Tuesday, July 26, 2016

Puisi

Adalah barisan kata yang mengandung banyak makna.
Sebuah deretan rasa yang keluar dari hati dan ditujukan ke dalam hati.
Juga sebuah ungkapan kepala yang amat rumit namun begitu penuh arti.

Dilayangkan dengan penuh harap...
Disajikankan dengan gumulan rasa yang begitu genap...
Tak bisa diingkari, bahwa puisi adalah jalan terindah untuk menggugah dua hati...

Puisi tempatnya suara yang tak kuasa lagi diteriakkan,
Tempatnya tangis yang tak lagi bisa dikeluarkan,
Bahkan tempatnya amarah yang bercampur dengan sejuta suka cita...
Hingga yang kecewa bisa berubah menjadi cinta...

Karena hanya melalui puisilah sebuah cinta yang teramat dalam dan rasa benci yang tak tertahankan bisa terasa begitu sendu dan menenangkan...

Kini bukan cuma merpati, tapi puisi juga merupakan sebuah kumpulan rasa yang tak pernah ingkari janji.

SELAMAT HARI PUISI !!!
(26 Juli 2016)

#DNU

Monday, July 25, 2016

Tidak Ada White Lie yang Baik untuk Anak

Suatu siang di salah satu tempat wisata belahan utara Jakarta saya mendapati pelajaran berharga dari seorang wanita paruh baya yakni tentang kebohongan yang dilakukan demi menenangkan tangis anak kecil yang ada dalam gendongannya.

Saat mengantri sebuah permainan, persis dibelakang saya terdapat seorang ibu yang ikut mengantri sambil menggendong anak laki-laki kurang lebih berusia 2,5 tahun. Anak tersebut terus menangis sepanjang mengantri mainan. Apa karena ingin segera bermain atau justru ingin keluar dari antrian. Entahlah, nampaknya bahasa anak tersebut belum cukup mudah dimengerti.

Hingga akhirnya antrian yang terus bergerak dan mendekati mulut pintu untuk memasuki arena permainan. Dengan amat tak sabar ibu tersebut meminta saya dan orang-orang yang ada di depannya untuk bergeser dan memberi jalan kepadanya, sambil berkali-kali mengatakan "kita ngga main ya dek.... cuman lewat aja, ke pintu keluar....".

Beberapa orang yang ada di barisan depan termasuk saya memberikan jalan untuknya. Karena apa? Ia dan anaknya yang sedang menangis ingin segera keluar antrian, jadi memang harus melewati arah depan saya. Setelah berhasil melewati semua orang yang ada di depan.... sambil menenangkan anaknya yang masih menangis, ternyata eh ternyataaa.... tanpa disangka dan diduga.... Ibu tersebut dengan santainya menaiki mainan dan tak menepati perkataannya sodarra sodarrraa..... Dia maiiinn.... tidak jadi keluar arena permainaann....

Saya tertipu gaaeeessss hahaha...... !!!

Saya dan mungkin orang-orang yang dilaluinya dibarisan depan tuluuss lhoo memberikan ia jalan yang katanya mau keluar saja dan tidak jadi meneruskan permainan. Eehhh.... kok bisa ya hahahaha......

Ada dua hal yang saya cermati disini, yang pertama adalah tentang saya yang tertipu, yang ke dua adalah tentang kebohongan orang tuan yang dilakukan persis di depan anaknya. Hati-hati, untuk contoh kasus seperti diatas, sang anak mendengar lho apa yang ibunya katakan, bagaimana sang ibu berkata tak ingin bermain tapi ternyata sebaliknya.

Anak ada peniru yang ulung. Kita tidak perlu bersusah payah menyampaikan kata-kata baik nan indah, namun kita hanya perlu sekuat tenaga memberi contoh kepada mereka mana perbuatan baik dan mana yang tidak baik.

Percuma saja jika kita selalu berkata kepada anak "ngga boleh bohong ya....", tapi apa contoh nyata yang kita berikan dihadapannya? Berbohong. Apapun alasannya, tetap saja, bohong. Right? Setelah lahir satu kebohongan akan ada kebohongan-kebohongan yang lainnya. Untuk apa? Ya untuk menutupi kebohongan yang pertama.

Kasus diatas apakah termasuk white lie? Berbohong demi kebaikan? Ada gituh kebohongan yang dilakukan untuk melahirkan kebaikan?? Namanya saja sudah bohong, negatif. Entah dimana nilai positifnya. Terlebih lagi dihadapan anak, apapun itu no excuse untuk melakukan kebaikan.

Masih banyak sekali cara menenangkan anak yang menangis dengan tidak melipurnya melalui sebuah kebohongan. Bukan tidak mungkin anak akan belajar "ah mending saya pura-pura menangis karena ayah/ibu pasti akan berubah jadi baik ke saya kalau saya nangis...."

