Thursday, September 22, 2016

Ingin Hidup Tenang? Jangan Lupa Bayar Utang



Agama apapun tentu mengajarkan umatnya agar tak pernah sedikitpun melupakan kewajiban membayar utang, berapapun besarnya. Termasuk juga dalam agama islam, karena muslim yang baik adalah yang senantiasa berusaha membayar utang yang menjadi tanggungjawabnya.

Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari kadang membuat kita lengah bahwa sesungguhnya kita berutang, misalnya ucapan santai nan terdengar sepele saat makan siang “bayarin dulu ya, tar gw ganti…”. Gaess… ini utang lho namanya… walaupun hanya seribu perak, ini adalah kewajiban kita untuk melunasinya.

Jangan Memanfaatkan Orang Baik.
Hal lain adalah jangan memanfaatkan orang baik, sekali berkata “pinjam dulu” sampai kapanpun tetap saja statusnya “pinjam” dan harus dikembalikan. Mungkin kita pernah menemukan kejadian seseorang yang menggampangkan orang lain dalam hal utang piutang. Contohnya seperti ini “ah ngga apa-apa dia sih ga usah diganti uangnya…. dia baik kok… santai aja….”, sesugguhnya yang seperti ini sangat fatal akibatnya. Ketika seorang teman bersedia memberikan kita pinjaman uang, maka telah jatuh kewajiban pada diri kita untuk mengembalikannya, terlepas dari dia seorang yang baik, amat baik atau sangat baik, sehingga kita abai terhadapnya. Ini namanya memanfaatkan orang baik, dan jika digolongkan masuk pada perbuatan jahat yang sejahat-jahatnya. Hal ini berpotensi merusak hubungan pertemanan? ya tentu saja.

Disini juga adalah masalah yang cukup krusial yakni tentang kepercayaan, bagaimana seseorang begitu percaya untuk meminjamkan sejumlah uang maka disitulah letak tingginya ilmu pertemanan yang berhasil dibangun. Lalu jika yang meminjamnya sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran, sangatjelas ia sedang menabuh genderang perang.

Dia Banyak Uang.
Lagi-lagi santai menghadapi teman yang terlihat memiliki harta berlebih? No, ini utang. Wajib dibayar. Membayar utang adalah bukan melihat atas kebutuhan orang yang meminjamkan, melainkan butuh atau tidak dia tetap berhak menerima uangnya kembali ke tangannya.

Dia Tidak Menagih Utang.
Yang meminjam harus sadar lahir batin bahwa “punya tanggung jawab”. Tidak peduli sang pemberi utang menagih atau tidak, yang pasti orang yang baik akhlaknya adalah yang mengutamakan membayar utang terlebih ia memiliki kemampuan untuk membayarnya.

Jangan Menahan Bayar Utang Seolah Tidak Mampu.
Ini masalah kejujuran pada diri sendiri. Apakah sadar sebenarnya kita mampu membayar utang? Apakah sadar sebenarnya kita ingat bahwa kita punya utang. Itu saja, tidak lebih, jika memang mampu ya bayar. Simpel saja. Kalau malas dan berpura-pura lupa, mau menunggu ditagih di akhirat kelak? Boleh saja.

Fikirkan Harga Diri Jika Tidak Membayar Utang.
Point yang ini simpel saja sih, apa kata duni jika kita tidak membayar utang padahal dalam kehidupan sehari-hari kita terlihat cukup mampu. Bisa beli mobil, jalan-jalan ke mall, dan bahkan kita masih bekerja dengan baik, so apa lagi alasan untuk tidak segera menunaikan kewajiban? kalau sudah begini, mungkin memang ingin menurunjan harkat dan derajat diri sendiri ^^

Dahulukan Utang Sebelum Menabung.
Beberapa kali membaca artikel tentang pengelolaan keuangan yang baik, salah satunya adalah menomorsatukan membayar utang sebelum menyisihkan pendapatan untuk menabung, terlebih lagi untuk membeli barang-barang yang sifatnya tersier. Mengapa demikian? Singkat saja, utang adalah kewajiban, sedangkan menabung adalah sesuatu yang sunnah.

Yups, itu saja.
Punya utang? Jangan lari dari kenyataan, jangan mengindar dari teman yang meminjamkan, jangan pura-pura lupa, jangan berlagak tidak mampu, dan jangan lupa bayar. Karena apa? Melalaikan kewajiban itu hukumnya dosa lho… ^^

(dnu, ditulis sambil senyum manis dan duduk manis ditemani es cincau yang manis, 22 September 2016, 20.50 WIB)