Monday, May 29, 2017

Ramdhan, yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Namanya juga bulan penuh keberkahan, siapa sih yang tidak ingin meraih berkah sebanyak-banyaknya? Umat muslim di banyak belahan dunia tentu tengah berlomba-lomba melakukan berbagai amalan di bulan baik ini, bahkan ibadah yang hukumnya sunah pun terasa menjadi hal wajib yang harus dilakukan. Alhamdulillah ya, terlepas dari hanya di bulan Ramadhan saja namun tetap menjadi amal kebaikan yang InsyaAllah berlanjut dilaksanakan hingga masa-masa seterusnya.

Artikel ini tidak akan membahas apa saja amalan-amalan yang hukumnya sunnah lalu terasa menjadi hal yang wajib dilakukan di bulan ramadhan. Hanya berdasar pada kebiasaan dan pandangan mata saja maka lahirnya tulisan sederhana ini. Terlihat para umat muslim yang begitu semangat melakukan hal-hal biasa namun dengan semangat kebaikan maka hal tersebut menjadi luar biasa.
 
Misalnya bagi para Ibu yang  mungkin sehari-hari menyiapkan menu makanan tidak terlalu muluk-muluk, namun di bulan baik ini semuanya seakan terasa istimewa dengan sajian makan yang sedikit berbeda dari biasanya. Contoh lainnya adalah jajaran penjaja gorengan dan cemilan takjil khas Ramadhan yang terlihat di setiap mata memandang. Begitu pula dengan makanan-makanan lainnya yang jarang kita temui di bulan-bulan biasa mendadak ramai di bulan suci ini, salah satunya adalah timun suri. Seru ya?!

Tidak hanya urusan perut, para muslimin dan muslimat juga banyak yang memasang target khatam Al Quran di bulan Ramdhan, entah itu satu, dua atau beberapa kali. Berlomba-lomba bersedekah karena mengharap ridho Allah SWT semata melalui aksi penyajian buka puasa maupun sahur gratis turut menjadi agenda amalan menyenangkan yang banyak dilakukan di bulan Ramadhan. Masih ada tradisi seru lainnya yang hanya terjadi di bulan puasa yakni buka puasa bersama. Kegiatan yang terlihat hanya sebagai ajang makan bareng ini juga menjadi ladang amal bagi mereka yang jeli melihatnya, yakni silaturahmi. Allah SWT begitu senang dengan orang-orang yang menjaga silaturahmi bukan? Berapa banyak undangan buka puasa bersama yang kerap dilakoni oleh para muda mudi? Buka bersama teman masa SMP, masa SMA, teman kerja, teman komunitas dan perkumpulan-perkumpulan lainnya yang sebenarnya sungguh ada saja ladang amal di sana jika kita mampu mengemasnya, yakni walaupun asik bercengkrama tetap tidak melupakan shalat maghrib dan tarawihnya. Kesimbangan yang seperti sungguh nyaris sempurnya adanya.

Begitu juga dengan ibadah shalat tarawih yang hukumnya sunnah tapi seluruh umat muslim berlomba-lomba menunaikannya dan sedapat mungkin dilakukan berjamaah di masjid bersama dengan saudara muslim lainnya. Inilah ukhuwah yang begitu indah jika kita selalu mampu menjaganya sepanjang masa. InsyaAllah mampu dan dimampukan.

Aktifitas seru lainnya yang kebanyakan umat lakukan di bulan Ramadhan adalah jalan-jalan pagi setelah shalat subuh berjamaah di masjid. Hanya sekedar menyusuri sekitar kampung untuk menghirup udara yang belum terkena polusi, menjadi kegiatan pilihan yang asik dilakukan sebelum matahari terbit. Sebenarnya hanya jalan-jalan biasa sih namun karena dilakukan beramai-ramai maka aktifitas yang biasa ini menjadi sungguh luar biasa. Manfaat positif yang didapat selain bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara muslim yang lain, yakni tanpa sadar kita sedang berolahraga, sehingga tubuh menjadi lebih segar dan bugar.