Ini adalah cikal bakal kebohongan tohh???

Jangan pernah lupa, anak adalah peniru ulung, penyontek yang paling baik. Orang tua adalah panutannya. Karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan?

(dnu, ditulis sambil ngemil nasi pake ayam goreng, 25 Juli 2016, 19.43 WIB)

Thursday, July 14, 2016

Antar Anak Sekolah Hari Pertama, Kesempatan yang Sayang Dibuang



Chemistry tidak hanya perlu dibangun oleh para pelaku seni yang ingin bermain film bersama saja, atau bagi para penyanyi terhadap model yang mengiringi drama lagunya, tetapi juga oleh para ibu terhadap buah hatinya. Ikatan batin yang telah terjalin antara Ibu dengan anak sejak jabang bayi berada dalam kandungan memang jelas lebih kuat ikatannya dibandingkan dengan apapun, tapi alangkah hubungan Ibu dan anak tersebut bisa menjadi lebih indah jika pada hari pertama anak bersekolah sang bunda menyempatkan diri untuk mengantarnya.

Efek dari ikatannya tentu tidak akan terasa begitu saja, melainkan ini adalah investasi jangka panjang terhadap bekal moral dan kebahagiaan anak dalam memasuki dunia barunya. Kebahagiaan anak menuntut ilmu salah satunya berkaitan erat dengan kebahagiaan mereka saat berangkat ke sekolah, maka awal dari kelas atau tahun ajaran yang baru adalah masa yang tepat bagi para orang tua untuk hadir dan berada di sampingnya.

Anjuran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan merupakan pesan moral bagi para orang tua tentang kewajibannya terhadap pendidikan anak. Adalah hal yang amat membahagiakan bagi seorang anak jika di hari pertamanya memasuki kelas atau sekolah yang baru ia diantar oleh orang tuanya. Bisa jadi masa-masa tersebut sebenarnya adalah masa yang paling berat bagi seorang anak karena harus memulai adaptasi yang baru terahadap lingkungan sekolah, guru-guru atau bisa jadi teman-teman yang baru.

Seperti kita ketahui bersama kedamaian seorang anak adalah keluarganya, dalam hal ini bisa dikatakan kedua orang tuanya. Maka dalam “masa sulit” di hari pertama sekolah jika minimal salah satu dari orang tua bisa mengantarkannya, merupakan sebuah penanaman modal yang amat baik bagi kelangsungan gairah anak bersekolah di hari-hari berikutnya.

Siapa sih yang bisa menenangkan seorang anak selain orang tuanya sendiri? Maka sungguh sayang untuk dilewatkan jika ada kesempatan yang baik seperti ini namun salah satu dari orang tuanya tidak turut mendampingi. Lain cerita nya jika telah diusahakan sedemikian baik namun tetap saja tidak bisa mengantarkan, tapi bagi yang sebenarnya memiliki waktu maka sebaiknya perlu untuk menyempatkan diri.

Sekali lagi ini adalah investasi jangka panjang, support moral, membangun chemistry yang mampu membangun gairah positif anak dalam menuntut ilmu. Karena apa? Kesempatan ini adalah kesempatan yang benar-benar sayang jika dibuang begitu saja.    

(dnu, ditulis sambil makan nasi goreng ceplok dua telur mata hati bukan mata sapi hahay…, 14 Juli 2016, 21.36 WIB)

Saturday, July 9, 2016

Kala Imajinasi Beraksi

Lelaki kecil yang penuh daya khayal ini saya temui dalam acara ASEAN Literary Festival beberapa waktu lalu. Dalam sesi Bed Time Stories saya dan teman-teman relawan lainnya memandu anak-anak yang hadir dalam acara tersebut untuk belajar merangkai sebuah cerita.

Pembuatan boneka jari dari kertas yang sudah digambar bentuk-bentuk hewan turut menjadi bagian seru acara ini. Langkah pertama adalah setiap anak diminta untuk menggunting kertas sesuai bentuk hewan yang ada. Selanjutnya gambar hewan tersebut diwarnai dan dilipat untuk disesuaikan dengan lingkar jari masing-masing anak. Tahap berikutnya adalah memberi nama dari boneka jari yang telah dibuat, sebelum akhirnya mereka harus merangkai sebuah cerita atau dongeng dengan pemeran para boneka jari tersebut.

Disinilah hal menarik yang saya temukan dari seorang anak laki-laki nan imajinatif. Mengapa saya katakan demikian, karena ia memberikan nama-nama pada hewan boneka jarinya sangat berbeda dari nama-nama pada umumnya.

