Sunday, November 20, 2016

Go Glam Sopan, Saya Segan

Go Glam Sopan, Saya Segan
Sore ini lagi-lagi saya memanfatkan jasa delivery segala rupa yang disediakan oleh PT Gojek Indonesia, yaitu Go Glam. Rencana membersihkan wajah dengan tanpa harapan berlebihan justru mendapatkan kepuasan lebih dari yang diinginkan.
Sebut saja namanya Bunga hahaha.... tapi tidak, disini saya ingin menyebut jelas namanya yaitu Mawaputri. Perangai Mbak Cantik yang ingin saya angkat melalui tulisan ini adalah perihal kesopanannya. Pertemuan saya dengannya diawali atas pesanan saya di pagi hari untuk menggunakan jasa Go Glam by La Donna Aesthetic. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, gayung pun bersambut, pesanan saya diterima oleh Mbak Mawaputri ini, ia lantas menelepon saya untuk mengonfirmasi ulang atas pesanan yang saya ajukan. Selain menelepon ia juga mengirim pesan via SMS, dan dari tulisannya saya sangat terasa kesopanan dan kelembutan Mbak baik ini.
Dalam SMSnya ia meminta saya menanti kehadirannya sesuai dengan jam yang telah ditentukan. Namun dikarenakan beberapa hal saya meminta kepadanya untuk datang ke rumah 30 menit lebih lambat dari jam yang sudah disepakati. Dia pun setuju dan tetap dengan icon smile dalam setiap akhir tulisannya. Pelajaran yang bisa saya dan mungkin semua pembaca tiru di sini adalah, emoticon memang belum tentu bisa mewakili perasaan kita dalam setiap tulisan, tapi percayalah efek mendamaikan akan terasa pada orang yang menerima pesan.
Satu jam sebelum jam perjanjian Mbak Mawaputri mengirim pesan kepada saya untuk menginformasikan bahwa ia siap untuk berangkat, hal ini dikarenakan ia takut terlambat tiba di rumah saya sehingga melewati batas waktu yang saya inginkan. Padahal saya katakan bahwa saya dan keluarga masih di luar rumah, dan nice... tetap dengan bahasa yang santun ia mengatakan tidak berkeberatan untuk menunggu jika saya belum tiba di rumah.
Enak aja sih saya membaca setiap pesannya, entah kenapa ya, padahal belum bertemu dengan orangnya.
Akhirnya kami bertemu di rumah, dan benar saja Mbak Go Glam ini benar-benar sopan dan santun dalam setiap gerak geriknya. Tentu hal ini menjadi persyaratan tersendiri bagi setiap pemakai jasa yang mengundang orang lain untuk boleh masuk ke rumahnya. Dalam istilah lain, kalau tamu kan memang harus sopan ya di rumah orang lain hehe....
Selama melakukan perawatan wajah ia juga amat hati-hati, lembut, dan tetap menjaga kesopanan. Tidak seperti yang pernah saya gunakan jasanya beberapa waktu lalu, dimana dalam aktifitas perawatannya ia seringkali menelepon keluarganya di rumah membicarakan masalah cucian pakaian yang ia tinggalkan hahaha.... Saya jelas terganggu dengan yang ini hihihi.... Pdernah jua seorang petugas yang susaaahhh sekali saya hubungi, karena saya tunggu-tunggu di jam yang sudah disepakati dirinya tak juga nampak di depan rumah haha....
Di akhir perawatan Mbak Mawaputri menanyakan kepada saya apakah ada masukan untuk dirinya. Good ya, selama saya menggunakan jasa Go Massage, Go Glam, Go Food, ataupun Go Ride belum ada sih yang meminta diberi masukan. Entah standarnya seperti apa dari PT Gojek Indonesia, namun yang pasti saya puas dengan petugas Go Glam hari ini. Bisa jadi sebenarnya tidak ada standar untuk meminta masukan dari konsumen, tapi karena pribadinya saja yang selalu ingin diberi saran agar ia dan kinerjanya jadi lebih baik.
Thank you ya Mbak Mawaputri, saya jadi selalu ingat untuk selalu menjaga sopan santun dimana pun berada ^^
(dnu, ditulis sambil makan nasi Padang di Jakarta haha..., 20 November 2016, 19.51 WIB)
 
 

Monday, November 7, 2016

Setelah Lewat Tanggal Empat

Elokkah jika disebut sebagai tanggal bersejarah, di mana terjadi kumpulan massa muslim di DKI Jakarta dalam rangka ingin bertemu dengan pemimpin negara Indonesia tercinta? Tentu untuk membicarakan masalah agama yang terkait dengan orang nomor satu di kota metropolitan ini. Mengapa penulis katakan bersejarah? Karena sedikit sekali Warga Negara Indonesia (WNI) pada tanggal 4 November 2016 lalu yang tidak turut bersuara atas moment langka ini. Suaranya keluar dalam berbagai jenis, ada yang merdu, sumbang, ataupun netral. Lalu mengapa banyak yang bersuara? Tentu ada yang dalam rangka membela, menunjukkan simpatinya, hingga bahkan ada yang bersikeras menentang seakan menabuh genderang perang.