Semoga tidak hanya di bulan ramadhan kita senang melakukan hal-hal luar biasa demi mendapatkan pahala yang InsyaAllah dilipatgandakan ya, namun juga di bulan-bulan lainnya. Mari bersama kita tunjukkan kepada dunia tentang betapa indahnya Islam, dengan cara tetap menjaga hati, lisan dan fikiran yang bersih mulai dari yang paling dekat yaitu diri kita sendiri.

(dnu, ditulis sambil nyanyi “lebaran sebentar lagiii....”, 29 Mei 2017, 21.43 WIB)

Saturday, May 27, 2017

Berpulang Di Awal Ramadhan #Ramadhan_1

Dalam setiap perjalanan hidup tentu ada pengalaman-pengalaman baik yang dapat kita jadikan pelajaran berharga. Seperti halnya hari ini, tanggal 1 Ramadhan 1438 H, salah satu kerabat keluarga suami berpulang kehadirat Allah SWT. Menahan kesedihan karena ditinggal untuk selamanya oleh orang yang kita cintai tentu bukan hal yang mudah, terlebih jika seseorang tersebut menyisakan banyak kenangan indah bagi keluarga yang ditinggalkannya. Di tengah kedukaan seperti ini sesungguhnya Allah SWT tidak menginginkan pihak-pihak yang ditinggalkan bersedih dan meratap berlebihan, karena kembalinya keluarga tercinta ke pangkuan Allah SWT tentu atas kehendak-Nya.

Berangkat dari hal tersebut hari ini saya belajar, ketika saya dan keluarga takziah ke rumah duka, di indahnya Ramadhan pertama ini saya melihat pemandangan yang juga indah. Usai memakamkan ayahnya, satu persatu anggota keluarga dari almarhum kembali ke rumah dan menyalami setiap tamu yang hadir, termasuk saya dan keluarga. Di raut wajah keluarganya tidak terlihat gurat kesedihan yang begitu larut, baik di wajah istri yang ditinggalkan, anak dan menantu yang ditinggalkan, serta cucu-cucu tercinta yang juga ditinggalkan. Mereka semua tampak tegar, ikhlas dan begitu berbesar hati dalam menerima keputusan Allah SWT hari ini, yaitu berpulangnya ayah, ataupun kakek tersayang.

Tubuh yang senantiasa berusaha tegap, wajah sedih yang kerap dibalut senyum, air mata yang tak lagi menetes, menjadi pemandangan yang menyejukkan di dalam rumah yang hari ini penuh dengan duka. Melihat hal ini saya menjadi semakin percaya, bahwa yang perlu kita lakukan dalam menjalani setiap kisah kehidupan hanyalah menggenggam segenap keikhlasan, yakni menerima setiap takdir yang telah digariskan.

Dari wajah para anggota keluarga, terlihat begitu baik ilmu ikhlas yang coba mereka tunjukkan, telah diserahkan semua urusan hidupnya hanya kepada Allah SWT, Yang Maha Baik dan Maha Segala-galanya. Lahirnya seseorang ke muka bumi adalah kehendakNya, begitu juga berpulangnya seseorang adalah juga atas kehendakNya.

Sekali lagi hari ini saya belajar, ketika kita ikhlas maka Allah SWT akan memberikan curahan kasih sayangNya yang lebih banyak lagi dalam bentuk kedamaian dan ketenteraman.

(dnu, ditulis sambil nginget-nginget jadwal imsak besok pagi, 27 Mei 2017, 21.41 WIB)

Thursday, May 25, 2017

Apakah untuk Berubah Selalu Butuh Momentum? #Jelang Ramadhan

Tidak sedikit dari kita yang menumbuhkan niat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik khususnya dalam hal peningkatan iman dan taqwa ketika Ramadhan mulai dijelang. Beberapa hal mungkin diusung untuk menjadi alasannya, contoh ; nuansa islami yang lebih kuat terasa saat Ramadhan maka akan mudah mengikuti arusnya jika melakukan perubahan, atau karena di bulan suci ini pahalanya berlipat ganda sehingga ingin memulainya dari sini saja, dan alasan-alasan lainnya yang sungguh mulia adanya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari sikap seperti ini, toh setiap orang memang bebas menentukan kapan waktu yang tepat bagi dirinya sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Tapi tentunya banyak juga yang selalu berusaha mengubah dirinya ke arah yang lebih positif di setiap helaan nafasnya. Sekali lagi, rambut boleh sama hitam tapi isi kepala tentu berbeda. Tidak ada yang perlu disalahkan jika seseorang memutuskan untuk berhijrah kala memasuki bulan seribu bulan ini, karena dalam keinginannya untuk berubah menjadi lebih baik saja sudah patut diacungi jempol. Perkara waktu hanya kebetulan saja yang datangnya bersamaan dengan Ramadhan.

