Thursday, August 23, 2018

Kerja Underground ala Wishnutama



Tidak terdengar huru hara sebelum perhelatan akbar dimulai, tetapi mampu memberikan sajian acara yang membuat hati dan jiwa bangsa Indonesia bergelora. Dialah Wishnutama, pria paruh baya yang mungkin namanya sering terdengar di udara namun sosoknya memang tak setenar bintang film lainnya. Belajar dari Wishnutama yang tidak banyak mengumpat sana sini terkait bidang kreatifitas pertelevisian yang dia lakoni, tetapi dengan kekuatan tim dibawahnya dia mampu membuka banyak mata sekaligus mengajaknya “jangan banyak bicara, ayo kerja!”.

Banyak sekali pribadi-pribadi yang bertolak belakang dengan Wishnutama, terlalu banyak bicara namun sedikit sekali hasilnya. Sebelum acara pembukaan Asian Games 2018 sukses digelar, mungkin publik belum banyak yang mengenalnya, dan bisa jadi hanya kalangan artis-artis saja yang akrab mendengar namanya. Tapi tidak dengan saat ini, pasca pembukaan kompetisi olahraga tingkat Asia tersebut digelar nama WIshnutama sebagai salah satu sosok penting dibalik layar bergema di mana-mana.

Kerja yang tidak terlalu banyak bicara di muka umum atau dalam Bahasa saya adalah underground, memang sangat elegan. Diam-diam menghasilkan sesuatu dibandingkan dengan yang banyak sekali promosi diri dam kemampuan namun karyanya belum banyak tercipta. Saat ini banyak sekali masyarakat yang tentu ingin mengenal lebih jauh siapa Wishnutama, sosok pria tenang penghasil karya seni berkebudayaan Indonesia kelas dunia.

Bagaimana jika dibandingkan dengan masyarakat yang kerap kali melontarkan kritikan terhadap pihak-pihak tertentu, mencemoohnya, menganggapnya tidak bisa kerja, bersuara di mana-mana baik di dunia maya maupun nyata, ada saja kesalahan seseorang di matanya, jika diberi pertanyaan apa yang sudah dia hasilkan untuk dirinya atau bahkan Indonesia? Mungkin saja belum ada, yang ada hanyalah kritikan terus menerus yang tak kunjung usai. Terlalu banyak bicara dan sangat gemar menilai orang lain, namun ia lupa menilai dirinya sendiri, apa yang sudah ia hasilnya untuk lingkungannya sendiri.

Meniru gaya kerja Wishnutama rasanya sah-sah saja, percaya diri, yakin pada kemampuan diri dan tim, serta bertekad mewujudkan apa yang menjadi mimpi tanpa harus banyak bicara ke sana sini. Hasilnya ada, bekerja dan berlelah-lelah setiap hari namun di suatu waktu dia mampu memberikan karya nyata yang banyak dicinta dan dipuja. Lantas bagaimana dengan kita? Sudahkah sedikit bicara tapi banyak bekerja? Banyak menghasilkan karya nyata dalam kesenyapan yang memang sengaja kita ciptakan?

Wishnutama hanyalah contoh nyata yang kini ada di depan mata. Seorang pekerja sunyi senyap namun mampu menghasilkan sebuah karya yang gegap gempitanya terasa seindonesia. Tidak kah kita ingin menjadi sepertinya? Sebelum menjadi lebih dari dirinya.

(dnu, ditulis sambil makan gado-gado, 23 Agustus 2018, 13.05 WIB)     

Friday, July 20, 2018

Skyworld Indonesia Diskusi Bareng Astronom Dunia dalam Seminar Internasional di Italia


Bertempat di Chianti, Italia pada Rabu - Jumat (11-13/7) lalu, penyedia wahana edukasi astronomi Skyworld Indonesia menjadi salah satu peserta workshop astronomi tingkat international yang bertajuk The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, yang diselenggarakan oleh Observatorio Polifunzionale del Chianti (OPC), Italia. Dengan mengusung tema besar Astrotourism, di sebuah Observatorium yang berdiri di atas bukit perkebunan anggur dan zaitun sejumlah Astronom dan pegiat Astronomi dari berbagai negara berkumpul dan membahas tentang perkembangan serta prospek masa depan dunia astronomi. Salah satu proyeksi masa depan terkait dunia astronomi yang dibahas adalah tentang pengemasan astronomi secara popular dalam industri pariwisata, di mana hal ini dapat menjadi warna baru untuk sisi eduwisata.

