Thursday, June 30, 2016

Sudahlah...

PoemProject #1

Sudahlah...

Bukan menyerah tapi aku merasa cukup sudah.
Bukan tak lagi mampu berdiri gagah, tapi silahkan saja jika ingin mengatakan bahwa aku telah kalah.

Cinta ini sudah berhenti, rasa ini sudah terkubur mati, dan raga ini mulai beranjak pergi.
Jangan lagi mencari dan menghampiri, karena seluruh isi hati sudah tak sama lagi.

Aku pergi.
Sekali lagi, bukan aku mundur dan pasrah, tapi karena ku paham benar arti berserah.
Tak lagi tangan menengadah, meminta hatimu, cintamu dan seluruh jiwamu.
Tapi kini ku paham benar bahwa kepedulianku yang pernah ada, telah kau abaikan.
Perhatianku yang pernah setulus mutiara, selalu tak kau hiraukan.
Bahkan kasihku yang sungguh tiada dua, pernah kau duakan.

Kini, aku pamit pergi.
Jangan lagi cari siapa yang pernah berdiri, menanti dan selalu memberi, namun kerap kau hianati.

Sekali lagi,
Aku bukan menyerah, tapi waktu yang berkata cukup sudah....

#DNU

(yang baper yang baper yang baper.... hahaha... ditulis sambil mabok makan ampela ayam yang pahit pisan)


Friday, June 17, 2016

Kun Anta - Jadilah Diri Sendiri

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #6

Kun Anta - Jadilah Diri Sendiri

Dalam cerita Ramadhan kali ini saya akan berbagi kisah tentang lagu yang sedang naik daun dan banyak disukai khalayak ramai, termasuk saya sendiri hahaha...

Lagu ini sedang banyak berkumandang dimana-mana, di mall, di televisi maupun radio. Memang terasa indah lagu ini mengiringi hari-hari kita di bula suci Ramadhan, di tengah rasa haus dan lapar dalam menuai pahala dari Allah SWT.

Lagu tersebut adalah lagu arab yang berjudul Kun Anta dari Humood Alkhudher. Yang tahu lagunya angkat tangaaaannnnn...!!! Yuk kita nyanyi bareng-bareng ooh... wohoo... ooh... wohoo... ^^

Tapii... sebelum kita puas-puasin menyanyikan lagu tersebut, saya mau share tentang makna lagu itu yang sesungguhnya luar biasa baguusss... yaitu ;

Lagu Kun Anta ini menunjukkan kita harus percaya diri dan jangan pernah takut untuk menghasilkan sebuah karya.

Kita harus percaya bahwa setiap orang tentu memiliki kelebihan dan keunikan masing-masing, maka kita tidak perlu menjadi orang lain.

Sedikit saya tambahkan, kita tidak perlu bekerja keras untuk bisa menjadi keren seperti orang lain, kita hanya perlu bersinar dengan cara kita sendiri.

Lalu, untuk menuju sukses maka kita juga tak perlu menghiraukan apa kata orang lain yang berniat menjatuhkan kita, tunjukkan dan buktikan saja bahwa kita bisa menjadi yang terbaik.

Untuk mendapatkan sebuah kecantikan/ketampanan tidak dibutuhkan harta, kuncinya cuma satu yaitu percaya pada diri sendiri. Dengan demikian maka hal tersebut akan menambahkan kecantikan/ketampanan dari dalam diri kita.

Sekarang bagaimana, apakah sudah bisa mengambil makna dari lagu tersebut? Jika sudah yuk kita nyanyi bareng-bareng! Dibawah ini ada linknya lho hahaha....

Jangan lupa, be your self ya!

(dnu, ditulis sambil ndengerin lagu Kun Anta dalam berbagai versi hahaha..., 11 Juni 16.40 WIB)

The Power Puff Woman

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #5

The Power Puff Woman

"Kata-kata cinta terucap indah, mengalir berzikir di kidung doaku, sakit yang ku rasa biar jadi penawar dosaku. Butir-butir cinta air mataku, teringat semua yang beri untukku, ampuni kilaf dan salah selama ini ya ilahi, muhasabah cintaku...."

