Sunday, December 3, 2017

Haruskah Bekerja Bersama hati?


Seperti lirik lagu yang dibawakan oleh Fourtwnty yang berjudul Zona Nyaman, yaitu “sembilu yang dulu biarlah berlalu, bekerja bersama hati kita ini insan bukan seekor sapi...”. Relevankah pernyataan ini dengan kondisi zaman now? Di mana pertumbuhan ekonomi semakin pesat yang menyebabkan kompetisi kehidupan antar keluarga juga semakin kuat? Ketika semakin banyak pelajar-pelajar yang telah menyelesaikan masa studinya baik dari sekolah menengah maupun perguruan tinggi, ini berarti muda mudi yang tergolong dalam usia produktif semakin banyak bermunculan, lalu apakah kenyataan ini seimbang dengan semakin banyaknya lapangan pekerjaan yang tersedia? Belum tentu.



Keadaan yang belum tentu ini menyebabkan orang-orang yang berada dalam usia produktif, yang juga tengah bersemangat untuk bekerja demi menghidupi diri dan keluarganya, terbagi menjadi dua golongan. Pertama golongan idealis yang menginginkan pekerjaan sesuai dengan passion atau gairahnya, dan juga terdapat golongan yang bekerja apa saja asal halal dan bisa menghasilkan uang. Kamu termasuk dalam golongan apa? Seseorang yang termasuk dalam golongan apapun tentu memiliki latar belakang alasan masing-masing, dan terkait alasan ini tidak seorang pun dapat menghakimi dan memberikan anggapan tepat atau tidak tepat.



Golongan pertama, seseorang yang idealis atau memilih untuk melakoni suatu pekerjaan hanya yang sesuai dengan passion atau kesenangannya saja. Golongan ini tidak hanya terdapat pada generasi yang lahir sekitar mulai tahun 1980 sampai dengan sekitar tahun 1995 atau biasa disebut dengan Generasi Y (Gen Y), serta generasi yang lahir mulai tahun 1995 sampai dengan sekitar tahun 2014 atau biasa disebut dengan generasi z (Gen Z), tetapi juga pada generasi terdahulu atau baby boomers.



Gen Y dan Gen Z memang lebih selektif dalam memilih pekerjaan selepas ia menyelesaikan masa studinya, mereka lebih tertarik dengan pekerjaan yang terlihat keren dan memiliki room for growth yang tinggi untuk mengaktualisasikan dirinya. Bahkan hampir terlihat Gen Z ini tidak menempatkan pendapatan bulanan sebagai prioritasnya, namun justru kenyamanan lingkungan dan kecocokan tipe pekerjaan yang akan dibelanya habis-habisan. Dapat dikatakan bahwa Gen Z adalah generasi idealis yang memilah dengan amat cermat pekerjaan apa yang akan ia lamar, jika tidak sesuai maka dengan mudah akan ditinggalkannya.



Generasi ini memang ingin benar-benar bekerja sesuai dengan yang diminatinya, dan jika sudah berada dalam organisasi yang tepat maka ia akan bekerja dengan sepenuh hati. Dengan menyertakan seluruh hatinya maka mereka bukan lagi bekerja melainkan berkarya, karena apa yang dilakukannya sehari-hari sangat ia sukai dan sangat ingin ia hasilkan sebuah karya terbaik atas kesukaannya tersebut.



Terlihat cukup idealis di tengah pergulatan hidup yang begitu keras terlebih di kota-kota besar di Indonesia. Bisa jadi banyak yang berpendapat di zaman sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan, maka apa yang ada di depan mata maka terimalah. Bagi sebagian orang petuah bijak ini tentu ada benarnya, tetapi bagi sebagian lainnya bisa jadi bekerja dengan hati adalah tidak hanya benar tetapi juga amat baik adanya.



Golongan ke dua yaitu sekelompok orang yang membuka seluruh hatinya untuk pekerjaan apapun asalkan halal dan dapat menghasilkan cukup uang. Berangkat dari kebutuhan hidup yang kian hari kian meningkat, seakan tak ada ampun bagi siapa saja yang bermalas-malasan dan cenderung pemilih terhadap pekerjaan. Sebenarnya golongan ini juga termasuk golongan orang-orang yang memiliki passion atau hobi tersendiri, namun dikarenakan beban hidup yang tidak bisa dipungkiri maka kelompok ini memilih jalur yang lain dan sementara mengesampingkan apa yang menjadi hobinya.



Dengan alasannya sendiri misalnya perlu menghasilkan uang dalam jumlah tertentu setiap bulannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, support keluarga, ataupu menyelesaikan studi yang dilakoninya sambil bekerja, orang-orang yang berada dalam kondisi tersebut akan menjalankan pekerjaan apapun asalkan dapat dilakukannya, halal dan dapat memberinya pendapatan yang pasti setiap bulannya. Lantas apakah golongan seperti ini tetap dapat bekerja dengan hati karena apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari dapat dikatakan tidak sesuai dengan minatnya? Tentu saja iya, namun bisa jadi kadarnya tidak sebesar yang bekerja sesuai minatnya. Lalu apakah dapat dibina agar yang seperti ini menyukai apa yang dikerjakannya, hingga ia tak lagi bekerja melainkan berkarya untuk perusahaannya dengan hati? Tentu saja bisa. Dengan menjalankannya setiap hari, mengerti apa tujuan dari pekerjaannya tersebut, mengapa ia herus melakukannya, maka kelak akan tumbuh tanggung jawab yang lebih besar hingga ingin menyelesaikannya dengan hasil yang di atas standar, bahkan tidak hanya demi pendapatan yang diberikan setiap bulannya.



Terdapat dalam generasi apakah golongan ke dua ini? Apakah generasi baby bomers? Mungkin saja, mengingat orang-orang terdahulu, yang lahir sebelum tahun 1980, mereka memiliki pemikiran yang berbeda dengan generasi setelahnya. Diantaranya adalah pemikiran tentang bagaimana kita dapat bertahan hidup, atau apa yang harus kita lakukan agar dapat bertahan hidup? Dengan pemikiran seperti ini maka lazim adanya mereka akan mengerjakan apapun dengan proyeksi hasil yang baik sekalipun tidak sesuai dengan hobi atau kesukaannya, karena yang mendominasi pemikirannya adalah bagaimana kehidupan saya dan kelaurga dapat terus berlangsung dengan baik.



Perbedaan dari dua golongan ini adalah di mana generasi yang lahir setelah tahun 1990 memilih untuk bekerja sesuai dengan passionnya secara langsung usai dari masa studi, sedangkan generasi yang lahir sebelum tahun 1980 memilih untuk bekerja apa saja demi bertahan hidup dan setelah 20 atau 30 tahun kemudian baru akan menikmati hidupnya sesuai dengan hal yang diminatinya.



Lantas bagaimana hubungannya dengan bekerja bersama hati? Sama saja, dua-duanya sama-sama dapat bekerja dengan hati, namun hanya soal perbedaan waktu saja.



Pertanyaannya berikutnya, haruskah bekerja bersama hati? Menurut penulis tentu saja harus, pekerjaan apapun itu, karena jika hati tidak ikut serta di dalam aktifitas rutin sehari-hari maka apa yang sedang dan akan dicari?



Lalu, bagaimana menurut kamu?



(dnu, ditulis sambil nemenin anak belajar untuk UAS besok tapi kebanyakan mainnya dari pada bacanya haha...., 3 Desember 2017, 19.35 WIB)