Friday, June 17, 2016

Terima kasih yang Sesungguhnya

Puasa Punya Cerita
Ramadhan #2

Terima kasih yang Sesungguhnya

Menjelang berbuka puasa di hari ke 2 kemarin saya membeli minuman di mini market Alfa Mart. Saat mengantri untuk membayar sedikit belanjaan, saya memerhatikan Mbak Kasir yang begitu ramah kepada setiap pembelinya.

Pertama, saya lihat seorang Ibu berbincang Mbak Kasir yang sambil. menghitung total harga belanjaan Ibu tersebut. Di akhir transaksi kasir berkata "Makasi ya Mpok...". sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tersenyum dan badan sedikit membungkuk. Dalam hati saya berkata "Wah dia ramah sekali... ah tapi wajarlah, mereka kayaknya saling mengenal..."

Antrian berikutnya masih belum giliran saya, yakni seorang anak laki-laki kecil yang membeli satu bungkus snack senilai Rp 9.500,-. Saya perhatikan terus bagaimana Mbak Kasir melayani anak itu.

Ya, dia tetap ramah, tetap senyum, mengucapkan terima kasih kepada anak tersebut, tetap mengatupkan kedua tangan di depan dada, badan sedikit membungkuk, dan tetap kelihatan gigi! Dia sumringah! Dia benar-benar tulus mengucapkan kata "terima kasih"-nya! Ya, ini terasa di hati saya.
Akhirnya giliran saya bertransaksi dengan Mbak Kasir yang cantik ini. Sama dengan pelanggan sebelumnya, saya dilayani dengan amat baik lengkap dengan paket ucapan terima kasihnya.

Sebagai pembeli, saya merasakan aura yang berbeda saat kasir tersebut mengucapkan kata terima kasih. Adalah ucapan yang benar-benar tulus dari hati dan bukan alakadarnya. Benar-benar terasa ketulusannya.

Seperti kita ketahui bersama bahwa mengucapkan terima kasih telah menjadi standar operasional prosedur bagi setiap pemberi pelayanan/jasa. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan bahagia dan rasa terima kasihnya kepada orang yang telah menggunakan jasanya atau membeli barang dagangannya.

Tapi sering kali kata terima kasih keluar dari mulut pramuniaga atau pelayan toko sebagai hal yang merupakan suatu kewajiban. Dimana mereka diharuskan mengucapkan kata tersebut di setiap akhir aktivitasnya kepada pelanggan. Bisa dikatakan say thank adalah suatu perbuatan default yang harus selalu terucap.

Bisa jadi kalimat ini hanya sekedar diucapkan tanpa pernah melibatkan hati dan perasaan. Hal ini akan terasa di dalam diri pelanggan/pembeli/pengguna jasa tentang mana ucapan yang disampaikan dari hati, dan mana yang disampaikan atas dasar kewajiban semata.

Pegawai Alfa Mart ini benar-benar telah menyentuh hati saya dan mungkin hati pelanggan lainnya sore itu. Bagaimana ia menularkan energi positifnya kepada orang lain, melalui senyuman dan ungkapan yang disampaikan dari hatinya yang paling dalam.

Sebagai pembeli saya amat merasa dihargai. Karena pembeli bisa menjadi bahagia jika penjualnya juga bahagia.

(dnu, ditulis sambil bahagia karena udah buka puasa haha..., 7 Juni 2016, 20.29 WIB)