap menyandang statusnya sebagai Polisi. Apakah ini memalukan? Tentu saja tidak, karena apa yang ia lakukan adalah pekerjaan yang halal. Sebaliknya, menerima suap adalah yang sesungguhnya amat memalukan.

So, masih menginginkan hidup yang lebih baik dari hari ke hari? Berubahlah! Katakan pada dunia “saya mau berubah dan saya mau berproses agar menjadi lebih baik!”. Sekali lagi, setelah ada kata “mau” maka bersiaplah, alam semesta akan mendukung.

(dnu, ditulis sambil nahan punggung yang pegel kayak orang hamil hahah…., 29 Mei 2016, 20.17 WIB)

Tuesday, May 24, 2016

Surat Terbuka untuk Para Pemerkosa

Kalian semua tentu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kami para pembaca berita tentang kebiadaban kalian. Bagaimana kami bersumpah serapah, bagaimana kami mengutuk kalian semua dan bagaimana kami menginginkan kalian mati dengan segera. Karena apa? Air mata yang sungguh tak mampu kami bendung, karena tebawa perasaan saat membaca berita keji atas perbuatan kalian.

Tak apa ya jika mulai saat ini kami menyebut kalian sebagai penjahat kelas berat. Penjahat yang kami sendiri bingung dengan apa bisa menghukum kalian sehingga terasa imbang dengan perbuatan bejat kalian. Penjahat yang kami tak pernah habis fikir dimana otak kalian saat berniat dan melakukan perbuatan paling nista sedunia tersebut. Penjahat yang telah mampu membuat alam semesta menangis, daun berguguran seiring dengan turunnya hujan yang menambah kepedihan.

Tak apa ya jika kini kami ingin bertanya kepada kalian, dimana sebenarnya hati kalian? Dimana sebenarnya rasa kemanusiaan kalian? Dimana sebenarnya moral kalian? Dan dimana sebenarnya posisi otak kalian? Masih ada semua kan? Tapi dimana?? Masih sehatkah jiwa kalian??

Apakah kalian tahu bahwa keluarga korban yang kalian lakukan perkosaan akan mengandung kesedihan sepanjang hidupnya? Apakah kalian paham bahwa jutaan orang di luar sana menangis berkepanjangan atas kepergian korban yang meninggal akibat perbuatan kalian? Apakah kalian mengerti bahwa rasa trauma yang dialami korban ataupun keluarganya tidak akan bisa hilang dalam hitungan bulan? Apakah kalian tahu bahwa kalian telah melukai banyak orang?

Kami juga tidak habis fikir, apakah kalian paham bahwa perbuatan biadab kalian adalah sebuah penghancuran masa depan orang lain? Apakah kalian ingat bahwa hidup dan kehidupan seseorang telah rusak atau bahkan habis akibat perbuatan kalian?

Kami tidak akan pernah bisa menerima semua alasan kalian saat memerkosa. Karena korban berjalan sendirian? Karena korban pernah menolak cinta kalian? Karena kalian terpengaruh minuman keras? Kami tegaskan, itu bukan sebuah alasan!

Jika kalian katakan perbuatan tersebut adalah sebuah kekhilafan, kealpaan, dorongan setan atau bahkan bisikan iblis, lantas siapa yang harus kami salahkan? Iblis kah??? Setan kah??? Kalianlah yang harus menjaga diri kalian agar tidak terpengaruh makhluk-makhluk tersebut! Bukan yang tak nampak yang pantas dijadikan sebab!

Terakhir, tak apa ya jika kini seluruh alam semesta menghujat kalian dan hanya menginginkan kalian menebus semua perbuatan itu dengan melayangnya nyawa kalian. Yang kami yakin kalian pasti tak akan pernah tahu bahwa ada kami disini yang berfikir bahwa apapun hukuman yang kalian terima, semuanya tak akan bisa menjadi seimbang atau setimpal. Tapi kami percaya, negara dan masyarakat sosial akan melakukan yang semestinya.

Demikian, salam tangis tak henti dari kami.

(dnu, ditulis sambil nungguin abang ojek datang membawa sate ayam bukan dari Senayan, 24 Mei 2016, 19.36 WIB)  

Saturday, May 14, 2016

Darurat Perkosaan Anak, Semua Pihak Harus Berbenah Diri

Siapa yang tidak tahu akhir-akhir ini banyak sekali tersiar kabar tentang perkosaan anak dibawah umur bahkan balita, yang pelakunya juga masih dibawah umur. Mulai dari kasus Yuyun, hingga kasus balita usia 2,5 tahun yang dibuang di rumah kosong usai diperkosa. Setiap yang mendengar berita ini secara otomatis dibawah alam sadar langsung saja mengucapkan sumpah serapah bagi sang pelaku, mulai dari menghujat agar dihukum kebiri hingga hukuman mati.

