Monday, May 2, 2016

Tingkatkan Kompetensi Diri untuk Pendidikan Indonesia yang Lebih Baik

Bakat itu bukan takdir. Kepandaian juga bukan takdir. Begitu pula dengan kemampuan diri dalam melakukan sesuatu yang juga bukan takdir. Semuanya akan berdiam menjadi nasib jika seseorang tidak berupaya mengubahnya. Ketertinggalan, keterbelakangan dan kerendahan kompetensi diri akan semakin mengakar jika kita tidak berusaha meningkatkannya. Kemauan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik adalah kekuatan yang dapat mengubah kehidupan seseorang dan orang lain menjadi lebih baik dan lebih maju.

Demikian pula dengan kita, seorang pekerja kantoran, seorang guru, seorang penyanyi, seorang penari, ilmuwan, arsitek dan seorang apapun kita jika tidak berkeinginan kuat untuk meningkatkan kompetensi diri maka tidak akan menjadi apa-apalah kita di hari-hari berikutnya. Hanya lahir, hidup, tumbuh, namun tidak berkembang. Lalu menunggu mati dan hanya ada sepotong kayu berdiri di atas pusara bertuliskan nama kita. Tanpa ada yang mengenang kita satupun, bukan karena kita pahlawan untuk dikenang tapi karena kita pernah bermanfaat bagi orang lain melalui kegigihan kita meningkatkan kompetensi diri.

Pada hakikatnya meningkatkan potensi diri adalah mengembangkan kemampuan yang telah ada dalam diri kita masing-masing. Untuk apa? Jika dikaitkan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional maka pengembangan diri yang kita lakukan dapat diarahkan untuk membantu pemerintah untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Keberlangsungan pendidikan Indonesia sejatinya memang menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kita tidak boleh menutup sebelah mata bahwa sesungguhnya pendidikan adalah tanggung jawab bagi semua orang yang terdidik. Siapapun itu yang menaruh empati dan keinginan besar untuk turut memajukan pendidikan Indonesia hendaknya perlu didukung dan ditiru semangatnya.

Bukti nyata untuk turut memajukan pendidikan Indonesia bisa dilakukan dengan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing untuk selanjutnya kita tularkan atau kita bagikan kepada orang lain, termasuk juga kepada generasi penerus yang ada dibawah kita. Segenap kemampuan yang dibawa sejak lahir, lalu diasah dan semakin dipertajam maka akan bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.

Berbagi ilmu dan pengalaman merupakan tahapan-tahapan sederhana sebagai kontribusi kita bagi pendidikan Indonesia. Misalnya dengan menjadi mentor anak, pendidik atau motivator bagi orang lain adalah bentuk berbagi pengetahun demi kemajuan orang lain. Hal ini dapat dilakukan dalam suasana apa saja, tidak dalam harus suasana yang formal namun dalam kondisi yang santai sekalipun memotivasi orang lain tetap bisa dilakukan. Dengan menyadari potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing maka dengan mudah kita bisa mengembangkannya agar lebih bermanfaat untuk orang lain dan memberikan arti hidup yang sebenarnya bagi keberlangsungan kita di dunia ini.

Hidup ini untuk apa sih kalau bukan untuk memberikan manfaat bagi sesama? Dengan meningkatkan kompetensi diri, lalu bergerak turut ambil bagian untuk memberikan kontribusi yang positif bagi negara ini maka kita telah mulai mengembalikan apa yang selama ini kita ambil dari bumi pertiwi. Apa yang pernah kita ambil? Ilmu. Sepanjang kita menempun pendidikan yang berlapis-lapis jenjangnya mulai dari tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, maka sudah selayaknya saat kita telah bisa berdiri sendiri dengan berbekal berbagai ilmu yang kita miliki, kita segera bergerak, balik badan, memberikan kembali berbagai bidang keilmuan yang kita kuasai untuk para anak didik penerus negeri ini.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional hendaknya tidak hanya diperingati berulang setiap tahun tanpa ada perubahan di dalam diri kita yang berdampak bagi pendidikan anak Indonesia. Dampak bisa secara langsung maupun tidak, yang pasti apapun yang kita lakukan sebisa mungkin memiliki energi positif bagi kelangsungan pendidikan para penerus bangsa. Lantas apa sih yang anak Indonesia butuhkan saat ini? Salah satunya adalah mereka membutuhkan figur yang positif. Figur yang mampu mengajarkan mereka tentang makna hidup, mengisi hidup dan menjalani hidup dengan nilai-nilai positif yang bukan berupa angka namun perilaku yang bisa membawa Indonesia menjadi negara maju dengan pondasi akhlak mulia semua masyarakatnya.

Mari bersama-sama kita telaah lagi perjalanan hidup yang telah kita tempuh selama ini. Sudahkah bermanfaat bagi orang lain? Sudahkah apa yang kita lakukan menjadi pendidikan yang baik bagi orang lain? Tentu kita belum sempurna, maka mari bersama kita lakukan sebuah aksi nyata mulai dari yang paling sederhana. Untuk siapa? Hanya untuk anak Indonesia.

(dnu, ditulis sambil makan lontong isi oncom kombinasi roti coklat keju, 2 Mei 2016, 09.10 WIB)