Thursday, November 16, 2017

Bedakan Antara “Kesalahan” dengan “Proses Belajar” Pada Anak-anak


Dalam sebuah acara anak yang dikelola dengan sangat baik oleh panitia-panita yang profesional terdapat ungkapan dari salah seorang penanggung jawab acara yang menggelitik telinga saya dan membuat kening sedikit mengernyit. Diantara sekian banyak aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak sebagai peserta, satu diantaranya adalah melukis dengan menggunakan cat air di sebuah bidang kertas berwarna putih. Pada aktifitas ini panitia memiliki ketentuan “panitian tidak mengganti kertas yang sobek karena kesalahan peserta, panitia mengakui bahwa kertas yang digunakan sangatlah tipis dan rentan rusak, maka peserta harus paham benar cara menggunakan cat air dengan baik”. Siapa yang dimaksud peserta di sini? Anak-anak rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun.



Guys, tepatkah pernyataan tersebut untuk didengungkan? Jika seorang anak belajar menulis, menggambar atau mewarnai, lalu dalam aksinya tersebut ia terlalu kuat menekan pensil atau alat pewarnanya sehingga mengakibatkan kertas yang digunakannya sobek, maka hal ini dikatakan sebagai kesalahan anak? Bukankah rentang usia 4 sampai dengan 8 tahun adalah masa-masa bagi anak untuk belajar segala hal terkait dunia tulis menulis? Menulis saja mungkin bagi sebagian anak belum begitu pandai, pun terhadap ketentuan terbaik dalam menggunakan alat-alatnya. Anak-anak di usia tersebut tentu sedang gemar-gemarnya memegang pensil dan sejenisnya, sedang semangat-semangatnya menulis, bahkan saking semangatnya saat menulis mereka akan menekan pensil sekuat tenaga hingga membuat sisi belakang kertas berbekas atau bahkan nyaris sobek. Lalu tepatkah yang seperti ini dikatakan sebagai kesalahan?



Bukan, hal tersebut bukanlah kesalahan melainkan proses belajar. Tidak hanya anak-anak, yang sudah dewasa pun harus melewati tahapan gagal atau terjatuh saat mempelajari sesuatu hal. Maka terasa kurang tepat jika menganggap kekurangan-kekurangan yang dilakukan oleh seorang anak adalah sebuah kesalahan, karena hal tersebut adalah bagian dari proses pembelajaran.



#DNU

Wednesday, November 8, 2017

Dengan E-toll, Cenderung Memperhatikan Saldo Dari Pada Tarif Toll?


Entah perasaan ini hanya terjadi pada diri saya sendiri atau juga pada diri orang lain termasuk Anda para pembaca yang baik hatinya. Perasaan ketika bertransaksi di pintu toll otomatis menggunakan e-toll card di mana perhatian mata, otak dan hati sebagian besar tertuju pada jumlah saldo yang tertera di layar monitor pintu toll. Apakah ini reaksi yang normal? Bisa saja iya, di mana bagi pengguna jalan toll yang hampir setiap hari melalui jalan yang seharusnya bebas hambatan itu, jumlah saldo yang cukup adalah suatu keharusan. Dari pada palang pintu toll tidak terbuka, lalu santer mendengar klakson tak henti dari mobil-mobil dibelakang, belum lagi disertai umpatan dari pengendara lain karena ulah kita yang kehabisan saldo dalam sekeping kartu toll.



Coba diingat sekali lagi, bagi para pembaca yang kerap melalui jalan toll sebagai akses aktifitasnya, apakah memiliki kecenderungan yang sama dengan saya di mana perhatian utama adalah terhadap saldo kartu tol dibandingkan dengan memperhatikan berapa besar tarif jalan toll. Secara tidak langsung reaksi yang terjadi secara alami ini dapat mengalihkan kita terhadap besaran tarif toll, dan terkesan menjadi tidak terlalu bermasalah jika dibandingkan dengan tidak cukupnya saldo kartu di tengah perjalanan. Apakah ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan fenomena ini? Sejujurnya saya tidak ingin menggiring pemikiran para pembaca ke arah tersebut, karena yang ingin saya sampaikan di sini hanyalah tentang kebiasaan baru yang kini terjadi dan mungkin dialami oleh banyak pengguna jalan toll lainnya.



Jika sebelumnya besaran tarif toll menjadi isu yang renyah sekali untuk dibahas bersama, pada zaman uang dalam kartu saat ini mungkin hal tersebut menjadi sedikit terabaikan, karena telah ada hal yang jauh lebih penting ketimbang melihat nilai tarif toll, terlebih lagi mengambil kertas bukti transaksi. Mungkin sebagian dari kita perlahan akan mulai sulit mengingat berapa tarif toll di pintu A, pintu B, pintu C, dan pintu-pintu lainnya. Hal ini disebabkan nominal tersebut tidak lebih penting dibandingkan dengan pertanyaan “saldonya cukup ngga ya? Wah kacau nih kalau kurang...”.



Pernah menyadari hal ini? Saya kerap kali menyadari mengapa usai mendekatkan kartu di mesin sentuh otomatis lantas mata langsung tertuju pada layar saldo? Pikiran pun demikian, selalu bertanya “tinggal berapa ya saldonya...”, karena otak telah memerintah dengan satu kata “saldo!”. Seketika berhasil melewati palang pintu toll yang telah terbuka kembali berputar di kepala “wah sudah waktunya top up nih....”.



Bagaimana? Apakah Anda mengalami reaksi alami yang sama dengan saya?



(dnu, ditulis sambil nonton dangdut academy asia, 8 November 2017, 21.15 WIB)

Thursday, November 2, 2017

Mama, Stop Sebut Anak "Tengil" atau Sejenisnya

Kadang terheran-heran dengan para orang tua khususnya Mama yang kerap kali mengungkapkan kegemasan pada sang buah hati menggunakan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya. Umumnya ungkapan ini ditujukan kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah, di mana rentang usia ini adalah masa pertumbuhan anak yang tampak sedang lucu-lucunya. Selain karena lucunya tingkah dan polah anak, ungkapan yang salah ini juga dilontarkan atas kepintaran anak.



Sebenarnya sah-sah saja orang tua memberikan pujian atau apresiasi atas rasa puas orang tua terhadap yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap saja harus berada dalam koridor pujian yang benar terlebih penggunaan kata-katanya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar bahwa setiap ucapan adalah doa, di mana atas ucapan tersebut kita berharap anak menjadi seperti apa yang kita sampaikan. Tidak salah jika kita memang harus selalu berkata yang baik-baik, karena jika Tuhan berkehendak maka akan jadilah seperti apa yang kita inginkan melalui ucapan.



Berapa kali pembaca yang baik hati mendengar ungkapan kegemasan sang mama “aduh nih anak tengil banget gayanya...” atau, “ya ampun nih tuyul satu ngga ada diemnya dari tadi...”. Mungkin juga pernah dengar ungkapan sejenis “uuhh... burung beonya mama pinter banget ngomongnya...”, atau bahkan “nih anak kayak kalong aja siang maen eh malemnya tidur...”.



Guys, apakah anda turut bersedih membacanya? Bagaimana jika anda mendengarnya langsung yang terucap dari mulut manis sang mama? Yang dikagumi ini anak sendiri, anak yang dikandung di rahim sendiri, anak yang diharapkan kehadirannya, anak yang dinantikan kelahirannya, dan bahkan anak yang diberi nama begitu indah dan panjangnya bagai gerbong kereta. Lantas setelah ia lahir ke dunia, tumbuh besar, bertubuh bulat lucu, mulai pandai mengeluarkan suara sepatah dua patah kata, mulai rajin tersenyum, mulai senang bermain, mulai senang berlari... tanpa pikir panjang mama sebut dia si tengil, si tuyul atau si burung beo. Apa maksudnya mama?



Apakah mama lupa berapa lama mama bertapa untuk menemukan kata per kata yang amat baik artinya namun begitu rumit di telinga, namun begitu anak mama lahir justru sebutan-sebutan tak elok mama berikan. Adik bayi itu anak mama kan?



