Monday, July 4, 2016

Saling Mengerti Sesama Saat Kumpul Hari Raya

Kadang seseorang yang masih sendiri memutuskan untuk tidak hadir ditengah-tengah pertemuan keluarga saat hari raya adalah karena gerah dengan pertanyaan rutin yang kerap dilontarkan kepadanya. Mulai dari pertanyaan kapan nikah, hingga kapan punya momongan. Adalah bukan hal yang mudah untuk menjaga perasaan dan mempersiapkan jawaban kala menghadapi situasi seperti itu.

Setiap individu memiliki alasannya sendiri-sendiri atas sebuah keputusan yang diambil dalam hidupnya. Serta memiliki kondisi masing-masing tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Dalamnya laut dapat diukur, tapi dalamnya hati dan fikiran orang lain tidak dapat kita selami.

Kita tidak akan pernah tahu mengapa seseorang telah 3 kali lebaran belum juga menikah. Juga mengapa sepasang suami istri belum memiliki momongan yang padahal sudah 3 kali purnama. Semua ada alasannya masing-masing, dan kita hanya orang lain yang justru tak sabar dengan perubahan hidup mereka.

Perlu dipahami tentang adanya kemungkinan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang usik terhadap hidup orang lain. Dengan gemarnya kita bertanya hingga mengolok-olok mereka yang belum menikah atau mempunyai keturunan.

Siapa sih yang tidak ingin memiliki pasangan? Siapa sih yang tidak ingin mempunyai anak?
Jika Tuhan belum berkehendak lantas manusia bisa apa?

Jika kita tidak mampu membuat orang lain bahagia, minimal tidak membuatnya murung dengan berbagai pertanyaan yang kita lontarkan.

(dnu, ceritanya ini tulisan simpatik haha... ditulis sambil ngabuburit mandangin tukang es cendol, 4 Juni 2016, 17.11 WIB)