Friday, April 21, 2017

Hai Kartini Masa Kini, Selamat Ya!


Wanita-wanita yang mulia dan harus dimuliakan, yang berdiri di atas kaki bumi pertiwi, selamat merayakan Hari Kartini ya!

 

Selamat kini berada di zaman yang terang, setelah dulu menikmati masa gelap dalam perjuangan. Tentu para Kartini masa kini tidak ingin bukan perjuangan berhenti di sini dan tidak ada yang melanjutkan? Perjuangan apa? Apa lagi kalau bukan memperjuangkan keberlangsungan hidup perempuan dalam wadah kemuliaan. Selamat melanjutkan perjuangan! Karena perempuan adalah makhluk mulia yang harus dimuliakan.

 

Semangatlah memuliakan diri sendiri sebelum ingin dimuliakan orang lain. Mulailah menyayangi seluruh harga yang ada di dalam diri. Menjaga kehormatan dan sigap menangkis segala bentuk perlakuan yang mungkin merendahkan.

 

Selamat menjadi wanita perkasa namun tetap penuh cinta.

Wanita perkasa yang siap menjadi pelayan bagi anak dan keluarga.

Wanita perkasa yang siap menjadi supir pribadi bagi anak setiap berangkat dan pulang sekolah.

Wanita perkasa yang siap mengangkat ember cucian berkilo-kilo beratnya.

Wanita perkasa yang tetap berbahagia walau baru menjemur pakaian namun hujan langsung turun dengan derasnya.

Dan juga selamat menjadi wanita perkasa yang siap mengangkat galon kapan saja.

 

Selamat telah memiliki jalan yang luas untuk bisa meningkatkan kualitas diri. Bebas belajar ilmu apa saja, di mana saja dan kapan saja.

Kini jalannya begitu terbuka, namun para Kartini harus pandai-pandai mencari jalan terbaiknya. Terbaik bagi siapa? Semuanya. Dirinya, suami, anak dan juga keluarga.

 

Selamat telah memiliki kesempatan yang baik untuk bekerja. Bebas bekerja bidang apa saja. Bebas bekerja dari mana saja, rumah maupun kantor tercinta. Namun para Kartini harus cermat mengambil kesempatan yang ada, jangan salah pilih, karena keputusan penuh ada ditanganmu.

 

Selamat telah memiliki teman yang banyak, teman baik maupun teman yang kadang menjengkelkan. Namun percayalah, semua keadaan itu patut disyukuri karena mereka ada untuk membuat hidup kita lebih berwarna.

 

Selamat telah terbuka jalan yang luas untuk kita bebas berkreasi, mengisi hari-hari, membuat dunia berwarna warni dengan kemampuan tangan-tangan Kartini yang memiliki ciri sendiri-sendiri.

Selamat kini telah banyak kesempatan untuk turut memberi warna pada keluarga, lingkungan, kota tempat tinggal, atau bahkan bangsa Indonesia.

 

Selamat memanfaatkan kesempatan-kesempatan baik yang kini terpampang nyata di depan mata kita semua para Kartini Indonesia.

Selamat memanfaatkan kesempatan-kesempatan baik dengan sempurna, dengan tanpa menyakiti siapa-siapa ataupun melupakan wanita dalam fitrahnya.

Selamat memanfaatkan kesempatan-kesempatan baik dengan bijaksana, dengan penuh suka cita dan bahagia karena semua pintu kini telah terbuka.

 

Selamat menjalani hidup dengan berbagai pilihan masing-masing.

Selamat bagi yang memilih sepenuh waktu berada di rumah menemani anak sebagai pendamping

Selamat bagi yang memilih bekerja di luar rumah, selamat berkarya dalam jalan Allah SWT dan istiqomah.

Selamat bagi yang memilih bekerja nun jauh di negeri orang, selamat mencari penghidupan untuk keluarga yang ditinggalkan, tetapkan hati bahwa semuanya hanya mengharap ridho Allah SWT.

Selamat hidup dalam binar-binar kebahagiaan, karena semuanya telah kita ambil sebagai pilihan.
Para Kartini masa kini yang telah menjadi istri dan memiliki buah hati... Selamat ya!

Selamat menikmati kerepotan yang ada, namun tetap semangat mencari nafkah, semangat meningkatkan wawasan, semangat beribadah dan semangat mencari waktu untuk sendirian sambil menikmati kelelahan.
 
Selamat berpusing ria memikirkan hari ini masak apa dan esok entah masak apa? Mengapa? Selamat berbahagia karena hanya ingin memberikan sajian yang istimewa untuk keluarga.
Selamat bersibuk mencari pakaian tidur terbaik untuk sang buah hati. Mengapa? Selamat berbahagia karena hanya ingin mereka tidur dalam kenyamanan dan bangun dalam kesegaran esok hari.
Selamat menjadi bawel dan sering ngomel ketika rumah tampak seperti kapal pecah.
Namun selamat juga bisa mendadak jadi Ibu Peri yang baiknya tak pernah terduga.

