Sunday, October 2, 2016

Aa Gatot Masih Panas, Lanjut Disusul Kanjeng Dimas



Ini momok sekali ya bagi umat muslim… Bagaimana tidak, dua orang yang mengatakan dirinya sebagai ulama yang paham benar dengan ajaran agama islam, kini tengah jadi perbincangan banyak orang untuk hal yang sungguh tidak bisa dibenarkan.

Mereka berdua juga sedang menjadi objek bagi pihak kepolisian untuk terus diperiksa dan diberi hukuman sesuai dengan tindakan tidak terpuji yang telah dilakukannya. Aa Gatot Brajamusti yang dikabarkan sebagai guru spiritual artis penyanyi Reza Arthamevia beberapa waktu lalu ditangkap pihak berwajib saat berpesta narkoba di sebuah hotel kawasan Nusa Tenggara Barat. Sedangkan laki-laki yang akrab disapa Kanjeng Dimas baru saja diamankan polisi karena dikabarkan menggelar aliran sesat yang dikatakannya bisa menggandakan uang melalui ritual tertentu.

Tidak ingin mengangkat urusan SARA dalam artikel ini tapi hanya ingin menyampaikan pemikiran tentang betapa perbuatan seseorang yang menyebut dirinya yang mengerti agama namun justru kedapatan melakukan hal-hal yang sama sekali tidak sejalan.

Bagi yang berifikiran singkat bisa saja berpendapat ahli agamanya saja seperti itu lalu bagaimana yang belum ahli? Terkait hal ini perlu digaris bawahi tentang adanya profesionalisme analisa terhadap suatu kerjadian, antara pelaku dengan hal yang diperbuatnya.

Dalam kasus ini hendaknya public melihat sosok pribadi Gatot Brajamusti dan Kanjeng Dimas, tidak dikaitkan sama sekali dengan agama apa yang mereka anut. Sebagai umat islam tentu penulis ada kekhawatiran tersendiri terkait hal ini. Bagaimana masyarakat akan menilai dimana kadang pemikiran yang lebih mendalam enggan untuk dilakukannya.

Pribadi seseorang memang tidak bisa dikendalikan dengan apapun yang melekat dengan dirinya, semua memiliki pengaruh yang amat berat dari hati dan pemikirannya. Begitu juga dengan dua pria ini, dimana semua hal negatif yang dilakukannya tersebut benar-benar karena buruknya isi hati dan kepala, bukan karena ajaran suatu agama. Walau memang bisa dikatakan bahwa ajaran agama hendaknya menjadi salah satu alat pengendali seseorang agar berbuat sesuai norma-norma dan nilai-nilai hidup yang penuh dengan kebaikan.

Bagaimana jika terjadi kealpaan? Inilah yang disebut dengan profesionalisme analisa terhadap suatu kejadian. Adalah pribadinya yang lalai, bukan agama yang dianutnya yang tidak mengajarkan kebaikan.

Belum usai urusan Aa Gatot, kini sudah mencuat lagi masalah Kanjeng Dimas, semoga tidak mengacaukan pemikiran publik, terlebih lagi tentang sudut pandang terhadap suatu agama tertentu.

(dnu, ditulis sambil makan roti kering yang kerasnya ndak ketulungan, 2 Oktober 2016, 22.18 WIB)