Ramadhan ke lima waktu berbuka saya dihiasi dengan cerita ketangguhan seorang wanita. Bagaimana ia bertahan dalam hidupnya ditengah beraneka macam cerita, dan bagaimana ia bertahan sekuat tenaga hanya karena baginya hidupnya tak boleh sia-sia.

Saudaraku sekalian, para ukhti fillah calon bidadari-bidadari syurga, yang terlahir dari rahim seorang ibu dengan upaya yang perkasa, maka kita yang kini berdiri di dunia juga harus seperkasa ibunda saat mempertaruhkan nyawanya.

Saya kagum melihat ketangguhan wanita yang saya temui beriringan dengan adzan isya berkumandang saat itu. Masih bisa cengar cengir padahal saya yakin hatinya tersenyum sumir.
Perempuan memang begitu ya, begitu kuat diluar namun lembut di dalam. Mudah nangis, mudah sedih, mudah kecewa tapi juga mudah untuk menutupi semuanya dengan penampilannya yang cerah ceria. Karena apa? Baginya tidak ada yang perlu mengetahui masalah yang terjadi dalam hidupnya.

Dia wanita kuat yang sulit ditemukan. Bagaimana ia bertahan dengan segala cerita dan tantangan. Dia penyayang anak. Dia penyayang keluarga, dan dia adalah penyayang dirinya sendiri. Bagaimana kini ia berusaha menyelamatkan dirinya dari segala dinamika tanpa pernah menyakiti siapa-sapa.

Sudahlah, saya cuma bahagia tanpa bisa berkata-kata kala melihat ada wanita seperti itu di depan mata saya.

(dnu, ditulis sambil ndengerin lagu Bidadari Syurga, 11 Juni 2016, 09.47 WIB)

Kasihan VS Kenyataan

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #4

Kasihan VS Kenyataan

Jarum jam di dinding menuju angka 9 malam, tapi hati masih terdorong untuk memesan makanan melalui jasa Go-Food.

Segera memesan makanan, lalu menunggu sang driver datang membawa pesanan. Saya pesan dua porsi sate malam itu. Butuh waktu yang lama untuk saya menunggu sampai pesanan tiba di rumah.
Akhirnya makanan datang, diantar sang Go-Jek yang masih tampak segar bugar di tengah gulita saat itu. Bahkan ia sempat menyampaikan kepada suami saya yang menerima pesanan tersebut, bahwa ada warung sate lainnya yang menurut dia masakannya lebih enak dibandingkan dengan warung yang saya pesan malam itu.

Ada satu nilai penting yang saya lihat dari pengantar makanan tersebut, yakni di waktu yang sudah malam seperti itu ia masih semangat menunaikan pekerjaannya. Senyum masih terpancar, semangat masih terlihat, bahkan sempat-sempatnya ia memberikan informasi tambahan kepada kami yang merepotkannya di waktu yang sudah cukup malam.

Ya, kadang saya berfikir bahwa jika saya memesan makanan melalui Go-food atau petugas delivery makanan lainnya malam hari, saya telah merepotkan orang lain di waktu yang sudah tidak wajar untuk bekerja.

Memasuki jam 9 malam adalah waktu yang sudah seharusnya seseorang beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Tapi tidak dengan manusia-manusia pencari nafkah macam ojek tersebut.

Walaupun sudah malam ia masih rela menerima orderan dengan bayaran yang kadang terasa cukup murah. Karena apa? Ia sedang mencari uang! Untuknya ataupun keluarganya. Saya salut dengan orang-orang seperti ii, tetap semangat bekerja walau matahari sudah tak terlihat lagi.

