Tuesday, February 28, 2017

Mengapa Cinta Tak Pernah Salah?

Terkesannya seperti pembenaran ya, bahwa yang namanya cinta itu selalu benar, apapun keadaanya hehe... Tapi sebenarnya tidak bisa dibenarkan sepenuhnya, bagaimana kalau kita mencintai orang yang tidak seharusnya? Salah atau benar? Atau balik lagi, yang namanya cinta ya tidak pernah salah haha....

Kira-kira kenapa ya cinta kok tidak pernah salah? Apa karena cinta itu berangkat dari hati maka yang berasal dari hati adalah selalu yang sebenarnya?...
Atau karena cinta tak pernah memandang sebelah mata? Sehingga dengan memandang kedua mata maka semuanya menjadi benar?
Atau yang ke tiga, karena cinta adalah anugerah, sehingga apapun alasannya anugerah ini ya tetap saja benar hahaha....


Bagaimana dengan pemberi cinta apakah pernah benar-benar memikirkan rasa itu benar atau tidak, perbuatan itu benar atau tidak dan tindakan itu benar atau tidak?
Lalu apapkah yang menerima cinta lantas saja masa bodoh hanya aktif menerima tanpa pernah berfikir apakah cinta yang mampir adalah cinta yang benar?

Ini seperti ayam atau telur mana yang lebih dulu lahir haha....

Baiklah, bagaimanapun cinta tetap saja anugerah, maka berbahagialah, tapi perlu disikapi bagaimana seharusnya cinta diberi dan menepi. Asik! Hahaha....

Tips : Jika sedang ujian di sekolah, kampus ataupun kantor dan kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang ada dalam ujian tersebut, jawab saja CINTA, pasti nilainya 100. Mengapa demikian? Karena cinta ngga pernah salah! :p

(dnu, ini tulisan iseng pisan yang ditulis sambil mbayangin makan piscok hahahaha...., 28 Februari 2017, 15.59 WIB)

Sunday, February 26, 2017

Setiap Kita Pasti Punya Kelebihan

Melalui kisah raksasa yang bertubuh kecil sore ini (26/2) saya membagi semangat untuk adik-adik dari komunitas Sahabat Anak Kota Tua, Jakarta tentang kelebihan yang sebenarnya ada dalam setiap diri manusia. Sengaja raksasa yang dibawa-bawa, agar mereka lebih senang mendengarnya dan juga tidak bosan denga petuah yang sungguh seadanya.

Ada sebuah keluarga raksasa,... ibunya bertubuh besar seperti raksasa yang dikisahkan dalam legenda pada umumnya, sedangkan ayah dan dirinya bertubuh kecil tak seperti "raksasa". Saya dan anak-anak sepakat memberi nama Robi pada anak raksasa tersebut, walau tak ada makna khusus atas nama itu haha...

Robi seringkali bersedih dan menangis karena setiap hari semakin banyak teman-temannya yang bertanya "Robi mengapa tubuhmu kecil? Mana ada raksasa tubuhnya kecil??". Robi bingung, mengapa ia tak terlahir seperti ibunya yang bertubuh besar. Ia kerap menangis, namun ketika ayahnya bertanya Robi tak pernah menjawab dengan sejujurnya. Robi terlalu sayang pada ayahnya sehingga ia tak mau melihat ayahnya bersedih jika Robi menjawab "aku sedih karena tubuhku kecil ayah...".

Ayah Robi yang tak jua mengetahui alasan apa yang telah membuat anaknya tersebut menangis justru asik menampung air mata robi yang tak henti berderai. Ayahnya terus menampung air mata Robi mulai dari 1 ember, lalu 2 ember... hingga 10 ember. Sang ayah lantas berfikir "oh ini saatnya aku menolong kaum manusia, di pemukiman sana ada sekelompok manusia yang sedang kekeringan, ah... rasanya air ini sangat berguna bagi mereka..." Akhirnya ayah Robi membuat jalan air agar mengalir ke pemukiman manusia yang sedang kekeringan. Air tersebut adalah air mata Robi.

Robi menyaksikan perbuatan ayahnya seraya bergumam "ah ayah baik sekali... dibalik kesedihan aku ternyata masih ada hal baik yang bisa ayah bagikan kepada yang lain...".

Melihat perbuatan ayahnya Robi seketika berhenti menangis, tetapi bukan karena tak ingin berbagi air dengan manusia, namun hanya karena Robi telah sadar bahwa setiap individu pasti punya keebihan yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Robi sang raksasa kecil ternyata memiliki air mata yang bisa menghidupi pemukiman manusia.

Keesokan harinya Robi sudah tak menangis lagi, saat sedang santai di rumahnya Robi dipanggil oleh temannya dan diajak memetik buah melon. Teman Robi berteriak "Robi ayo kita memetik melon di kebun, lalu kita membuat jus melon karena kamu kan pandai sekali membuat jus melon... aku sudah tak sabar minum jus buatamu...!" Mendengar teriakan tersebut tanpa pikir panjang Robi lantas melompat dan bergegas menggandeng tangan temannya untuk segera ke kebun melon.

