Friday, October 28, 2016

Belajar Ketulusan Hati dari Dahlan Iskan

"Biarlah sekali-kali terjadi seorang yang mengabdi setulus hati, mengabdi sebagai dirut utama daerah tanpa digaji selama 10 tahun, tanpa menerima fasilitas apa pun, harus menjadi tersangka yang bukan karena makan uang, bukan menerima sogokan, bukan karena menerima aliran dana, tetapi karena harus tanda tangan dokumen yang disiapkan anak buah,"

Kalimat diatas adalah komentar Dahlan Iskan yang penulis kutip dari http://regional.kompas.com/read/2016/10/27/19524571/jadi.tersangka.dahlan.iskan.ditahan yang cukup membuat miris siapapun yang membacanya. Kalimat tersebut beliau ungkapkan terkait kasus penandatangan dokumen penjualan aset perusahan BUMD yang pernah ia pimpin di Jawa Timur.

Teori ilmu ikhlas yang kerap kali kita dengan dalam kehidupan kadang tidak mudah diaplikasikan oleh setiap orang. Namun nampaknya ilmu ikhlas yang sudah dipelajari oleh mantan menteri BUMN ini jelas mampu ia aplikasikan dalam hidupnya. Perhatikan baik-baik sekali lagi kalimatnya.

Apakah benar bahwa orang yang terlalu baik kadang tidak hanya dimanfaatkan namun kerap dijerumuskan? Ya, mungkin saja.

Menjadi pribadi yang bisa mengabdi setulus hati pada suatu perusahaan tempat kita bekerja memang tidak mudah. Apa lagi jika kehidupan sehari-hari dalam pekerjaan kerap dilengkapi dengan intrik-intrik yang semakin membuat waktu-waktu menyelesaikan pekerjaan menjadi tak asyik.
 
Mungkin bisa dikatakan mencurahkan segenap hati dan jiwa untuk sebuah pekerjaan hinga berujung pada pengabdian yang setulus hati hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang percaya bahwa rezeki tidak melulu soal materi. Bisa jadi Dahlan Iskan adalah salah satu orangnya. Mungkin terdengar idealis, tapi inilah nyatanya bahwa setiap kita bekerja sebisa mungkin harus dengan cinta, sertakan hati di dalamnya dan sertakan semangat berkarya dalam setiap aktifitasnya.

Kadang banyak penulis dengar pendapat “jadi orang yang realistis aja, kita kerja kan nyari duit buat istri sama anak, kalo nyari pahala ya banyak-banyak aja sholat”. Gengs..... bukankah indah jika setiap pagi saat akan melangkahkan kaki ke luar rumah untuk bekerja selalu diniatkan ibadah? Jika demikian semuanya akan mengerucut ke arah pengalaman Dahlan Iskan diatas, tentang pengabdian setulus hati walau senantiasa ada kekurangan di sana sini. Karena apa? Beliau yakin, rezeki sudah ada yang mengatur dan semua yang dilakukannya diniatkan ibadah demi kemajuan perusahaan. Hal penting lainnya adalah tentu banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap kejadian di perusahaan, apapun kondisinya.

Hal lainnya adalah masalah kepercayaan, terlihat jelas dalam kasus ini betapa Dahlan Iskan sangat percaya kepada anak buahnya yang telah menyiapkan dokumen-dokumen penjualan aset dan harus ia tanda tangani. Tanpa banyak pemeriksaan Dahlan Iskan lantas menandatanganinya, namun ternyata ada kasus negatif yang terselubung didalamnya. Tak pelak mantan menteri BUMN ini lantas terseret dalam kasus tersebut karena tanda tanganya tertera jelas di sana.

Melalui artikel ini penulis ingin bersaran, sebagai atasan sebisa mungkin tetap memiliki sistem kontrol yang baik terhadap seluruh pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk kepada anak buah yang sangat dipercaya sekalipun. Lalu sebaliknya, sebagai anak buah yang telah dipercaya oleh atasan maka tidak disarankan untuk sekali-kali merusak kepercayaan tersebut.

(dnu, ditulis sambil sandaran pusiiing..., 29 Oktober 2016, 13.34 WIB)

Saturday, October 22, 2016

Karena Rezeki Tak Melulu Soal Materi


Teman yang baik, itu juga rezeki,

Badan yang sehat, itu juga rezeki

Keluarga yang happy, itu juga rezeki

Tempat tinggal yang nyaman, itu juga rezeki

Tempat aktivitas yang menyenangkan, itu juga rezeki

Pekerjaan yang lancar, itu juga rezeki

Bisa disenyumin sama setiap orang yang kita temui, itu juga rezeki

Bisnis yang selalu ada pembeli, itu juga rezeki

Masih bisa membuka mata setiap bangun pagi, itu juga rezeki

Masih bisa tidur nyenyak, itu juga rezeki

Masih bisa ketawa ketiwi, itu juga rezeki

Masih punya waktu untuk mengerjakan hobi, itu juga rezeki

Masih bisa menemui jalan kelauar untuk sebuah masalah, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang kehadirannya selalu dinanti-nanti, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang masih bisa berbagi, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang selalu dicintai keluarga dan sahabat, itu juga rezeki

Menjadi pribadi yang selalu mampu bersyukur, itu juga rezeki

 

Rezeki bisa datang dari mana saja dan berupa apa saja, dari berbagai pintu yang tak pernah kita duga-duga.