Bagi sebagian perempuan misalnya berniat akan mengenakan hijab mulai hari pertama di bulan suci Ramadhan, atau akan rajin mengaji saat Ramadhan nanti, dan akan-akan lainnya yang bergerak ke arah perbaikan. Sangatlah perlu diberikan tepuk salut bagi yang seperti ini, lalu abaikan perkara momennya, karena setiap orang tentu punya pemikiran yang berbeda-beda. Kita sebagai orang yang ada di sekitarnya hanya perlu memberikan dukungan saja.

Berangkat dari paparan kenyataan di atas, kita semua tentu setuju bahwa sejatinya perubahan tidak membutuhkan momentum apa-apa. Menjadi lebih baiklah mulai kapan saja sesuai dengan kata hati nurani, karena tentunya saat tersebutlah ketika Allah SWT membukakan hati kita agar menjadi hambaNya yang semakin istimewa.

Jika sudah ada niat baik, percayalah semesta pasti mendukung.
Alhamdulillah wa syukurillah jika Ramadhan bisa menjadi awal untuk berubah menjadi lebih baik selamanya.

Yuk berhijrah!

(dnu, ditulis sambil ngemil 4 biji donat gratisan hahaha...., 25 Mei 2017, 21.41 WIB)

Wednesday, May 24, 2017

Kelak Saya Akan Merindukan Saat-saat Seperti Ini...