Astrotourism atau Wisata Astronomi, yang lebih mudah dipahami sebagai Wisata Kelangitan merupakan salah satu bentuk diversifikasi bidang keastronomian untuk mengenalkan lebih luas lagi mengenai sains dan pengetahuan astronomi kepada publik melalui media yang rekreatif.

Pariwisata Astronomi saat ini berhasil tampil sebagai primadona baru dalam industri pariwisata, namun sangat disayangkan beberapa waktu terakhir bidang pariwisata ini mulai terpapar oleh lompatan budaya milenial yang berbasis sains dan teknologi. Hal ini mengakibatkan para pelaku industri wisata edukasi kelangitan perlu bekerja keras untuk menunjukkan bahwa astronomi juga merupakan bidang yang tidak kalah menarik dan justru memiliki kelebihan yang mendidik. Pandangan ini diungkapkan oleh senior auditor OECD (Badan kerjasama Ekonomi Internasional) Renzo Turatto, sebagai salah satu pembicara dalam workshop tersebut.

Salah satu astronom dari Armenia, Sona Farmanyan turut membagikan pengalamannya dalam mengelola Kompleks Observatorium Byurakan, Claudio Mallamaci, Argentina. Selain itu ia juga menyampaikan rencana acara yang akan digelarnya berkaitan dengan fenomena alam Gerhana Matahari Total di Argentina yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2019 mendatang.

Astronom lainnya yakni Olayinka Fagbemiro yang berasal dari Nigeria turut membagikan pengalamnnya saat menggelar acara wisata astronomi yang meretas permasalahan gender di negerinya. Selain itu, Amelia Ortiz-Gil dari Spanyol juga memaparkan pandanganya dalam hal pentingnya memberi kesempatan yang lebih luas lagi bagi para penyandang disabilitas untuk dapat turut menikmati keseruan wisata astronomi.

Astronom Indonesia Dr. Chatief Kunjaya selaku perwakilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur ini dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan gambaran besarnya mengenai potensi yang ada di Indonesia untuk mengembangkan bidang wisata kelangitan. Ia juga memiliki pandangan bahwa wisata ini mampu berkembang di Indonesia hingga mencapai skala dunia, di mana salah satu modal yang telah dimiliki adalah adanya kompleks Observatorium baru di Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur. Untuk lebih memperkuat pemaparan, secara visual grafis juga ditampilkan poster workshop yang berjudul “The Beauty and History of the Southern Hemisphere Sky”. Tampilan ini berbicara tentang keindahan alam, keragaman budaya dan bertebarannya situs-situs arkeologi di Indonesia yang semakin menarik bila diperkaya dengan benang merah astronomi.

Di beberapa negara Eropa terutama Italia yang dikatakan sebagai gudangnya sains astronomi, sejak abad pertengahan telah berkembang sebuah proto-industri astronomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha. Hal ini diungkapkan oleh Tania Johston dari ESO Supernova Jerman, termasuk juga pelaku Industri Kreatif seperti dari Bas Bleu, Provider Komunikasi Visual, dan Stella Errante biro pengelola kunjungan wisata kelangitan ke berbagai penjuru dunia.

Seminar yang berlangsung selama kurang lebih tiga hari ini juga memberi kesempatan kepada peserta baik dari kalangan Astronom maupun praktisi industri wisata dan industri kreatif lainnya untuk berbagi pengalaman. Mulai dari bagaimana mengemas sebuah Star Party dengan pengamatan benda langit malam hari, menggagas wisata napak tilas perjalanan hidup tokoh astronomi dunia seperti Galileo atau Secchi dengan mengunjungi beberapa situs yang terkait, hingga menawarkan wisata arkeo-astronomi yang akan menambah wawasan baru, di mana umumnya wisata ini dikenal sebagai obyek wisata konvensional.