Lalu dengan dijatuhkannya hukuman kepada para pelaku apakah tali kejahatan seksual kepada prempuan khususnya anak-anak telah terputus dengan sempurna? Tentu saja tidak. Dan sudah pasti tidak seorangpun menginginkan hal seperti ini terulang kembali, kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk turut mencegah terjadinya pelecehan seksual yang berujung kematian?

Beberapa pihak harus segera berbenah diri menyikapi hal ini. Karena setiap dari kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk memperbaiki moral dan etika setiap manusia, mulai dari lingkungan yang terdekat hingga terjauh yang kita tidak saling kenal. Mengapa demikian? Karena tak pernah ada pembatas kepada siapa kita berbuat suatu kebaikan.

Siapa saja yang harus berbenah diri mulai saat ini?

1.    KELUARGA

Dimulai dari unit yang terkecil yaitu keluarga, dimana lingkup ini adalah pemberi pondasi yang paling kuat bagi setiap manusia dalam masanya ia tumbuh dan berkembang. Sudah selaknya para orang tua memberikan pembekalan mulai dari sisi agama hingga perilaku yang harus dilakukan setiap anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Tak sedikit pendapat mengatakan bahwa bagaimana seorang anak bersikap adalah tergantung bagaimana ayah ibunya hingga keluarganya. Peran orang tua amat penting disini, bagaimana menjaga agar anaknya tidak menjadi korban, serta bahkan tidak menjadi pelaku pelecehan seksual.

Adalah tanggung jawab yang besar bagi kedua orang tua karena sebelum seorang anak menapaki hidup di luar umah maka seisi rumahnya adalah pondasi terpenting yang akan menjadi dasar bagaimana ia bersikap di luar. Sebagai ayah atau ibu maka sudah semestinya mampu memberikan pendidikann yang tepat bagi anak-anaknya, termasuk memberikan pemahaman yang berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan.

Adalah bukan hal yang tabu bagi orang tua untuk memberikan pendidikan tentang seksualitas kepada anak-anaknya. Ambillah hal ini dari sisi pendidikannya bukan yang lainnya. Mungkin saja seorang anak perempuan belum memahami benar resiko-resiko apa saja yang mengintai dirinya jika salah bersikap atau salah berpakaian. Namun dengan menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa kasih dan sayang dari orang tua maka semuanya bisa tersampaikan dengan baik.

Tentunya terkait urusan seksual, kepada anak laki-laki para orang tua selayaknya bisa berpesan agar selalu menghormati anak perempuan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Hal ini akan tertanam didalam benak sang anak bahwa “saya harus menghormati perempuan, siapapun dia”. Jadi jika besar nanti tidak lagi ada pendapat tentang pelecehan seksual atau bahkan perkosaan terjadi karena lelaki tidak menghormati dan menghargai perempuan akibat cara berpakaiannya. Dimana dalam satu garis yang sama banyak perempuan yang mengatakan bahwa pelecehan seksual terjadi adalah karena pola pikir laki-laki yang tidak baik, sama sekali bukan karena caranya berpakaian.

Begitu juga sebaliknya, para orang tua juga harus menanamkan pemahaman yang sempurna kepada anak perempuannya tentang cara berpakaian yang baik, sopan dan tidak mengundang kejahatan. Sehinga saat beranjak besar ia telah terbiasa untuk memakai pakaian yang tidak mengundang fikiran jahat laki-laki.

Dengan demikian baik laki-laki maupun perempuan akan senantiasa memahami posisinya masing-masing, apa yang harus dilakukannya dan bagaimana seharusnya ia bersikap terhadap lawan jenis.

Sebenarnya banyak hal yang perlu ditanamkan oleh para orang tua untuk anaknya, seperti penjagaan yang ketat terkait akses internet yang ada di rumahnya agar kebebasan berselancar di dunia maya bisa lebih terjaga dan tidak berlari ke hal-hal yang belum boleh menjadi konsumsinya. Namun yang digaris bawahi oleh penulis disini adalah pemahaman dalam pikiran dan hati anak-anak agar senantiasa saling menghargai dan mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan. Sehingga di kemudian hari tidak lagi ada perdebatan gender yang saling menyalahkan jika terjadi sebuah pelecehan seksual.