Apalagi jika hujan menerjang, saya bisa mendadak mengundurkan diri untuk memesan makanan via delivery hanya karena merasa kasihan yang amat sangat terhadap petugas yang mengantar. Kasihan kehujanan

Tapi entahlah, di sisi lain mereka sendiri semangat melakukannya, bahkan merasa baik-baik saja walau menurut saya itu tidak wajar. Ya, ini hanya perasaan saya yang tergolong aneh, versus Pak Ojek yang gigih mencari nafkah.

Saya jadi ingat cerita seorang salah satu pendiri Gojek yang mengatakan pernah ada driver Gojek yang rela mengantar pesanan sate ayam dari bilangan Jakarta Selatan ke Puncak, Jawa Barat, hanya demi mendapatkan bayaran 300 ribu rupiah. Miriiiss... dengernyaaa....

Cerita-cerita ini hendaknya bisa menjadi cambuk bagi kita semua yang telah memiliki mata pencaharian lebih baik dari mereka. Bersyukurlah yang kerjanya di ruangan ber-AC, bersyukurlah yang kerjanya bisa sambil berlibur, bersyukurlah yang kerjanya bisa sambil jalan-jalan... Karena di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang bekerja terlalu lelah hanya demi bayaran yang tidak seberapa.

Akhir kata, yuk kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan ^^

(dnu, ditulis sambil bengong, 10 Juni 2016, 12. 14 WIB)

Akhlak Mulia Lintasi Batas Agama

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #3

 
Akhlak Mulia Lintasi Batas Agama

 
Tanggal 3 Ramadhan saya berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah ternama, memiliki gedung amat besar, dengan jumlah siswa yang mungkin hampir mencapai angka 1000. Letak sekolah yang berada di pinggir kota Tangerang ini saya tempuh dari rumah dengan bekal rasa bahagia tak terkira.

 
Namanya Sekolah Terpadu Pahoa, yakni sekolah trilingual yang dirintis oleh kaum Tionghoa. Semoga saya tidak salah jika mengatakan ini adalah chinese school, tapi tetap saja sekolah ini diperuntukkan bagi masyarakat umum. Artinya, siapa saja boleh bersekolah disini.

 
Banyak pengalaman menarik nan mengagumkan yang saya dapatkan dari siswa siswi di sekolah ini. Satu hal yang ingin saya angkat dalam tulisan ini adalah tentang baiknya akhlak atau sopan santun para siswa. Saya yang bukan siapa-siapa, kala berpapasan dengan mereka saat berjalan menuju sebuah ruangan, turut diberikan salam hormat dengan penuh ketulusan.

 
Lagi-lagi saya katakan ini bukan sekedar pelaksanaan kewajiban setiap siswa untuk saling menghormati kepada siapa saja. Tapi kuat saya rasakan ini adalah akibat dari pendidikan budi pekerti yang tertanam amat baik dalam diri mereka.

 
Saya fikir adalah hal yang biasa bagi siswa di suatu sekolah memberikan salam hormat kepada Bapak/Ibu gurunya. Tapi kepada tamu, dan notabene saya yang secara lahiriah tampak berbeda dengan mereka, tetap dihormati tanpa pilah pilih. Sehingga saya, amat merasa diterima di hari itu, Ramadhan yang ke tiga.

 
Dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada, badan sedikit membungkuk, ditambah dengan senyum manis dan tatapan mata yang tulus, saya menerima salam ini berkali-kali setiap berpapasan dengan para siswa. Bahkan saat mereka sedang berlari sekalipun, mereka menyempatkan diri untuk memperlambat langkah kakinya lalu bergegas memberikan salam kepada saya. Mereka mengucapkan kalimat salam dalam bahasa mandarin yang hingga kini saya tidak tahu artinya, tapi di hari itu saya mendengarnya sebagai bisikan kata-kata cinta.