Ayah dan Ibu tersenyum bangga melihat tingkah Robi. Mereka bahagia karena Robi telah memahami walaupun tubuhnya kecil namun ia memiliki kelebihan, salah satunya adalah pandai membuat jus melon.

Kisah ini hanya ingin memberikan gambaran sederhana kepada adik-adik Kota Tua, bahwa di dalam diri kita masing-masing tentu ada kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jangan pernah berputus asa, dalam keadaan apapun kita tentu ada sisi lain yang bisa membuat kita dan tentunya orang tua kita bangga.

Tetap percaya diri, tetap semangat mewujudkan mimpi dan tetap kuat berdiri di atas kaki sendiri. Karena masing-masing dari kita pasti bisa menemukan suatu kelebihan walau letaknya amat tersembunyi.

(dnu, itu raksasa saya ngarang banget hahaha... tapi semoga pesan-pesannya masuk ke dalam kepala mereka, 26 Februari 2016, 21.08 WIB)


Sunday, February 12, 2017

Jadi Warga Negara yang Komplit Baiknya

Jelang Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) yang akan dilaksanakan pada 15 Februari 2017 mendatang berbagai aspirasi bermunculan. Mulai dari aspirasi yang sifatnya hanya menyampaikan pendapat, bersifat mengajak, hingga yang bersifat menghasut agar turut memilih salah satu Pasangan Calon (Paslon) karena alasan tertentu.

Lelah rasanya jika harus balik menghasut atau bahkan menghujat pendukung salah satu Paslon yang aspirasinya tidak sesuai dengan hati nurani kita. Ingin sampai kapan terus adu argumen, yang padahal seorang pendukung Paslon pasti akan mengunggulkan Paslon idamannya bagaimanapun keadaan si Paslon tersebut. Dan itu sudah harga mati, maka aneh saja jika masih ada yang rela membuang waktunya untuk menanggapi sindiran, hujatan bahkan hasutan yang sangat tidak penting itu. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik, benar-benar komplit baiknya.

Baik yang pertama adalah kita turut menyumbangkan suara saat PILKADA nanti, alias jangan golput, gunakan hak pilih dengan baik. WNI yang baik adalah yang menggunakan hak suaranya dengan tepat demi untuk memajukan kota yang menjadi tempat tinggalnya kini. Jangan golput karena bingung atau tak ada Paslon yang menarik hati, pilihlah dengan tepat demi kelangsungan tempat tinggal 5 tahun ke depan.

Setelah menggunakan hak suara dengan baik, maka kita harus menggunakan hati dengan baik. Pilihlah Paslon yang sesuai dengan kata hati nurani, jangan mudah terusik dengan pendapat orang lain apa lagi yang bersifat negatif yang hanya bisa memperkeruh suasana saja. Karena apa? Setiap manusia berhak memilih sesuatu sesuai dengan isi hatinya. Setiap orang tentu memiliki pertimbangan masing-masing, tapi dengan telah mempelajari ilmu dalam kehidupan sehingga tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik, serta belajar dari banyak pengalaman, maka ketetapan hati perlu diikuti.

Selanjutnya kita juga perlu menggunakan kepala dan isinya dengan baik, atau dengan kata lain gunakan otak very well. Karena jika hanya hati yang dituruti tanpa diimbangi dengan hasil pemikiran yang baik juga, jatuhnya akan membabi buta. Bisa digambarkan seperti ini "pokoknya saya suka dia, bodo amat atas kekurangannya", kalau banyak pemilih yang begini lantas bagaimana ceritanya daerah kita bisa maju karena dipimpin oleh orang yang dipilih atas dasar "bodo amat"?.

Ucapan juga perlu dijaga, maksimalkan menjadi WNI yang baik dengan menjaga perkataan yang baik, lisan maupun tulisan. Jika hak pilih sudah digunakan dengan baik, hati digunakan dengan baik, pikiran digunakan dengan baik, tapi lisan atau tulisannya mengeluarkan kata-kata yang tidak baik bagaimana? Percuma bukan?.

Agar semakin lengkap kita perlu menyikapi semuanya dengan baik, karena lingkungan boleh panas tetapi hati harus tetap dingin. Jadikan PILKADA 2017 ini sebagai ajang pemiihan kepala daerah yang super sejuk dimulai dari diri sendiri.

Ingat, daerah tempat tinggal kita harus dipimpin oleh seseorang yang juga komplit baiknya seperti kita melengkapi kebaikan pada diri kita sendiri.

(dnu, ditulis sambil dengerin lagu "aku seorang kapiten... kalo berjalan prok prok prok..., 11 Februari 2017, 20.02 WIB)

Sunday, February 5, 2017

Berbagi Inspirasi Bersama Laskar Langit

Hari Minggu ini (5/2) saya habiskan dengan berbagi cerita tentang cita-cita bersama anak-anak Laskar Langit. Mereka merupakan kumpulan anak-anak yatim/piatu usia sekolah SD - SMP yang dirangkul untuk bergembira bersama oleh pemuda pemudi berhati mulia yakni Komunitas Pecinta Anak Yatim (PAY).