Ketika menyebut kata tengil mungkin maksud mama keren gayanya. Ketinya menyebut kata tuyul mungkin maksud mama lucu kepalanya, dan ketika menyebut kata burung beo, mungkin maksud mama ceriwis. Tapi coba sekali lagi diresapi sambil menyebutkannya, miris toh ma?



Bukankah lebih indah didengar dan diartikan jika menyebut anak kita dengan kata “aduh si tuan putri cantik amat nih habis mandii...”, atau “wah jagoan mama udah pinter nih merambatnya....”. Mungkin bisa juga menyebutnya seperti “pinter banget nih anak mama ngomongnya... ceriwis deh....”. Dan tentu masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang nada dan artinya masih positif. Kita menginginkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan berbudi pekerti baik bukan? Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan positiflah yang wajib selalu diperdengarkan di telinga mereka.



Anak akan merekam apa yang pernah dikatakan kepadanya, tidak pandang bulu ungkapan positif ataupun negatif. Tumbuh kembang mereka juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidiknya. Oleh karena itu perdengarkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat memberikan energi positif bagi kelangsungan hidup mereka.



Mama menginginkan anak-anak yang percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang terpuji bukan?

Mulai sekarng yuk kita ubah ungkapan-ungkapan kegemasan dengan kata-kata yang lebih bijak dan indah didengar.



(dnu, ditulis sambil makan rengginang bantet karena digoreng ketika minyaknya belum panas haha..., 2 November 2017, 19.21 WIB)

Tuesday, October 3, 2017

Ingat Allah SWT Dalam Segala Masa


Kapan saja dan di mana saja, Allah SWT senantiasa bersama kita. Lantas mengapa kita yang bukan apa-apa hanya mengingatNya dalam waktu-waktu tertentu saja? Semoga tidak banyak hamba yang hanya mengingat Sang Pencipta Allah SWT hanya pada saat menderita saja, dan dia lupa saat bahagia tengah melanda. Semoga tidak banyak juga yang hanya mengingat Allah SWT kalau ada maunya saja, bahkan ia lupa jika segala keinginannya telah terpenuhi. Semoga tidak banyak yang hanya mau menengadahkan tangannya kehadirat Allah SWT hanya jika sedang memiliki hajat saja, hajat yang sangat diinginkannya atau hajat yang sangat berat baginya. Semoga tidak banyak yang menangis tersedu, sedih merintih sambil memohon agar Allah SWT beikan kemudahan, namun seketika lupa saat kesenangan telah hadir di tangan.

 

Allah Maha Pengasih, Tak Pernah Pilih Kasih

Allah Maha Penyayang, Sayangnya Tak Terbilang

Dan Allah Maha Tahu, Tanpa Harus Diberi Tahu

 

Semoga semakin banyak yang kerap mengucap syukur dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang memuji keagungan Allah SWT dalam keadaan apapun. Semoga semakin banyak yang selalu mengingat Allah SWT baik dalam suka maupun duka. Dan semoga semakin banyak yang mengingat Allah SWT dalam keadaan apapun kita.

 

(dnu, ditulis sambil mikirin saldo gopay tinggal berapa karena mau beli martabak tapi ga punya uang cash haha...., Selasa, 3 Oktober 2017, 19.17 WIB)

Sunday, October 1, 2017

Lenganmu Juga Aurat, Ukhti


Pagi ini dapat kiriman gambar dari rekan sesama muslimah tentang peringatan bahwa lengan perempuan adalah juga aurat yang wajib di jaga. Tapi siang harinya, dengan kedua telinga mendengar percakapan dua orang muslimah berhijab di belakang saya usai menunaikan sholat dzuhur. Kurang lebih seperti ini percakapannya :

 

Mba 1   : Buruan, lama amat sih!

Mba 2   : Tunggu sebentar gue pake manset dulu...

Mba 1   : Ah udah ga usah pake manset, baju lu kan tangannya udah 7  per 8... (yang dimaksud

  panjang lengan baju)...

Mba 2   : Ah ntar item gw kalo ga pake manset...

Mba 1   : Ngga, tarik coba, panjang kok, udah buruan...

Mba 2   : Terdiam... sambil terus mengenakan manset tangan.

Mba 1   : Ah yaudah deh terserah, buruan gw tunggu di depan!

Mba 2   : Iya....

 

Ukhtifillah yang cantik dan baik hatinya, setuju ya bahwa lengan juga merupakan aurat yang wajib dijaga, wajib ditutup dengan kain panjang hingga ke punggung tangan kita. Percakapan nyata diatas adalah bukti nyata bahwa masih banyak muslimah yang menganggap enteng lengan tangan. Dengan alasan apapun, Mba yang ke 2 sudah berusaha menutupi tangannya walau dengan alasan takut kulitnya hitam karena terpapar sinar matahari secara langsung, semoga di kemudian hari ia paham bahwa janganlah takut hitam melainkan takutlah pada azab Allah SWT.

 

Terkadang kaum hawa sengaja menggulung lengan bajunya hingga ke pergelangan tangan atau bahkan mendekati siku, hal ini dilakukannya agar lebih mudah beraktifitas karena tidak ada kain-kain yang mengganggu, atau mungkin karena panas, atau bisa jadi karena takut baju bagian lengannya kotor. Jika sedang berada sendirian di dalam rumah atau hanya dengan mahram kita hal ini dibenarkan, namun sangat tidak benar jika di tempat umum yang begitu banyak pasang mata lengan kita sengaja di buka.

 

Pakaian yang panjang lengannya hanya 7/8 jelas wajib pakai manset lagi untuk menutupi bagian tangan lainnya. Jangan kemakan mode dan mengorbankan aqidah, karena banyak juga yang modist tapi tetap sesuai syariah.

 

(dnu, ditulis sambil ngeliatin orang makan mie ayam, 2 Oktober 2017, 13.41 WIB)

Upacara, Salah Satu Cara Tanamkan Nilai Pancasila


Beberapa waktu lalu masyarakat Indonesia berlomba-lomba menunjukkan bahwa dirinya benar-benar “Pancasila” melalui berbagai cara, poster di dunia maya salah satunya. Dengan tujuan yang beragam berbagai upaya tersebut diusung oleh masing-masing orang yang kata kuncinya adalah “Saya Pancasila”, walaupun entah bagaimana keseharian dari mereka apakah telah benar-benar menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila, hari di mana sebuah upacara besar digelar untuk memperingati kekuatan dasar negara kita tercinta Indonesia. Lantas bagaimana dengan mereka yang kerap mengelu-elukan dirinya “Pancasila” sekali, apakah telah sedikit saja ikut memaknainya minimal hari ini?



Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia tidak hanya perlu dihayati tetapi juga dilakoni dalam kegiatan kita sehari-hari. Bagaimana dapat melakoni jika makna yang terkandung di dalamnya saja belum diresapi? Bagaimana dapat diresapi jika tidak ada aktifitas rutin yang secara terus menerus mengingatkan bahwa ada lima sila dalam pancasila yang perlu kita maknai? Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih maupun Upacara Penurunan Bendera Merah Putih yang biasanya dilaksanakan rutin oleh sekolah-sekolah kini tak lagi sama.



Kurang lebih 17 tahun yang lalu saya masih rutin melaksanakan upacara bendera di sekolah, satu minggu sekali. Dalam seremoni kenegaraan tingkat sekolah tersebut seluruh siswa siswi dibentuk pemikirannya agar menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kegiatannya sehari-hari. Selalu mengucapkan sila-sila Pancasila bersama-sama seluruh peserta upacara, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk mengiringi pengibaran atau penurunan Sang Saka Merah Putih. Sebuah seremoni rutin yang digelar dengan sederhana namun tujuannya ingin mengubah pribadi kita menjadi anak Indonesia yang cinta negaranya dan menghargai jasa para pahlawannya. Saat ini apakah sekolah-sekolah masih sama rutinnya melaksanakan upacara? Semoga saja iya, agar setiap anak telah ditanamkan sejak dini akan pentingnya mengamalkan Pancasila, serta alasan mengapa harus mengamalkannya.



