Saturday, May 14, 2016

Darurat Perkosaan Anak, Semua Pihak Harus Berbenah Diri

Siapa yang tidak tahu akhir-akhir ini banyak sekali tersiar kabar tentang perkosaan anak dibawah umur bahkan balita, yang pelakunya juga masih dibawah umur. Mulai dari kasus Yuyun, hingga kasus balita usia 2,5 tahun yang dibuang di rumah kosong usai diperkosa. Setiap yang mendengar berita ini secara otomatis dibawah alam sadar langsung saja mengucapkan sumpah serapah bagi sang pelaku, mulai dari menghujat agar dihukum kebiri hingga hukuman mati.

Lalu dengan dijatuhkannya hukuman kepada para pelaku apakah tali kejahatan seksual kepada prempuan khususnya anak-anak telah terputus dengan sempurna? Tentu saja tidak. Dan sudah pasti tidak seorangpun menginginkan hal seperti ini terulang kembali, kepada siapapun, kapanpun dan dimanapun. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk turut mencegah terjadinya pelecehan seksual yang berujung kematian?

Beberapa pihak harus segera berbenah diri menyikapi hal ini. Karena setiap dari kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk memperbaiki moral dan etika setiap manusia, mulai dari lingkungan yang terdekat hingga terjauh yang kita tidak saling kenal. Mengapa demikian? Karena tak pernah ada pembatas kepada siapa kita berbuat suatu kebaikan.

Siapa saja yang harus berbenah diri mulai saat ini?

1.    KELUARGA

Dimulai dari unit yang terkecil yaitu keluarga, dimana lingkup ini adalah pemberi pondasi yang paling kuat bagi setiap manusia dalam masanya ia tumbuh dan berkembang. Sudah selaknya para orang tua memberikan pembekalan mulai dari sisi agama hingga perilaku yang harus dilakukan setiap anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Tak sedikit pendapat mengatakan bahwa bagaimana seorang anak bersikap adalah tergantung bagaimana ayah ibunya hingga keluarganya. Peran orang tua amat penting disini, bagaimana menjaga agar anaknya tidak menjadi korban, serta bahkan tidak menjadi pelaku pelecehan seksual.

Adalah tanggung jawab yang besar bagi kedua orang tua karena sebelum seorang anak menapaki hidup di luar umah maka seisi rumahnya adalah pondasi terpenting yang akan menjadi dasar bagaimana ia bersikap di luar. Sebagai ayah atau ibu maka sudah semestinya mampu memberikan pendidikann yang tepat bagi anak-anaknya, termasuk memberikan pemahaman yang berbeda untuk anak laki-laki dan perempuan.

Adalah bukan hal yang tabu bagi orang tua untuk memberikan pendidikan tentang seksualitas kepada anak-anaknya. Ambillah hal ini dari sisi pendidikannya bukan yang lainnya. Mungkin saja seorang anak perempuan belum memahami benar resiko-resiko apa saja yang mengintai dirinya jika salah bersikap atau salah berpakaian. Namun dengan menggunakan bahasa yang sederhana, bahasa kasih dan sayang dari orang tua maka semuanya bisa tersampaikan dengan baik.

Tentunya terkait urusan seksual, kepada anak laki-laki para orang tua selayaknya bisa berpesan agar selalu menghormati anak perempuan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Hal ini akan tertanam didalam benak sang anak bahwa “saya harus menghormati perempuan, siapapun dia”. Jadi jika besar nanti tidak lagi ada pendapat tentang pelecehan seksual atau bahkan perkosaan terjadi karena lelaki tidak menghormati dan menghargai perempuan akibat cara berpakaiannya. Dimana dalam satu garis yang sama banyak perempuan yang mengatakan bahwa pelecehan seksual terjadi adalah karena pola pikir laki-laki yang tidak baik, sama sekali bukan karena caranya berpakaian.

Begitu juga sebaliknya, para orang tua juga harus menanamkan pemahaman yang sempurna kepada anak perempuannya tentang cara berpakaian yang baik, sopan dan tidak mengundang kejahatan. Sehinga saat beranjak besar ia telah terbiasa untuk memakai pakaian yang tidak mengundang fikiran jahat laki-laki.

Dengan demikian baik laki-laki maupun perempuan akan senantiasa memahami posisinya masing-masing, apa yang harus dilakukannya dan bagaimana seharusnya ia bersikap terhadap lawan jenis.

