Friday, January 13, 2017

Siapapun Berhak Menjadi Pengamat Politik Dadakan

Sesuai dengan pasal Pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan berpendapat yang berbunyi ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”, berarti tidak seorang pun berhak melarang orang lain untuk menyampaikan hasil pemikirannya. Terlebih lagi saat ini kita baru saja menyaksikan pergelaran akbar panggung pertama acara Debat Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta yang akan bertarung dalam PILKADA Februari 2017 mendatang, tentu banyak bermunculan para pengamat dan ahli politik dadakan yang turut berkomentar atas sajian televisi tadi malam.

Sebagai makhluk sosial tentu kita harus saling menghormati dan menghargai dalam hal apapun, termasuk menghormati pendapat orang lain, karena walau bagaimanapun juga isi kepala setiap manusia pasti berbeda. Demikian halnya dengan suasana yang cukup keruh saat ini, dimana para pengamat politik dadakan terus bermunculan dan saling bersahutan dengan pendapatnya masing-masing yang kebanyakan kalimat yang dilontarkannya adalah berdasarkan isi hatinya yang paling dalam. Kepada siapa dia cinta maka orang tersebutlah yang akan diunggulkannya dalam setiap ungkapan pendapatnya, sebaliknya kepada siapa dia tak suka maka orang tersebut akan terus dijatuhkan walaupun telah habis sejuta alasan.

Terkadang hal ini terlihat cukup manusiawi ya, misalnya seseorang yang begitu senang dengan pasangan Cagub nomor 1, tentu pasangan tersebutlah yang akan dibela mati-matian, tidak peduli dengan hal-hal lainnya. Begitu juga dengan seseorang yang begitu cinta dengan pasangan Cagub nomor 2, sudah pasti pasangan tersebut akan selalu kelihatan yang paling benar di matanya dan melupakan semua yang menjadi kekurangannya. Termasuk juga pada individu yang amat mengagumi pasangan Cagub nomor 3, bukan tidak mungkin semua yang diucapkan oleh pasangan ini nilainya selalu seratus, alias benar semua. Tidak ada yang salah, tidak ada yang kurang, bahkan nyaris tidak perlu diingat tentang kekurangan-kekurangan yang pasti ada.

Namanya zaman canggih yang apa-apa kini telah bisa dioperasikan hanya menggunakan jempol semata, maka perlu diterima juga kehadiran para pengamat politik dadakan tersebut yang kini mudah menyampaikan suatu pendapat melalui telepon pintar yang setiap orang sudah memilikinya. Siapapun kini telah menjadi netizen yang tentu tetap harus berhati-hati dalam menjalankan aktifitas ini.

Sebagai manusia yang berhati besar tentu kita tidak perlu usik dengan pendapat orang lain dan menyambut kehadiran pendapatnya dengan suasana hati serta otak yang panas, atau bahkan menganggapi hal tersebut sebagai sebuah genderang perang yang mulai ditabuhkan. Santai saja, karena manusia yang arif adalah yang mampu menerima kehadiran pendapat yang beragam dengan hati dan kepala yang dingin bukan? Kalau dalam bahasa kekinian biasa disebut dengan jangan baper. Jangan apa-apa dibawa dalam perasaan yang bisa berakhir pada adu argumen, perang dingin, adu status, hingga adu komentar di dunia maya.

Setiap orang tentu memiliki prinsip hidup masing-masing yang bisa jadi masalah pilihan dalam PILKADA DKI ini juga merupakan salah satu prinsip hidupnya, maka jika prinsipnya diganggu maka tanduk di kepala sudah harus mulai dikeluarkan hahaha..... Nampaknya perlu diingat sekali lagi, boleh jatuh cinta tapi jangan buta. Mengapa kita harus berselisih paham dengan teman sejawat hanya karena urusan politik negara ini? Bukankah hubungan antar sesama manusia bisa menjadi lebih indah jika berbeda, karena dalam perbedaan itu kita bisa saling melengkapi? Asik! Hahha.... Mungkin terbaca lucu, tapi jika diresapi sekali lagi tentu ada benarnya.

Lantas adakah yang berhak melarang seseorang untuk berpendapat? Mengatakan “Anda diam saja karena Anda bukan siapa-siapa!”, gaes... Anda pun siapa kok bisa meminta orang lain untuk diam saja?

Lalu bagaimana posisi seseorang yang ingin menyampaikan pendapat agar tidak mengundang keriuhan negatif di dunia maya maupun nyata? Kita sebagai penikmat kehidupan yang ingin menyampaikan suatu pendapat tentu harus mengikuti aturan-aturan yang ada, secara garis besar bisa dikatakan agar pendapat yang kita sampaikan tidak menyinggung perasaan pihak lain.

Sampaikanlah pendapat melalui cara yang paling baik, paling elok dan paling santun, karena kembali lagi ke fitrah manusia yaitu ingin dihormati oleh sesamanya. Ditambah lagi saat ini telah ada Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang bisa menjerat seseorang jika cara mengutarakan ataupun isi pendapat yang disampaikannya di dunia maya tidak sesuai dengan ketentuan.