Ketika membacakan sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, di sini ditanamkan pada diri siswa siswi untuk percaya kepada Tuhan, dan menganut suatu agama adalah sebuah hak asasi bagi setiap pribadi. Sila ke dua yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, pengamalan yang paling sederhana yaitu jadilah anak yang cinta pada sesama, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, dan tentunya saling mengasihi. Sila ke tiga Persatuan Indonesia, kalimat yang singkat namun sarat makna, di mana dalam hati kecil setiap siswa diajak untuk menjaga kerukunan hidup bermasyarakat, bagaimanapun berbedanya agama dan suku tapi kita harus tetap bersatu untuk Indonesia. Sila ke empat yaitu Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, sederhanananya segala pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari agar selalu bermusyawarah, hindari keributan, dan junjung tinggi azas mufakat. Contoh kecilnya adalah pemilihan ketua kelas yang selalu dilakukan secara musyawarah dan mufakat, di sini terlihat nilai-nilai Pancasila mulai ditanamkan minimal di sekolah. Dan sila ke lima adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sejak dini ditanamkan pemahaman bahwa negara tentu mengupayakan sebuah kehidupan yang adil dan makmur bagi setiap warga negaranya.



Lantas bagaimana jika upacara bendera kini tak lagi rutin adanya? Bagaimana penanaman nilai-nilai Pancasila akan secara mudah dilakukan terhadap anak-anak selaku generasi penerus bangsa? Bilamana ada seremoni yang menyerupai getir perjuangan para pahlawan negara? Apakah tak mengapa jika jutaan anak bangsa tak begitu kuat nasionalismenya karena telah berkurangnya aktifitas pengibaran bendera merah putih di udara. Memang bukan hanya upacara saja, tetapi ini adalah salah satunya yang begitu dekat di depan mata.



(dnu, ditulis sambil makan martabak keju yang rasanya cokelat banget, 1 Oktober 2017, 19.59 WIB)

Sunday, September 24, 2017

Potret Persaingan Bisnis Masakan ala Jepang, Head To Head


Hari itu (24/9) kurang lebih pukul 17.00 WIB saya bersama keluarga menikmati makan sore di sebuah restoran yang menyajikan masakan ala Jepang yaitu Ichiban Sushi, yang terletak di Plaza Pondok Gede. Suasana sore yang sempat diguyur hujan walau sesaat itu cukup sejuk, dan rasanya cocok sekali jika perut ini diisi dengan makanan yang hangat namun tetap sarat nutrisi. Tidak butuh waktu lama kami memutuskan untuk makan di resto yang belum lama berdiri di mall ini. Sambil menunggu pesanan datang mulailah pikiran saya melanglang buana yang tentu saja tetap seputar suasana di mana saat itu saya berada.

Sambil duduk, jari jemari tidak memainkan tuts telepon genggam, mata mulai berputar. Tengok kanan dan kiri ternyata persis di sebelah resto Ichiban Sushi ini terdapat resto ala Jepang lainnya yaitu Gokana Ramen dan Teppan, yang juga merupakan tempat biasa saya menikmati masakan ala Jepang. Inilah potret bisnis yang saat ini tidak lagi mengenal lokasi, distribusi, apalagi gengsi. Bagi resto Ichiban Sushi yang baru saja bergabung di mall tersebut mungkin tidak membutuhkan modal promosi yang tinggi untuk menarik banyak pelanggan, pasalnya resto ini telah memiliki nama besar yang cukup dikenal sebagai resto masakan Jepang yang tak lagi perlu diragukan.

Ichiban Sushi memang tergolong resto masakan Jepang papan atas yang mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan. Sajian sushinya yang khas memang mampu mengingatkan akan negeri sakura bagi siapa saja yang menyantapnya Tidak hanya itu, resto ini juga menyajikan banyak varian masakan ikan yang juga menjadi makanan khasnya para penduduk asli Jepang. Keunikan jenis makanannya memang begitu terasa, nampaknya Ichiban Sushi ingin menarik konsumen yang memang menyukai masakan Jepang, mengagumi negara Jepang, atapun menyukai kebudayaan Jepang.

Nuansa area makan di resto ini juga dibuat sedemikian rupa agar menyerupai jajaran rumah makan yang asli Jepang, kekentalannya memang kurang terasa mungkin pengelola resto tetap ingin menyesuaikan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat kota Jakarta. Sajian minum yang disediakan juga tetap mengusung unsur Jepang, yaitu dengan teh ocha-nya yang dibuat mirip seperti aslinya.

Hampir sama dengan resto ala Jepang yang ada di sebelah Ichiban Sushi yaitu Gokana Ramen dan Teppan. Dengan suara sapaan sang pelayan kepada setiap pengunjung mall yang lewat, resto ini berusaha melakukan teknik promosi yang berbeda. Menyapa setiap orang yang lewat adalah cara-cara yang cukup ampuh untuk membuat pengunjung mengetahui adanya resto ala Jepang ini dan harapan lebih jauhnya adalah keputusan pengunjung untuk makan siang, sore atau malamnya di sini. Sebuah strategi promosi yang berbeda, namun sah-sah saja untuk dilakukannya, karena setiap bentuk usaha bebas melakukan proses pemasaran produknya melalui cara-cara apa saja, dengan catatan tidak mengganggu para calon konsumennya.

Gokana Ramen dan Teppan yang mengusung makanan khas Jepang melalui Mi Ramen memang terlihat cukup berhasil menarik banyak pengunjung. Sebagai resto ala Jepang yang juga telah memiliki nama besar, tidak sulit bagi manajemen pengelola untuk menaikkan omsetnya. Telah terdapat kemiripian kesenangan masyarakat Jakarta dengan sajian khas resto Gokana, yaitu terletak pada masakan mi kuahnya. Di mana telah diketahui secara umum banyak sekali penikmat mi instan yang bagi sebagian orang dijadikan makanan utama saking candunya, namun bagi sebagian lainnya dijadikan makanan andalan saat hujan menyapa. Gokana Ramen dan Teppan telah berada pada posisi yang tepat dalam sajian masakan mi ramennya, walau dimasak ala-ala Jepang namun kesukaan pada produk mi sedikitnya telah mampu menarik minat para pengunjung.

Sebuah diferensiasi atau keunikan mutlak diperlukan dalam sebuah bisnis, bidang apapun itu, terlebih lagi dalam bidang makanan dan minuman. Rasa yang enak dan bentuk yang menarik saja saat ini tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi konsumen agar memutuskan untuk membelinya, namun dibutuhkan juga keunikan-keunikan lain yang jarang dimiliki oleh pelaku bisnis sejenis. Dalam bisnis makanan dan minuman misalnya dibutuhkan inovasi baru, misalnya terdapat beragam rasa yang berbeda dalam satu jenis roti sehingga setiap kali menggigit akan ada sensasi yang tak sama, atau terdapat campuran buah-buahan yang segar dalam sebuah minuman kopi misalnya Kopi Nikmat dengan Potongan Mangga Segar, atau sajian bentuk donat yang tidak bolong apalagi bulat namun kotak menyerupai dadu. Mungkin terdengar aneh dan tidak biasa, tapi justru yang tidak biasa itulah yang semakin hari makin perlu dikembangkan oleh para pelaku bisnis di manapun berada.

Karakter manusia yang cepat bosan bisa dijadikan patokan yakni dalam melakukan suatu usaha tentu harus melahirkan sesuatu yang baru terus menerus dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Keinginan untuk mencoba hal-hal baru juga perlu diperhatikan, contoh bagi sebuah makanan mungkin rasanya sama saja, namun setiap pergantian bulan bisa saja disajikan dalam bentuk yang berbeda agar lebih menarik, dan semata-mata hanya sekadar untuk mengantisipasi rasa bosan para pelanggan.

