Sunday, September 24, 2017

Potret Persaingan Bisnis Masakan ala Jepang, Head To Head


Hari itu (24/9) kurang lebih pukul 17.00 WIB saya bersama keluarga menikmati makan sore di sebuah restoran yang menyajikan masakan ala Jepang yaitu Ichiban Sushi, yang terletak di Plaza Pondok Gede. Suasana sore yang sempat diguyur hujan walau sesaat itu cukup sejuk, dan rasanya cocok sekali jika perut ini diisi dengan makanan yang hangat namun tetap sarat nutrisi. Tidak butuh waktu lama kami memutuskan untuk makan di resto yang belum lama berdiri di mall ini. Sambil menunggu pesanan datang mulailah pikiran saya melanglang buana yang tentu saja tetap seputar suasana di mana saat itu saya berada.

Sambil duduk, jari jemari tidak memainkan tuts telepon genggam, mata mulai berputar. Tengok kanan dan kiri ternyata persis di sebelah resto Ichiban Sushi ini terdapat resto ala Jepang lainnya yaitu Gokana Ramen dan Teppan, yang juga merupakan tempat biasa saya menikmati masakan ala Jepang. Inilah potret bisnis yang saat ini tidak lagi mengenal lokasi, distribusi, apalagi gengsi. Bagi resto Ichiban Sushi yang baru saja bergabung di mall tersebut mungkin tidak membutuhkan modal promosi yang tinggi untuk menarik banyak pelanggan, pasalnya resto ini telah memiliki nama besar yang cukup dikenal sebagai resto masakan Jepang yang tak lagi perlu diragukan.

Ichiban Sushi memang tergolong resto masakan Jepang papan atas yang mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan. Sajian sushinya yang khas memang mampu mengingatkan akan negeri sakura bagi siapa saja yang menyantapnya Tidak hanya itu, resto ini juga menyajikan banyak varian masakan ikan yang juga menjadi makanan khasnya para penduduk asli Jepang. Keunikan jenis makanannya memang begitu terasa, nampaknya Ichiban Sushi ingin menarik konsumen yang memang menyukai masakan Jepang, mengagumi negara Jepang, atapun menyukai kebudayaan Jepang.

Nuansa area makan di resto ini juga dibuat sedemikian rupa agar menyerupai jajaran rumah makan yang asli Jepang, kekentalannya memang kurang terasa mungkin pengelola resto tetap ingin menyesuaikan dengan kebiasaan dan budaya masyarakat kota Jakarta. Sajian minum yang disediakan juga tetap mengusung unsur Jepang, yaitu dengan teh ocha-nya yang dibuat mirip seperti aslinya.

Hampir sama dengan resto ala Jepang yang ada di sebelah Ichiban Sushi yaitu Gokana Ramen dan Teppan. Dengan suara sapaan sang pelayan kepada setiap pengunjung mall yang lewat, resto ini berusaha melakukan teknik promosi yang berbeda. Menyapa setiap orang yang lewat adalah cara-cara yang cukup ampuh untuk membuat pengunjung mengetahui adanya resto ala Jepang ini dan harapan lebih jauhnya adalah keputusan pengunjung untuk makan siang, sore atau malamnya di sini. Sebuah strategi promosi yang berbeda, namun sah-sah saja untuk dilakukannya, karena setiap bentuk usaha bebas melakukan proses pemasaran produknya melalui cara-cara apa saja, dengan catatan tidak mengganggu para calon konsumennya.

Gokana Ramen dan Teppan yang mengusung makanan khas Jepang melalui Mi Ramen memang terlihat cukup berhasil menarik banyak pengunjung. Sebagai resto ala Jepang yang juga telah memiliki nama besar, tidak sulit bagi manajemen pengelola untuk menaikkan omsetnya. Telah terdapat kemiripian kesenangan masyarakat Jakarta dengan sajian khas resto Gokana, yaitu terletak pada masakan mi kuahnya. Di mana telah diketahui secara umum banyak sekali penikmat mi instan yang bagi sebagian orang dijadikan makanan utama saking candunya, namun bagi sebagian lainnya dijadikan makanan andalan saat hujan menyapa. Gokana Ramen dan Teppan telah berada pada posisi yang tepat dalam sajian masakan mi ramennya, walau dimasak ala-ala Jepang namun kesukaan pada produk mi sedikitnya telah mampu menarik minat para pengunjung.

