Friday, June 17, 2016

Akhlak Mulia Lintasi Batas Agama

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #3

 
Akhlak Mulia Lintasi Batas Agama

 
Tanggal 3 Ramadhan saya berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah ternama, memiliki gedung amat besar, dengan jumlah siswa yang mungkin hampir mencapai angka 1000. Letak sekolah yang berada di pinggir kota Tangerang ini saya tempuh dari rumah dengan bekal rasa bahagia tak terkira.

 
Namanya Sekolah Terpadu Pahoa, yakni sekolah trilingual yang dirintis oleh kaum Tionghoa. Semoga saya tidak salah jika mengatakan ini adalah chinese school, tapi tetap saja sekolah ini diperuntukkan bagi masyarakat umum. Artinya, siapa saja boleh bersekolah disini.

 
Banyak pengalaman menarik nan mengagumkan yang saya dapatkan dari siswa siswi di sekolah ini. Satu hal yang ingin saya angkat dalam tulisan ini adalah tentang baiknya akhlak atau sopan santun para siswa. Saya yang bukan siapa-siapa, kala berpapasan dengan mereka saat berjalan menuju sebuah ruangan, turut diberikan salam hormat dengan penuh ketulusan.

 
Lagi-lagi saya katakan ini bukan sekedar pelaksanaan kewajiban setiap siswa untuk saling menghormati kepada siapa saja. Tapi kuat saya rasakan ini adalah akibat dari pendidikan budi pekerti yang tertanam amat baik dalam diri mereka.

 
Saya fikir adalah hal yang biasa bagi siswa di suatu sekolah memberikan salam hormat kepada Bapak/Ibu gurunya. Tapi kepada tamu, dan notabene saya yang secara lahiriah tampak berbeda dengan mereka, tetap dihormati tanpa pilah pilih. Sehingga saya, amat merasa diterima di hari itu, Ramadhan yang ke tiga.

 
Dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada, badan sedikit membungkuk, ditambah dengan senyum manis dan tatapan mata yang tulus, saya menerima salam ini berkali-kali setiap berpapasan dengan para siswa. Bahkan saat mereka sedang berlari sekalipun, mereka menyempatkan diri untuk memperlambat langkah kakinya lalu bergegas memberikan salam kepada saya. Mereka mengucapkan kalimat salam dalam bahasa mandarin yang hingga kini saya tidak tahu artinya, tapi di hari itu saya mendengarnya sebagai bisikan kata-kata cinta.

 
Perilaku baik atau budi pekerti mulia adalah bekal yang amat berharga bagi setiap manusia untuk meniti hidupnya di dunia. Bagaimana kita bisa menjadi makhluk sosial yang membawa energi positif bagi sesama, sedikit banyak ditentukan oleh kepribadian kita yang berharga.

 
Adalah keberhasilan bagi para orang tua dan Bapak/Ibu guru di sekolah jika berhasil membuat anak didiknya memiliki budi pekerti yang luhur. Karena tidak hanya membuat diri mereka sendiri bernilai mulia, tapi juga membuat orang disekitarnya bahagia.

 
(dnu, ditulis sambil mikir knapa timbangan masih 42kg ajah, 9 Juni 2016, 19.53 WIB)