Ichiban Sushi dan Gokana Ramen tentu telah memiliki keunikannya sendiri-sendiri, sehingga yang perlu dilakukan agar bisa terus menanjak pendapatannya adalah dengan melakukan inovasi-inovasi tiada henti, agar siapapun yang melintasi resto ini tidak hanya menoleh namun memutuskan untuk makan dan berakhir pekan di sini.

(dnu, ditulis sambil nonton ILC di TV One, 24 September 2017, 24.09 WIB)

Setiap Gurauan Ada Aturannya


Sebagai manusia biasa tentu saya juga memiliki kebutuhan dasar sama seperti yang lainnya yaitu mendapatkan hiburan, selain kesehatan tentunya. Banyak cara bisa dilakukan agar bisa mendapatkan hiburan atau kesenangan, mulai dari aktifitas yang paling sederhana dengan menonton televisi (TV) ataupun pergi ke tempat-tempat rekreasi. Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hiburan tersebut akhir-akhir ini saya menggantungkan diri pada salah satu tayangan TV di malam hari, yaitu Stand Up Comedy Academy (SUCA) 3. Hampir setiap malam saya kerap mengatur beberapa aktifitas yang dikelompokkan berdasarkan jam setertib mungkin agar tidak berbenturan dengan waktu penayangan SUCA 3.

Di awal penayangan hingga beberapa episode berikutnya saya masih sangat menikmati dan benar-benar terhibur, namun tidak dengan beberapa tayangan terakhir ini. Terdapat olok-olokan yang berlebihan di sana sehingga membuat saya gerah mata, entah apakah hanya saya atau juga bagi sebagian penonton lainnya. Olok-olokan yang saya maksud adalah gurauan yang ditujukan kepada salah satu juri yaitu Jarwo Kuwat, atau akrab disapa Pak Jarwo.

Pak Jarwo yang lucu memang seringkali menjadi objek gurauan, cara-cara beliau dalam menanggapi gurauan yang dilontarkan pengisi acara lainnya juga amat menyita perhatian. Gerak gerik beliau yang lucu, jawaban-jawaban spontan beliau yang terdengar seru juga menarik perhatian saya selaku penonton setianya. Namun seperti yang saya sampaikan di atas bahwa akhir-akhir ini gurauan terhadap beliau saya anggap telah berlebihan dan mengarah pada sikap yang tidak sopan. Boleh dikatakan tidak sopan karena beliau adalah orang yang lebih tua dari pengisi acara lain sang pelempar olokan, atau juga lebih tua dari para penonton yang ikut menertawakan. Tidak sopan juga dalam pembuatan isi bahan olokan yang berurusan pada takdir Tuhan. Ya, sering sekali Pak Jarwo diolok-olok tentang kematian.

Pembaca yang baik hatinya, apakah olok-olokan yang seperti ini dan digulirkan terus menerus sambil tertawa puas termasuk dalam sikap yang sopan? Apakah gurauan seperti ini layak untuk dipertontonkan? Apakah gurauan yang disaksikan ribuan pasang mata patut untuk kita ikut tertawakan? Apakah seorang tua layaknya Pak Jarwo pantas diolok-olok sedemikian rupa dalam hal kematian? Apakah lupa setiap ucapan adalah doa? Bagaimana dengan ucapan senda gurau yang dilontarkan untuk Pak Jarwo? Hati-hati, sekali lagi ucapan adalah doa. Pantaskah kita mendoakan agar orang lain segera menghadap Sang Pencipta lantas kita tertawa-tawa dalam tubuh yang sangat banayk dosa? Apakah sudah tidak ada lagi bahan bercanda yang lainnya hingga urusan liang lahat pun menjadi sajian yang tampak begitu niikmat.

Saya sih kasihan sama Pak Jarwo, lama-lama saya prihatin mengapa tayangan yang awalnya saya anggap sangat ciamik dalam memberikan suatu pelajaran dalam berkomedi yang baik, tapi justru diselipkan guyonan-guyonan yang amat menyedihkan. Saya tidak sedang ingin mengkampanyekan hastag Save Pak Jarwo, tapi saya hanya berharap banyak hati yang terbuka untuk segera menganalisan bahwa masalah kematian tidak pantas untuk dijadikan suatu gurauan. Bukan hanya karena Pak Jarwo telah memasuki usia paruh baya, namun juga karena dalam setiap tindakan yang namanya etika sangat perlu digunakan.

Tanpa gurauan tersebut sebenarnya tayangannya sangat menghibur, namun jika disisipkan gurauan kematian maka berubah menjadi hiburan yang memiriskan. Di mana pernah ada yang bergurau dengan membawakan sekantong bunga untuk Pak Jarwo yang umumnya bunga tersebut ditabur di pemakaman, hingga gurauan ini juga dijadikan sebagai materi andalan sang komedian. Miris. Apakah sudah tidak ada lagi materi menarik lainnya? Apakah sudah tidak ada lagi materi yang mampu membangkitkan tawa dan tepukan tangan penonton hingga salah kaprah dan lagi-lagi menyasar Pak Jarwo sebagai korban lawakan? Kasihan Pak Jarwo, kasihan keluarga Pak Jarwo yang menonton. Kasihan istrinya Pak Jarwo, kasihan anaknya Pak Jarwo, dan kasihan seluruh keluarga besarnya Pak Jarwo.

Mari bersama-sama kita bersikap lebih sopan dalam segala hal, dalam hubungan pertemanan maupun beraksi dalam sebuah tayangan. Karena setiap rasa ada batasnya, dan setiap bercanda tentu ada aturannya.

 

(dnu, ditulis sambil makan ikan gurame pake sambel terasi, 23 September 2017, 21.42 WIB).

Monday, August 21, 2017

Taat Beragama Di Mana Saja


Pemandangan yang menyejukkan saja jumpai di dalam kereta cepat yang melaju diatas rel berbaris rapi, di negeri matahari terbit, Jepang. Seorang wanita paruh baya nampak tenang dan dan khusyuk menunduk tiada angkat kepala dalam jangka waktu yang lama. Ia asyik membaca sebuah buku, dibaliknya dari satu halaman ke halaman lain, dan sesekali merapikan beberapa kuntum bunga yang dipangku manis dalam dekapan tangannya.

 

Sejak awal melihatny saya cukup penasaran buku apa yang sedang ibu tersebut baca, nampaknya serius sekali. Sangat berbeda dengan penumpang lainnya yang kerap sibuk dengan layar telepon pintarnya masing-masing, wanita yang mengenakan kimono, kaos kaki putih bersih, dan sandal jepit kayu khas negeri sakura ini benar-benar memiliki dunianya sendiri.

 

Sebelumnya di kereta ini saya berdiri dan persis di hadapan beliau, namun di sebuah stasiun saya mendapatkan kesempatan untuk duduk yang teramat istimewa karena bisa berada di sampingnya. Sebenarnya agak kurang sopan jika saya yang sudah berada pada posisi amat dekat dengannya ini berani mengintip dan mencari tahu buku apa yang sebenarnya sedang ia baca. Tapi dorongan rasa ingin tahu saya lebih besar dari pikiran-pikiran lainnya, maka tanpa berlama-lama saya beranikan diri sedikit menoleh ke kiri dan melihat sesuatu apa  dalam buku yang begitu menarik mata indahnya.

 

Ternyata, buku tersebut berisi banyak gambar dengan beberapa penjelasan dalam tulisan kanji. Gambar-gambar tersebut seperti gerakan-gerakan ibadah, karena nampak seseorang sedang membungkukkan badan hampir seperti sujud, seseorang yang sedang duduk diatas dua kaki yang dilipat, seseorang yang sedang memegang sebuah tangkai atau kayu kecil panjang, serta gambar orang-orang yang sedang melakukan gerakan-gerakan lainnya. Saya perkirakan buku ini adalah buku agama, atau bisa dikatakan sebagai buku panduan beribadah.