Sebenarnya banyak hal yang perlu ditanamkan oleh para orang tua untuk anaknya, seperti penjagaan yang ketat terkait akses internet yang ada di rumahnya agar kebebasan berselancar di dunia maya bisa lebih terjaga dan tidak berlari ke hal-hal yang belum boleh menjadi konsumsinya. Namun yang digaris bawahi oleh penulis disini adalah pemahaman dalam pikiran dan hati anak-anak agar senantiasa saling menghargai dan mengerti apa yang seharusnya mereka lakukan. Sehingga di kemudian hari tidak lagi ada perdebatan gender yang saling menyalahkan jika terjadi sebuah pelecehan seksual.

2.         SEKOLAH

Pihak ke dua yang juga perlu berbenah diri adalah sekolah sebagai tempat mencari ilmu. Dimana dalam pendidikan formal ini tentu telah diajarkan tentang pendidikan moral dalam hidup dan kehidupan. Kembali yang perlu dibenahi adalah segenap pengajaran yang telah diberikan hendaknya terus dipantau oleh para pendidik di sekolah. Perhatian dapat dilakukan mulai dari hal yang paling sederhana yaitu memperhatikan setiap anak saat bermain di sekolah, apakah terlihat gerak gerik yang tidak baik dari siswa lelaki kepada siswa perempuan, ataupun sebaliknya.

Adalah cikal bakal yang mudah terlihat jika dalam permainan sehari-hari termasuk di sekolah seorang anak mulai bergurau dengan hal yang tidak semestinya, misalnya menarik-narik pakaian dan lain sebagainya.

Pemahaman untuk saling menghargai dan menghormati antar sesama teman tentu telah senanitasa ditanamkan oleh setiap pendidik di sekolah, namun apakah setiap anak telah mengaplikasikannya dengan baik, itu yang perlu ditelaah lagi. Lantas ini menjadi tugas siapa? Pihak sekolah memiliki peran yang juga amat penting didalamnya.

Harapannya para pendidik juga terus ikut terlibat dalam perkembangan moral setiap anak didiknya yang dipantau dengan detil saat anak-anak bermain di sekolah. Dan jika ditemukan penyelewengan-penyelewengan yang bisa berdampak buruk maka bisa segera diatasi sebelum berkembang lebih jauh lagi.

3.         LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL

Bagaimana lingkungan yang kita tinggali? Apakah kita telah berada di lingkungan yang baik dari berbagai sisi diantaranya keagamaan, kesehatan, dan tentunya sisi moralitas?. Selain keluarga dan sekolah, lingkungan tempat tinggal juga menjadi faktor utama pembentukan moral manusia terutama anak-anak. Bagaimana ia tumbuh dan berkembang jelas tergantung dari bekal apa yang ia dapatkan dari keluarga, pendidikan seperti apa yang dia dapatkan dari sekolahnya dan pendidikan terapan seperti apa yang ia dapatkan dari lingkungan tempat tinggalnya.

Lingkungan tempat tinggal adalah arena yang setiap hari seseorang ada disana, tinggal di sana, bermain di sana dan meyerap apa-apa yang ada di sana. Lantas bagaimana jika lingkungan yang kita tinggali ternyata tidak baik? Sekali lagi, bukankah setiap manusia menginginkan pertumbuhan hidup yang bisa membawa kebaikan? Itulah jawabannya.

Lalu bagaimana jika sebuah keluarga tidak memiliki pilihan untuk pindah ke lingkungan yang lebih baik, bahkan bisa dikatakan lingkungan tersebut memang membahayakan? Balik lagi ke keluarga dan sekolah sebagai pemilik peranan yang paling penting bagi kelangsungan hidup seorang anak.

Lingkungan sepi, jauh dari rumah penduduk, jalan menuju sekolah harus berkilo-kilo meter jauh dan sepinya... Lantas bagaimana kita menjaga seorang anak agar tetap aman walau berjalan sendirian? Yuk para perangkat desa, keamanan, kepolisian dan perangkat daerah lainnya agar ikut turun tangan untuk membentuk tempat tinggal yang aman, nyaman dan bermoral.

Tak ingin ada lagi “Yuyun” yang lain bukan? Mari kita sama-sama berbenah diri, karena siapapun kita tentu memiliki peranan penting dalam keberlangsungan hidup anak-anak kita.

(dnu, ditulis sambil kuliah di siang hari yang cerah, 14 Mei 2016, 14.36 WIB)