Selain itu, untuk memberikan suasana dan sensasi astro-tourism yang lebih kuat terasa, disela-sela padatnya kegiatan panitia mengajak para peserta menikmati paket liburan astronomi di Chianti dengan mengunjungi pabrik pengolahan anggur Docg, serta melakukan observasi bintang sambil menikmati makan malam di alam terbuka. Sebagai hiburan, dihadirkan pula seorang aktor yang berperan sebagai Galileo Galilei yang bermonolog tentang kisah hidupnya di hadapan para peserta workshop.

Skyworld Indonesia terbilang beruntung dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti seminar internasional ini, karena hal ini sejalan dengan visi dan misi penyedia jasa eduwisata astronomi yang terletak di TMII Jakarta Timur ini, yang ingin menjadi salah satu lokasi eduwisata astronomi yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia tetapi juga bagi dunia. Demikian pula dengan adanya kesempatan berada di daerah perbukitan berhawa sejuk yang dikenal sebagai penghasil Anggur Merah Docg serta minyak zaitun terbaik di Eropa ini, merupakan pengalaman yang tidak hanya berkesan namun juga amat berharga.

Menurut Direktur OPC Prof. Emanuele Pace, hasil seminar ini akan dilanjutkan secara teknis keilmiahan dalam kelompok kerja internal di Asosiasi Astronomi Internasional, sementara setiap langkah terapannya harapannya dapat dilakukan oleh setiap pihak yang peduli. Seperti yang dilakukan oleh para astronom di Eropa bersama para pelaku industri wisata, yang begitu serius menggarap astrotourism demi memaksimalkan potensi wisata yang dimilikinya. Sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang sebenarnya begitu memiliki potensi namun terlihat belum terlalu bersemangat melakukan upaya-upaya seperti tersebut.

“Sepertinya kita lebih senang mengurusi begitu banyak hal agar terlihat sibuk meskipun tidak ada yang serius, dari pada terlalu serius untuk mengurusi satu dua hal saja yang orang lain tidak lihat...” pungkas komisaris Skyworld Indonesia Sonny Teguh A. Atmosentono selaku perwakilan Skyworld Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah yang hadir dalam acara berskala internasional tersebut.

(dnu)





Wednesday, June 27, 2018

Para Pendukung Paslon, Harus Siap Menang dan Siap Kalah


Pada masa kampanye pemilihan Calon Gubernur dan wakilnya, Calon Bupati dan wakilnya ataupun calon Walikota dan wakilnya, para pendukung atau biasa disebut dengan tim sukses masing-masing Pasangan Calon (Paslon) menggebu-gebu menyebar kabar baik tentang paslon unggulannya ke seluruh penjuru wilayah pemilihan. Pada masa ini seakan tim sukses tidak sama sekali melihat adanya kekurangan dalam diri Paslon, di mana Paslon yang dibanggakannya adalah manusia biasa yang tentu memiliki kekurangan di sana sini.

Saat memutuskan untuk mengunggulkan salah satu Paslon yang tentu dengan alasannya sendiri-sendiri, setiap calon pemilih juga nyaris membabi buta untuk membenarkan segala hal yang dilakukan oleh idolanya. Termasuk dalam perbuatan salah atau pun menyimpang, para pengikut kebanyakan akan serta merta tetap membelanya.

Demikian pula saat memasuki masa-masa pemilihan, satu minggu sebelum hari pemilihan bahkan sejak satu bulan sebelumnya, para pendukung Paslon ramai adu keunggulan junjungannya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Terlebih dunia maya yang kini dapat dikatakan sebagai salah satu senjata ampuh untuk berkampanye, jaringan yang dapat dibentuk bisa lebih luas dan penyebaran pesannya juga tergolong massif dan efektif. Setiap unggahan pesan yang dimunculkan di media sosial kerap kali isinya tidak jauh dari ajakan kepada orang lain untuk mencoblos yang menjadi pilihannya.

Terkait unggahan di media sosial, selain mempengaruhi orang lain untuk turut memilih apa yang menjadi pilihannya, para pendukung Paslon juga tidak jarang sambil menjatuhkan pasangan lain dengan berbagai padangan negatifnya. Perang asumsi antar pendukung Paslon yang bisa jadi karena kebanyakan Halusinasi juga sulit untuk dihindari. Tetapi inilah kenyataanya, pada masa sebelum pemilihan setiap pendukung akan bergerilya untuk bisa memenangkan pasangan idolanya.