Kesimpulannya siapapun berhak menyampaikan pendapat namun harus tetap sesuai dengan aturan yang berlaku serta sesuai azas bebas dan bertanggung jawab, dan juga sebagai pihak lainnya kita harus menghormati pendapat orang lain, karena kepala boleh sama hitam tapi isinya tentu berbeda. Hal penting lainnya, menyampaikan pendapat adalah bagian dari Hak Azasi Manusia.

(dnu, ditulis sambil kuliaaaaaahhhh...., 14 Januari 2017, 11.43 WIB)

Debat Cagub Pengaruhi Keputusan Pemilih? Jadilah Pemilih Cerdas

Malam ini (13/1) di sejumlah stasiun televisi swasta akan ditayangkan sebuah acara yang mempertemuan tiga pasang Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta yang akan menjadi pilihan warga kota metropolitan ini pada Pemilihan Kepala Daerah, Februari mendatang. Acara yang digadang-gadang akan berlangsung sangat menarik ini dikemas dalam balutan acara Debat Cagub, namun semoga tidak terjadi debat dalam arti harfiah ya, cukup dalam kadar diskusi saja.

Ketiga pasang Cagub DKI Jakarta ini tentu menyiapkan diri sebaik mungkin, baik penampilan secara lahiriah, dan tentunya persiapan mental yang tidak kalah pentingnya. Dalam aksinya nanti seluruh warga DKI Jakarta khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya akan dapat melihat dengan gamblang tentang jati diri ketiga pasangan tersebut. Mulai dari bagaimana mereka berbicara, menyampaikan pendapat, mengutarakan jawaban tandingan, hingga mengalihkan jawaban jika saja ada pertanyaan dari moderator yang tidak cukup mampu dijawabnya. Dari sini para penonton dan penikmat panggung PILKADA akan mudah memberikan penilaiannya masing-masing.

Berangkat dari pergelaran debat Cagub tersebut apakah berarti penampilan mereka akan menjadi ajang penilaian yang sesungguhnya bagi para pemilih? Bisa iya, bisa tidak. Dikatakan iya adalah jika bagi seorang pemilik Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta benar-benar ingin melihat kredibilitas para calon, maka tayangan malam nanti akan menjadi salah satu sarana pengambilan keputusan yang penting bagi mereka. Pemilih seperti ini adalah tipe orang yang realistis dengan memperhatikan bukti nyata apa saja yang sudah Cagub lakukan dalam dunia politik sebelumnya, dan apa yang akan ia lakukan demi kemajuan kota Jakarta. Tipe pemilih yang realistis seperti ini adalah pemilih yang tidak hanya sekadar mengandalkan hati, karena tidak sedikit partisipan dalam suatu pemilihan memilih idolanya hanya karena dasar cinta yang terlalu dalam, tanpa memperhatikan hal-hal lain yang terjadi disekitarnya yang mungkin sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Menyambung bahasan diatas tentu saja tentang pemilih yang hanya mengandalkan hati, karena sudah suka, cinta, entah karena apanya maka dengan serta merta bahkan nyaris membabi buta ia akan memilih idolanya. Bagaimanapun dia tetap saja akan dipilih dan dielu-elukan untuk kemenanganya. Lantas bagaimana dengan tipe pemilih yang seperti ini? Berkacamata kuda, terlalu fokus, hingga sulit sekali untuk diajak membuka mata dan mencoba lebih netral terhadap sebuah pilihan.

Bisa dikatakan keberlangsungan dinamika kehidupan di Kota Jakarta pada 5 tahun kedepan cukup banyak dipengaruhi oleh kemenangan salah satu pasangan Cagub terebut. Lalu bagaimana jika kita salah pilih akibat hati yang lebih bekerja dibandingkan isi kepala yang terbuka? Berselisih paham antar pendukung lagi jawabannya, yang bisa jadi berlangsung sepanjang masa jabatannya. Tidak lelah kah terus menerus bertikai? Menghabiskan waktu di dunia sesungguhnya tidak melulu harus diisi soal hasil PILKADA.

Menjadi pemilih yang cerdas memang tidak mudah, dan panggung debat Cagub tersebut juga memang bukan satu-satunya ajang penilaian yang bisa kita ambil sebagai kesimpulan. Bukan berarti dalam acara debat Cagub suatu pasangan tidak pandai menjawab dan berargumen lantas ia tidak pantas dipilih, melainkan kita harus bisa lebih jeli lagi dalam menggabungkan seluruhan kepribadian dan track record pasangan tersebut.

Debat Cagub malam nanti yang nampaknya tidak kalah seru dengan drama korea tetap perlu kita saksikan sebagai bahan tambahan dalam melihat kredibilitas calon pemimpin DKI Jakarta. Pilihan yang sudah jatuh di hati tentu saja harus digabungkan dengan penilaian kepala agar membuahkan hasil yang tepat dan tidak salah pilih, sehingga dikemudian hari tidak ada lagi kekecewaan yang katanya merasa dikhianati oleh pemimpin yang dulu diangkat tinggi-tinggi. Selain itu agar pertikaian antar pendukung tak semakin panas dari hari ke hari, namun justru dapat mendinginkan suasana Kota Jakarta.

(dnu, ditulis sambil apa hayo??, 13 Januari 2016, 13.29 WIB)