Seperti yang saya temui pada peserta lainnya, ada yang memberi nama Belu untuk bebek yang lucu. Ada yang memberi nama Kicu, untuk kelinci yang lucu, atau Poni untuk kuda yang berponi. Semuanya standar, biasa, dan umum terjadi pada anak-anak jika diminta memberi nama pada seekor hewan. Tapi tidak dengan Shafwan, lelaki kecil imajinatif dengan pemberian nama hewan yang sungguh di luar kebiasaan, yaitu :

Boka Laka, untuk kambing.
Boki Oka, untuk ayam.
Ocu Aco untuk babi.
Aka Ocu, untuk kucing.

Dia berbeda!
Entah apa yang ada di dalam benaknya sehingga bisa menciptakan nama-nama sedemikian rupa. Umumnya hewan-hewan diberi nama hanya dalam satu kata, tapi tidak dengannya. Semuanya dua kata, mungkin dimaksudkan sebagai nama panjang bagi si hewan hahaha... Ini unik, menarik, dan tak banyak terlintas difikiran anak-anak. Bocah ini terlihat cukup cerdas, dan bisa jadi dikarenakan ia banyak membaca atau mendengar cerita.

Walau nama-nama yang diberikan terdengar aneh dan tak bermakna, tapi lihatlah kecanggihan imajinasinya dengan memberi nama yang tidak biasa. Dan bagi kita para orang tua jika mendapati putra atau putri kita berimajinasi yang tidak umum, eloknya tidak langsung dicegah, dikatakan aneh, atau langsung diarahkan kepada koridor imajinasi yang biasanya terjadi. Biarkan saja dulu, lihat seberapa uniknya, jika memang melanggar norma-norma atau keyakinan dan prinsip hidup lainnya maka barulah kita ambil tindakan untuk meluruskannya.

Selama semuanya masih dalam garis lurus yang tak bertentangan dengan apapun, maka lepaskankan saja dan biarkan ia masuk ke dalam cerita buatannya. Karena ada satu hal penting yang harus selalu kita ingat yaitu setiap anak terlahir dengan keunikannya masing-masing.

Setuju?
Semoga ya 😊

(dnu, ditulis sambil jadi vertigo survivor, 9 Juli 2016, 19.06 WIB)






Friday, July 8, 2016

Di Usia Senja Ia Masih Mengayuh Becak

Ini laporan pandangan mata dari suatu tempat. Dilihat oleh mata saya. Terjadi di depan mata saya, yang tanpa sadar membuat bola mata saya berkaca-kaca. Tapi semua berhasil ditutupi karena saya berkaca mata, sehingga bulir air dari mata tak terlalu jelas terlihatnya.

Ia seorang kakek, hendak mengantar seorang ibu beserta seorang anak dengan menumpang becaknya. Suasananya sedang hujan... kakek itu tetap menerima pelanggan.... ia pasti hujan-hujanan.... Bukankah usia senja amat rentan terserang berbagai penyakit? Hiks....

Ya, kakek ini adalah tukang becak... suaranya lirih saat berkata "iya... " yang bermaksud menerima tawaran ibu tersebut.

Dengan langkah gontai, sisa tenaga seadanya, sang kakek mendorong becaknya mendekati calon penumpang... Dengan menahan dingin kakek tersebut membuka jas hujan, lalu mengenakannya... Agar tak terkena air hujan pastinya... tapi hawa dingin malam ini pasti menusuk tubuhnya... Dan itu pasti berefek tidak baik untuk kakek... :(

Kakek, usia yang sudah senja mestinya tinggal menikmati indahnya dunia... menikmati hidup... menikmati hasil jerih payah anak-anaknya.... sudah waktunya istirahat.... memperbanyak ibadah.... walaupun saya percaya setiap kayuhan kaki terhadap becaknya pasti diniatkan untuk ibadah...

Saya hanya berfikir sedikit keras, kemana anak-anak si kakek? Hingga di malam hari yang hujan seperti ini ia masih harus mencari nafkah demi sesuap nasi.... :( Hidupnya terasa tidak adil.... mengapa kakek masih bekerja keras sendirian?

Kepada siapapun yang membaca tulisan ini, saya hanya ingin berbagi dan sama-sama mengingatkan diri agar sebisa mungkin kita memanjakan orang tua kita di usia senjanya. Saat mereka menua, mencari nafkah telah berganti menjadi tugas kita, tidak lagi mereka. Tugas kita adalah membahagiakannya, memperlakukannya bak ratu dan raja. Jangan biarkan mereka masih berkelana di malam-malam buta dan bertarung dengan segala penyakit yang mengincarnya.

