Monday, July 25, 2016

Tidak Ada White Lie yang Baik untuk Anak

Suatu siang di salah satu tempat wisata belahan utara Jakarta saya mendapati pelajaran berharga dari seorang wanita paruh baya yakni tentang kebohongan yang dilakukan demi menenangkan tangis anak kecil yang ada dalam gendongannya.

Saat mengantri sebuah permainan, persis dibelakang saya terdapat seorang ibu yang ikut mengantri sambil menggendong anak laki-laki kurang lebih berusia 2,5 tahun. Anak tersebut terus menangis sepanjang mengantri mainan. Apa karena ingin segera bermain atau justru ingin keluar dari antrian. Entahlah, nampaknya bahasa anak tersebut belum cukup mudah dimengerti.

Hingga akhirnya antrian yang terus bergerak dan mendekati mulut pintu untuk memasuki arena permainan. Dengan amat tak sabar ibu tersebut meminta saya dan orang-orang yang ada di depannya untuk bergeser dan memberi jalan kepadanya, sambil berkali-kali mengatakan "kita ngga main ya dek.... cuman lewat aja, ke pintu keluar....".

Beberapa orang yang ada di barisan depan termasuk saya memberikan jalan untuknya. Karena apa? Ia dan anaknya yang sedang menangis ingin segera keluar antrian, jadi memang harus melewati arah depan saya. Setelah berhasil melewati semua orang yang ada di depan.... sambil menenangkan anaknya yang masih menangis, ternyata eh ternyataaa.... tanpa disangka dan diduga.... Ibu tersebut dengan santainya menaiki mainan dan tak menepati perkataannya sodarra sodarrraa..... Dia maiiinn.... tidak jadi keluar arena permainaann....

Saya tertipu gaaeeessss hahaha...... !!!

Saya dan mungkin orang-orang yang dilaluinya dibarisan depan tuluuss lhoo memberikan ia jalan yang katanya mau keluar saja dan tidak jadi meneruskan permainan. Eehhh.... kok bisa ya hahahaha......

Ada dua hal yang saya cermati disini, yang pertama adalah tentang saya yang tertipu, yang ke dua adalah tentang kebohongan orang tuan yang dilakukan persis di depan anaknya. Hati-hati, untuk contoh kasus seperti diatas, sang anak mendengar lho apa yang ibunya katakan, bagaimana sang ibu berkata tak ingin bermain tapi ternyata sebaliknya.

Anak ada peniru yang ulung. Kita tidak perlu bersusah payah menyampaikan kata-kata baik nan indah, namun kita hanya perlu sekuat tenaga memberi contoh kepada mereka mana perbuatan baik dan mana yang tidak baik.

Percuma saja jika kita selalu berkata kepada anak "ngga boleh bohong ya....", tapi apa contoh nyata yang kita berikan dihadapannya? Berbohong. Apapun alasannya, tetap saja, bohong. Right? Setelah lahir satu kebohongan akan ada kebohongan-kebohongan yang lainnya. Untuk apa? Ya untuk menutupi kebohongan yang pertama.

Kasus diatas apakah termasuk white lie? Berbohong demi kebaikan? Ada gituh kebohongan yang dilakukan untuk melahirkan kebaikan?? Namanya saja sudah bohong, negatif. Entah dimana nilai positifnya. Terlebih lagi dihadapan anak, apapun itu no excuse untuk melakukan kebaikan.

Masih banyak sekali cara menenangkan anak yang menangis dengan tidak melipurnya melalui sebuah kebohongan. Bukan tidak mungkin anak akan belajar "ah mending saya pura-pura menangis karena ayah/ibu pasti akan berubah jadi baik ke saya kalau saya nangis...."

Ini adalah cikal bakal kebohongan tohh???

Jangan pernah lupa, anak adalah peniru ulung, penyontek yang paling baik. Orang tua adalah panutannya. Karena buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan?

(dnu, ditulis sambil ngemil nasi pake ayam goreng, 25 Juli 2016, 19.43 WIB)