Janjian sama Bu Dosen di suatu hari, suatu sore, suatu jam. Untuk dapat tiba di kampus sesuai dengan jam yang telah ditentukan atau bahkan lebih cepat, saya memilih armada ojek online.
.
Order 30 menit sebelum waktunya berangkat. Sudah diterima oleh seorang pengemudi ojek tapi lamaaaaaa sekali ia tiba di titik penjemputan. Saya hubungi "Bapak di mana? Maaf Pak saya buru-buru...." Suara di seberang menjawab santai "Saya masih di rumah Bu... baru mandi nih Bu... sebentar saya jalan Bu... Ibu di mana?" Gustiiiiiiii..... 😭😭😭 kenapalah dia ndadak mandi segala mau jemput sayaaaaa 😭😭😭 Tega ngga tega saya jawab "Pak maaf saya buru-buru, saya cancel ya....". Hiks... drama pertama selesai.
.
Order lagi. Diterima lagi. Tapi sama, 10 menit menunggu tak kunjung nampak batang hidungnya. Namun beberapa menit kemudia ia menelepon saya "Bu maaf ini ternyata saya jauh ke tempat jemput Ibu... Ibu gapapa nunggu?" Saya tanya "Bapak di mana sekarang" untuk ngukur saya tunggu atau cancel nih abang-abang. "Saya di jembatan gading Bu...." Appaahh??? Di mana itu jembatan gading??? Dia harus jemput saya di sekitaran Bambu Apus, kok segala sebut-sebut jembatan gading?? Saya ngga perlu tau lah itu jembatan ada di mana, langsung aja "Pak maaf, cancel aja deh, saya buru-buru Pak...".
.
Order lagi untuk ke tiga kalinya. Diterima, tapi luaammmaaaaaa jemput sayanya 😭😭😭😭 Omaygaaattt... ini orang di manaaaa..... Setiap kali saya hubungi "Sabar ya Mba saya cepet-cepet kok ini..... -- Sebentar mba agak macet dikit nih, tunggu ya.... -- Mba saya udah deket kok, mba pakai baju apa? Biar saya cari nanti...." 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 Apalaahhh dia iniiii..... 😢😢😢
.
Sambil menunggu ojek suasana hati sudah ngga karuan. Mikirin Bu Dosen, mikirin jalanan macet, mikirin takut hujan, termasuk juga mikirin si abang ojek ini hiks.... Setelah sekian lama akhirnya si abang gojek muncul juga, lalu dia memastikan bahwa adalah benar saya calon penumpangnya "Dewi ya?" Sambil senyum-senyum manis kecut. Hah! Kenapa pulak dia panggil saya Dewi, kemane tuh panggilan "Mba" yang sebelumnya ada. Ah sutralah ya, ngga pakai basa basi langsung saja saya duduk baik-baik di atas motornya.
.
Bismillah. Petualangan di mulai.
.
Di awal perjalanan saya sampaikan "Pak maaf, boleh agak ngebut ya, saya buru-buru, mau ke kampus ditungguin sama dosen saya". Dia jawab "oke...".
.
Kurang lebih 1KM perjalanan telepon genggam saya yang sengaja saya simpan di saku jaket bergetar. Saya sempatkan membaca pesan yang masuk tersebut, walaupun agak kikuk, diatas motor yang ngebut, bingung pegangannya, sambil bingung juga karena harus megangin 1 tas laptop dan 1 tas jinjing kekinian lainnya yang ternyata cukup merepotkan. Ternyata pesan datang dari Bu Dosen tersayang "Mba dimana?". Pikiran berkecamuk, semakin deg-degan, ya ampun si Ibu udah nanyain... setelah saya lirik jam tangan ternyata saya sudah telat 15 menit huaaaaaa........ Saya balas pesan tersebut dengan meminta maaf dan memberitahukan bahwa saya sudah di cawang dan masih belasan kilo meter lagi jarak yang harus saya tempuh.
.
Selanjutnya motor memasuki terowongan.... turunaaann.... btw sayaa merasa kok banyak kendaraan lain yang menyalip motor abang ojek ini ya... oh okee berarti ini motor jalannya tergolong lambat. Sambil sedikit teriak saya katakan pada si abang "Pak boleh agak cepet lagi Pak.... " Dia mengangguk seraya menambah kecepatan.
.
Oke, sekarang ngebut.
.
Sepanjang perjalanan perasaan semakin gundah gulana. Lantas saja di setiap titik utama saya menginformasikan kepada Bu Dosen melalui pesan singkat. "Bu sekarang saya di pramuka... sekarang rawa sari bu.... dst....". Dengan tujuan Bu Dosen mengetahui pergerakan saya di mana setiap menitnya.
.
Ojek ngebut tak terkira. Bingung pegangannya gimana. Ikhlaslah kalau memang harus jatuh hahahaha......
.
ALHAMDULILLAH tiba di kampus. Tarif Rp 44 ribu. Ada uang sekenanya di dompet. Gak pakai menunggu kembalian. Saya turun dari motor, lari menyeberang jalan, sambil bergegas menaiki anak tangga menuju halaman kampus. Sambil berlari tak secepat kilat saya mendengar teriakan si abang ojek "Mba kembaliannya.... mba hati-hati......". Sudahlah, yang ada di pikiran saya cuma satu. Bu Dosen. Titik.