Di usianya yang sudah senja, mereka patut bahagia. Dibahagiakan oleh anak-anaknya, dan semua orang yang mengaku mencintainya.

(dnu, ditulis sambil mbrebes mili hiks...., 8 Juli 2016, 19.45 WIB)





Setiap Kita Sudah Disesuaikan Kemampuannya

Pepatah yang mengatakan rumput tetangga tampak lebih hijau secara tak sadar telah mengganggu rasa syukur kita. Berhasil membuat kita lupa bahagia hingga terlena mengembangbiakkan penyakit hati atas kebahagiaan orang lain yang tampak kasat mata. Sedangkan ungkapan rezeki, jodoh dan maut sudah diatur oleh Allah SWT justru terlupakan.

Sama halnya dengan posisi yang kita emban di tempat kerja. Menjadi apapun itu pasti atas kehendak Yang Maha Kuasa, Dialah yang paling mengerti bagaimana kita, upaya apa saja yang telah kita lakukan untuk mencapai suatu posisi dan rezeki terbaik yang pantas bagi kita.

Suatu sore saat saya makan di sebuah restoran yang berada di bilangan Jakarta, saya mendengar perselisihan singkat antar dua petugas resto.

Pelayan Delivey sambil menenteng beberapa bungkus makanan yang nampaknya akan diantar kepada pemesan menegur rekannya dengan ketus "Enak lu ya cuman bediri-diri doang.....".

Rekan yang ditegur oleh petugas delivery tersebut adalah pelayan resto bagian penerimaan tamu dan pemesanan makanan untuk dinikmati di tempat. Jelas saja ia terlihat "berdiri-diri doang" karena tugasnya memang bukan untuk angkat-angkat barang pesanan. Jika resto sedang sepi, sedikit orang yang makan di tempat maka akan lebih jelas lagi "kelihatannya" bahwa pekerjaannya hanya berdiri-diri saja.

Sebenarnya apapun itu, semua telah memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Bagaimana petugas delivery bertanggung jawab untuk mengantarkan pesanan tepat waktu dan memastikan makanan yang dipesannya diterima oleh pemesan dalam keadaan baik nan sempurna.

Begitu juga dengan yang "berdiri-diri doang", ia memiliki tanggung jawab diantaranya memastikan semua tamu terlayani dengan baik, pesanan tersaji tepat waktu, kondisi makanan baik, dan semua yang dibutuhkan oleh tamunya mampu disediakan dengan sempurna.

Bagaimana? Apapaun posisinya tetap memiliki tanggungjawab yang tidak mudah bukan? Dan yang paling penting, semua terjadi tentu atas kehendakNya. Allah SWT Maha Tahu seorang hambanya layak mendapat pekerjaan yang bagaimana dan tugas yang seperti apa. Semua telah disesuaikan dengan kemampuan kita masing-masing.

Kalaupun kita memiliki keinginan untuk menduduki suatu posisi yang diperlukan adalah berusaha dan memantaskan diri. Pantaskan dirimu untuk suatu posisi tertentu. Asah kemampuanmu sesuai dengan yang dibutuhkan oleh posisi itu. Pelajari hal-hal yang dapat mendukung keberhasilanmu duduk di posisi tersebut. Jangan hanya mencibir, nyinyir dan duduk-duduk santai sambil berfikir mengapa saya begini dan mengapa ia begitu.

Tidak akan datang kepadamu sesuatu yang kamu idam-idamkan tanpa pernah kamu memantaskan diri lalu berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya!

Hal penting lainnya, menanjaklah tinggi tapi tidak dengan menginjak orang lain. Bersinarlah dengan caramu sendiri gaaeesss....!!!!

Sekarang yang perlu dilakukan pertama kali adalah bersyukur dengan apa adanya dirimu. Tidak perlu lagi merasa rumput tetangga tampak lebih hijau. Karena apa? Ingat, semuanya hanya tampak.

(dnu, ditulis sambil ngemil biar genduuuttt..., 8 Juli 2016, 13.21 WIB)

Thursday, July 7, 2016

Tokoh BJ Habibie di Serial Anak Sopo Jarwo

Tiga hari yang lalu (5/7) sambil istirahat sore saya menemani anak menonton televisi tepatnya serial kartun Sopo Jarwo. Ada yang mengejutkan untuk saya di sini, yaitu adanya tokoh nasional Bacharuddin Jusuf Habibie, mantan Presiden Republik Indonesia tahun 1998-1999. Siapa yang tidak kenal beliau, seorang warga negara Indonesia yang sempat tinggal di Jerman dengan kiprahnya yang amat hebat dalam pembuatan alat transportasi udara, pesawat terbang.

