Thursday, November 2, 2017

Mama, Stop Sebut Anak "Tengil" atau Sejenisnya

Kadang terheran-heran dengan para orang tua khususnya Mama yang kerap kali mengungkapkan kegemasan pada sang buah hati menggunakan kata-kata yang tidak sebagaimana mestinya. Umumnya ungkapan ini ditujukan kepada anak-anak yang berusia lima tahun ke bawah, di mana rentang usia ini adalah masa pertumbuhan anak yang tampak sedang lucu-lucunya. Selain karena lucunya tingkah dan polah anak, ungkapan yang salah ini juga dilontarkan atas kepintaran anak.



Sebenarnya sah-sah saja orang tua memberikan pujian atau apresiasi atas rasa puas orang tua terhadap yang dilakukan oleh anaknya, namun tetap saja harus berada dalam koridor pujian yang benar terlebih penggunaan kata-katanya. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar bahwa setiap ucapan adalah doa, di mana atas ucapan tersebut kita berharap anak menjadi seperti apa yang kita sampaikan. Tidak salah jika kita memang harus selalu berkata yang baik-baik, karena jika Tuhan berkehendak maka akan jadilah seperti apa yang kita inginkan melalui ucapan.



Berapa kali pembaca yang baik hati mendengar ungkapan kegemasan sang mama “aduh nih anak tengil banget gayanya...” atau, “ya ampun nih tuyul satu ngga ada diemnya dari tadi...”. Mungkin juga pernah dengar ungkapan sejenis “uuhh... burung beonya mama pinter banget ngomongnya...”, atau bahkan “nih anak kayak kalong aja siang maen eh malemnya tidur...”.



Guys, apakah anda turut bersedih membacanya? Bagaimana jika anda mendengarnya langsung yang terucap dari mulut manis sang mama? Yang dikagumi ini anak sendiri, anak yang dikandung di rahim sendiri, anak yang diharapkan kehadirannya, anak yang dinantikan kelahirannya, dan bahkan anak yang diberi nama begitu indah dan panjangnya bagai gerbong kereta. Lantas setelah ia lahir ke dunia, tumbuh besar, bertubuh bulat lucu, mulai pandai mengeluarkan suara sepatah dua patah kata, mulai rajin tersenyum, mulai senang bermain, mulai senang berlari... tanpa pikir panjang mama sebut dia si tengil, si tuyul atau si burung beo. Apa maksudnya mama?



Apakah mama lupa berapa lama mama bertapa untuk menemukan kata per kata yang amat baik artinya namun begitu rumit di telinga, namun begitu anak mama lahir justru sebutan-sebutan tak elok mama berikan. Adik bayi itu anak mama kan?



Ketika menyebut kata tengil mungkin maksud mama keren gayanya. Ketinya menyebut kata tuyul mungkin maksud mama lucu kepalanya, dan ketika menyebut kata burung beo, mungkin maksud mama ceriwis. Tapi coba sekali lagi diresapi sambil menyebutkannya, miris toh ma?



Bukankah lebih indah didengar dan diartikan jika menyebut anak kita dengan kata “aduh si tuan putri cantik amat nih habis mandii...”, atau “wah jagoan mama udah pinter nih merambatnya....”. Mungkin bisa juga menyebutnya seperti “pinter banget nih anak mama ngomongnya... ceriwis deh....”. Dan tentu masih banyak ungkapan-ungkapan lain yang nada dan artinya masih positif. Kita menginginkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri dan berbudi pekerti baik bukan? Dengan demikian maka ungkapan-ungkapan positiflah yang wajib selalu diperdengarkan di telinga mereka.



Anak akan merekam apa yang pernah dikatakan kepadanya, tidak pandang bulu ungkapan positif ataupun negatif. Tumbuh kembang mereka juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidiknya. Oleh karena itu perdengarkanlah kalimat-kalimat yang baik, yang dapat memberikan energi positif bagi kelangsungan hidup mereka.



Mama menginginkan anak-anak yang percaya diri dan selalu melakukan hal-hal yang terpuji bukan?

Mulai sekarng yuk kita ubah ungkapan-ungkapan kegemasan dengan kata-kata yang lebih bijak dan indah didengar.



(dnu, ditulis sambil makan rengginang bantet karena digoreng ketika minyaknya belum panas haha..., 2 November 2017, 19.21 WIB)