2.         SEKOLAH

Pihak ke dua yang juga perlu berbenah diri adalah sekolah sebagai tempat mencari ilmu. Dimana dalam pendidikan formal ini tentu telah diajarkan tentang pendidikan moral dalam hidup dan kehidupan. Kembali yang perlu dibenahi adalah segenap pengajaran yang telah diberikan hendaknya terus dipantau oleh para pendidik di sekolah. Perhatian dapat dilakukan mulai dari hal yang paling sederhana yaitu memperhatikan setiap anak saat bermain di sekolah, apakah terlihat gerak gerik yang tidak baik dari siswa lelaki kepada siswa perempuan, ataupun sebaliknya.

Adalah cikal bakal yang mudah terlihat jika dalam permainan sehari-hari termasuk di sekolah seorang anak mulai bergurau dengan hal yang tidak semestinya, misalnya menarik-narik pakaian dan lain sebagainya.

Pemahaman untuk saling menghargai dan menghormati antar sesama teman tentu telah senanitasa ditanamkan oleh setiap pendidik di sekolah, namun apakah setiap anak telah mengaplikasikannya dengan baik, itu yang perlu ditelaah lagi. Lantas ini menjadi tugas siapa? Pihak sekolah memiliki peran yang juga amat penting didalamnya.

Harapannya para pendidik juga terus ikut terlibat dalam perkembangan moral setiap anak didiknya yang dipantau dengan detil saat anak-anak bermain di sekolah. Dan jika ditemukan penyelewengan-penyelewengan yang bisa berdampak buruk maka bisa segera diatasi sebelum berkembang lebih jauh lagi.

3.         LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Bagaimana lingkungan yang kita tinggali? Apakah kita telah berada di lingkungan yang baik dari berbagai sisi diantaranya keagamaan, kesehatan, dan tentunya sisi moralitas?. Selain keluarga dan sekolah, lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pembentukan moral manusia terutama anak-anak. Bagaimana ia tumbuh dan berkembang jelas tergantung dari bekal apa yang ia dapatkan dari keluarga, pendidikan seperti apa yang dia dapatkan dari sekolahnya dan pendidikan terapan seperti apa yang ia dapatkan dari lingkungan tempat tinggalnya.

Lingkungan tempat tinggal adalah arena yang setiap hari seseorang ada disana, tinggal di sana, bermain di sana dan meyerap apa-apa yang ada di sana. Lantas bagaimana jika lingkungan yang kita tinggali ternyata tidak baik? Sekali lagi, bukankah setiap manusia menginginkan pertumbuhan hidup yang bisa membawa kebaikan? Itulah jawabannya.

Lalu bagaimana jika sebuah keluarga tidak memiliki pilihan untuk pindah ke lingkungan yang lebih baik, bahkan bisa dikatakan lingkungan tersebut memang membahayakan? Balik lagi ke keluarga dan sekolah sebagai pemilik peranan yang paling penting bagi kelangsungan hidup seorang anak.

Lingkungan sepi, jauh dari rumah penduduk, jalan menuju sekolah harus berkilo-kilo meter jauh dan sepinya... Lantas bagaimana kita menjaga seorang anak agar tetap aman walau berjalan sendirian? Yuk para perangkat desa, keamanan, kepolisian dan perangkat daerah lainnya agar ikut turun tangan untuk membentuk tempat tinggal yang aman, nyaman dan bermoral.

Tak ingin ada lagi “Yuyun” yang lain bukan? Mari kita sama-sama berbenah diri, karena siapapun kita tentu memiliki peranan penting dalam keberlangsungan hidup anak-anak kita.

(dnu, ditulis sambil kuliah di siang hari yang cerah, 14 Mei 2016, 14.36 WIB)

Monday, May 2, 2016

3 Inspirasi dari 3 Sekolah Dasar

Kali ini saya ingin berbagi tentang inspirasi yang saya dapatkan dari 3 orang guru Sekolah Dasar saya. Ketiganya amat berkesan, karena apa, karena mereka berasal dari 3 sekolah yang berbeda. Maklum, ketika  usia Sekolah Dasar (SD) saya bersekolah di 3 SD yang berbeda. Dikarenakan satu dan lain hal maka saya sempat berpindah 2 kali, sehingga total ada 3 SD yang saya punya hehe...

Di SD yang pertama yaitu SDI Al Khairiyah, Bekasi. Ada satu guru yang hingga kini saya selalu terkenang kata-katanya dan nyaris membuat saya percaya diri menjalani hidup. Ust. Asy’ari, begitu beliau akrab disapa. Saat upacara bendera ia memberikan sambutan dengan sebaris kalimat seperti ini “walaupun sekolah kita berada di kampung, di pelosok, tapi kita harus tetap yakin bahwa dari sekolah ini akan lahir mutiara-mutiara yang indah dan akan berguna bagi agama, bangsa dan negara...”