Lantas bagaimana dengan hari ini, sebagai hari pemilihan pemimpin daerah yang serentak dilaksanakan di banyak wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, akankah usai pemilihan semuanya akan adem ayem menerima kemenangan maupun kekalahan? Bagi para Paslon biasanya demikian, menerima kemengan dengan senang hati tanpa jumawa, dan bagi yang mendapatkan suara terlampau sedikit akan menerima kekalahan dengan berbesar hati tanpa banyak berkata. Lalu siapa yang biasanya banyak berkata atas kekalahannya? Adalah para pendukung Paslon yang kurang dapat berbesar hati karena Paslon idamannya tidak jadi memenangkan kompetisi berbasis demokrasi ini.

Kerap terjadi Paslon yang kalah lebih legowo dan menerima kekalahan sebagai suatu pembelajaran, namun tidak demikian halnya dengan para pendukungnya. Perang unggahan pesan di media sosial berpotensi terjadi usai ketuk palu pemenangan Paslon diumumkan. Dalam bahasa sederhana dapat dikatakan “yang di atas adem ayem, tapi yang di bawah hiruk pikuk tiada akhir”.

Setiap pendukung Paslon sudah tentu harus pula memiliki hati yang besar seperti yang dimiliki oleh Paslon itu sendiri. Hati yang telah siap menerima kemenangan dan lebih siap lagi jika harus menerima kekalahan. Bukan serta merta mengungkap kekurangan dalam diri Paslon yang menang, atau bahkan menghujat habis-habisan bahwa terdapat kecurangan dalam proses pemilihan. Sah-sah saja jika pendapatnya tersebut dapat dibuktikan kebenarannya, namun bagaimana jika tidak terbukti melainkan hanya tuduhan semata? Semuanya akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Hal lain yang perlu diingat oleh para pendukung Paslon adalah apa yang mereka lakukan adalah cerminan dari bagaimana sebenarnya perangai dari Paslon yang diusungnya, maka jadilah pendukung yang menjunjung tinggi fairness, santun dan memiliki hati yang besar.  Demikian pula sebaliknya, bagaimana mungkin Paslon yang digadang-gadang sebagai pasangan terbaik memiliki pendukung yang tindak tanduknya sama sekali tidak baik? Bagaimana orang lain dapat menaruh kepercayaan pada Paslon tersebut jika para pendukungnya tidak sedikitpun mengindahkan nilai-nilai positif dalam proses pemilihan umum?

Jadilah pendukung Paslon yang berada dalam batas normal, mendukung dengan hati dan juga karena memiliki visi misi yang sama dengan visi misi hidup yang Anda jalani. Jika yang diunggulkan menang, maka teruskanlah dukungan sambil menyebar nilai-nilai kebaikan untuk kemajuan wilayah tempat tinggal. Namun jika yang digadang-gadang ternyata tidak menang, maka berbesar hatilah menerima kenyataan, tidak perlu bergegas mencari kesalahan Paslon yang meraih kemenangan, atau menyiapkan amunisi negatif untuk menyerang pendukung Paslon pemenang di dunia nyata maupun maya.

Menyikapi kekalahan adalah bukan dengan terus membela diri dan membela Paslon sambil tutup mata, tutup hati dan telinga, tetapi justru dengan membuka hati dan pikiran untuk bersedia maju bersama mengembangkan wilayah tempat tinggal. Karena yang terus membela diri tanpa mencoba memahami situasi hanyalah seorang pecundang sejati.

Selamat menanti hasil pesta demokrasi!

(dnu, ditulis sambil nonton quick count di salah satu TV swasta, 27 Juni 2018, 14.21 WIB)

