Monday, April 17, 2017

Selain Pakai Paku, Nyoblos Juga Pakai Ilmu

Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) untuk Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta putaran ke dua akan digelar pada 19 April 2017 mendatang. Bukan waktu yang sebentar karena efektif dalam satu hari lagi perhelatan yang cukup membuat berbagai kalangan angkat tindakan tersebut segera naik panggung. Secara teknis, proses pemilihan pemimpin ibu kota negara ini adalah menggunakan sebuah paku sebagai alat pencoblos terhadap lembar suara dari para kandidat gubernur. Alat pencoblos ini memang sangat penting keberadaannya, bayangkan saja bagaimana jadinya jika dalam proses pemilihan ternyata pakunya tidak ada, ataupun kertas suara jumlahnya kurang? Bukan hanya warga dalam satu Tempat Pemilihan Suara (TPS) saja yang menjadi ramai, namun bisa-bisa satu pulau Jawa ini bertegangan tinggi dengan persepsinya masing-masing. Jadi tentu saja agar seluruh rangkaian proses pemilihan kepala daerah bisa berjalan dengan lancar dan damai berbagai sarana dan prasaranya yang bersifat tangible atau terlihat dan bisa dipegang oleh tangan manusia wajib tersedia dengan baik.

Jika hal-hal teknis telah dipersiapkan dengan sempurna maka ada hal lain yang juga sama pentingnya dalam proses pemilihan kepala daerah di wilayah manapun, namun yang satu ini sifatnya tidak terlihat atau intangible, hal tersebut adalah ilmu. Dalam memilih pemimpin bukan hanya paku yang menjadi penentu, namun juga ilmu yang perlu digunakan agar tidak salah pilih sehingga yang dipilih justru menjadi benalu. Bekal ilmu yang cukup sangat diperlukan sebagai landasan dalam menentukan pilihan. Harapannya adalah agar para pemilih tidak semata-mata mengandalkan kesukaan ataupun kebencian terhadap salah satu pasangan calon gubernur, sehingga melakukan pemilihan atas dasar emosi. Mencoblos yang disuka, dan mengabaikan yang tidak disuka, tanpa pernah mempertimbangkan baik buruknya dampak dari pasangan calon tersebut dalam kehidupan kita minimal lima tahun ke depan.

PILKADA DKI Jakarta yang senyatanya adalah pemilihan kepala provinsi namun euforianya terasa sebagai pemilihan kepala negara ini, mencerminkan betapa pentingnya posisi tesebut yaitu posisi pemimpin kota Jakarta. Itulah mengapa kita sebagai pemilih harus dengan penuh kecerdasan dan ketepatan dalam menentukan pilihan. Tentu kita tidak ingin bukan jika pasangan calon gubernur yang kita pilih justru lebih banyak membawa energi negatif bagi warga dalam masa pemerintahannya? Justru hal sebaliknya yang kita butuhkan yaitu memiliki pemimpin daerah yang memahami benar Jakarta ingin diapakan, dibawa kemana, dibentuk seperti apa dan dikemas seperti apa? Sehingga kota Jakarta yang padat penduduk ini mampu menjadi penopang ekonomi bangsa yang baik, lalu kesejahteraan penduduk di seluruh Indonesia lambat laun dapat diwujudkan. Karena apa? Berangkat dari Jakarta yang tenteram, Jakarta yang maju ekonominya, Jakarta yang ramah dengan penduduknya, dan Jakarta yang nyaman dihuni karena dikepalai oleh pemimpin yang dipilih dengan hati. Memilihlah dengan hati yang berilmu, yaitu hati yang telah paham benar pemimpin macam apa yang layak kita sandarkan tentang sejuta harapan melalui hari pencoblosan.

Pemilih yang masih mengkhawatirkan kekalahan pasangan calon gubernur idolanya, gemar umpat sana sini, saling menyakiti, saling menghujat, saling menjatuhkan lawan pasangan calon, hingga mendewakan pasangan calon, adalah pemilih yang kurang sedikit lagi mempelajari ilmu dalam panggung pemilihan ini. Ikhlas saja jika memang pasangan calon gubernur idola kita kalah, yang pasti kita sudah memilih dengan tepat sesuai dengan ilmu yang kita miliki, yakni telah peham benar pemimpin seperti apa yang layak memimpin Jakarta tercinta. Untuk itu dalam mencoblos di tanggal 19 April 2017 mendatang kita memerlukan bekal ilmu yang cukup agar bisa memilih dengan tepat, serta mampu menyikapi apapun hasilnya dengan tepat juga.

Seseorang yang berilmu baik tentu saja dalam kesehariannya menganut nilai-nilai kehidupan yang bagi sebagian orang dianggap kuno namun bernilai tinggi, yaitu saling menghormati dan menghargai baik jelang maupun usai pesta demokrasi. Jika pasangan calon gubernur pilihan kita menang lantas mengapa kita perlu tetap menjaga hati? Tentu saja, karena jumawa bukan ciri-ciri orang yang berilmu. Lalu bagaimana jika pasangan calon gubernur kita ternyata kalah? Tetap berbesar hati dan menerima kenyataan sebagai tanda orang yang berilmu nan mampu berbahagia di segala suasana.

(dnu, ditulis sambil ngemil nastaaarrrr... coba tebaakkk nastar lebaran taun kapan hayoooo.... hahaha...., 17 April 2017, 22.47 WIB)