Sunday, September 24, 2017

Setiap Gurauan Ada Aturannya


Sebagai manusia biasa tentu saya juga memiliki kebutuhan dasar sama seperti yang lainnya yaitu mendapatkan hiburan, selain kesehatan tentunya. Banyak cara bisa dilakukan agar bisa mendapatkan hiburan atau kesenangan, mulai dari aktifitas yang paling sederhana dengan menonton televisi (TV) ataupun pergi ke tempat-tempat rekreasi. Untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hiburan tersebut akhir-akhir ini saya menggantungkan diri pada salah satu tayangan TV di malam hari, yaitu Stand Up Comedy Academy (SUCA) 3. Hampir setiap malam saya kerap mengatur beberapa aktifitas yang dikelompokkan berdasarkan jam setertib mungkin agar tidak berbenturan dengan waktu penayangan SUCA 3.

Di awal penayangan hingga beberapa episode berikutnya saya masih sangat menikmati dan benar-benar terhibur, namun tidak dengan beberapa tayangan terakhir ini. Terdapat olok-olokan yang berlebihan di sana sehingga membuat saya gerah mata, entah apakah hanya saya atau juga bagi sebagian penonton lainnya. Olok-olokan yang saya maksud adalah gurauan yang ditujukan kepada salah satu juri yaitu Jarwo Kuwat, atau akrab disapa Pak Jarwo.

Pak Jarwo yang lucu memang seringkali menjadi objek gurauan, cara-cara beliau dalam menanggapi gurauan yang dilontarkan pengisi acara lainnya juga amat menyita perhatian. Gerak gerik beliau yang lucu, jawaban-jawaban spontan beliau yang terdengar seru juga menarik perhatian saya selaku penonton setianya. Namun seperti yang saya sampaikan di atas bahwa akhir-akhir ini gurauan terhadap beliau saya anggap telah berlebihan dan mengarah pada sikap yang tidak sopan. Boleh dikatakan tidak sopan karena beliau adalah orang yang lebih tua dari pengisi acara lain sang pelempar olokan, atau juga lebih tua dari para penonton yang ikut menertawakan. Tidak sopan juga dalam pembuatan isi bahan olokan yang berurusan pada takdir Tuhan. Ya, sering sekali Pak Jarwo diolok-olok tentang kematian.

Pembaca yang baik hatinya, apakah olok-olokan yang seperti ini dan digulirkan terus menerus sambil tertawa puas termasuk dalam sikap yang sopan? Apakah gurauan seperti ini layak untuk dipertontonkan? Apakah gurauan yang disaksikan ribuan pasang mata patut untuk kita ikut tertawakan? Apakah seorang tua layaknya Pak Jarwo pantas diolok-olok sedemikian rupa dalam hal kematian? Apakah lupa setiap ucapan adalah doa? Bagaimana dengan ucapan senda gurau yang dilontarkan untuk Pak Jarwo? Hati-hati, sekali lagi ucapan adalah doa. Pantaskah kita mendoakan agar orang lain segera menghadap Sang Pencipta lantas kita tertawa-tawa dalam tubuh yang sangat banayk dosa? Apakah sudah tidak ada lagi bahan bercanda yang lainnya hingga urusan liang lahat pun menjadi sajian yang tampak begitu niikmat.

Saya sih kasihan sama Pak Jarwo, lama-lama saya prihatin mengapa tayangan yang awalnya saya anggap sangat ciamik dalam memberikan suatu pelajaran dalam berkomedi yang baik, tapi justru diselipkan guyonan-guyonan yang amat menyedihkan. Saya tidak sedang ingin mengkampanyekan hastag Save Pak Jarwo, tapi saya hanya berharap banyak hati yang terbuka untuk segera menganalisan bahwa masalah kematian tidak pantas untuk dijadikan suatu gurauan. Bukan hanya karena Pak Jarwo telah memasuki usia paruh baya, namun juga karena dalam setiap tindakan yang namanya etika sangat perlu digunakan.

Tanpa gurauan tersebut sebenarnya tayangannya sangat menghibur, namun jika disisipkan gurauan kematian maka berubah menjadi hiburan yang memiriskan. Di mana pernah ada yang bergurau dengan membawakan sekantong bunga untuk Pak Jarwo yang umumnya bunga tersebut ditabur di pemakaman, hingga gurauan ini juga dijadikan sebagai materi andalan sang komedian. Miris. Apakah sudah tidak ada lagi materi menarik lainnya? Apakah sudah tidak ada lagi materi yang mampu membangkitkan tawa dan tepukan tangan penonton hingga salah kaprah dan lagi-lagi menyasar Pak Jarwo sebagai korban lawakan? Kasihan Pak Jarwo, kasihan keluarga Pak Jarwo yang menonton. Kasihan istrinya Pak Jarwo, kasihan anaknya Pak Jarwo, dan kasihan seluruh keluarga besarnya Pak Jarwo.

Mari bersama-sama kita bersikap lebih sopan dalam segala hal, dalam hubungan pertemanan maupun beraksi dalam sebuah tayangan. Karena setiap rasa ada batasnya, dan setiap bercanda tentu ada aturannya.

 

(dnu, ditulis sambil makan ikan gurame pake sambel terasi, 23 September 2017, 21.42 WIB).