Itu dia sebaris kalimat sakti yang saya pegang hingga kini. Jadi dimanapun kita bersekolah selama kita belajar dengan baik dan gigih meraih cita-cita, InsyaAllah akan dibukakan jalan untuk memudahkan semuanya J

Lalu SD yang ke dua, namanya SDN Pondok Gede III, Bekasi. Seorang guru cantik jelita berambut panjang dan sering sekali di kepang kala mengajar dulu. Namanya Ibu Yuli, namun kami biasa memanggilnya Bu Yul. Saat itu beliau terlihat masih muda belia, namun perkataan yang selalu ia sampaikan kepada anak muridnya sangat berisi dan mengandung banyak arti. Salah satunya yang hingga kini saya amiini dan selalu saya lakukan yaitu ia pernah berkata “Saya kalau mau ujian selalu minta doain sama Ibu saya, karena doa Ibu itu mujarab....” Saya ingat jelas perkatan beliau. Dan kalau tidak salah dulu saat mengajar kami di kelas 5 beliau itu masih melanjutkan studi S1nya. Maka, setiap kali akan ujian ia selalu meminta doa restu dari sang ibunda.

Bagaimana dampaknya buat saya sejak saat itu hingga kini? Yup, saya tidak pernah lupa meminta doa kepada Ibu saya saat akan menempuh ujian, lebih lagi jika bidang studi yang akan saya tempuh untuk ujian adalah yang termasuk sulit atau tidak mudah dipecahkan. Pasti dengan penuh harap sambil mencium tangan Ibu saya selalu memohon doa kepada beliau. Hasilnya apa? Ujian selalu bisa dilewatkan dengan tenang. Entah jawabannya 100% benar atau tidak, yang pasti tidak terjadi kepusingan, kebingungan dan kegalauan dalam menghadapi ujian tersebut. Karena apa? “Doa Ibu itu mujarab...”.

Terakhir SD yang ke tiga, namanya SDN Setu 04, hanya satu tahun saya bersekolah disini, kelas 6 saja, tapi memorinya masih ada disini, di hati ini hihi.... Namanya Bu Eni, guru kelas saya. Yang masih saya ingat dan saya aplikasikan hingga saat ini yaitu perkataan Bu Eni tentang sopan santun. Beliau pernah mengajari kami mengenai tata cara keluar masuk kelas, dimana kala itu teman-teman saya kadang keluar masuk kelas sesukanya alias tanpa izin dari sang guru hehe... Lalu Bu Eni berkata, “anak yang baik adalah anak yang mengerti sopan santun... yaitu dengan sering-seringlah menyampaikan maaf jika ingin melakukan sesuatu.... misalnya mau ke WC yaitu bilang Bu Maaf saya mau ke WC....”. Kata maaf itu artinya luas, seseorang bisa tersentuh hatinya jika kita mengucapkan kata maaf terlebih dahulu sebelum meminta sesuatu.

Nah, hal ini sejalan dengan berbagai pengetahuan yang saya dapatkan kemudian, bahwa perkataan Bu Eni itu sangat benar adanya. Pernah dengar ungkapan 3 kata sakti yaitu “terima kasih, maaf dan tolong”? Jika pernah, apakah telah konsisten mengaplikasikannya? Jika iya, sudah merasakan dampak positifnya? Pasti! Sama kan dengan perkataan Bu Eni tentang kata “maaf?” Luar biasa ya! Dan saya selalu berusaha agar tidak pernah lupa dengan 3 kata tersebut J

Semua guru menginspirasi dan semuanya mengisi relung hati. Tapi yang mampu saya tuliskan hanya 3 ini, kapan-kapan semoga bisa dituliskan semuanya J

Dan kini saya percaya bahwa seorang guru adalah benar-benar pahlawan tanpa tanda jasa.

(dnu, ditulis sambil dengerin lagunya Nidji ‘Sumpah dan Cinta Matiku’ OST ‘Tenggelamnya Kapan Van Der Wijck’ Hayati lelaaahh..... hahaha....., 2 Mei 2016, 15.04 WIB)

Tingkatkan Kompetensi Diri untuk Pendidikan Indonesia yang Lebih Baik

Bakat itu bukan takdir. Kepandaian juga bukan takdir. Begitu pula dengan kemampuan diri dalam melakukan sesuatu yang juga bukan takdir. Semuanya akan berdiam menjadi nasib jika seseorang tidak berupaya mengubahnya. Ketertinggalan, keterbelakangan dan kerendahan kompetensi diri akan semakin mengakar jika kita tidak berusaha meningkatkannya. Kemauan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik adalah kekuatan yang dapat mengubah kehidupan seseorang dan orang lain menjadi lebih baik dan lebih maju.

