Friday, December 2, 2016

Jadilah Bangsa yang Berbahagia

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, sedangkan bangsa yang berbahagia adalah bangsa yang mampu menyikapi kebhinekaan dengan sempurna. Tidakkah kita menjadi amat lelah jika setiap saat harus adu argumen hingga perang dingin? Bahkan diantara teman sendiri.

Sudah berapa banyak teman kita di media sosial yang kita putuskan hubungan pertemannya ataupun dia yang memutuskan pertemanan kepada kita hanya karena masalah ketidakcocokan status di facebook atau yang lainnya? Secara tidak sadar diantara kita sedang ada yang mengadu kekuatan batin dan emosi, siapa lagi kalau bukan setan? Jangan biarkan setan asyik main-main di di dalam hati dan ramai bertepuk tangan saat antar umat manusia sedang bertengkar.

Terkadang memang ada saja postingan yang bisa menyulut emosi kita, namun sebagai manusia biasa yang mainnya sudah sangat jauh, pola pikirnya sudah lebih terbuka, hidupnya sudah cukup bahagia, hari-harinya sudah selalu diisi dengan rasa syukur yang tiada henti, maka yuk coba menanggapinya dengan lebih santai. Tentunya dengan tidak serta merta memutuskan tali silaturahmi antar teman. Agak disayangkan ya jalinan pertemanan yang dibangun sekian lama lalu rusak seketika hanya karena PILKADA misalnya, terlalu hambar ya rasanya.

Sejak zaman dahulu kala Indonesia telah berlandaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, lalu mengapa dulu terasa damai namun dewasa ini perang dingin terjadi di mana-mana? Karena kemajuan teknologikah? Bisa jadi. Tapi yang perlu diingat adalah, prinsip hidup setiap manusia pasti berbeda dan merupakan hak asasi untuk memilih prinsip hingga menjadi berbeda. Hak asasi sebagai hak yang dibawa sejak lahir tersebut diberikan langsung oleh Sang Maha Segalanya yaitu Allah SWT.  Lalu patutkah perbedaan tersebut diributkan oleh segelintir umat manusia? Yang menurunkan hak itu Allah SWT, maka siapa yang boleh melawannya?

Dimaksudkan juga agar tidak semakin terjadi perpecahan, maka mari bersama saling menghormati dan jangan saling usik dengan prinsip hidup orang lain. Biarkan teman kita memilih sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Nah, lalu bagaimana jika kita merasa terusik dengan ulah orang lain? Dalam hal personal antar teman, mungkin perbuatan mengusik ini bisa ditempatkan dibawah hubungan pertemanan, karena nilai sebuah pertemanan tentunya lebih mahal bukan dari sekedar hal-hal yang mampu merusaknya? Bagaimana kalau kadarnya besar, sehingga mengganggu hajat hidup orang banyak? Karena Indonesia adalah negara hukum maka yang seperti ini tentunya harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Jadilah bangsa yang berbahagia, yang selalu mampu menyikapi berbagai permasalahan dengan mata, hati dan telinga yang terbuka.

(dnu, ditulis sambil kuliah sumpah saya bosan huhu...., 3 Desember 2016, 14.33 WIB)