Serial kartun Sopo Jarwo saat itu patut diacungi jempol, karena dalam muatan ceritanya diselipkan kisah sukses seorang tokoh Indonesia agar ditiru oleh anak-anak yang menontonnya. Dimana kita ketahui bersama bahwa usia anak adalah usia yang paling pandai untuk meniru. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa dan menarik baginya, maka akan mudah sekali masuk ke dalam otak mereka.

Di tengah gempuran tayangan tak mendidik bagi anak, mulai dari bebasnya video-video asusila beredar di internet, sinetron yang menunjukkan kekerasan anak saat di sekolah, jumawanya anak dalam memenjarakan guru sekolahnya, serta pikiran bejad anak-anak akibat pergaulan bebas mengenai aksi perkosaan, ternyata masih ada film kartun anak dalam kemasan sederhana namun dengan muatan yang luar biasa.

Hal ini perlu dijadikan contoh bagi para pengusaha perfilman atau pembuat tontonan anak, bahwa alangkah baiknya jika dalam setiap sajian diselipkan kisah-kisah inspiratif yang bermanfaat untuk anak. Seperti halnya serial Sopo Jarwo tersebut, dimana dalam adegannya terlihat tokoh BJ Habibie tengah berbincang dengan Sopo, Jarwo, Adit dan yang lainnya mengenai kisah beliau saat tinggal di negeri orang, serta kemampuannya merakit pesawat terbang.

Tidak hanya memberikan kisah sukses, tapi tokoh BJ Habibie saat itu juga menceritakan kepada anak-anak tentang hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam merakit sebuah pesawat terbang. Bagaimana agar besi seberat itu bisa mengangkasa, membawa penumpang, terbang dengan seimbang serta tidak mudah jatuh tersungkur.

Memberi contoh kepada anak tidaklah sulit, cukup lakukan apa yang menurut para orang tuanya baik, maka secara otomatis anak akan mengikutinya. Karena percuma saja banyak bicara kalau apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan yang kita katakan.

Contohnya serial kartun Sopo Jarwo ini, menyelipkan kisah terdidik dari orang yang sukses di tanah air, agar anak yang menontonnya terinspirasi dan tergerak untuk turut menjadi pribadi yang berguna bagi negeranya, Indonesia.

(dnu, ditulis sambil minum bajigur asoy hahaha...., 8 Juli 2016, 08.33 WIB)




Mohon Maaf, Aku Sayang Kamu Lahir Batin

Di hari yang fitri ini ada satu hal yang ingin ku sampaikan kepadamu. Wahai belahan hati, irisan jiwa, bayangan yang setia mengikuti, serta amukan rasa kala hati ini bergelora.

Sebuah kalimat yang tak pernah ku pendam, karena dalam setiap helaan nafas selalu kuhembuskan kalimat itu. Dalam setiap degup jantung selalu berdetak irama kalimat itu.

Kalimat yang tak pernah ku tahan atas pelampiasannya, karena ku tak tahu akan bagaimana raga ini jika aku tak menyampaikannya. Bukan sekedar pingsan atau tak sadarkan diri, tapi mungkin mengarah pada sakitnya jiwa ini.

Aku merasa tepat sekali jika menyampaikan kepadamu di hari yang fitri ini. Sebuah hari yang suci, yang semua orang menanti-nanti, dan semua orang bersuka hati. Entah apa yang akan terjadi setelah mendengar kalimat ini, karena aku akan mengucapkannya berulang kali.

Adalah bukan kalimat biasa yang mudah sekali diucapkan oleh siapa saja. Ini kalimat sakti, karena bisa membuat hatiku jatuh berkali-kali. Namun jika terdengar seperti kalimat biasa, aku mohon kepadamu untuk percaya bahwa setiap untaian katanya kusampaikan dengan sepenuh jiwa.

Dengan niat yang lurus dan rasa yang tak pernah putus, sungguh ku tak ingin semua ini hangus dan pupus.... Oleh karenanya, dengarkanlah karena semua ini ku sampaikan dari hati yang paling tulus...

Tak ada lagi yang ingin ku tinggal di hati, semua akan ku sampaikan tanpa dikurangi... Di hari yang fitri ini izinkanlah aku berucap lirih ditemani dingin... "mohon maaf... aku sayang kamu lahir batin....".

Kamu, semoga penyampaianku ini tak merubah suasana ya... semoga kita masih bisa tetap berteman seperti biasanya... atau jika Tuhan berkehendak mungkin kita bisa lebih dari sekedar teman.

Kalimat itulah yang ingin kusampaikan.... sekali lagi, mohon maaf aku sayang kamu lahir batin. Semoga sampai di hatimu dan tak tersapu terbawa angin.