Yang Maha Baik Allah SWT selalu punya caraNya sendiri, karena rezeki memang tak melulu soal materi ^^

 

#DNU

Saturday, October 8, 2016

Elektabilitas Menurun Gara-gara Salah Ngomong



Hati-hati, gara-gara nila setitik maka rusak susu sebelanga. Seseorang berbuat baik sebanyak apapun lalu khilaf melakukan kesalahan sekali saja, maka kebanyakan seluruh kebaikannya terlupakan begitu saja. Lalu apa yang teringat? Jelas hanya kesalahan yang pernah dilakukannya. Mengapa demikian? ini yang namanya kehidupan. Mau sebanyak apapun tabungan kebaikanmu, jika sekali saja melakukan kealpaan maka di mata manusia kita hanya tinggal kenangan hahaha… Alias dilupakan dan diacukan begitu saja. Tapi jangan pernah lupa, Allah SWT senantiasa melihat, dan selanjutnya biarkan Dia yang membalasnya.

Hal ini nampaknya senada dengan kekeliruan yang belum lama ini dilakukan oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta, sang petahana dalam Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) DKI Jakarta yang rencananya akan dilaksanakan pada awal tahun 2017 mendatang. Masyarakat tentu tahu tentang berbagai macam hal perbaikan yang telah dilakukan Ahok terhadap Jakarta tercinta, namun tidak bisa dipungkiri kejadian beberapa waktu lalu yang terkait dengan suatu agama bisa jadi menjadi akumulasi yang hebat bagi warga yang memang tidak pro Ahok sebelumnya.

Kejadian ini juga sangat perlu diperhatikan oleh tim sukses Ahok – Djarot karena bisa jadi yang semakin pergi meninggalkan pasangan tersebut bukan hanya pendukung lawan politiknya tetapi juga orang-orang yang sebelumnya menjadi teman setia bisa berpaling ke lain pasangan. Masalah yang prinsip ini yakni agama memang tidak patut dipermainkan, sesederhana apapun, karena permintaan maaf dan klarifikasi seheboh apapun akan sulit diterima karena prinsip hidupnya telah dicela.

Kesiapan menghadapi turunnya popularitas, berkurangnya pendukung, hingga perginya teman setia Pak Ahok nampaknya perlu ditangani dengan serius, karena sehebat apapun keberhasilan yang pernah kita lakukan akan mudah sekali musnah karena satu kali kesalahan. Terlebih lagi jika kekeliruannya bukan hanya satu kali, melainkan banyak tindak tanduk yang kerap mengundang decak nyinyir orang lain, hal ini bisa semakin membulatkan tekad warga DKI untuk mencoba mendalami dan menjatuhkan pilihan pada pasangan yang lain; Anies – Sandiaga ataupun Agus – Sylviana.

(dnu, ditulis sambil dipijitin hahaha…., 8 Oktober 2016, 22.16 WIB)

Thursday, October 6, 2016

Ini Masalah Etika Pegawai Mini Market Kenamaan



Seorang kasir mengucapkan nominal belanja yang harus saya bayar adalah senilai  Rp 155.300,- (seratus lima puluh lima ribu tiga ratus rupiah). Hanya bermaksud memperhatikan deretan angka hasil berbelanja, saya melihat dengan seksama layar monitor komputer kasir tersebut, dan di sana tertera total biaya adalah senilai Rp 155.250,- (seratus lima puluh lima ribu dua ratus lima puluh rupiah). Hm… angka yang berbeda antara yang diucapkan dengan yang tertera di layar.

Saya diam, hanya bergerak menyerahkan kertu ATM sebagai alat pembayaran, lalu sang kasir memprosesnya dengan memotong uang dalam ATM saya senilai Rp 15.250,-. Ya, angka yang benar, yang memang seharusnya saya bayarkan. Tapi mengapa saat menyampaikan total pembayaran secara lisan ia melebihkan Rp 50,- (lima puluh rupiah)? Pembulatankah? Jika ya, saya ingin bertanya lagi, pembulatan macam apa ini?

Gaess… hati-hati… hal seperti ini sungguh bukan tindakan terpuji, melainkan sangat dekat dengan dosa. Ini pembohongan lho! Mengapa ia bisa menyebutkan angka yang berbeda dengan yang ia sendiri lihat? Salah lihat atau bagaimana? Boleh saya katakan saya untung karena membayar dengan debit ATM sehingga yang dipotong nominalnya tepat dengan yang seharusnya. Lantas bagaimana jika membayar dengan uang tunai? Apa yang akan ia lakukan?