.
Sambil larrriiiiiiiiii.... sambil kirim pesan singkat ke Bu Dosen "Bu saya sampe kampus.... saya ke ruangan ibu sekarang..."
.
Sejak mengirim pesan di Cawang, hingga sampai kampus, tak satu pesan pun dibalas oleh Bu Dosen. Oke tak apa. Saya yang salah. Saya telat. Hiks....
.
Lariiiiiiiii.... memasuki lobi kampus..... hampir melewati meja security baru inget sepertinya saya belum mengenakan id card. Ubek-ubek tas, cari id card.... ga ketemu.... aduh dimana.... tadi ada.... udah siapin kok.... gustiiiiiii.... pangeraaaaaannn.... Ya Allah..... di manaaaaaaaaa....... yasudahlah kasih SIM saja secara KTP juga ga ketemu 😭😭😭😭😭 . Ketika akan menyerahkan SIM ke Pak security untuk ditukar dengan kartu izin memasuki area kampus tiba-tiba gelang yang saya kenakan di tangan kanan nyangkut di dekat leher. Apa lagi iniiiiiiiii...... hhuuuaaa...... pas dilihat ternyata id card menggantung manis di leher. Oke fix, saya lieur hahhahaha....
.
Lanjut laarriiiiiiiiiiiiiiii......... naik tangggaaa..... puluhan anak tanggaaaaaa........ kaki seakaan ngga bisa diangkat lagiii..... paha berrraaaatttt.... betis kakuuuu......... rasanya pengin merangkak aja di tanggaaaa..... Aammmpuuuunnn..... dijeeeeee...... capeeeeekkkk 😭😭😭😭😭😭
.
Sambil ngos ngosan Alhamdulillaaaaaaah kaki ini berhasil menaklukan puluhan anak tangga. Yess...... Kenapa ngga naik lift? Tanggung cuma di lantai 2.
.
Perjuangan belum selesai.
Belok kannnaaaaaannnn.... permisi lagi sama Pak satpam.... sepertinya beliau senyum-senyum aneh melihat ada mahasiswi pakai jilbab, pakai jaket, syal masih melilit di leher, penutup mulut masih nyangkut di leher, pake sepatu kets gedebak gedebuk, tangan kanan nenteng tas berisi laptop, tangan kiri nenteng tas kece, lari-lari, ngos ngosan tapi berusaha senyum walopun asem hahahaah.....
.
Lari lagiiii.... lurrruuuuussss... ccciiiiitttttt.... ngereeemmm... harus jalan pelan-pelan karena sudah tiba di depan ruang dosen. Perlu jaga image di sini agar nampak sebagai mahasiswi yang budiman. Buka jaket. Buka syal. Buka penutup mulut. Jalan pelan-pelan. Atur nafas. Masih ngos ngosan tak terkira sih hahahaha....
.
Sambil menahan nafas yang pendek-pendek... hosh... hosh.... hosh.... jalan menuju meja Bu Dosen. Ketemu beberapa mahasiswa lainnya dan dosen-dosen lainnya. Saya berusaha senyum seakan tidak ada apa-apa. Padahal badan udah pengen tepar hahaha....
.
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di depan meja Bu Dosen. Fiiiuuuuhh.... lap keringet... walaupun ngga bisa menampik bau asap knalpot amat lekat di tubuh saya hahaha.....
.
Hmmmm... tapi Bu Dosennya mana ya... mejanya bersiiihh... tengok kanan kiri Bu Dosen ngga ada.... Laptopnya juga ngga ada.... hanya ada dokumen-dokumen lain yang tertumpuk sangat rapi di atas meja beliau, yaaahh.... mirip ciri-ciri kita kalau sudah selesai bekerja kan beres-beres meja gitu dehhh....
.
Menunggu beberapa detik.... beberapa menit.... tidak ada perubahan..... oke fix, Bu Dosen sudah pulang 😭😭😭😭😭😭😭😭
.
Saya yang salah sih.... telat 30 menit dari jam yang dijanjikan untuk bertemu.....
.
Oke. Saya keluar ruangan. Berharap ada keajaiban tiba-tiba Bu Dosen masih ada di ruangan. Tapi nampaknya itu hanya sebuah khayalan yang tak mungkin jadi kenyataan.
.
Duduk sebentar di depan ruang dosen... tetep sambil nafas pendek-pendek... hosh.... hosh.... hosh...... kali ajaaaaa si ibu tiba-tiba lewat hehe.... masih berusaha positif thinking... Ah tapi memang beliau sudah pulang sih sepertinya.... Hahahaha... oke siap, saya yang salah hahaha.... langsung message Bu Dosen dan meminta maaf 🙏
.
Oke... balik kanan.... lemas lunglai.... tak ada lagi yang harus di kejar sore itu.... pulang saja.... dengan terlebih dahulu menikmati ayam penyet di warung depan kampus. Tapi tetap SEMANGAT!!!! BESOK JANJIAN LAGI dan saya ngga boleh telat lagi 💪💪💪
.
Tapi walau bagaimanapun, kelak saya akan merindukan saat-saat seperti ini, di suatu hari nanti
.
(dnu, ditulis sambil makan siang, 23 Mei 2017, 12.44 WIB)