(dnu, yang baper yang baper yang bapeeerr.... hahahaha....., 7 Juli 2016, 20.53 WIB)

Wednesday, July 6, 2016

Indahnya Menjunjung Tinggi Toleransi di Hari yang Fitri

Hidup dan kehidupan memang kadang terasa lebih indah jika terdiri dari banyak warna dan kita mampu menjaga kecerahan tiap-tiap darinya. Sama halnya dengan sebuah masakan yang akan terasa lebih sedap jika menggunakan campuran beberapa bumbu namun tentunya dengan takaran yang pas.

Begitu juga dengan hari raya Idul Fitri, dua hari ini terasa begitu indah saat menerima ucapan selamat merayakan hari raya dari rekan-rekan yang berbeda agama. Terasa benar sebuah semboyan negara Republik Indonesia yakni Bhinneka Tugal Ika, dimana artinya adalah berbeda-beda namun tetap satu jua.

Agama, kepercayaan ataupun keyakinan adalah suatu prinsip dasar bagi setiap individu. Ada sebuah hak yakni asasi yang berdiri kuat sebagai dasar dari pemilihan prinsip hidup tersebut. Namun sebagai makhluk sosial tentunya kita tidak dapat memilih hidup untuk berada di lingkungan yang benar-benar kita kehendaki. Ada saja dinamika warna yang telah Tuhan pilihkan untuk perjalanan hidup umatnya.

Hidup dan beraktifitas diantara pemeluk agama yang berbeda adalah salah satu contoh suatu warna hidup yang indah jika kita mampu menjaganya. Dengan berhubungan baik, saling menjaga toleransi beragama, saling menghargai dan lain-lain adalah paparan klasik yang sebenarnya sangat berarti bagi hidup dan kehidupan kita.

Adalah salah satu contoh nyata yang pernah saya lihat tentang bahagianya umat non muslim saat hari raya Idul Fitri tiba. Adanya tradisi memasak opor ayam, rendang daging, kentang goreng ati dan makanan khas lainnya, mereka ikut menikmati dari pemberian tetangga rumahnya yang merupakan seorang muslim. Semua terbawa euforianya, semua terbawa suasananya.

Sebagai umat yang merayakan Idul Fitri saya juga merasakan kebahagiaan yang berbeda. Setelah hampir dua hari ini terus menerus menerima ucapan selamat hari raya yang tidak hanya dari sesama muslim, tapi juga dari mereka yang berbeda agama dengan saya.

Ada rasa yang tak biasa, bahagia yang tak biasa dan cinta kasih yang sungguh tak biasa. Walaupun mungkin bagi sebagian orang hal ini sangat biasa, tapi jika ditelaah lebih dalam sebenarnya ada sebuah makna yakni tentang indahnya hidup berdampingan, terlebih jika kita mampu merawatnya.

Di hari yang fitri ini kita semua kembali pada kesucian. Hendaknya bisa kita mulai dari titik terendah untuk mencapai puncak yang tinggi dalam hidup beragama dan menjaga toleransinya.

Happy Ied Mubarak!
Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin ^^

(dnu, ditulis sambil nungguin anak start tidur sampai menuju pulasss...., 6 Juli 2016, 21.53 WIB)

Tuesday, July 5, 2016

Upaya Perusakan Moral Anak Melalui Lagu "Lelaki Kardus"

Ada yang sudah mendengar lagunya? Melihat video klipnya? Saya sudah dua-duanya. Miris. Sedih. Tidak percaya. Bagaimana bisa ada manusia dewasa yang tega meminta beberapa anak dibawah umur untuk menyanyikan lagu tak terpuji macam itu. Apa tujuannya selain untuk meraup keuntungan atas penjualan lagu tersebut kalau bukan pundi-pundi rupiah? Namun dapat dipahami benar alibi lainnya yakni kritik terhadap kaum lelaki yang senang menikah beberapa kali.

Lagu Lelaki Kardus berisikan kalimat caci maki terhadap sang ayah yang menikah lagi lalu mengabaikan sang Ibu. Lalu, lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak ini nampaknya bermaksud menyampaikan sebuah kritikan dari anak kecil. Yang mana seorang anak tidak setuju melihat ayahnya berbuat demikian, serta sang anak juga kasihan melihat Ibu yang kerap kali menjadi sasaran kemarahan ayahnya.

Melalui lirik caci maki hina dina dan kata-kata kotor yang sungguh tak pantas keluar dari mulut anak-anak, sang pencipta lagu mencoba menyampaikan pesan kritikan tersebut.