Wednesday, May 30, 2018

Ramadhan #12 - Menyambut UAS dalam Gelimang Berkahnya Ramadhan

Wajah-wajah sumringah terpampang nyata kala dinyatakan pertemuan kelas ini telah hampir mencapai ujungnya. Tidak lupa, wajah-wajah grogi nan was-was juga terpampang jelas kala disampaikan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera dijelang. Selain dua wajah tersebut ada juga wajah-wajah cuek cenderung happy karena perkuliahan semester genap ini sudah hampir selesai.
Apapun wajah yang mereka tampakan, semoga tidak menjadi pertanda lainnya, selain pertanda optimisme yang begitu tinggi meraih nilai UAS terbaik. Seharusnya, di bulan yang penuh berkah ini dimanfaatkan oleh setiap umat islam untuk memanjatkan doa dan harapannya seraya melakukan banyak amal kebaikan. Termasuk juga yang akan menghadapi ujian di sekolah, panjatkan doa sebanyak yang kau mau, kelak InsyaAllah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan apa yang kamu butuhkan.
Bahagia berpuasa, bahagia pula menyambut masa-masa ujian yang akan segera tiba. Semoga di bulan Ramadhan ini jerih payah proses belajar yang telah ditempuh oleh setiap umat manusia, diganjar oleh Allah SWT dalam bentuknya yang terbaik, hasil ujian yang amat memuaskan misalnya. Baik bagi para pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun tingkat Perguruan Tinggi.
Semoga semuanya semakin semangat belajar walau dalam keadaan haus dan menahan lapar. Semoga dalam sibuknya belajar semuanya tetap ingat kewajiban beribadah, semata-mata hanya untuk mengutamakan akhirat demi menjamin baiknya kehidupan di dunia.
Tetap semangat, karena proses tidak akan pernah menghianati hasil.
Happy fasting and be happy to face the sweet thing, UAS!
Welcoming UAS and succes for you guys!
(dnu, ditulis sambil pake masker - coba tebaakkk... masker bengkoang apa masker gojek??? hahaha...., 28 Mei 2018, 20.54 WIB



Ramadhan #11 - Ngabuburit di Anjungan DI Aceh, TMII

Hari ini (27/5), penantian terhadap adzan maghrib saya isi dengan bercerita bersama Aan, si Boneka Topi Berbaju Merah, tentang Semangat Menghafal Al Quran. Dengan mengambil tempat di Anjungan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, sebanyak 250 orang Hamba Allah yatim & piatu yang dikoordinir oleh kakak-kakak panitia dari Komunitas We Share We Care, sukses berkumpul dalam kegembiraan di bulan Ramadhan.
.
Bahagia, terharu dan terasa amat beruntung hari ini bisa berkumpul dengan mereka. Anak-anak yang fasih membacakan ayat-ayat suci Al Quran, anak-anak yang piawai tampil dalam kelompok hadroh, serta anak-anak yang tak lagi mempertanyakan mengapa kita harus berpuasa di Bulan Ramadhan. Anak-anak yang sungguh pemahamam ilmu agamanya jauh di atas saya, berhasil memberikan pajaran berharga sore tadi.
.
Di tengah derai hujan yang turun jelang maghrib, suasana berbagi keceriaan kian terasa hangat. Baru bertemu sore itu, namun rasa persaudaraannya begitu hebat.
.
Aan, Si Boneka Topi Berbaju Merah, menceritakan kisahnya yang tidak percaya diri saat akan mengikuti lomba menghafal Al Quran di sekolahnya. Ia terus mengurung diri karena merasa hafalannya tidak lebih banyak bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Aan lantas bertanya pada Tita, temannya di kelas, apa rahasia Tita sehingga ia mampu menghafal begitu banyak surat dalam Al Quran. Tita mengatakan, kita hanya perlu terus berusaha dekat dengan Al Quran agar semakin hari semakin bertambah hafalan kita.
.
Dekat dengan Al Quran dimaksudkan dengan senantiasa membaca Al Quran setiap hari, selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran, dan selalu menyempatkan diri untuk mengaji. Aan lantas bergembira, ia akan mengikuti saran dari Tita untuk selalu berusaha dekat dengan Al Quran.
.
Cerita pendek yang juga menjadi pesan pribadi bagi saya, bukan hanya Aan, atau anak-anak lainnya yang ada di dalam acara. Semoga suatu hari nanti kita dapat menjadi hafidz/hafidzah, dan mampu menjadi penolong orang tua kita di akhirat kelak.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil selonjoran - inhale exhale - mahasiswa yang mau ujian tapi gw yang deg-degan hahaha..., 27 Mei 2018, 21.59 WIB)