 
Perilaku baik atau budi pekerti mulia adalah bekal yang amat berharga bagi setiap manusia untuk meniti hidupnya di dunia. Bagaimana kita bisa menjadi makhluk sosial yang membawa energi positif bagi sesama, sedikit banyak ditentukan oleh kepribadian kita yang berharga.

 
Adalah keberhasilan bagi para orang tua dan Bapak/Ibu guru di sekolah jika berhasil membuat anak didiknya memiliki budi pekerti yang luhur. Karena tidak hanya membuat diri mereka sendiri bernilai mulia, tapi juga membuat orang disekitarnya bahagia.

 
(dnu, ditulis sambil mikir knapa timbangan masih 42kg ajah, 9 Juni 2016, 19.53 WIB)

Terima kasih yang Sesungguhnya

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #2

Terima kasih yang Sesungguhnya

Menjelang berbuka puasa di hari ke 2 kemarin saya membeli minuman di mini market Alfa Mart. Saat mengantri untuk membayar sedikit belanjaan, saya memerhatikan Mbak Kasir yang begitu ramah kepada setiap pembelinya.

Pertama, saya lihat seorang Ibu berbincang Mbak Kasir yang sambil. menghitung total harga belanjaan Ibu tersebut. Di akhir transaksi kasir berkata "Makasi ya Mpok...". sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tersenyum dan badan sedikit membungkuk. Dalam hati saya berkata "Wah dia ramah sekali... ah tapi wajarlah, mereka kayaknya saling mengenal..."

Antrian berikutnya masih belum giliran saya, yakni seorang anak laki-laki kecil yang membeli satu bungkus snack senilai Rp 9.500,-. Saya perhatikan terus bagaimana Mbak Kasir melayani anak itu.

Ya, dia tetap ramah, tetap senyum, mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut, tetap mengatupkan kedua tangan di depan dada, badan sedikit membungkuk, dan tetap kelihatan gigi! Dia sumringah! Dia benar-benar tulus mengucapkan kata "terima kasih"-nya! Ya, ini terasa di hati saya.
Akhirnya giliran saya bertransaksi dengan Mbak Kasir yang cantik ini. Sama dengan pelanggan sebelumnya, saya dilayani dengan amat baik lengkap dengan paket ucapan terima kasihnya.

Sebagai pembeli, saya merasakan aura yang berbeda saat kasir tersebut mengucapkan kata terima kasih. Adalah ucapan yang benar-benar tulus dari hati dan bukan alakadarnya. Benar-benar terasa ketulusannya.

Seperti kita ketahui bersama bahwa mengucapkan terima kasih telah menjadi standar operasional prosedur bagi setiap pemberi pelayanan/jasa. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan bahagia dan rasa terima kasihnya kepada orang yang telah menggunakan jasanya atau membeli barang dagangannya.

Tapi sering kali kata terima kasih keluar dari mulut pramuniaga atau pelayan toko sebagai hal yang merupakan suatu kewajiban. Dimana mereka diharuskan mengucapkan kata tersebut di setiap akhir aktivitasnya kepada pelanggan. Bisa dikatakan say thank adalah suatu perbuatan default yang harus selalu terucap.

Bisa jadi kalimat ini hanya sekedar diucapkan tanpa pernah melibatkan hati dan perasaan. Hal ini akan terasa di dalam diri pelanggan/pembeli/pengguna jasa tentang mana ucapan yang disampaikan dari hati, dan mana yang disampaikan atas dasar kewajiban semata.

Pegawai Alfa Mart ini benar-benar telah menyentuh hati saya dan mungkin hati pelanggan lainnya sore itu. Bagaimana ia menularkan energi positifnya kepada orang lain, melalui senyuman dan ungkapan yang disampaikan dari hatinya yang paling dalam.

Sebagai pembeli saya amat merasa dihargai. Karena pembeli bisa menjadi bahagia jika penjualnya juga bahagia.