Hal seperti ini kadang terkesan kecil sekali untuk dipermasalahkan, tapi balasannya bisa menjadi amat sangat besar jika dibiarkan. Adalah hal yang tidak dapat dibenarkan jika melakukan pembulatan ke atas atas suatu biaya jual beli tanpa ada persetujuan dari konsumen. Bagi sebagian konsumen bisa jadi angka Rp 50,- bukan nominal yang besar sehingga cukup tidak berarti jika kehilangannya, tapi yang perlu digaris bawahi adalah masalah etika pegawai.

Kuat saya tekankan sekali lagi disini masalah etika, hal paling mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap orang. Adakah informasi kepada konsumen atas suatu pembulatan nominal total belanja di suatu toko atau pusat perbelanjaan? Pembulatan ke atas maupun ke bawah harus tetap diinformasikan kepada konsumen, tanpa terkecuali. Lima puluh rupiahnya akan disumbangkan? Ya sampaikanlah hal tersebut, bukan lantas sesuka hati menyebutkan total yang sudah dibulatkan.

Hal sepele nan remeh ini sesungguhnya adahal hal besar yang menyangkut dunia perdagangan. Akifitas jual beli hendaknya dilakukan menganut tuntunan yang baik, yang syariah misalnya, yang salah satunya adalah tidak mengambil hak orang lain tanpa pernah terlebih dahulu meminta persetujuannya.

Bukan masalah akumulasi berapa kali dari lima puluh rupiah yang akan pedagang tersebut dapatkan secara cuma-cuma, tapi sekali lagi ini masalah etika berdagang yang sungguh sangat tidak bisa dibenarkan.

(dnu, ditulis sambil bbman sama calon pembeli cake haha…, 6 Oktober 2016, 20.13 WIB)

Sunday, October 2, 2016

Aa Gatot Masih Panas, Lanjut Disusul Kanjeng Dimas



Ini momok sekali ya bagi umat muslim… Bagaimana tidak, dua orang yang mengatakan dirinya sebagai ulama yang paham benar dengan ajaran agama islam, kini tengah jadi perbincangan banyak orang untuk hal yang sungguh tidak bisa dibenarkan.

Mereka berdua juga sedang menjadi objek bagi pihak kepolisian untuk terus diperiksa dan diberi hukuman sesuai dengan tindakan tidak terpuji yang telah dilakukannya. Aa Gatot Brajamusti yang dikabarkan sebagai guru spiritual artis penyanyi Reza Arthamevia beberapa waktu lalu ditangkap pihak berwajib saat berpesta narkoba di sebuah hotel kawasan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan laki-laki yang akrab disapa Kanjeng Dimas baru saja diamankan polisi karena dikabarkan menggelar aliran sesat yang dikatakannya bisa menggandakan uang melalui ritual tertentu.

Tidak ingin mengangkat urusan SARA dalam artikel ini tapi hanya ingin menyampaikan pemikiran tentang betapa perbuatan seseorang yang menyebut dirinya yang mengerti agama namun justru kedapatan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak sejalan.

Bagi yang berifikiran singkat bisa saja berpendapat ahli agamanya saja seperti itu lalu bagaimana yang belum ahli? Terkait hal ini perlu digaris bawahi tentang adanya profesionalisme analisa terhadap suatu kerjadian, antara pelaku dengan hal yang diperbuatnya.

Dalam kasus ini hendaknya public melihat sosok pribadi Gatot Brajamusti dan Kanjeng Dimas, tidak dikaitkan sama sekali dengan agama apa yang mereka anut. Sebagai umat islam tentu penulis ada kekhawatiran tersendiri terkait hal ini. Bagaimana masyarakat akan menilai dimana kadang pemikiran yang lebih mendalam enggan untuk dilakukannya.

Pribadi seseorang memang tidak bisa dikendalikan dengan apapun yang melekat dengan dirinya, semua memiliki pengaruh yang amat berat dari hati dan pemikirannya. Begitu juga dengan dua pria ini, dimana semua hal negatif yang dilakukannya tersebut benar-benar karena buruknya isi hati dan kepala, bukan karena ajaran suatu agama. Walau memang bisa dikatakan bahwa ajaran agama hendaknya menjadi salah satu alat pengendali seseorang agar berbuat sesuai norma-norma dan nilai-nilai hidup yang penuh dengan kebaikan.

Bagaimana jika terjadi kealpaan? Inilah yang disebut dengan profesionalisme analisa terhadap suatu kejadian. Adalah pribadinya yang lalai, bukan agama yang dianutnya yang tidak mengajarkan kebaikan.

Belum usai urusan Aa Gatot, kini sudah mencuat lagi masalah Kanjeng Dimas, semoga tidak mengacaukan pemikiran publik, terlebih lagi tentang sudut pandang terhadap suatu agama tertentu.

(dnu, ditulis sambil makan roti kering yang kerasnya ndak ketulungan, 2 Oktober 2016, 22.18 WIB)