Saturday, July 9, 2016

Kala Imajinasi Beraksi

Lelaki kecil yang penuh daya khayal ini saya temui dalam acara ASEAN Literary Festival beberapa waktu lalu. Dalam sesi Bed Time Stories saya dan teman-teman relawan lainnya memandu anak-anak yang hadir dalam acara tersebut untuk belajar merangkai sebuah cerita.

Pembuatan boneka jari dari kertas yang sudah digambar bentuk-bentuk hewan turut menjadi bagian seru acara ini. Langkah pertama adalah setiap anak diminta untuk menggunting kertas sesuai bentuk hewan yang ada. Selanjutnya gambar hewan tersebut diwarnai dan dilipat untuk disesuaikan dengan lingkar jari masing-masing anak. Tahap berikutnya adalah memberi nama dari boneka jari yang telah dibuat, sebelum akhirnya mereka harus merangkai sebuah cerita atau dongeng dengan pemeran para boneka jari tersebut.

Disinilah hal menarik yang saya temukan dari seorang anak laki-laki nan imajinatif. Mengapa saya katakan demikian, karena ia memberikan nama-nama pada hewan boneka jarinya sangat berbeda dari nama-nama pada umumnya.

Seperti yang saya temui pada peserta lainnya, ada yang memberi nama Belu untuk bebek yang lucu. Ada yang memberi nama Kicu, untuk kelinci yang lucu, atau Poni untuk kuda yang berponi. Semuanya standar, biasa, dan umum terjadi pada anak-anak jika diminta memberi nama pada seekor hewan. Tapi tidak dengan Shafwan, lelaki kecil imajinatif dengan pemberian nama hewan yang sungguh di luar kebiasaan, yaitu :

Boka Laka, untuk kambing.
Boki Oka, untuk ayam.
Ocu Aco untuk babi.
Aka Ocu, untuk kucing.

Dia berbeda!
Entah apa yang ada di dalam benaknya sehingga bisa menciptakan nama-nama sedemikian rupa. Umumnya hewan-hewan diberi nama hanya dalam satu kata, tapi tidak dengannya. Semuanya dua kata, mungkin dimaksudkan sebagai nama panjang bagi si hewan hahaha... Ini unik, menarik, dan tak banyak terlintas difikiran anak-anak. Bocah ini terlihat cukup cerdas, dan bisa jadi dikarenakan ia banyak membaca atau mendengar cerita.

Walau nama-nama yang diberikan terdengar aneh dan tak bermakna, tapi lihatlah kecanggihan imajinasinya dengan memberi nama yang tidak biasa. Dan bagi kita para orang tua jika mendapati putra atau putri kita berimajinasi yang tidak umum, eloknya tidak langsung dicegah, dikatakan aneh, atau langsung diarahkan kepada koridor imajinasi yang biasanya terjadi. Biarkan saja dulu, lihat seberapa uniknya, jika memang melanggar norma-norma atau keyakinan dan prinsip hidup lainnya maka barulah kita ambil tindakan untuk meluruskannya.

Selama semuanya masih dalam garis lurus yang tak bertentangan dengan apapun, maka lepaskankan saja dan biarkan ia masuk ke dalam cerita buatannya. Karena ada satu hal penting yang harus selalu kita ingat yaitu setiap anak terlahir dengan keunikannya masing-masing.

Setuju?
Semoga ya 😊

(dnu, ditulis sambil jadi vertigo survivor, 9 Juli 2016, 19.06 WIB)