 

Wow, nice! Di tengah lingkungan kereta yang begitu modern dengan hiruk pikuk layar telepon pintar, ternyata terselip satu wanita yang mengenakan pakaian tradisional Jepang lengkap dari atas sampai bawah, pakaiannya bersih, rapi, dan ia duduk dengan tenang sambil membaca buku agamanya. Saya perhatikan sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun ia tergoda menengok telepon pintarnya atau tergerak untuk mengutak atiknya. Ia konsisten dengan aktifitas rohaninya.

 

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari pemandangan ini adalah tentang semangat meningkatkan kadar keimanan di mana pun dan kapan pun. Kadang dalam keadaan yang paling lapang saja kita lupa untuk mengingat sang pencipta, walau ada yang berpendapat jika dalam keadaan sempit kita maka manusia akan otomatis mengingatnya. Tapi, Ibu tersebut sepertinya adalah contoh yang baik, dalam keadaan nyamannya dia duduk di kereta yang sejuk, ia tidak terlena lalu hanya memikirkan dunia, tapi tetap membawa buku agama lantas dibacanya.

 

Kereta hanya sebagai wadah, utamanya adalah keadaan nyamannya seseorang yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan keimanan. Banyak keadaan nyaman yang lebih sering kita gunakan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan dunia, lantas kapan urusan dengan Sang Pencipta kita tingkatkan? Yuk mulai dari sekarang kita bersama-sama menyempatkan walau sedikit saja disela-sela padatnya aktifitas untuk tetap berusaha dekat dengan Allah SWT. Mengaji sesaat di tengah jam istirahat kerja? InsyaAllah bisa. Sholat tepat waktu walaupun sibuk? Harus bisa!

 

#DNU
 
 

Wednesday, June 7, 2017

PEMENANG GIVE AWAY_BERBAGI BUKU

Pemenang GIVEAWAY program Berbagi Buku "BERBAGI CINTA DI 4 KOTA"
.
#1
.
Mbak Hardiani Ardin di Makassar, Sulawesi Selatan.... !!! 😘😍...
.
Tengkyu ya Mba udah ikutan giveaway ini.... semoga bukunya bermanfaat.... dan semoga cita-cita bersama suami tercinta dapat tercapai serta berjalan dalam lindungan cinta dan kasih dari Allah SWT 😇
.
Happy reading Mbak Cantiiiikkkk.... 😘😘😘
.
#DNU




Pentingnya Bersyukur Setiap Waktu_#Ramadhan_10

Tubuh-tubuh mungil itu beradu cepat mengangkat jari telunjuknya jauh tinggi di atas kepala saat saya bertanya "siapa yang puasa hari ini...?". Sambil berteriak "sayaaaa......" jawab mereka seakan ingin unjuk kebolehan kekuatan ibadahnya hari itu (4/6).
....
Namanya Bagus, mengenakan baju muslim putih-putih, begitu semangat bercerita kepada temannya yakni ; "Kalo kamu haus mendingan mandi aja nanti adem deh....." dengan mimiknya yang lucu.
.
Mereka telah mengerti makna berpuasa yang paling dasar, minimal paham bahwa sebagai umat islam yang berbadan sehat wajib baginya berpuasa, juga telah paham bagaimana cara ala anak-anak untuk menghalau rasa haus dan lapar.
.
Pesan moral yang saya selipkan dalam dongeng di sore yang sendu itu adalah tentang pentingnya bersyukur. Walaupun mereka kini hidup dalam keluarga yang pas-pasan namun harus selalu diingat bahwa masih ada teman-teman lainnya yang jauh lebih susah lagi. Seorang anak yang harus jadi pemulung misalnya, di mana ia harus bekerja sepanjang hari demi mencari barang-barang bekas, lalu di jual untuk mendapatkan sejumlah rupiah. Dalam cerita pendek itu juga saya kisahkan, pemulung tersebut berpuasa setiap hari, tidak hanya di bulan Ramadhan, salah satu alasannya adalah karena ia tak mempunyai cukup makanan untuk disantapnya pada pagi, siang dan malam. Itulah mengapa kita harus senantiasa bersyukur masih bisa makan setiap hari, makan enak, minum enak dan bisa menikmati hari-hari tanpa harus bekerja sejak dini.
.
Bersyukurlah masih punya orang tua, masih bisa bermanja-manja sama mama atau papa, walau hidup seadanya. Bentuk syukurnya apa? Mentaati perintah Allah SWT dan tentu saja menjauhi larangan Allah SWT.
.
Ngabuburit kali ini begitu seru, karena bisa berkumpul bersama mereka, anak-anak luar biasa, putra putri dari orang tua yang bekerja seadanya, rata-rata di pasar Asemka, Kota Tua, Jakarta Barat.
.
(dnu, ditulis sambil ngabuburit sama Rindu dan Arjuna di tukang es kelapa yang begitu menggoda, 5 Juni 2017, 17.20 WIB)


Bersama Mereka di Kota Tua - #Ramadhan_9

Ruangan ini dilengkapi pendingin seadanya, hanya terdapat 2 kipas angin yang berputar sempurna demi memberikan efek sejuk di tengah panasnya Ibu Kota. Ini adalah aula Musium Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebuah ruang dalam bangunan lama yang dimanfaatkan oleh para relawan Sahabat Anak Kota Tua untuk mengajak anak-anak yang hidup dalam garis seadanya bermain sambil belajar, rutin setiap minggunya....

Me and my husband are here right now.

Panas, sedikit sirkulasi udara, cuaca di luar juga amat terik, namun di tengah kondisi yang begitu nikmat ini puluhan adik-adik binaan Sahabat Anak Kota Tua semangat belajar mengaji, mulai dari Iqra hingga Al Quran. Nampaknya mereka lupa dengan rasa panas, haus dan lapar, yang ada hanya gembira.

Semuanya semangat, tidak terdengar keluh kesah ataupun erangan ingin pulang. Padahal mereka belajar di tempat yang sangat seadanya ini. Mereka belajar di lantai, ada yang duduk sambil kipas-kipas, ada yang tengkurap dan ada juga yang sambil bersandar.

Bersyukurlah adik-adik lain yang memiliki kesempatan belajar di ruangan berpendingin (AC), bersyukurlah yang bisa belajar diatas kursi dan meja yang baik, dan bersyukurlah para orang tua yang mampu memberikan arena belajar yang begitu nyaman bagi anak-anaknya.

Semuanya semangat.

Mereka berlarian ke sana ke mari hingga telapak kaki menjadi hitam akibat lantai yang seadanya, bermain putar-putaran kursi rusak namun mereka begitu bahagia. Tapi apapun keadaannya saya yang saat ini ada di sini dan mereka yang saat ini juga ada di sini patut bersyukur, karena masih ada tempat untuk bermain sambil belajar, yang beratap hingga kita tak kehujanan. Juga bersyukur masih banyak kakak-kakak baik yang dengan suka rela penuh cinta mengajar adik-adiknya mengaji, juga pelajaran lainnya.

Siang ini saya belajar, bahwa hidup bukan tentang diri sendiri saja. Mari berbagi dan mari mensyukuri.

(dnu, ditulis sambil memandang keriuhan yang mengharukan, 4 Juni 2017, 15.12 WIB)




 

Saturday, June 3, 2017

Jadilah yang Menyejahterakan Masjid #Ramadhan_8

Sabtu (3/6) malam kita telah memasuki malam tarawih ke 9 di bulan Ramadhan 1438 H. Semoga tidak banyak ya masjid-masjid yang barisan shaf shalatnya sudah mulai mengalami kemajuan, alias shafnya hanya ada beberapa barisan saja di depan. Rumah Allah SWT begitu sepi pengunjung menjelang pertengahan Ramadhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh para muslimin dan muslimat yang memiliki kesibukan sendiri-sendiri sehingga melaksanakan tarawihnya di rumah saja. Misalnya karena pulang bekerja yang sudah larut malam atau adanya kepentingan di rumah yang harus segera diselesaikan.

