Wednesday, June 7, 2017

PEMENANG GIVE AWAY_BERBAGI BUKU

Pemenang GIVEAWAY program Berbagi Buku "BERBAGI CINTA DI 4 KOTA"
.
#1
.
Mbak Hardiani Ardin di Makassar, Sulawesi Selatan.... !!! 😘😍...
.
Tengkyu ya Mba udah ikutan giveaway ini.... semoga bukunya bermanfaat.... dan semoga cita-cita bersama suami tercinta dapat tercapai serta berjalan dalam lindungan cinta dan kasih dari Allah SWT 😇
.
Happy reading Mbak Cantiiiikkkk.... 😘😘😘
.
#DNU




Pentingnya Bersyukur Setiap Waktu_#Ramadhan_10

Tubuh-tubuh mungil itu beradu cepat mengangkat jari telunjuknya jauh tinggi di atas kepala saat saya bertanya "siapa yang puasa hari ini...?". Sambil berteriak "sayaaaa......" jawab mereka seakan ingin unjuk kebolehan kekuatan ibadahnya hari itu (4/6).
....
Namanya Bagus, mengenakan baju muslim putih-putih, begitu semangat bercerita kepada temannya yakni ; "Kalo kamu haus mendingan mandi aja nanti adem deh....." dengan mimiknya yang lucu.
.
Mereka telah mengerti makna berpuasa yang paling dasar, minimal paham bahwa sebagai umat islam yang berbadan sehat wajib baginya berpuasa, juga telah paham bagaimana cara ala anak-anak untuk menghalau rasa haus dan lapar.
.
Pesan moral yang saya selipkan dalam dongeng di sore yang sendu itu adalah tentang pentingnya bersyukur. Walaupun mereka kini hidup dalam keluarga yang pas-pasan namun harus selalu diingat bahwa masih ada teman-teman lainnya yang jauh lebih susah lagi. Seorang anak yang harus jadi pemulung misalnya, di mana ia harus bekerja sepanjang hari demi mencari barang-barang bekas, lalu di jual untuk mendapatkan sejumlah rupiah. Dalam cerita pendek itu juga saya kisahkan, pemulung tersebut berpuasa setiap hari, tidak hanya di bulan Ramadhan, salah satu alasannya adalah karena ia tak mempunyai cukup makanan untuk disantapnya pada pagi, siang dan malam. Itulah mengapa kita harus senantiasa bersyukur masih bisa makan setiap hari, makan enak, minum enak dan bisa menikmati hari-hari tanpa harus bekerja sejak dini.
.
Bersyukurlah masih punya orang tua, masih bisa bermanja-manja sama mama atau papa, walau hidup seadanya. Bentuk syukurnya apa? Mentaati perintah Allah SWT dan tentu saja menjauhi larangan Allah SWT.
.
Ngabuburit kali ini begitu seru, karena bisa berkumpul bersama mereka, anak-anak luar biasa, putra putri dari orang tua yang bekerja seadanya, rata-rata di pasar Asemka, Kota Tua, Jakarta Barat.
.
(dnu, ditulis sambil ngabuburit sama Rindu dan Arjuna di tukang es kelapa yang begitu menggoda, 5 Juni 2017, 17.20 WIB)


Bersama Mereka di Kota Tua - #Ramadhan_9

Ruangan ini dilengkapi pendingin seadanya, hanya terdapat 2 kipas angin yang berputar sempurna demi memberikan efek sejuk di tengah panasnya Ibu Kota. Ini adalah aula Musium Bank Mandiri yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta. Sebuah ruang dalam bangunan lama yang dimanfaatkan oleh para relawan Sahabat Anak Kota Tua untuk mengajak anak-anak yang hidup dalam garis seadanya bermain sambil belajar, rutin setiap minggunya....

Me and my husband are here right now.

Panas, sedikit sirkulasi udara, cuaca di luar juga amat terik, namun di tengah kondisi yang begitu nikmat ini puluhan adik-adik binaan Sahabat Anak Kota Tua semangat belajar mengaji, mulai dari Iqra hingga Al Quran. Nampaknya mereka lupa dengan rasa panas, haus dan lapar, yang ada hanya gembira.

Semuanya semangat, tidak terdengar keluh kesah ataupun erangan ingin pulang. Padahal mereka belajar di tempat yang sangat seadanya ini. Mereka belajar di lantai, ada yang duduk sambil kipas-kipas, ada yang tengkurap dan ada juga yang sambil bersandar.

Bersyukurlah adik-adik lain yang memiliki kesempatan belajar di ruangan berpendingin (AC), bersyukurlah yang bisa belajar diatas kursi dan meja yang baik, dan bersyukurlah para orang tua yang mampu memberikan arena belajar yang begitu nyaman bagi anak-anaknya.

Semuanya semangat.