Tuesday, May 23, 2017

Pantaskah Kita Berharap Lebih Tanpa Ada Usaha yang Lebih?

Tanpa sadar dalam hidup kadang kita bergumam :

"Kok hidup gue gini-gini aja.... kerjan gue gini-gini aja.... dari dulu sampe sekarang datar-datar aja hidup gue.... beda sama dia yang punya barang baru terus... jalan-jalan mulu..... kok hidup dia enak banget ya.... kok dia bisa beli ini itu ya padahal kerjanya sama sama gue.... kok dia..... kok dia..... dst..."

Gaess... kita belajar bareng-bareng yuk tentang upaya dalam hidup yang lebih nyata. Bisa dikatakan gumaman di atas adalah keluhan kita terhadap keadaan hidup kita sehari-hari. Jika tidak ingin dikatakan kita iri terhadap orang lain, maka bolehlah jika saya katakan kita nyinyir halus terhadap rezeki orang lain.

Saya juga masih belajar bagaimana mengisi hidup yang lebih baik setiap harinya, bagimana menjadi lebih bermanfaat, dan lebih jelas ke mana hidup ini akan dilabuhkan. Maka, sedikit-demi sedikit kita perlu mengambil energi positif yang datang dari mana saja, yang penting bermanfaat untuk kebaikan hidup kita. Salah satunya adalah energi positif atas ibadah orang lain yang jauh lebih baik dari kita.

Itulah salah satu kunci keikhlasan hidup tentang kita perlu BERUSAHA YANG LEBIH UNTUK MENDAPATKAN HASIL YANG LEBIH. Atau dengan kata lain dapat dituliskan "sudahkah kita berusaha yang lebih untuk mengharapkan hasil yang lebih?".

Ibadah yang lebih baik adalah contoh nyata usaha yang lebih dari kita untuk mendapatkan kenikmatan hidup yang selalu lebih baik dari hari kemarin. Pantaskah kita berharap lebih tanpa ada usaha yang lebih?

(dnu, ditulis sambil minum fruit tea rasa jambu klutuk, 23 Mei 2017, 16.16 WIB)

Wednesday, May 3, 2017

Nobar Surau dan Silek Bersama Gerakan Mudo Minangkabau dan Aliansi Rumah Gadang Jabodetabek

Selasa (2/5) Pk. 19.00 – 20.45 WIB bertempat di XXI Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat digelar acara nonton bareng (nobar) film garapan sutradara Arief Malinmundo yang berjudul Surau dan Silek. Film yang kental dengan nuansa Minang ini mengangkat kisah tentang 3 (tiga) orang anak laki-laki tingkat Sekolah... Dasar (SD) yang ingin memenangkan sebuah pertandingan silat. Rasanya cukup tepat penyelenggaraan nonton bareng ini dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang juga jatuh pada tannggal 2 Mei, karena satu kesatuan isi film tersebut menyampaikan pesan moral yang amat baik bagi siapa saja yang menontonnnya.

Malam itu bersama Uni Isma Apriana Uda Tedy Wiraseptya dan Uda Edwin Sholeh tentunya hahaha...., saya bergabung sesaat (walaupun malu-malu sih, susah ngeblend-nya karena gue betawi banget gituh hahaha....) dengan para komunitas Minang dalam wadah Gerakan Mudo Minangkabau (GEMUMI) dan Aliansi Rumah Gadang Jabodetabek. Menonton film yang diperuntukkan bagi keluarga dan semua umur ini seru-seru gimana gitu deh... hahaa.... Antara ngerti sama ngga bahasanya, dan juga kebut-kebutan baca teks bahasa Indonesia sambil memperhatikan tingkah polah para pemerannya.