Sebuah diferensiasi atau keunikan mutlak diperlukan dalam sebuah bisnis, bidang apapun itu, terlebih lagi dalam bidang makanan dan minuman. Rasa yang enak dan bentuk yang menarik saja saat ini tidak menjadi satu-satunya ukuran bagi konsumen agar memutuskan untuk membelinya, namun dibutuhkan juga keunikan-keunikan lain yang jarang dimiliki oleh pelaku bisnis sejenis. Dalam bisnis makanan dan minuman misalnya dibutuhkan inovasi baru, misalnya terdapat beragam rasa yang berbeda dalam satu jenis roti sehingga setiap kali menggigit akan ada sensasi yang tak sama, atau terdapat campuran buah-buahan yang segar dalam sebuah minuman kopi misalnya Kopi Nikmat dengan Potongan Mangga Segar, atau sajian bentuk donat yang tidak bolong apalagi bulat namun kotak menyerupai dadu. Mungkin terdengar aneh dan tidak biasa, tapi justru yang tidak biasa itulah yang semakin hari makin perlu dikembangkan oleh para pelaku bisnis di manapun berada.

Karakter manusia yang cepat bosan bisa dijadikan patokan yakni dalam melakukan suatu usaha tentu harus melahirkan sesuatu yang baru terus menerus dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Keinginan untuk mencoba hal-hal baru juga perlu diperhatikan, contoh bagi sebuah makanan mungkin rasanya sama saja, namun setiap pergantian bulan bisa saja disajikan dalam bentuk yang berbeda agar lebih menarik, dan semata-mata hanya sekadar untuk mengantisipasi rasa bosan para pelanggan.

Ichiban Sushi dan Gokana Ramen tentu telah memiliki keunikannya sendiri-sendiri, sehingga yang perlu dilakukan agar bisa terus menanjak pendapatannya adalah dengan melakukan inovasi-inovasi tiada henti, agar siapapun yang melintasi resto ini tidak hanya menoleh namun memutuskan untuk makan dan berakhir pekan di sini.

(dnu, ditulis sambil nonton ILC di TV One, 24 September 2017, 24.09 WIB)

Setiap Gurauan Ada Aturannya


Sebagai manusia biasa tentu saya juga memiliki kebutuhan dasar sama seperti yang lainnya yaitu mendapatkan hiburan, selain kesehatan tentunya. Banyak cara bisa dilakukan agar bisa mendapatkan hiburan atau kesenangan, mulai dari aktifitas yang paling sederhana dengan menonton televisi (TV) ataupun pergi ke tempat-tempat rekreasi. Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hiburan tersebut akhir-akhir ini saya menggantungkan diri pada salah satu tayangan TV di malam hari, yaitu Stand Up Comedy Academy (SUCA) 3. Hampir setiap malam saya kerap mengatur beberapa aktifitas yang dikelompokkan berdasarkan jam setertib mungkin agar tidak berbenturan dengan waktu penayangan SUCA 3.

Di awal penayangan hingga beberapa episode berikutnya saya masih sangat menikmati dan benar-benar terhibur, namun tidak dengan beberapa tayangan terakhir ini. Terdapat olok-olokan yang berlebihan di sana sehingga membuat saya gerah mata, entah apakah hanya saya atau juga bagi sebagian penonton lainnya. Olok-olokan yang saya maksud adalah gurauan yang ditujukan kepada salah satu juri yaitu Jarwo Kuwat, atau akrab disapa Pak Jarwo.