Ramadhan #10 - High Quality Saturday at Campus with Old Friends ❤

Hari ini, Sabtu (26/5), kurang lebih seperenam dari 24 jam saya habiskan di kampus tercinta untuk menghadiri acara Expert Sharing. Pembicaranya adalah teman saya sendiri, seorang Best Graduate di kelas MM angkatan 2017, @yudidwiharjo .
.
Karena menuntut ilmu harus dilakukan kapan saja, pun hari ini yang masih hangat di 10 hari pertama puasa Ramadhan, salah satu aktifitas yang saya pilih adalah ke kampus. Walaupun dalam keadaan berpuasa, termasuk pembicaranya, namun acara ini tetap berlangsung dengan menyenangkan.
.
Mengangkat tema Analisis Balance Score Card Melalui Pendekatan 7S McKinsey, teman saya ini lancar sekali memaparkan banyak hal yang terkait dengan tema tersebut. Keren lah... Seneng punya teman pintar, berharap dapat tertular pintarnya hahaha... Aamiin...
.
Seperti yang kaum muslimin ketahui, ada ungkapan yang mengatakan agar kita berkumpul dengan orang-orang sholeh. Salah satu tujuannya adalah agar kita termasuk di dalamnya, dapat menjadi sepertinya, atau kita mampu mempelajari tauladan-tauladan baik darinya.
.
Jika kita berkumpul dengan suatu kaum maka kita termasuk darinya. Jadi jika kita berkumpul dengan orang-orang keren seperti yang ada di kanan kiri saya, maka yang termasuk di dalam gambarnya semoga tertular kerennya hahaha... Aamiin....
.
(dnu, ditulis sambil mikir napa harga kacang mede mahal bener yak wkwkwkw..., 26 Mei 2018, 21.49 WIB)



Ramadhan #9 - Pedagang Asongan Lemper Ayam yang Istiqomah


Ini adalah pemandangan lalu lintas yang hampir terjadi setiap malam di wilayah selatan Jakarta. Panorama kemacetan yang tiap armada mobilnya memancarkan cahaya keindahan, turut dilengkapi pula dengan adanya pedagang asongan Lemper Ayam yang dijual Rp 5.000 per buah.

Pedagang asongan makanan berat namun ringan ini tidak seorang diri. Bersama rekannya dua atau tiga orang lainnya, konsisten berjualan setiap hari. Demikian pula dengan bulan Ramadhan ini.

Tidak peduli waktu telah menunjukkan malam hari, ia tetap berjualan. Tidak peduli apakah orang-orang yang terkena macet ini bisa jadi sudah membatalkan puasanya atau sudah makan malam, ia tetap berjualan. Ia cukup istiqomah berjualan, bahkan terkadang di bawah rintik hujan ia tetap menjajakan dagangannya.

Ia tentu sangat percaya pada rejeki yang telah diatur oleh-Nya, sehingga ia tetap saja berjualan, walau apapun keadaan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Saya coba ambil pelajarannya, jika ingin menjadi manusia yang maju maka mutlak harus berusaha, istiqomah atau konsisten mewujudkan keinginannya. Menjauhkan fikiran negatif yang hanya akan membuat diri terus mundur ke urutan yang paling belakang, alias tidak ada kemajuan.

Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar, yang senantiasa berusaha dalam setiap keadaan.

Teruslah berproses untuk menuju kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Karena proses tidak akan menghianati hasil.

(dnu, ditulis sambil dipijitin sama tukang pijit, 25 Mei 2018, 21.05 WIB)


Ramdhan #8 - Ubah Lelah Menjadi Lillah


Insya Allah setiap langkah akan membawa berkah jika diniatkan untuk Ibadah.
Setiap inchi niat diri juga akan membawa rezeki jika selalu melibatkan Allah di dalam hati.
.
Ubahlah rasa lelah menjadi lillah, semata-mata hanya untuk menuai ridho Allah, mendapatkan sayangnya Allah dan meraih cintanya Allah.
.
Tetapi setiap langkah tidak akan menjadi lelah jika dilakukannya dengan selalu menyertakan Allah. Begitu juga sebaliknya, semuanya hanya akan menjadi lelah hanya jika tidak ada Allah di dalamnya.
.
Maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain setiap kali akan beranjak tidur. Bersihkan hati, lalu tidurlah dengan lapang tanpa ada kelelahan jiwa yang terasa sulit menjadi lillah.
.
Pun dalam tidur, bawalah Allah di dalamnya.
Semoga apa yang telah kita lakukan satu hari ini akan meraih keberkahan Allah, dunia dan akhirat.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil nahan mata kriyep-kriyep tapi adek bayi yang udah mau masuk SD belom bisa tidur, 24 Mei 2018, 22.39 WIB)


