Wednesday, May 3, 2017

Nobar Surau dan Silek Bersama Gerakan Mudo Minangkabau dan Aliansi Rumah Gadang Jabodetabek

Selasa (2/5) Pk. 19.00 – 20.45 WIB bertempat di XXI Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat digelar acara nonton bareng (nobar) film garapan sutradara Arief Malinmundo yang berjudul Surau dan Silek. Film yang kental dengan nuansa Minang ini mengangkat kisah tentang 3 (tiga) orang anak laki-laki tingkat Sekolah... Dasar (SD) yang ingin memenangkan sebuah pertandingan silat. Rasanya cukup tepat penyelenggaraan nonton bareng ini dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang juga jatuh pada tannggal 2 Mei, karena satu kesatuan isi film tersebut menyampaikan pesan moral yang amat baik bagi siapa saja yang menontonnnya.

Malam itu bersama Uni Isma Apriana Uda Tedy Wiraseptya dan Uda Edwin Sholeh tentunya hahaha...., saya bergabung sesaat (walaupun malu-malu sih, susah ngeblend-nya karena gue betawi banget gituh hahaha....) dengan para komunitas Minang dalam wadah Gerakan Mudo Minangkabau (GEMUMI) dan Aliansi Rumah Gadang Jabodetabek. Menonton film yang diperuntukkan bagi keluarga dan semua umur ini seru-seru gimana gitu deh... hahaa.... Antara ngerti sama ngga bahasanya, dan juga kebut-kebutan baca teks bahasa Indonesia sambil memperhatikan tingkah polah para pemerannya.

Kehadiran sutradara dan produser film tersebut di tengah-tengah acara nobar malam tadi cukup menambah keseruan dan kehangatan antar sesama anak rantau. Saya bukan anak rantau sih, apa lagi dari Sumatera Barat haha... tapi jangan salah, ada suami saya tercinta yang juga merupakan anak rantau, tapi dari Jawa Timur

Surau dan Silek dikemas dengan sangat apik, kuat budaya ranah minangnya, dalam satu film 90% dialognya dalam bahasa minang, namun jangan berkecil hati bagi yang tidak mengerti karena tersedia teks bahasa Indonesia di setiap ¬scenenya. So, bagi yang tertarik untuk menonton nanti nikmatilah setiap untaian dialognya.

Beberapa pesan moral yang saya tangkap dari film berdurasi kurang lebih 90 menit ini adalah mendalami kesenian silat sebagai kebudayaan Ranah Minang bukanlah untuk dipandang sebagai jagoan dan akhirnya menghancurkan teman, tetapi justru dari silat tersebut kita mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini tertuang dalam beberapa kali percakapan yang mengatakan “Lahia silek mencari kawan, batin silek mencari Tuhan”.

Hal positif lainnya yang juga saya dapatkan dari menonton film tersebut adalah tentang arti persahabatan, dimana 3 orang anak laki-laki yang bernama Adil, Dayat dan Kurip sangat support satu sama lain dalam berbagai hal kebaikan. Misalnya, Dayat selalu berusaha melerai pertikaian yang kerap terjadi antara Adil dengan Hardi. Selain itu, Kurip yang pandai pelajaran IPS tetap mendukung Dayat dan Adil yang akan bertanding silat sebagai satu tim, sekalipun Kurip harus terburu-buru menyelesaikan lomba mata pelajaran IPS di hari yang sama. Yang tidak kalah pentingnya adalah pribadi Adil yang menunjukkan sebagai anak soleh, dimana senantiasa membantu ibunya mencari uang melalui beberapa pekerjaan yang harus dia lakukan, misalnya membantu seorang paman menangkap ikan, menjemur gabah dan lain sebagainya. Dari pekerjaan-pekerjaan tersebut Adil mendapatkan upah yang lantas ia berikan kepada sang ibu dengan tujuan membantu meringankan beban ibunya dalam melunasi hutang. Adil juga lebih memilih untuk bekerja ketimbang mengikuti kegiatan darmawisata yang diselenggarakan sekolahnya, begitu juga dengan Kurip dan Dayat yang semula memutuskan untuk ikut namun seketika mengurungkan niatnya dan memilih untuk menemani Adil bekerja.

Surau dan Silek (silat) adalah satu kesatuan yang harus dimiliki oleh setiap anak yang ingin belajar ilmu beladiri di nagari yang terkenal dengan Jam Gadangnya itu. 3 anak lelaki tersebut senantiasa ditanamkan energi positif oleh seorang kakek yang mengajarkannya silat, yaitu dalam bertanding tidak boleh curang, dan tentu saja sholat 5 waktu tak boleh ditinggalkan. Barang siapa melalaikan sholat 5 waktu maka ia tak dapat belajar silat dengan baik, hal ini dimaksudkan jangan bentengi diri dengan kemampuan bela diri saja yang datangnya dari luar, tetapi bentengi diri juga dengan iman yang baik diantaranya adalah selalu sholat 5 waktu.

Saya sebagai betawinese namun cinta berat sama Minang senang sekali menonton film ini haha.... Hamparan pemandangan hijau berbukit lembah nan berkelok kerap muncul sepanjang film berlangsung. Keren! Apalagi mendengarkan percakapan minang yang full dari awal hingga selesai, saya suka! Hahahaa..... Dan jangan salah, sebanyak-banyaknya orang yang ikut serta nonton bareng tadi malam adalah urang awak semuanya, so percakapan minang terdengar di sana sini secara live di telinga saya, seru!

Kerenlah Surau dan Silek ini!
Anyway, ini isi hati yang sebenernya ya, bukan karena saya pecinta Minang dan ngidam berat dipanggil uni, tapi film ini memang keren beneran!!!

Sebagai penutup, boleh lah ya lagi-lagi saya mohon izin kepada semua orang Minang, gue betawinese tapi plis panggil gw uni! Kenapa begitu cinta? Entahlah mungkin ini yang disebut dengan cinta tanpa syarat

(dnu, ditulis dikegelapan siang sambil makan siang, 3 Mei 2017, 12.06 WIB)