Pak Jarwo yang lucu memang seringkali menjadi objek gurauan, cara-cara beliau dalam menanggapi gurauan yang dilontarkan pengisi acara lainnya juga amat menyita perhatian. Gerak gerik beliau yang lucu, jawaban-jawaban spontan beliau yang terdengar seru juga menarik perhatian saya selaku penonton setianya. Namun seperti yang saya sampaikan di atas bahwa akhir-akhir ini gurauan terhadap beliau saya anggap telah berlebihan dan mengarah pada sikap yang tidak sopan. Boleh dikatakan tidak sopan karena beliau adalah orang yang lebih tua dari pengisi acara lain sang pelempar olokan, atau juga lebih tua dari para penonton yang ikut menertawakan. Tidak sopan juga dalam pembuatan isi bahan olokan yang berurusan pada takdir Tuhan. Ya, sering sekali Pak Jarwo diolok-olok tentang kematian.

Pembaca yang baik hatinya, apakah olok-olokan yang seperti ini dan digulirkan terus menerus sambil tertawa puas termasuk dalam sikap yang sopan? Apakah gurauan seperti ini layak untuk dipertontonkan? Apakah gurauan yang disaksikan ribuan pasang mata patut untuk kita ikut tertawakan? Apakah seorang tua layaknya Pak Jarwo pantas diolok-olok sedemikian rupa dalam hal kematian? Apakah lupa setiap ucapan adalah doa? Bagaimana dengan ucapan senda gurau yang dilontarkan untuk Pak Jarwo? Hati-hati, sekali lagi ucapan adalah doa. Pantaskah kita mendoakan agar orang lain segera menghadap Sang Pencipta lantas kita tertawa-tawa dalam tubuh yang sangat banayk dosa? Apakah sudah tidak ada lagi bahan bercanda yang lainnya hingga urusan liang lahat pun menjadi sajian yang tampak begitu niikmat.

Saya sih kasihan sama Pak Jarwo, lama-lama saya prihatin mengapa tayangan yang awalnya saya anggap sangat ciamik dalam memberikan suatu pelajaran dalam berkomedi yang baik, tapi justru diselipkan guyonan-guyonan yang amat menyedihkan. Saya tidak sedang ingin mengkampanyekan hastag Save Pak Jarwo, tapi saya hanya berharap banyak hati yang terbuka untuk segera menganalisan bahwa masalah kematian tidak pantas untuk dijadikan suatu gurauan. Bukan hanya karena Pak Jarwo telah memasuki usia paruh baya, namun juga karena dalam setiap tindakan yang namanya etika sangat perlu digunakan.

Tanpa gurauan tersebut sebenarnya tayangannya sangat menghibur, namun jika disisipkan gurauan kematian maka berubah menjadi hiburan yang memiriskan. Di mana pernah ada yang bergurau dengan membawakan sekantong bunga untuk Pak Jarwo yang umumnya bunga tersebut ditabur di pemakaman, hingga gurauan ini juga dijadikan sebagai materi andalan sang komedian. Miris. Apakah sudah tidak ada lagi materi menarik lainnya? Apakah sudah tidak ada lagi materi yang mampu membangkitkan tawa dan tepukan tangan penonton hingga salah kaprah dan lagi-lagi menyasar Pak Jarwo sebagai korban lawakan? Kasihan Pak Jarwo, kasihan keluarga Pak Jarwo yang menonton. Kasihan istrinya Pak Jarwo, kasihan anaknya Pak Jarwo, dan kasihan seluruh keluarga besarnya Pak Jarwo.

Mari bersama-sama kita bersikap lebih sopan dalam segala hal, dalam hubungan pertemanan maupun beraksi dalam sebuah tayangan. Karena setiap rasa ada batasnya, dan setiap bercanda tentu ada aturannya.

 

(dnu, ditulis sambil makan ikan gurame pake sambel terasi, 23 September 2017, 21.42 WIB).