Mereka berlarian ke sana ke mari hingga telapak kaki menjadi hitam akibat lantai yang seadanya, bermain putar-putaran kursi rusak namun mereka begitu bahagia. Tapi apapun keadaannya saya yang saat ini ada di sini dan mereka yang saat ini juga ada di sini patut bersyukur, karena masih ada tempat untuk bermain sambil belajar, yang beratap hingga kita tak kehujanan. Juga bersyukur masih banyak kakak-kakak baik yang dengan suka rela penuh cinta mengajar adik-adiknya mengaji, juga pelajaran lainnya.

Siang ini saya belajar, bahwa hidup bukan tentang diri sendiri saja. Mari berbagi dan mari mensyukuri.

(dnu, ditulis sambil memandang keriuhan yang mengharukan, 4 Juni 2017, 15.12 WIB)




 

Saturday, June 3, 2017

Jadilah yang Menyejahterakan Masjid #Ramadhan_8

Sabtu (3/6) malam kita telah memasuki malam tarawih ke 9 di bulan Ramadhan 1438 H. Semoga tidak banyak ya masjid-masjid yang barisan shaf shalatnya sudah mulai mengalami kemajuan, alias shafnya hanya ada beberapa barisan saja di depan. Rumah Allah SWT begitu sepi pengunjung menjelang pertengahan Ramadhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh para muslimin dan muslimat yang memiliki kesibukan sendiri-sendiri sehingga melaksanakan tarawihnya di rumah saja. Misalnya karena pulang bekerja yang sudah larut malam atau adanya kepentingan di rumah yang harus segera diselesaikan.

Selain alasan tersebut semoga tidak ada alasan karena sibuk menghadiri undangan buka puasa bersama ya, sehingga tidak sempat tarawih berjamaah di masjid. Jika saat berbuka puasa bersama lantas terdengar adzan isya kita berbondong-bondong bersama para sahabat bergerak ke masjid untuk shalat berjamaah terasa begitu indah. Namun jika memang tidak bisa dilakukan atau harus berjamaah di ruangan dekat lokasi buka puasa bersama ya dapat dimaklumkan, yang penting esensi ibadah Ramadhannya tetap dilaksanakan.

Masjid-masjid di lingkungan tempat tinggal kita tentu menunggu kehadiran masyarakatnya untuk bersama-sama beribadah. Dengan ibadah yang dilakukan berjamaah maka secara tidak langsung kita telah turut menyejahterakan rumah ibadah kita sekaligus mensyiarkan islam dalam balutan nuansa Ramadhan yang meriah dalam kedamaian.

Ramai-­ramai shalat ke masjid yuk!

(dnu, ditulis sambil pegel-pegel gitu lehernyaaa….., 3 Juni 2017, 22.14 WIB)

Friday, June 2, 2017

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar

Ramadhan Kareem, Rejeki Tidak Akan Pernah Tertukar
#Ramadhan_7

Geliat penjual berbagai macam makanan dan minuman kian terasa saat memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Hampir di setiap daerah mulai jam 3 sore para pedagang mulai menggelar lapaknya masing-masing. Kebanyakan mereka menjual takjil yang murah meriah dan cukup menggugah selera untuk disantap saat waktu berbuka puasa.

Satu pelajaran berharga dari pemandangan biasa yang kerap terjadi di bulan suci ini adalah setiap pedagang telah memiliki pelanggan sendiri-sendiri. Coba saja perhatikan walaupun antar sebelah lapak sama-sama menjual es buah tapi para penjual tersebut memiliki rezekinya masing-masing, ada saja yang membeli. Bahkan bisa dikatakan, menjual makanan apa pun menjelang waktu berbuka bisa jadi para penjual tersebut akan pulang ke rumahnya dengan senyum yang sumringah, karena seluruh dagangannya habis terjual. Apakah antar penjual takjil pernah dilanda keributan karena menjual barang yang sama? Saya sih belum pernah mendengarnya ya, dan hal ini erat kaitannya dengan kepercayaan mereka yang begitu kuat pada rezeki.

Rejeki tidak akan tertukar, selama kita berusaha menjemputnya dengan cara yang halal InsyaAllah apa yang menjadi hak akan kembali kepada pemiliknya, dengan catatan si pemilik telah menunaikan kewajiban-kewajiban yang Allah SWT perintahkan. Bayangkan saja, apakah pantas kita memohon agar diberikan rezeki yang murah dan halal oleh Allah SWT namun tidak satu pun dari sekian banyak kewajiban kita tunaikan?

Lakukan apa yang menjadi kewajiban kita maka selanjutnya kita boleh bersuka hati menunggu apa yang menjadi hak kita, karena sesungguhnya rezeki tidak akan pernah tertukar. Lantas jika kita merasa masih kurang saja terhadap rezeki yang Allah SWT limpahkan, mungkin rasa bersyukurnya yang perlu ditingkatkan, serta mungkin ada kewajiban-kewajiban yang belum kita tunaikan.

(dnu, ditulis sambil mbayangin besok masuk kuliah pagi amaaatt yaakkk...., 2 Juni 2017, 21.23 WIB)