Kehadiran sutradara dan produser film tersebut di tengah-tengah acara nobar malam tadi cukup menambah keseruan dan kehangatan antar sesama anak rantau. Saya bukan anak rantau sih, apa lagi dari Sumatera Barat haha... tapi jangan salah, ada suami saya tercinta yang juga merupakan anak rantau, tapi dari Jawa Timur

Surau dan Silek dikemas dengan sangat apik, kuat budaya ranah minangnya, dalam satu film 90% dialognya dalam bahasa minang, namun jangan berkecil hati bagi yang tidak mengerti karena tersedia teks bahasa Indonesia di setiap ¬scenenya. So, bagi yang tertarik untuk menonton nanti nikmatilah setiap untaian dialognya.

Beberapa pesan moral yang saya tangkap dari film berdurasi kurang lebih 90 menit ini adalah mendalami kesenian silat sebagai kebudayaan Ranah Minang bukanlah untuk dipandang sebagai jagoan dan akhirnya menghancurkan teman, tetapi justru dari silat tersebut kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini tertuang dalam beberapa kali percakapan yang mengatakan “Lahia silek mencari kawan, batin silek mencari Tuhan”.

Hal positif lainnya yang juga saya dapatkan dari menonton film tersebut adalah tentang arti persahabatan, dimana 3 orang anak laki-laki yang bernama Adil, Dayat dan Kurip sangat support satu sama lain dalam berbagai hal kebaikan. Misalnya, Dayat selalu berusaha melerai pertikaian yang kerap terjadi antara Adil dengan Hardi. Selain itu, Kurip yang pandai pelajaran IPS tetap mendukung Dayat dan Adil yang akan bertanding silat sebagai satu tim, sekalipun Kurip harus terburu-buru menyelesaikan lomba mata pelajaran IPS di hari yang sama. Yang tidak kalah pentingnya adalah pribadi Adil yang menunjukkan sebagai anak soleh, dimana senantiasa membantu ibunya mencari uang melalui beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan, misalnya membantu seorang paman menangkap ikan, menjemur gabah dan lain sebagainya. Dari pekerjaan-pekerjaan tersebut Adil mendapatkan upah yang lantas ia berikan kepada sang ibu dengan tujuan membantu meringankan beban ibunya dalam melunasi hutang. Adil juga lebih memilih untuk bekerja ketimbang mengikuti kegiatan darmawisata yang diselenggarakan sekolahnya, begitu juga dengan Kurip dan Dayat yang semula memutuskan untuk ikut namun seketika mengurungkan niatnya dan memilih untuk menemani Adil bekerja.

Surau dan Silek (silat) adalah satu kesatuan yang harus dimiliki oleh setiap anak yang ingin belajar ilmu beladiri di nagari yang terkenal dengan Jam Gadangnya itu. 3 anak lelaki tersebut senantiasa ditanamkan energi positif oleh seorang kakek yang mengajarkannya silat, yaitu dalam bertanding tidak boleh curang, dan tentu saja sholat 5 waktu tak boleh ditinggalkan. Barang siapa melalaikan sholat 5 waktu maka ia tak dapat belajar silat dengan baik, hal ini dimaksudkan jangan bentengi diri dengan kemampuan bela diri saja yang datangnya dari luar, tetapi bentengi diri juga dengan iman yang baik diantaranya adalah selalu sholat 5 waktu.

Saya sebagai betawinese namun cinta berat sama Minang senang sekali menonton film ini haha.... Hamparan pemandangan hijau berbukit lembah nan berkelok kerap muncul sepanjang film berlangsung. Keren! Apalagi mendengarkan percakapan minang yang full dari awal hingga selesai, saya suka! Hahahaa..... Dan jangan salah, sebanyak-banyaknya orang yang ikut serta nonton bareng tadi malam adalah urang awak semuanya, so percakapan minang terdengar di sana sini secara live di telinga saya, seru!

Kerenlah Surau dan Silek ini!
Anyway, ini isi hati yang sebenernya ya, bukan karena saya pecinta Minang dan ngidam berat dipanggil uni, tapi film ini memang keren beneran!!!

Sebagai penutup, boleh lah ya lagi-lagi saya mohon izin kepada semua orang Minang, gue betawinese tapi plis panggil gw uni! Kenapa begitu cinta? Entahlah mungkin ini yang disebut dengan cinta tanpa syarat

(dnu, ditulis dikegelapan siang sambil makan siang, 3 Mei 2017, 12.06 WIB)