Selain alasan tersebut semoga tidak ada alasan karena sibuk menghadiri undangan buka puasa bersama ya, sehingga tidak sempat tarawih berjamaah di masjid. Jika saat berbuka puasa bersama lantas terdengar adzan isya kita berbondong-bondong bersama para sahabat bergerak ke masjid untuk shalat berjamaah terasa begitu indah. Namun jika memang tidak bisa dilakukan atau harus berjamaah di ruangan dekat lokasi buka puasa bersama ya dapat dimaklumkan, yang penting esensi ibadah Ramadhannya tetap dilaksanakan.

Masjid-masjid di lingkungan tempat tinggal kita tentu menunggu kehadiran masyarakatnya untuk bersama-sama beribadah. Dengan ibadah yang dilakukan berjamaah maka secara tidak langsung kita telah turut menyejahterakan rumah ibadah kita sekaligus mensyiarkan islam dalam balutan nuansa Ramadhan yang meriah dalam kedamaian.

Ramai-­ramai shalat ke masjid yuk!

(dnu, ditulis sambil pegel-pegel gitu lehernyaaa….., 3 Juni 2017, 22.14 WIB)

Friday, June 2, 2017

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar
#Ramadhan_7

Geliat penjual berbagai macam makanan dan minuman kian terasa saat memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Hampir di setiap daerah mulai jam 3 sore para pedagang mulai menggelar lapaknya masing-masing. Kebanyakan mereka menjual takjil yang murah meriah dan cukup menggugah selera untuk disantap saat waktu berbuka puasa.

Satu pelajaran berharga dari pemandangan biasa yang kerap terjadi di bulan suci ini adalah setiap pedagang telah memiliki pelanggan sendiri-sendiri. Coba saja perhatikan walaupun antar sebelah lapak sama-sama menjual es buah tapi para penjual tersebut memiliki rezekinya masing-masing, ada saja yang membeli. Bahkan bisa dikatakan, menjual makanan apa pun menjelang waktu berbuka bisa jadi para penjual tersebut akan pulang ke rumahnya dengan senyum yang sumringah, karena seluruh dagangannya habis terjual. Apakah antar penjual takjil pernah dilanda keributan karena menjual barang yang sama? Saya sih belum pernah mendengarnya ya, dan hal ini erat kaitannya dengan kepercayaan mereka yang begitu kuat pada rezeki.

Rejeki tidak akan tertukar, selama kita berusaha menjemputnya dengan cara yang halal InsyaAllah apa yang menjadi hak akan kembali kepada pemiliknya, dengan catatan si pemilik telah menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah SWT perintahkan. Bayangkan saja, apakah pantas kita memohon agar diberikan rezeki yang murah dan halal oleh Allah SWT namun tidak satu pun dari sekian banyak kewajiban kita tunaikan?

Lakukan apa yang menjadi kewajiban kita maka selanjutnya kita boleh bersuka hati menunggu apa yang menjadi hak kita, karena sesungguhnya rezeki tidak akan pernah tertukar. Lantas jika kita merasa masih kurang saja terhadap rezeki yang Allah SWT limpahkan, mungkin rasa bersyukurnya yang perlu ditingkatkan, serta mungkin ada kewajiban-kewajiban yang belum kita tunaikan.

(dnu, ditulis sambil mbayangin besok masuk kuliah pagi amaaatt yaakkk...., 2 Juni 2017, 21.23 WIB)

Monday, May 29, 2017

Ramdhan, yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Namanya juga bulan penuh keberkahan, siapa sih yang tidak ingin meraih berkah sebanyak-banyaknya? Umat muslim di banyak belahan dunia tentu tengah berlomba-lomba melakukan berbagai amalan di bulan baik ini, bahkan ibadah yang hukumnya sunah pun terasa menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Alhamdulillah ya, terlepas dari hanya di bulan Ramadhan saja namun tetap menjadi amal kebaikan yang InsyaAllah berlanjut dilaksanakan hingga masa-masa seterusnya.

Artikel ini tidak akan membahas apa saja amalan-amalan yang hukumnya sunnah lalu terasa menjadi hal yang wajib dilakukan di bulan ramadhan. Hanya berdasar pada kebiasaan dan pandangan mata saja maka lahirnya tulisan sederhana ini. Terlihat para umat muslim yang begitu semangat melakukan hal-hal biasa namun dengan semangat kebaikan maka hal tersebut menjadi luar biasa.
 
Misalnya bagi para Ibu yang  mungkin sehari-hari menyiapkan menu makanan tidak terlalu muluk-muluk, namun di bulan baik ini semuanya seakan terasa istimewa dengan sajian makan yang sedikit berbeda dari biasanya. Contoh lainnya adalah jajaran penjaja gorengan dan cemilan takjil khas Ramadhan yang terlihat di setiap mata memandang. Begitu pula dengan makanan-makanan lainnya yang jarang kita temui di bulan-bulan biasa mendadak ramai di bulan suci ini, salah satunya adalah timun suri. Seru ya?!

Tidak hanya urusan perut, para muslimin dan muslimat juga banyak yang memasang target khatam Al Quran di bulan Ramdhan, entah itu satu, dua atau beberapa kali. Berlomba-lomba bersedekah karena mengharap ridho Allah SWT semata melalui aksi penyajian buka puasa maupun sahur gratis turut menjadi agenda amalan menyenangkan yang banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Masih ada tradisi seru lainnya yang hanya terjadi di bulan puasa yakni buka puasa bersama. Kegiatan yang terlihat hanya sebagai ajang makan bareng ini juga menjadi ladang amal bagi mereka yang jeli melihatnya, yakni silaturahmi. Allah SWT begitu senang dengan orang-orang yang menjaga silaturahmi bukan? Berapa banyak undangan buka puasa bersama yang kerap dilakoni oleh para muda mudi? Buka bersama teman masa SMP, masa SMA, teman kerja, teman komunitas dan perkumpulan-perkumpulan lainnya yang sebenarnya sungguh ada saja ladang amal di sana jika kita mampu mengemasnya, yakni walaupun asik bercengkrama tetap tidak melupakan shalat maghrib dan tarawihnya. Kesimbangan yang seperti sungguh nyaris sempurnya adanya.

Begitu juga dengan ibadah shalat tarawih yang hukumnya sunnah tapi seluruh umat muslim berlomba-lomba menunaikannya dan sedapat mungkin dilakukan berjamaah di masjid bersama dengan saudara muslim lainnya. Inilah ukhuwah yang begitu indah jika kita selalu mampu menjaganya sepanjang masa. InsyaAllah mampu dan dimampukan.

Aktifitas seru lainnya yang kebanyakan umat lakukan di bulan Ramadhan adalah jalan-jalan pagi setelah shalat subuh berjamaah di masjid. Hanya sekedar menyusuri sekitar kampung untuk menghirup udara yang belum terkena polusi, menjadi kegiatan pilihan yang asik dilakukan sebelum matahari terbit. Sebenarnya hanya jalan-jalan biasa sih namun karena dilakukan beramai-ramai maka aktifitas yang biasa ini menjadi sungguh luar biasa. Manfaat positif yang didapat selain bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara muslim yang lain, yakni tanpa sadar kita sedang berolahraga, sehingga tubuh menjadi lebih segar dan bugar.

Semoga tidak hanya di bulan ramadhan kita senang melakukan hal-hal luar biasa demi mendapatkan pahala yang InsyaAllah dilipatgandakan ya, namun juga di bulan-bulan lainnya. Mari bersama kita tunjukkan kepada dunia tentang betapa indahnya Islam, dengan cara tetap menjaga hati, lisan dan fikiran yang bersih mulai dari yang paling dekat yaitu diri kita sendiri.