(dnu, ditulis sambil bahagia karena udah buka puasa haha..., 7 Juni 2016, 20.29 WIB)

Allah SWT Sebagaimana yang Hambanya Fikirkan

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #1

Allah SWT Sebagaimana yang Hambanya Fikirkan

Puasa hari pertama saya di Ramadhan 1437 H ini dihiasi dengan perjalanan siang bolong yang terik namun indah ke kawasan Ciawi, Bogor. Dari Jakarta Utara berangkat dengan penuh cinta dan kesiapan lahir batin untuk menghadapi macet yang hampir setiap hari terjadi.

Bekal kesiapan ini bukan sekedar antisipasi, namun lebih kepada pesimistis bahwa saya akan menempuh perjalanan dengan lalulintas yang lancar. Namun ternyata ketakutan saya tersebut salah besar. Hanya butuh waktu 40 menit saja saya sudah tiba di sebuah daerah yang tidak jauh dari exit toll Ciawi.

Di suatu kantor yang saya tuju, orang yang menerima kami berkata "Mohon maaf kami tidak menyediakan minum ya, karena kami tahu Bapak/Ibu pasti sedang berpuasa...". Kalimat yang indah tersebut keluar dari seseorang yang nampaknya tidak berpuasa, karena dari sorot mata dan wajah yang berbeda haha...

Padahal sebelumnya seorang teman yang bersama saya ke kantor tersebut berkata "Wah biasanya kalo ke sini kita dikasih minum nih... ". Maksudnya menyayangkan, biasanya minum tapi kali ini tidak haha....

Pelajarannya, awalnya saya berprasangka tidak baik atas perjalanan yang saya yakin sekali "pasti macet". Tapi ternyata Allah SWT berkehendak lain, siang itu jalanan kosong melompong, sehingga kecepatan bisa mencapai 120 KM/Jam.

Sejak berangkat pun saya sudah berfikiran macam-macam, mulai dari "pasti capek nih, haus nih, laper nih..." dan lain sebagainya... Namun ternyataaaa... perjalanan jauh namun lancar tersebut benar-benar tidak membuat saya lelah. Tidak haus, tidak lapar, karena memang energi yang terbuang tidak terlalu banyak, akibat lalu lintas yang amat bersahabat. Hanya sedikit mengantuk saja siang itu hahah...

Sesungguhnya adalah ujian ditengah keburukansangkaan yang pernah terlintas dibenak saya. Diberikan olehNya perjalanan yang begitu menyenangkan ditengah sangkaan jelek hambaNya. Agar dikemudian hari seorang hamba selalu ingat bahwa Allah SWT adalah sebagaimana yang hambaNya fikirkan.

Berfikirlah yang baik, maka kamu akan mendapatkan yang baik. Jika berfikiran jelek namun mendapatkan hal baik, sesungguhnya itu adalah sebuah ujian.

(dnu, ditulis sambil selonjoran sebelum naik ojek di siang bolong bulan puasa yang menyenangkan, 7 Juni 2016, 12.18 WIB)

Wednesday, June 1, 2016

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Mari Selamatkan Pekerja Anak Di Ladang Tembakau

31 Mei ditetapkan sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia, dimana pada satu hari atau 24 jam di tanggal tersebut diserukan agar siapapun tidak menghisap tembakau (merokok) serentak di seluruh dunia.

Peringatan ini digagas oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1987. Hal ini mengingatkan saya tentang masih banyaknya anak-anak dibawah umur yang kini bekerja di ladang tembakau. Banyak alasan mengapa banyak pekerja anak di tempat tersebut. Salah satunya adalah masalah kebiasaan membantu orang tua. Dimana para orang tua yang memiliki ladang tembakau, secara otomatis anak-anak mereka membantunya mulai dari penyemaian bibit hingga masa panen.