 

Penulis merasa tidak perlu membahas di sini latar belakang apa yang menyebabkan terjadinya aksi pada Jumat lalu tersebut, namun melalui artikel ini penulis hanya ingin menyampaikan harapan kepada siapapun yang membacanya. Secara garis besar hanya ingin sampaikan semoga berangkat dari aksi tersebut justru Indonesia bisa menuju kedamaian hidup dalam berkeyakinan tanpa ada apapun yang bisa memecahnya.

 

Para pahlawan yang telah gugur di medan perang sudah bersusah payah berusaha memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun entah apa rasanya beliau yang kini telah di alam yang berbeda melihat rakyatnya saling sikut adu argumen, saling injak untuk sebuah kekuasaan, saling debat untuk masalah yang kecil sekalipun dan semuanya akan merasa menjadi pemenang jika berhasil mengalahkan lawannya dengan kezholiman. Lalu dimana rasa syukur atas kemerdekaan bangsa yang telah kita raih sejak dulu kala? Mungkin akan sulit sekali mengisi kejayaan, karena semuanya telah sibuk untuk saling menjatuhkan.

 

Setelah lewat tanggal empat, hendaknya siapa pun yang telah turut ambil bagian pada waktu tersebut untuk turun ke jalan, mendukung dari rumah, memanjatkan berbagai macam doa sebagai wujud partisipasi dan mengakui bahwa penistaan agama sungguh tidak dapat dibenarkan. Maka alangkah indahnya jika rasa sayang terhadap agamanya terus diwujudkan dalam berbagai bentuk, dengan catatan walau kini sudah bukan tanggal 4 November 2016. Menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, mukmin yang baik, mukmin yang menjunjung tinggi agama islam, membela Al Quran, hendaknya terus diwujudkan.

 

Semoga kita semua terus dan terus memuliakan Al Quran, dengan senantiasa menyisihkan waktu untuk membacanya, mengkajinya, mengamalkannya hingga menghafalnya. Lagi-lagi walau sudah bukan tanggal empat. Semoga shalatnya tambah rajin, ibadahnya tambah banyak, sodaqohnya tambah luas, senantiasa menjadi pribadi yang penuh maaf, senantiasa ikhlas, menjaga tali silaturahmi, serta menunaikan berbagai amalan sunnah yang kadang kita lupa, sekali lagi walau kini sudah bukan tanggal empat.

 

Membela islam bukan hanya di tanggal 4 November 2016, menunjukkan bahwa kita adalah individu beragama baik, mengamalkan seluruh ajaran islam dengan baik hendaknya terus kita lakukan walau sudah bukan tanggal empat. Menjadi manusia yang cinta damai dan cinta kebersihan semoga bukan hanya ada di tanggal empat.

 

Berangkat dari kasus yang melatarbelakangi kejadian di tanggal 4 November 2016, kita sebagai manusia yang beragama marilah untuk saling menghormati, tidak perlu memasuki ranah yang bukan menjadi wewenang kita. Semoga seluruh rakyat Indonesia semakin yakin bahwa kita perlu untuk bergandengan erat demi menjaga keutuhan tanah air kita, walau berbeda suku, agama, ras maupun antar golongan. Tidak perlu lagi ada perpecahan karena kita sudah bisa berkaca pada kejadian tanggal empat.

 

Peristiwa tanggal empat hendaknya mampu membuat kita seluruh WNI agar semakin kuat, semakin erat dan semakin hangat atas kekeluargaan dan persaudaraannya. Semakin paham bahwa terus menerus bertikai sungguh hanya akan membuka lapangan kerja bagi provokator dan bagi orang-orang yang tidak cinta damai.

 

Aksi tanggal empat semoga dapat menjadi cermin tidak hanya bagi umat muslim tapi bagi umat lainnya, bahwa tidak perlu ada pertikaian jika kita amat menjaga batas kesopanan dan toleransi beragama. Karena tentu kita semua sepakat bahwa agama adalah keyakinan yang tidak boleh diusik oleh siapa pun. Hiduplah dengan agama kita masing-masing namun kita tetap bergembira dalam genggaman tangan yang kian hari semakin kuat.

 

(dnu, ditulis sambil nungguin anak-anak SD pada dateng untuk bermain sambil belajar, 7 November 2016, 11.06 WIB)