Monday, November 7, 2016

Setelah Lewat Tanggal Empat

Elokkah jika disebut sebagai tanggal bersejarah, di mana terjadi kumpulan massa muslim di DKI Jakarta dalam rangka ingin bertemu dengan pemimpin negara Indonesia tercinta? Tentu untuk membicarakan masalah agama yang terkait dengan orang nomor satu di kota metropolitan ini. Mengapa penulis katakan bersejarah? Karena sedikit sekali Warga Negara Indonesia (WNI) pada tanggal 4 November 2016 lalu yang tidak turut bersuara atas moment langka ini. Suaranya keluar dalam berbagai jenis, ada yang merdu, sumbang, ataupun netral. Lalu mengapa banyak yang bersuara? Tentu ada yang dalam rangka membela, menunjukkan simpatinya, hingga bahkan ada yang bersikeras menentang seakan menabuh genderang perang.

 

Penulis merasa tidak perlu membahas di sini latar belakang apa yang menyebabkan terjadinya aksi pada Jumat lalu tersebut, namun melalui artikel ini penulis hanya ingin menyampaikan harapan kepada siapapun yang membacanya. Secara garis besar hanya ingin sampaikan semoga berangkat dari aksi tersebut justru Indonesia bisa menuju kedamaian hidup dalam berkeyakinan tanpa ada apapun yang bisa memecahnya.

 

Para pahlawan yang telah gugur di medan perang sudah bersusah payah berusaha memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun entah apa rasanya beliau yang kini telah di alam yang berbeda melihat rakyatnya saling sikut adu argumen, saling injak untuk sebuah kekuasaan, saling debat untuk masalah yang kecil sekalipun dan semuanya akan merasa menjadi pemenang jika berhasil mengalahkan lawannya dengan kezholiman. Lalu dimana rasa syukur atas kemerdekaan bangsa yang telah kita raih sejak dulu kala? Mungkin akan sulit sekali mengisi kejayaan, karena semuanya telah sibuk untuk saling menjatuhkan.

 

Setelah lewat tanggal empat, hendaknya siapa pun yang telah turut ambil bagian pada waktu tersebut untuk turun ke jalan, mendukung dari rumah, memanjatkan berbagai macam doa sebagai wujud partisipasi dan mengakui bahwa penistaan agama sungguh tidak dapat dibenarkan. Maka alangkah indahnya jika rasa sayang terhadap agamanya terus diwujudkan dalam berbagai bentuk, dengan catatan walau kini sudah bukan tanggal 4 November 2016. Menyatakan dirinya sebagai seorang muslim, mukmin yang baik, mukmin yang menjunjung tinggi agama islam, membela Al Quran, hendaknya terus diwujudkan.

 

Semoga kita semua terus dan terus memuliakan Al Quran, dengan senantiasa menyisihkan waktu untuk membacanya, mengkajinya, mengamalkannya hingga menghafalnya. Lagi-lagi walau sudah bukan tanggal empat. Semoga shalatnya tambah rajin, ibadahnya tambah banyak, sodaqohnya tambah luas, senantiasa menjadi pribadi yang penuh maaf, senantiasa ikhlas, menjaga tali silaturahmi, serta menunaikan berbagai amalan sunnah yang kadang kita lupa, sekali lagi walau kini sudah bukan tanggal empat.

 

Membela islam bukan hanya di tanggal 4 November 2016, menunjukkan bahwa kita adalah individu beragama baik, mengamalkan seluruh ajaran islam dengan baik hendaknya terus kita lakukan walau sudah bukan tanggal empat. Menjadi manusia yang cinta damai dan cinta kebersihan semoga bukan hanya ada di tanggal empat.

 

Berangkat dari kasus yang melatarbelakangi kejadian di tanggal 4 November 2016, kita sebagai manusia yang beragama marilah untuk saling menghormati, tidak perlu memasuki ranah yang bukan menjadi wewenang kita. Semoga seluruh rakyat Indonesia semakin yakin bahwa kita perlu untuk bergandengan erat demi menjaga keutuhan tanah air kita, walau berbeda suku, agama, ras maupun antar golongan. Tidak perlu lagi ada perpecahan karena kita sudah bisa berkaca pada kejadian tanggal empat.

 

Peristiwa tanggal empat hendaknya mampu membuat kita seluruh WNI agar semakin kuat, semakin erat dan semakin hangat atas kekeluargaan dan persaudaraannya. Semakin paham bahwa terus menerus bertikai sungguh hanya akan membuka lapangan kerja bagi provokator dan bagi orang-orang yang tidak cinta damai.

 

Aksi tanggal empat semoga dapat menjadi cermin tidak hanya bagi umat muslim tapi bagi umat lainnya, bahwa tidak perlu ada pertikaian jika kita amat menjaga batas kesopanan dan toleransi beragama. Karena tentu kita semua sepakat bahwa agama adalah keyakinan yang tidak boleh diusik oleh siapa pun. Hiduplah dengan agama kita masing-masing namun kita tetap bergembira dalam genggaman tangan yang kian hari semakin kuat.

 

(dnu, ditulis sambil nungguin anak-anak SD pada dateng untuk bermain sambil belajar, 7 November 2016, 11.06 WIB)