Demikian pula dengan kita, seorang pekerja kantoran, seorang guru, seorang penyanyi, seorang penari, ilmuwan, arsitek dan seorang apapun kita jika tidak berkeinginan kuat untuk meningkatkan kompetensi diri maka tidak akan menjadi apa-apalah kita di hari-hari berikutnya. Hanya lahir, hidup, tumbuh, namun tidak berkembang. Lalu menunggu mati dan hanya ada sepotong kayu berdiri di atas pusara bertuliskan nama kita. Tanpa ada yang mengenang kita satupun, bukan karena kita pahlawan untuk dikenang tapi karena kita pernah bermanfaat bagi orang lain melalui kegigihan kita meningkatkan kompetensi diri.

Pada hakikatnya meningkatkan potensi diri adalah mengembangkan kemampuan yang telah ada dalam diri kita masing-masing. Untuk apa? Jika dikaitkan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional maka pengembangan diri yang kita lakukan dapat diarahkan untuk membantu pemerintah untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Keberlangsungan pendidikan Indonesia sejatinya memang menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kita tidak boleh menutup sebelah mata bahwa sesungguhnya pendidikan adalah tanggung jawab bagi semua orang yang terdidik. Siapapun itu yang menaruh empati dan keinginan besar untuk turut memajukan pendidikan Indonesia hendaknya perlu didukung dan ditiru semangatnya.

Bukti nyata untuk turut memajukan pendidikan Indonesia bisa dilakukan dengan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing untuk selanjutnya kita tularkan atau kita bagikan kepada orang lain, termasuk juga kepada generasi penerus yang ada dibawah kita. Segenap kemampuan yang dibawa sejak lahir, lalu diasah dan semakin dipertajam maka akan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.

Berbagi ilmu dan pengalaman merupakan tahapan-tahapan sederhana sebagai kontribusi kita bagi pendidikan Indonesia. Misalnya dengan menjadi mentor anak, pendidik atau motivator bagi orang lain adalah bentuk berbagi pengetahun demi kemajuan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dalam suasana apa saja, tidak dalam harus suasana yang formal namun dalam kondisi yang santai sekalipun memotivasi orang lain tetap bisa dilakukan. Dengan menyadari potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing maka dengan mudah kita bisa mengembangkannya agar lebih bermanfaat untuk orang lain dan memberikan arti hidup yang sebenarnya bagi keberlangsungan kita di dunia ini.

Hidup ini untuk apa sih kalau bukan untuk memberikan manfaat bagi sesama? Dengan meningkatkan kompetensi diri, lalu bergerak turut ambil bagian untuk memberikan kontribusi yang positif bagi negara ini maka kita telah mulai mengembalikan apa yang selama ini kita ambil dari bumi pertiwi. Apa yang pernah kita ambil? Ilmu. Sepanjang kita menempun pendidikan yang berlapis-lapis jenjangnya mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, maka sudah selayaknya saat kita telah bisa berdiri sendiri dengan berbekal berbagai ilmu yang kita miliki, kita segera bergerak, balik badan, memberikan kembali berbagai bidang keilmuan yang kita kuasai untuk para anak didik penerus negeri ini.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional hendaknya tidak hanya diperingati berulang setiap tahun tanpa ada perubahan di dalam diri kita yang berdampak bagi pendidikan anak Indonesia. Dampak bisa secara langsung maupun tidak, yang pasti apapun yang kita lakukan sebisa mungkin memiliki energi positif bagi kelangsungan pendidikan para penerus bangsa. Lantas apa sih yang anak Indonesia butuhkan saat ini? Salah satunya adalah mereka membutuhkan figur yang positif. Figur yang mampu mengajarkan mereka tentang makna hidup, mengisi hidup dan menjalani hidup dengan nilai-nilai positif yang bukan berupa angka namun perilaku yang bisa membawa Indonesia menjadi negara maju dengan pondasi akhlak mulia semua masyarakatnya.

Mari bersama-sama kita telaah lagi perjalanan hidup yang telah kita tempuh selama ini. Sudahkah bermanfaat bagi orang lain? Sudahkah apa yang kita lakukan menjadi pendidikan yang baik bagi orang lain? Tentu kita belum sempurna, maka mari bersama kita lakukan sebuah aksi nyata mulai dari yang paling sederhana. Untuk siapa? Hanya untuk anak Indonesia.

(dnu, ditulis sambil makan lontong isi oncom kombinasi roti coklat keju, 2 Mei 2016, 09.10 WIB)