(dnu, ditulis sambil nyanyi “lebaran sebentar lagiii....”, 29 Mei 2017, 21.43 WIB)

Saturday, May 27, 2017

Berpulang Di Awal Ramadhan #Ramadhan_1

Dalam setiap perjalanan hidup tentu ada pengalaman-pengalaman baik yang dapat kita jadikan pelajaran berharga. Seperti halnya hari ini, tanggal 1 Ramadhan 1438 H, salah satu kerabat keluarga suami berpulang kehadirat Allah SWT. Menahan kesedihan karena ditinggal untuk selamanya oleh orang yang kita cintai tentu bukan hal yang mudah, terlebih jika seseorang tersebut menyisakan banyak kenangan indah bagi keluarga yang ditinggalkannya. Di tengah kedukaan seperti ini sesungguhnya Allah SWT tidak menginginkan pihak-pihak yang ditinggalkan bersedih dan meratap berlebihan, karena kembalinya keluarga tercinta ke pangkuan Allah SWT tentu atas kehendak-Nya.

Berangkat dari hal tersebut hari ini saya belajar, ketika saya dan keluarga takziah ke rumah duka, di indahnya Ramadhan pertama ini saya melihat pemandangan yang juga indah. Usai memakamkan ayahnya, satu persatu anggota keluarga dari almarhum kembali ke rumah dan menyalami setiap tamu yang hadir, termasuk saya dan keluarga. Di raut wajah keluarganya tidak terlihat gurat kesedihan yang begitu larut, baik di wajah istri yang ditinggalkan, anak dan menantu yang ditinggalkan, serta cucu-cucu tercinta yang juga ditinggalkan. Mereka semua tampak tegar, ikhlas dan begitu berbesar hati dalam menerima keputusan Allah SWT hari ini, yaitu berpulangnya ayah, ataupun kakek tersayang.

Tubuh yang senantiasa berusaha tegap, wajah sedih yang kerap dibalut senyum, air mata yang tak lagi menetes, menjadi pemandangan yang menyejukkan di dalam rumah yang hari ini penuh dengan duka. Melihat hal ini saya menjadi semakin percaya, bahwa yang perlu kita lakukan dalam menjalani setiap kisah kehidupan hanyalah menggenggam segenap keikhlasan, yakni menerima setiap takdir yang telah digariskan.

Dari wajah para anggota keluarga, terlihat begitu baik ilmu ikhlas yang coba mereka tunjukkan, telah diserahkan semua urusan hidupnya hanya kepada Allah SWT, Yang Maha Baik dan Maha Segala-galanya. Lahirnya seseorang ke muka bumi adalah kehendakNya, begitu juga berpulangnya seseorang adalah juga atas kehendakNya.

Sekali lagi hari ini saya belajar, ketika kita ikhlas maka Allah SWT akan memberikan curahan kasih sayangNya yang lebih banyak lagi dalam bentuk kedamaian dan ketenteraman.

(dnu, ditulis sambil nginget-nginget jadwal imsak besok pagi, 27 Mei 2017, 21.41 WIB)

Thursday, May 25, 2017

Apakah untuk Berubah Selalu Butuh Momentum? #Jelang Ramadhan

Tidak sedikit dari kita yang menumbuhkan niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik khususnya dalam hal peningkatan iman dan taqwa ketika Ramadhan mulai dijelang. Beberapa hal mungkin diusung untuk menjadi alasannya, contoh ; nuansa islami yang lebih kuat terasa saat Ramadhan maka akan mudah mengikuti arusnya jika melakukan perubahan, atau karena di bulan suci ini pahalanya berlipat ganda sehingga ingin memulainya dari sini saja, dan alasan-alasan lainnya yang sungguh mulia adanya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sikap seperti ini, toh setiap orang memang bebas menentukan kapan waktu yang tepat bagi dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi tentunya banyak juga yang selalu berusaha mengubah dirinya ke arah yang lebih positif di setiap helaan nafasnya. Sekali lagi, rambut boleh sama hitam tapi isi kepala tentu berbeda. Tidak ada yang perlu disalahkan jika seseorang memutuskan untuk berhijrah kala memasuki bulan seribu bulan ini, karena dalam keinginannya untuk berubah menjadi lebih baik saja sudah patut diacungi jempol. Perkara waktu hanya kebetulan saja yang datangnya bersamaan dengan Ramadhan.

Bagi sebagian perempuan misalnya berniat akan mengenakan hijab mulai hari pertama di bulan suci Ramadhan, atau akan rajin mengaji saat Ramadhan nanti, dan akan-akan lainnya yang bergerak ke arah perbaikan. Sangatlah perlu diberikan tepuk salut bagi yang seperti ini, lalu abaikan perkara momennya, karena setiap orang tentu punya pemikiran yang berbeda-beda. Kita sebagai orang yang ada di sekitarnya hanya perlu memberikan dukungan saja.

Berangkat dari paparan kenyataan di atas, kita semua tentu setuju bahwa sejatinya perubahan tidak membutuhkan momentum apa-apa. Menjadi lebih baiklah mulai kapan saja sesuai dengan kata hati nurani, karena tentunya saat tersebutlah ketika Allah SWT membukakan hati kita agar menjadi hambaNya yang semakin istimewa.

Jika sudah ada niat baik, percayalah semesta pasti mendukung.
Alhamdulillah wa syukurillah jika Ramadhan bisa menjadi awal untuk berubah menjadi lebih baik selamanya.

Yuk berhijrah!

(dnu, ditulis sambil ngemil 4 biji donat gratisan hahaha...., 25 Mei 2017, 21.41 WIB)

Wednesday, May 24, 2017

Kelak Saya Akan Merindukan Saat-saat Seperti Ini...