Para wanita, para Kartini masa kini...
Selamat menikmati indahnya dunia.
Selamat menjalani peran yang tak cuma ganda namun sesungguhnya double pangkat dua.
Selamat menjadi kepanjangan tangan Allah SWT dalam menitipkan generasi penerus di dalam rahim.
Selamat telah merasakan melahirkan, dan selamat menanti bagi yang belum merasakan.
Selamat telah merasakan indahnya hamil muda hingga tua.
Selamat telah merasakan indahnya debar-debar asmara saat menanti adik bayi lahir ke dunia
Selamat berbahagia, karena kondisi seperti ini hanya perempuan yang bisa rasa!

Kartini masa kini, selamat menjadi diri sendiri, selamat melanjutkan perjuangan untuk hidup yang lebih baik dan bangsa yang lebih maju.

Selamat Hari Kartini, Selamat Menikmati Indahnya Hari-hari yang Dilalui.

(dnu, ditulis sambil makan snack yang full of msg haha...., 21 April 2017, 12.12 WIB)

Stop Bullying Pasca PILKADA yang Bikin Pusing

Sudahlah sikapi gentle untuk hasil Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) DKI Jakarta putaran ke dua tahun 2017 ini, tidakkah kita lelah dengan perang dingin yang tak kunjung usai ini? Jelang PILKADA ribut, hingga PILKADA selesai terlaksana pun tetap saja ribut. Apakah sudah habis aktifitas lainnya di atas bumi ini selain begitu konsen dengan pertikaian jarak jauh antar sesama? Hujat sana hujat sini, nyinyir kepada pendukung pasangan calon (paslon) yang kalah, nyinyir kepada pendukung paslon yang menang, those are bullying guys!

Dimana jiwa-jiwa yang katanya ingin berbesar hati jika paslon yang didukungnya kalah? Dimana jiwa-jiwa yang katanya orang baik dan akan tetap elegan jika paslon yang didukungnya menang? Pendukung paslon yang menang tak usainya riang gembira dalam kata-kata sambil sesekali diselipkan hujatan-hujatan manis untuk paslon yang kumpulan suaranya secara quick count lebih sedikit. Begitu juga dengan pendukung paslon yang kalah, tak ada habisnya nyinyir terhadap paslon yang menang sambil sesekali mengungkapkan keraguan atas kinerja paslon tersebut.

Pemenang yang sesungguhnya, adalah seseorang yang tetap tenang saat berada dalam ayunan pucuk pohon yang paling tinggi, serta seseorang yang tetap tenang saat berada dalam putaran roda yang paling bawah. Adalah dua-duanya pemenang, baik paslon yang memiliki suara lebih banyak dan paslon yang memiliki suara lebih sedikit, jika pendukung keduanya mampu tetap tenang bagaimanapun keadaannya. Karena kualitas pemimpin dapat tercermin dari perilaku para pendukungnya.

Sorak sorai atas sebuah kemenangan tentu saja diperbolehkan namun tetap ada batasannya, jangan takabur, karena Allah SWT pun tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Bersedih atas kekalahan juga sah-sah saja, namun juga jangan berlebihan karena life must go on, dan tentu bukan urusan DKI Jakarta saja yang penting untuk dilakoni bukan? Pasti masih banyak perihal lainnya yang membutuhkan sentuhan tangan-tangan baik seperti mereka berdua.

Tidakkah kita lelah terus menerus perang dingin di dunia maya? Saling serang jarak jauh, saling hujat jarak jauh, hingga kita lupa perlunya berbenah diri untuk memberikan dukungan dalam menghadapi 5 tahun ke depan -dimana bukan masa yang sebentar-, dan memberikan dukungan dalam menghadapi penyelesaian masa jabatan akhir Oktober nanti.

Menurut saya, hanya ada dua hal yang pantas dilakukan saat ini bagi para pendukung paslon gubernur DKI Jakarta 2017-2022, yaitu bagi pendukung pemenang jangan over bahagia karena bisa menyebabkan khilaf, lepas kendali lalu hilanglah predikat pemenang yang elegan. Sedangkan bagi pendukung paslon yang kalah secara quick count jangan bersedih sambil nyinyir dalam usaha membesarkan hati, karena kekalahan bisa tetap diiringi senyum yang lebar jika kita menyikapinya juga dengan hati yang besar.

Intinya, yang menang rendah hati, yang kalah berbesar hati.

