Friday, June 17, 2016

Kasihan VS Kenyataan

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #4

Kasihan VS Kenyataan

Jarum jam di dinding menuju angka 9 malam, tapi hati masih terdorong untuk memesan makanan melalui jasa Go-Food.

Segera memesan makanan, lalu menunggu sang driver datang membawa pesanan. Saya pesan dua porsi sate malam itu. Butuh waktu yang lama untuk saya menunggu sampai pesanan tiba di rumah.
Akhirnya makanan datang, diantar sang Go-Jek yang masih tampak segar bugar di tengah gulita saat itu. Bahkan ia sempat menyampaikan kepada suami saya yang menerima pesanan tersebut, bahwa ada warung sate lainnya yang menurut dia masakannya lebih enak dibandingkan dengan warung yang saya pesan malam itu.

Ada satu nilai penting yang saya lihat dari pengantar makanan tersebut, yakni di waktu yang sudah malam seperti itu ia masih semangat menunaikan pekerjaannya. Senyum masih terpancar, semangat masih terlihat, bahkan sempat-sempatnya ia memberikan informasi tambahan kepada kami yang merepotkannya di waktu yang sudah cukup malam.

Ya, kadang saya berfikir bahwa jika saya memesan makanan melalui Go-food atau petugas delivery makanan lainnya malam hari, saya telah merepotkan orang lain di waktu yang sudah tidak wajar untuk bekerja.

Memasuki jam 9 malam adalah waktu yang sudah seharusnya seseorang beristirahat atau berkumpul bersama keluarga. Tapi tidak dengan manusia-manusia pencari nafkah macam ojek tersebut.

Walaupun sudah malam ia masih rela menerima orderan dengan bayaran yang kadang terasa cukup murah. Karena apa? Ia sedang mencari uang! Untuknya ataupun keluarganya. Saya salut dengan orang-orang seperti ii, tetap semangat bekerja walau matahari sudah tak terlihat lagi.

Apalagi jika hujan menerjang, saya bisa mendadak mengundurkan diri untuk memesan makanan via delivery hanya karena merasa kasihan yang amat sangat terhadap petugas yang mengantar. Kasihan kehujanan

Tapi entahlah, di sisi lain mereka sendiri semangat melakukannya, bahkan merasa baik-baik saja walau menurut saya itu tidak wajar. Ya, ini hanya perasaan saya yang tergolong aneh, versus Pak Ojek yang gigih mencari nafkah.

Saya jadi ingat cerita seorang salah satu pendiri Gojek yang mengatakan pernah ada driver Gojek yang rela mengantar pesanan sate ayam dari bilangan Jakarta Selatan ke Puncak, Jawa Barat, hanya demi mendapatkan bayaran 300 ribu rupiah. Miriiiss... dengernyaaa....

Cerita-cerita ini hendaknya bisa menjadi cambuk bagi kita semua yang telah memiliki mata pencaharian lebih baik dari mereka. Bersyukurlah yang kerjanya di ruangan ber-AC, bersyukurlah yang kerjanya bisa sambil berlibur, bersyukurlah yang kerjanya bisa sambil jalan-jalan... Karena di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang bekerja terlalu lelah hanya demi bayaran yang tidak seberapa.

Akhir kata, yuk kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah SWT berikan ^^

(dnu, ditulis sambil bengong, 10 Juni 2016, 12. 14 WIB)