Dalam video klip yang beredar di dunia maya, terlihat empat orang anak menyanyikan lagu Lelaki Kardus dengan tanpa memahami maknanya. Ya jelas saja, urusan pernikahan atau perselingkuhan yang dilakukan oleh orang dewasa atau ayah ibu adalah bukan urusan anak-anak. Hal tersebut bukan dunia mereka. Jelas saja anak-anak tersebut hanya sekedar menyanyikan dan tanpa sadar tengah menjadi alat perusakan moral oleh orang dewasa yang memintanya bernyanyi.

Mengapa saya katakan bahwa ini adalah upaya perusakan moral anak oleh orang dewasa? Lihat saja apa yang terjadi dalam lagu ini. Empat orang anak masih bau kencur diminta untuk bernyanyi mengucapkan kalimat yang sungguh jauh dari kata terpuji, bergaya menunjuk-nunjuk sang lelaki yang sedang mereka caci maki, lalu berulang kali mengucapkan kata-kata kotor yang benar-benar tak layak didengar lagi.

Anak adalah aset keluarga yang paling berharga. Bagaimana mereka tumbuh dan berkembang adalah tanggung jawab kita para orang tua. Lantas bagaimana dengan fenomena lagu Lelaki Kardus yang dinyanyikan oleh anak kecil ini? Dimana hati nurani manusia dewasa yang dengan bangga meminta mereka meyanyikannya?

Sungguh ini adalah cikal bakal hancurnya generasi bangsa melalui sebuah lagu yang tidak berguna. Bagaimana jika ada anak dibawah umur lainnya yang melihat video tersebut atau mendengarkan lagunya? Mereka mendengar yang menyanyikan adalah anak-anak dan yang bergaya dalam video juga anak-anak. Bukan tidak mungkin sejenak saja lagu ini akan berkumandang dimana-mana berkat anak-anak. Karena apa? Mereka mengira dan percaya bahwa lagu Lelaki Kardus adalah lagu anak-anak.

Jika ingin menyampaikan suatu kritik kepada orang lain, adalah bukan perbuatan yang elok jika harus memperalat anak di bawah umur. Memang suara anak kecil terdengar lebih tulus, tapi bukan berarti caci maki urusan orang dewasa perlu melibatkan anak-anak.

Sungguh lagu Lelaki Kardus yang dinyanyikan oleh beberapa anak kecil itu adalah bukan hiburan yang lucu dan menyenangkan. Anak-anak tersebut bernyanyi tanpa sebuah ekspresi! Dan ini artinya mereka tidak paham terhadap apa yang mereka ucapkan! Lalu sang pembuat lagu serta video bukan tidak mungkin tengah melompat kegirangan karena hasil karya bejadnya berhasil menarik perhatian banyak orang.

Munculnya peristiwa ini hendaknya mampu menarik simpati kita semua, para orang tua, para pecinta anak, dan para jajaran orang-orang terdidik yang peduli dengan kelangsungan tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Jangan rusak moral anak dengan cara apapun. Jika ingin menyampaikan suatu kritikan, sampaikanlah dengan cara yang lebih anggun. Karena anak bukanlah suatu alat yang bisa digunakan oleh orang dewasa dalam memuaskan isi kepalanya. Lindungilah anak-anak. Jangan manfaatkan sifat penurut mereka untuk hal-hal yang jauh dari rasa kemanusiaan.

(dnu, pernah menulis sambil nahan laper?? Saya pernah! Hahah...., 5 Juli 2016, 15.39 WIB)

Monday, July 4, 2016

Ketika Ramadhan Berlalu

Ketika bulan seribu bulan berlalu, akankah kita tetap istiqomah pada jiwa yang membaik saat ini? Hendaknya iya. Biarlah hanya nama bulannya saja yang pergi tapi segala amal baik yang telah kita lakukan hari ini agar tetap dalam diri.

Hadirnya Ramadhan memang membawa sejuta keajaiban. Ada saja orang yang banyak melakukan aktivitas beramal di bulan suci ini. Berbagai komunitas saling berlomba melakukan kebaikan, mulai dari sahur on the road hingga buka puasa bersama anak yatim, piatu dan dhuafa. Hal semacam ini tidak bisa disalahkan, bahkan justru harus diberikan apresiasi sebaik mungkin. Karena minimal satu kali dalam setahun ada kegiatan mulia yang ditujukan bagi sesama.

Entah mengapa grafik pergerakan amal baik begitu seirama dengan datang dan perginya sang Ramadhan. Diawal datangnya bulan suci bagi umat islam ini seakan siapa saja terkena euforianya, bergegas menyusun berbagai macam rencana dengan tujuan berbagi pada sesama dan mengharap ridho Allah SWT. Barisan-barisan jamaah tarawih pun penuh tak terkira, hingga siapapun harus berlomba datang ke masjid lebih awal jika ingin mendapatkan tempat untuk menunaikan ibadah sunnah tersebut.