Janjian sama Bu Dosen di suatu hari, suatu sore, suatu jam. Untuk dapat tiba di kampus sesuai dengan jam yang telah ditentukan atau bahkan lebih cepat, saya memilih armada ojek online.
.
Order 30 menit sebelum waktunya berangkat. Sudah diterima oleh seorang pengemudi ojek tapi lamaaaaaa sekali ia tiba di titik penjemputan. Saya hubungi "Bapak di mana? Maaf Pak saya buru-buru...." Suara di seberang menjawab santai "Saya masih di rumah Bu... baru mandi nih Bu... sebentar saya jalan Bu... Ibu di mana?" Gustiiiiiiii..... 😭😭😭 kenapalah dia ndadak mandi segala mau jemput sayaaaaa 😭😭😭 Tega ngga tega saya jawab "Pak maaf saya buru-buru, saya cancel ya....". Hiks... drama pertama selesai.
.
Order lagi. Diterima lagi. Tapi sama, 10 menit menunggu tak kunjung nampak batang hidungnya. Namun beberapa menit kemudia ia menelepon saya "Bu maaf ini ternyata saya jauh ke tempat jemput Ibu... Ibu gapapa nunggu?" Saya tanya "Bapak di mana sekarang" untuk ngukur saya tunggu atau cancel nih abang-abang. "Saya di jembatan gading Bu...." Appaahh??? Di mana itu jembatan gading??? Dia harus jemput saya di sekitaran Bambu Apus, kok segala sebut-sebut jembatan gading?? Saya ngga perlu tau lah itu jembatan ada di mana, langsung aja "Pak maaf, cancel aja deh, saya buru-buru Pak...".
.
Order lagi untuk ke tiga kalinya. Diterima, tapi luaammmaaaaaa jemput sayanya 😭😭😭😭 Omaygaaattt... ini orang di manaaaa..... Setiap kali saya hubungi "Sabar ya Mba saya cepet-cepet kok ini..... -- Sebentar mba agak macet dikit nih, tunggu ya.... -- Mba saya udah deket kok, mba pakai baju apa? Biar saya cari nanti...." 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 Apalaahhh dia iniiii..... 😢😢😢
.
Sambil menunggu ojek suasana hati sudah ngga karuan. Mikirin Bu Dosen, mikirin jalanan macet, mikirin takut hujan, termasuk juga mikirin si abang ojek ini hiks.... Setelah sekian lama akhirnya si abang gojek muncul juga, lalu dia memastikan bahwa adalah benar saya calon penumpangnya "Dewi ya?" Sambil senyum-senyum manis kecut. Hah! Kenapa pulak dia panggil saya Dewi, kemane tuh panggilan "Mba" yang sebelumnya ada. Ah sutralah ya, ngga pakai basa basi langsung saja saya duduk baik-baik di atas motornya.
.
Bismillah. Petualangan di mulai.
.
Di awal perjalanan saya sampaikan "Pak maaf, boleh agak ngebut ya, saya buru-buru, mau ke kampus ditungguin sama dosen saya". Dia jawab "oke...".
.
Kurang lebih 1KM perjalanan telepon genggam saya yang sengaja saya simpan di saku jaket bergetar. Saya sempatkan membaca pesan yang masuk tersebut, walaupun agak kikuk, diatas motor yang ngebut, bingung pegangannya, sambil bingung juga karena harus megangin 1 tas laptop dan 1 tas jinjing kekinian lainnya yang ternyata cukup merepotkan. Ternyata pesan datang dari Bu Dosen tersayang "Mba dimana?". Pikiran berkecamuk, semakin deg-degan, ya ampun si Ibu udah nanyain... setelah saya lirik jam tangan ternyata saya sudah telat 15 menit huaaaaaa........ Saya balas pesan tersebut dengan meminta maaf dan memberitahukan bahwa saya sudah di cawang dan masih belasan kilo meter lagi jarak yang harus saya tempuh.
.
Selanjutnya motor memasuki terowongan.... turunaaann.... btw sayaa merasa kok banyak kendaraan lain yang menyalip motor abang ojek ini ya... oh okee berarti ini motor jalannya tergolong lambat. Sambil sedikit teriak saya katakan pada si abang "Pak boleh agak cepet lagi Pak.... " Dia mengangguk seraya menambah kecepatan.
.
Oke, sekarang ngebut.
.
Sepanjang perjalanan perasaan semakin gundah gulana. Lantas saja di setiap titik utama saya menginformasikan kepada Bu Dosen melalui pesan singkat. "Bu sekarang saya di pramuka... sekarang rawa sari bu.... dst....". Dengan tujuan Bu Dosen mengetahui pergerakan saya di mana setiap menitnya.
.
Ojek ngebut tak terkira. Bingung pegangannya gimana. Ikhlaslah kalau memang harus jatuh hahahaha......
.
ALHAMDULILLAH tiba di kampus. Tarif Rp 44 ribu. Ada uang sekenanya di dompet. Gak pakai menunggu kembalian. Saya turun dari motor, lari menyeberang jalan, sambil bergegas menaiki anak tangga menuju halaman kampus. Sambil berlari tak secepat kilat saya mendengar teriakan si abang ojek "Mba kembaliannya.... mba hati-hati......". Sudahlah, yang ada di pikiran saya cuma satu. Bu Dosen. Titik.
.
Sambil larrriiiiiiiiii.... sambil kirim pesan singkat ke Bu Dosen "Bu saya sampe kampus.... saya ke ruangan ibu sekarang..."
.
Sejak mengirim pesan di Cawang, hingga sampai kampus, tak satu pesan pun dibalas oleh Bu Dosen. Oke tak apa. Saya yang salah. Saya telat. Hiks....
.
Lariiiiiiiii.... memasuki lobi kampus..... hampir melewati meja security baru inget sepertinya saya belum mengenakan id card. Ubek-ubek tas, cari id card.... ga ketemu.... aduh dimana.... tadi ada.... udah siapin kok.... gustiiiiiii.... pangeraaaaaannn.... Ya Allah..... di manaaaaaaaaa....... yasudahlah kasih SIM saja secara KTP juga ga ketemu 😭😭😭😭😭 . Ketika akan menyerahkan SIM ke Pak security untuk ditukar dengan kartu izin memasuki area kampus tiba-tiba gelang yang saya kenakan di tangan kanan nyangkut di dekat leher. Apa lagi iniiiiiiiii...... hhuuuaaa...... pas dilihat ternyata id card menggantung manis di leher. Oke fix, saya lieur hahhahaha....
.
Lanjut laarriiiiiiiiiiiiiiii......... naik tangggaaa..... puluhan anak tanggaaaaaa........ kaki seakaan ngga bisa diangkat lagiii..... paha berrraaaatttt.... betis kakuuuu......... rasanya pengin merangkak aja di tanggaaaa..... Aammmpuuuunnn..... dijeeeeee...... capeeeeekkkk 😭😭😭😭😭😭
.
Sambil ngos ngosan Alhamdulillaaaaaaah kaki ini berhasil menaklukan puluhan anak tangga. Yess...... Kenapa ngga naik lift? Tanggung cuma di lantai 2.
.
Perjuangan belum selesai.
Belok kannnaaaaaannnn.... permisi lagi sama Pak satpam.... sepertinya beliau senyum-senyum aneh melihat ada mahasiswi pakai jilbab, pakai jaket, syal masih melilit di leher, penutup mulut masih nyangkut di leher, pake sepatu kets gedebak gedebuk, tangan kanan nenteng tas berisi laptop, tangan kiri nenteng tas kece, lari-lari, ngos ngosan tapi berusaha senyum walopun asem hahahaah.....
.
Lari lagiiii.... lurrruuuuussss... ccciiiiitttttt.... ngereeemmm... harus jalan pelan-pelan karena sudah tiba di depan ruang dosen. Perlu jaga image di sini agar nampak sebagai mahasiswi yang budiman. Buka jaket. Buka syal. Buka penutup mulut. Jalan pelan-pelan. Atur nafas. Masih ngos ngosan tak terkira sih hahahaha....
.
Sambil menahan nafas yang pendek-pendek... hosh... hosh.... hosh.... jalan menuju meja Bu Dosen. Ketemu beberapa mahasiswa lainnya dan dosen-dosen lainnya. Saya berusaha senyum seakan tidak ada apa-apa. Padahal badan udah pengen tepar hahaha....
.
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di depan meja Bu Dosen. Fiiiuuuuhh.... lap keringet... walaupun ngga bisa menampik bau asap knalpot amat lekat di tubuh saya hahaha.....
.
Hmmmm... tapi Bu Dosennya mana ya... mejanya bersiiihh... tengok kanan kiri Bu Dosen ngga ada.... Laptopnya juga ngga ada.... hanya ada dokumen-dokumen lain yang tertumpuk sangat rapi di atas meja beliau, yaaahh.... mirip ciri-ciri kita kalau sudah selesai bekerja kan beres-beres meja gitu dehhh....
.
Menunggu beberapa detik.... beberapa menit.... tidak ada perubahan..... oke fix, Bu Dosen sudah pulang 😭😭😭😭😭😭😭😭
.
Saya yang salah sih.... telat 30 menit dari jam yang dijanjikan untuk bertemu.....
.
Oke. Saya keluar ruangan. Berharap ada keajaiban tiba-tiba Bu Dosen masih ada di ruangan. Tapi nampaknya itu hanya sebuah khayalan yang tak mungkin jadi kenyataan.
.
Duduk sebentar di depan ruang dosen... tetep sambil nafas pendek-pendek... hosh.... hosh.... hosh...... kali ajaaaaa si ibu tiba-tiba lewat hehe.... masih berusaha positif thinking... Ah tapi memang beliau sudah pulang sih sepertinya.... Hahahaha... oke siap, saya yang salah hahaha.... langsung message Bu Dosen dan meminta maaf 🙏
.
Oke... balik kanan.... lemas lunglai.... tak ada lagi yang harus di kejar sore itu.... pulang saja.... dengan terlebih dahulu menikmati ayam penyet di warung depan kampus. Tapi tetap SEMANGAT!!!! BESOK JANJIAN LAGI dan saya ngga boleh telat lagi 💪💪💪
.
Tapi walau bagaimanapun, kelak saya akan merindukan saat-saat seperti ini, di suatu hari nanti
.
(dnu, ditulis sambil makan siang, 23 Mei 2017, 12.44 WIB)