Sebelum memasuki sesi inspirasi tentang cita-cita anak-anak Laskar Langit diajak nonton bareng film Iqra oleh kakak-kakak dari Komunitas PAY, dengan mengambil tempat di bioskop Mall Graha Cijantung. Film yang berdurasi selama kurang lebih 2 jam tersebut bercerita tentang petualangan seorang anak perempuan bernama Aqila dalam meraih mimpinyaa untuk melihat planet pluto.
Sama halnya dengan sesi inspirasi yang digelar sema kurang lebih 30 menit tersebut saya membagikan cerita kepada mereka tentang petualangan cita-cita apa yang pernah saya lakukan, apa saja hambatannya, bagaimana cara mengatasinya dan apa saja yang perlu kita lakukan untuk menggapai mimpi tersebut.

Dengan membuka cerita lama, mengingat-ingat kisah apa yang pernah terjadi dulu saat masih kecil, pernah punya cita-cita apa dan berapa kali cita-cita berganti-ganti, saya mulai memasukkan diri ke dalam mimpi mereka. Berusaha dengan bahasa yang sederhana pula saya bercerita kendala-kendala apa saja yang kerap terjadi saat masih sekolah dulu.

Sesi singkat ini ditutup dengan penguatan hati dan fikiran terhadap sebuah cita-cita yang telah kita gantungkan, yaitu saya sampaikan ada 3 tips ala saya dalam meraih mimpi atau cita-cita. Ketiga tips tersebut adalah niat, doa dan usaha.

Niat, yaitu penguatan seluruh isi hati dan kepala tentang apa yang ingin kita raih suatu hari nanti. Contohnya seseorang yang ingin menjadi dokter, maka mantapkan hati bahwa dokter adalah profesi yang ingin kita raih, dan yakinkan benar bahwa dokter adalah profesi yang baik bagi kita dan orang-orang di sekitar kita.

Selain memahami benar tentang apa itu dokter, mereka juga harus paham benar apa yang harus dilakukan agar bisa menemukan jalan dalam menggapainya. Mulai dari hal yang paling sederhana yaitu rajin belajar, tidak melalaikan ibadah sholat 5 waktu dan juga selalu makan makanan yang bergizi baik. Seiring bertambahnya usia tentu semakin banyak hal-hal yang perlu dilakukan agar bisa menyandang gelar dokter.

Setelah menguatkan niat dan tekad, selanjutnya adalah kita perlu berdoa, meminta kepada Allah SWT agar dibukakan jalan untuk bisa menjadi dokter. Disini lagi-lagi tentang ibadah, jangan lupa berdoa tentu saja jangan lupa beribadah.

Usai berdoa, yang tak kalah pentingnya adalah berusaha atau ikhtiar dalam bahasa lainnya. Apalah artinya berdoa jika tidak disertai ikhtiar yang nyata, karena Allah SWT menyukai orang-orang yang berdoa dan berusaha dalam mencapai keinginan-keinginan dalam hidupnya.

Niat, berdoa dan berusaha adalah satu kesatuan langkah yang harus dilakukan jika ingin mimpi yang kita miliki menjadi kenyataan. Tapi tentu saja pembungkus akhir dari tiga tips tersebut adalah berserah diri pada ketetapan Allah SWT, karena seindah-indahnya rencana manusia tetap lebih indah rencana Allah SWT.

Anak-anak Laskar Langit adalah anak-anak yang aktif dan penuh semangat. Tentunya banyak pelajaran juga yang saya ambil dari mereka, salah satunya adalah tetap menjadi pribadi yang berbahagia walau dalam hidup ada sesuatu yang sudah tak lengkap lagi keberadaanya.

Kepada semua anak Indonesia yang kini telah hidup sebagai yatim atau piatu, jangan berkecil hati. Lihat Pak Habibie, seorang Bapak Bangsa yang menjadi pemacu industri dirgantara di Indonesia adalah seorang lelaki yang sudah ditinggal sang ayah sejak kecil.

Contoh lain tentu saja Nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW, yang telah menjadi yatim sejak dalam kandungan ibunda, dan menjadi piatu beberapa tahun setelah ia lahir ke dunia. Tapi beliau tetap berakhlak baik dalam menjalani hidup dan kini menjadi panutan bagi kita, umatnya.
Adalah benar cita-cita memang harus setinggi langit, karena ada sebuah proses yang indah kala kita berusaha menggapainya. Ada taburan bintang di sekitarnya, ada senyum bulan di dekatnya, dan ada matahari yang selalu menjadi penyemangatnya. Jangan mudah menyerah, karena Allah SWT selalu ada bersama kita.

(dnu, ditulis dengan keadaan mata ke TV nonton aksi The Cuts Indonesia, tapi otak ke tugas kuliah yang kudu ngitung-ngitung pake SPSS dan belom dikerjain, sementara jari-jari tangan ke BlackBerry butut buat nulis pengalaman hari ini haha..., 5 Februari 2017, 20.58 WIB)