Potret kehidupan anak yang bekerja di ladang tembakau tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Banyak efek negatif terkait kesehatan yang akan menyerang mereka saat ini dan berdampak buruk di masa depan. Bayangkan saja, bagaimana tembakau bisa membunuh perokok pasif yang kerap menghirup asapnya dari perokok aktif, hal ini sama persis dengan apa yang dialami anak-anak yang bekerja di ladang tembakau. Setiap hari mereka bekerja mengolah tembakau, setiap hari itu pula mereka menghirup aroma tembakau yang tentu akan membunuh mereka secara perlahan.

Sejak usia 8 - 17 anak-anak yang orang tuanya memiliki ladang tembakau terbiasa bekerja di tempat tersebut. Setiap anak memiliki resiko terpapar langsung bahaya nikotin, atau pekerja anak yang mengaduk bahan kimia beracun, bekerja menggunakan benda tajam, mengangkat beban berat ketika panen, dan bekerja di bawah cuaca panas yang ekstrim. Untuk waktu yang panjang, kegiatan seperti itu berpotensi menyebabkan terganggunya kesehatan dan perkembangan mereka.

Fenomena pekerja anak di ladang tembakau memang banyak terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut berita yang saya dapatkan dari beberapa situs berita online, perusahaan rokok yang notabene sebagai pemangku keuntungan atas bisnis tembakau ini merasa tidak bertanggung jawab atas banyaknya pekerja pengolah tembakau yang masih dibawah umur. Kilahnya, perusahaan dalam hal ini membeli tembakau yang sudah siap pakai, jadi tidak tahu menahu tentang pengolahannya hingga siapa yang mengolahnya. Dengan kata lain perusahaan rokok sama sekali tidak bertanggung jawab dengan urusan resiko kesehatan yang mengancam para pekerja anak di ladang tembakau.

Masalah ekonomi juga mungkin menjadi salah satu alasan mengapa mempekerjakan anak dibawah umur, sehingga para orang tua tidak terlalu memikirkan bagaimana kondisi anaknya yang terancam racun nikotin jika bersentuhan dengan tembakau setiap hari. Bisa jadi yang orang tua harapkan hanyalah uang dari hasil anaknya bekerja, tentang bagaimana kondisi kesehatannya mungkin dianggap belum terlalu penting.

Para orang tua yang mempekerjakan anaknya di ladang tembakau hendaknya berfikir ulang dan melihat lebih dekat lagi. Bagaimana anaknya merasakan pusing dan mual setiap hari, dan orang tua tak sadar bahwa ini adalah gejala keracunan tembakau level ringan. Namun jika setiap hari harus merasakan pusing dan mual, lantas bagaimana efeknya di hari-hari mendatang?

Pemerintah juga memiliki andil yang cukup besar untuk segera menyelamatkan para pekerja anak yang kini masih sibuk berkutat dengan tembakau di ladang. Bagaimana keadaan ekonomi masyarakat bisa membaik sehingga tidak perlu mempekerjakan anaknya yang masih di bawah umur, adalah salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Mungkin pekerjaan ini masih dilihat sebagai aktifitas kekeluargaan yang perlu dimaklumi, namun tetap saja harus memperhatikan dampak-dampak negatif yang bisa terjadi sebagai akibat dari sebuah pekerjaan.

Para orang tua hendaknya harus mulai memikirkan kesehatan anak yang menjadi pekerja di ladang tembakau. Tidak hanya memikirkan pendapatan dari hasil bekerja anaknya yang bisa membantu ekonomi keluarga, namun memperhatikan juga usia anak apakah sudah layak bekerja, serta lingkungan pekerjaan yang bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Mengapa harus ada pekerja anak di ladang tembakau? Untuk membantu ekonomi keluarga kah? Adalah tanggung jawab setiap orang tua untuk menghidupi anaknya yang masih dibawah umur. Bukan dibalik, anak yang masih dibawah umur yang justru menghidupi keluarganya, apapun pekerjaannya.

Mari selamatkan anak bangsa dari kejahatan nikotin yang mengancam sejak dini!

(dnu, ditulis sambil menunggu laporan bulanan dimulai, 1 Juni 2016, 14.49 WIB)