(dnu, ditulis sambil minum teh manis hangat bikinan suami tercinta sealam semesta, 19 April 2017, 21.44 WIB)

Monday, April 17, 2017

Selain Pakai Paku, Nyoblos Juga Pakai Ilmu

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) untuk Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta putaran ke dua akan digelar pada 19 April 2017 mendatang. Bukan waktu yang sebentar karena efektif dalam satu hari lagi perhelatan yang cukup membuat berbagai kalangan angkat tindakan tersebut segera naik panggung. Secara teknis, proses pemilihan pemimpin ibu kota negara ini adalah menggunakan sebuah paku sebagai alat pencoblos terhadap lembar suara dari para kandidat gubernur. Alat pencoblos ini memang sangat penting keberadaannya, bayangkan saja bagaimana jadinya jika dalam proses pemilihan ternyata pakunya tidak ada, ataupun kertas suara jumlahnya kurang? Bukan hanya warga dalam satu Tempat Pemilihan Suara (TPS) saja yang menjadi ramai, namun bisa-bisa satu pulau Jawa ini bertegangan tinggi dengan persepsinya masing-masing. Jadi tentu saja agar seluruh rangkaian proses pemilihan kepala daerah bisa berjalan dengan lancar dan damai berbagai sarana dan prasaranya yang bersifat tangible atau terlihat dan bisa dipegang oleh tangan manusia wajib tersedia dengan baik.

Jika hal-hal teknis telah dipersiapkan dengan sempurna maka ada hal lain yang juga sama pentingnya dalam proses pemilihan kepala daerah di wilayah manapun, namun yang satu ini sifatnya tidak terlihat atau intangible, hal tersebut adalah ilmu. Dalam memilih pemimpin bukan hanya paku yang menjadi penentu, namun juga ilmu yang perlu digunakan agar tidak salah pilih sehingga yang dipilih justru menjadi benalu. Bekal ilmu yang cukup sangat diperlukan sebagai landasan dalam menentukan pilihan. Harapannya adalah agar para pemilih tidak semata-mata mengandalkan kesukaan ataupun kebencian terhadap salah satu pasangan calon gubernur, sehingga melakukan pemilihan atas dasar emosi. Mencoblos yang disuka, dan mengabaikan yang tidak disuka, tanpa pernah mempertimbangkan baik buruknya dampak dari pasangan calon tersebut dalam kehidupan kita minimal lima tahun ke depan.

PILKADA DKI Jakarta yang senyatanya adalah pemilihan kepala provinsi namun euforianya terasa sebagai pemilihan kepala negara ini, mencerminkan betapa pentingnya posisi tesebut yaitu posisi pemimpin kota Jakarta. Itulah mengapa kita sebagai pemilih harus dengan penuh kecerdasan dan ketepatan dalam menentukan pilihan. Tentu kita tidak ingin bukan jika pasangan calon gubernur yang kita pilih justru lebih banyak membawa energi negatif bagi warga dalam masa pemerintahannya? Justru hal sebaliknya yang kita butuhkan yaitu memiliki pemimpin daerah yang memahami benar Jakarta ingin diapakan, dibawa kemana, dibentuk seperti apa dan dikemas seperti apa? Sehingga kota Jakarta yang padat penduduk ini mampu menjadi penopang ekonomi bangsa yang baik, lalu kesejahteraan penduduk di seluruh Indonesia lambat laun dapat diwujudkan. Karena apa? Berangkat dari Jakarta yang tenteram, Jakarta yang maju ekonominya, Jakarta yang ramah dengan penduduknya, dan Jakarta yang nyaman dihuni karena dikepalai oleh pemimpin yang dipilih dengan hati. Memilihlah dengan hati yang berilmu, yaitu hati yang telah paham benar pemimpin macam apa yang layak kita sandarkan tentang sejuta harapan melalui hari pencoblosan.

Pemilih yang masih mengkhawatirkan kekalahan pasangan calon gubernur idolanya, gemar umpat sana sini, saling menyakiti, saling menghujat, saling menjatuhkan lawan pasangan calon, hingga mendewakan pasangan calon, adalah pemilih yang kurang sedikit lagi mempelajari ilmu dalam panggung pemilihan ini. Ikhlas saja jika memang pasangan calon gubernur idola kita kalah, yang pasti kita sudah memilih dengan tepat sesuai dengan ilmu yang kita miliki, yakni telah peham benar pemimpin seperti apa yang layak memimpin Jakarta tercinta. Untuk itu dalam mencoblos di tanggal 19 April 2017 mendatang kita memerlukan bekal ilmu yang cukup agar bisa memilih dengan tepat, serta mampu menyikapi apapun hasilnya dengan tepat juga.

Seseorang yang berilmu baik tentu saja dalam kesehariannya menganut nilai-nilai kehidupan yang bagi sebagian orang dianggap kuno namun bernilai tinggi, yaitu saling menghormati dan menghargai baik jelang maupun usai pesta demokrasi. Jika pasangan calon gubernur pilihan kita menang lantas mengapa kita perlu tetap menjaga hati? Tentu saja, karena jumawa bukan ciri-ciri orang yang berilmu. Lalu bagaimana jika pasangan calon gubernur kita ternyata kalah? Tetap berbesar hati dan menerima kenyataan sebagai tanda orang yang berilmu nan mampu berbahagia di segala suasana.

(dnu, ditulis sambil ngemil nastaaarrrr... coba tebaakkk nastar lebaran taun kapan hayoooo.... hahaha...., 17 April 2017, 22.47 WIB)