Begitu memasuki pertengahan Ramadhan, suasana sedang hangat-hangatnya, masih banyak yang bergegas menyelenggarakan kegiatan amal ibadah demi membersihkan segenap harta yang dipunya. Semuanya masih semangat untuk berpuasa, tadarus, hingga kegiatan amal lainnya.

Tapi di pertengahan Ramadhan terdapat juga penurunan semangat ataupun euforia. Dimana saat awal bulan semuanya berbondong-bondong mengucap Marhaban Ya Ramadhan, namun dipertengahannya mulai hilang. Ketika sebelumnya toleransi terhadap yang berpuasa begitu terasa, namun di tengah-tengah hikmat Ramadhan terasa hilang dan kembali seperti bulan-bulan yang lainnya.

Barisan shaf tarawih pun mengalami penurunan, dari yang penuh hingga berjajar di luar, kini maju beberapa shaf dan hanya sedikit saja yang tertinggal. Suasana beranjak normal, hanya ibu-ibu pedagang gorengan di sore hari saja yang tetap menandakan bahwa ini masih Ramadhan.

Lambat laut grafik benar-benar menurun. Tradisi silaturahmi melalui buka puasa bersama mulai hilang, semuanya sudah terbawa arus mudik ke kampung halaman. Kegembiraan melakukan kegiatan berbagi dengan sesamapun turut selesai. Tak ramai lagi perorangan maupun perkumpulan yang begitu perhatian dan sesamanya. Tak ada lagi terdengar deru semangat mengkhatamkan al Quran, hingga tak terdengar lagi semangat berbagi bahagia dengan para yatim, piatu dan dhuafa. Ini semua terjadi saat Ramadhan jelang usai...

Detik-detik Ramadhan berlalu, terasa kegigihan menjadi pribadi yang mulia pun ikut tersapu. Namun hendaknya kita semua, siapapun yang membaca tautan ini, semoga kita ditetapkan hatinya, jiwanya, pikirannya dan langkah kakinya. Agar tetap berada dijalanNya, istiqomah dalam kebaikan dalam rangkai menggapai Ridho dan Syurganya.

Agar kita semua tetap semangat membaca dan mengamalkan kitab suci Al Quran, tetap berkompetisi atau minimal berjanji dalam diri untuk khatam dan mengkaji, tetap semangat melangkahkan kaki ke masjid, tetap semangat untuk berbagi dengan sesama, dan tetap semangat untuk bisa hidup dalam kemuliaan.

Tidak peduli Ramadhan atau bukan, semoga kita semua tetap berjalan beriringan dalam keindahan dan kebahagiaan sesuai dengan ajaran Al Quran. Bukan karena apa-apa, hanya agar kita semua dapat berjumpa kembali di SyurgaNya.

(dnu,ditulis sambil nonton tv nunggu hasil sidang isbat, 4 Juni 2016, 18.50 WIB)

Saling Mengerti Sesama Saat Kumpul Hari Raya

Kadang seseorang yang masih sendiri memutuskan untuk tidak hadir ditengah-tengah pertemuan keluarga saat hari raya adalah karena gerah dengan pertanyaan rutin yang kerap dilontarkan kepadanya. Mulai dari pertanyaan kapan nikah, hingga kapan punya momongan. Adalah bukan hal yang mudah untuk menjaga perasaan dan mempersiapkan jawaban kala menghadapi situasi seperti itu.

Setiap individu memiliki alasannya sendiri-sendiri atas sebuah keputusan yang diambil dalam hidupnya. Serta memiliki kondisi masing-masing tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Dalamnya laut dapat diukur, tapi dalamnya hati dan fikiran orang lain tidak dapat kita selami.

Kita tidak akan pernah tahu mengapa seseorang telah 3 kali lebaran belum juga menikah. Juga mengapa sepasang suami istri belum memiliki momongan yang padahal sudah 3 kali purnama. Semua ada alasannya masing-masing, dan kita hanya orang lain yang justru tak sabar dengan perubahan hidup mereka.

Perlu dipahami tentang adanya kemungkinan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang usik terhadap hidup orang lain. Dengan gemarnya kita bertanya hingga mengolok-olok mereka yang belum menikah atau mempunyai keturunan.

Siapa sih yang tidak ingin memiliki pasangan? Siapa sih yang tidak ingin mempunyai anak?
Jika Tuhan belum berkehendak lantas manusia bisa apa?

Jika kita tidak mampu membuat orang lain bahagia, minimal tidak membuatnya murung dengan berbagai pertanyaan yang kita lontarkan.

(dnu, ceritanya ini tulisan simpatik haha... ditulis sambil ngabuburit mandangin tukang es cendol, 4 Juni 2016, 17.11 WIB)