Thursday, May 24, 2018

Ramadhan #7 - Seru-seruan Sambil Menanti Adzan

Pengalaman menunggu adzan maghrib tiba di bulan ramadhan memang menjadi keasyikan tersendiri. Ada yang senang berjalan-jalan sore sambil membeli makanan ringan di sepanjang jalan, namun ada juga yang senang berkutat dengan pekerjaannya di kantor hingg suara bedug maghrib terdengar. Semua punya cara asyiknya sendiri, dengan anggapan yang sama yaitu perputaran waktu tidak akan terasa begitu lambat.
Sama halnya dengan saya, di hari Ramadhan ke 7 saya ngabuburit di sebuah tempat nan megah luar biasa, di kawasan Jakarta Selatan. Alhamdulillah ya bisa ngabuburit di ruangan yang amat sejuk tapi mampu membuat badan menggigil hahaha... Jarang-jarang nih... biasanya jelang maghrib di kantor atau maksa buka puasa di tengah kemacetan hehe...
Sambil menikmati acara bedah buku seorang Bapak hebat bernama Sofjan Wanandi, saya dan teman-teman nyaris lupa dengan kuatnya rasa lapar. Terlebih saat mendengarkan sambutan dari Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, jelang maghrib itu menjadi amat sendu karena dapat mendengarkan secara live suara merdunya Pak Wakil Presiden. Alhamdulillah, pengalaman yang istimewa, walau saya dan teman-teman duduk di ujung belakang ruangan, dan Pak Jusuf Kalla berada di panggung sisi muka ruangan, yang jadinya saya dan beliau ujung-ujungan, tetap saja hangatnya aura kebapakan beliau sampai ke dalam hati .... ^.^
Bapak Sofjan Wanandi seorang pengusaha yang sempat memimpin Asosiasi Pengusaha Indonesia selama kurang lebih 12 tahun telah memberikan inspirasi bagi kaum muda. Di usia beliau yang sudah diatas kepala 5 tentu bukan hal yang mudah untuk terus berkarya. Tapi tidak dengan Pak Sofjan, ia tetap mengisi hari-harinya dengan sangat berkualitas, dan hingga moment sore kemarin itu entah moment peluncuran buku beliau yang ke berapa. Sepertinya sudah banyak hehe....
Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, begitu juga dengan ngabuburit saya di acara launcing buku Pak Sofjan kemarin. Jadi membayangkan kira-kira di masa tua nanti apakah masih sanggup untuk berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak, persis seperti Pak Sofjan.
Begitu juga tentang energi beliau yang masih prima, bicara pun mantap, gerak gerik masih segar, benar-benar menginspirasi. Keramahan beliau juga patut diacungi jempol. Siapalah saya yang tiba-tiba mengulurkan tangan kepada beliau, tapi beliau dengan senyumnya yang sungguh kebapakan ramah menyambut dan menjabat erat tangan saya yang mungil ini wkwkwkw..... Baik sekali Bapak ini.... Karena saya belajar dari pengalaman terdahulu, pernah ada seseorang yang tidak sehebat Pak Sofjan pura-pura tidak lihat saat saya mengajaknya bersalaman, hahaha....
Lagi-lagi sore itu menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Beberapa drama pun terjadi di antara saya dan teman-teman. Ada yang berhalusinasi "wah enak banget ya kalau jadi anaknya Pak Sofjan", ada juga drama tentang "bisik-bisik dalam pengaturan strategi untuk mengambil pangsit goreng sebelum diambil oleh orang lain" hahahha.... Tidak lupa terjadi juga drama perebutan butiran-butiran kurma wkwkwkw.... Apalagi drama tentang "kolak tanpa isi" alias cuma kuahnya saja, turut menjadi bagian dari keseruan menanti adzan.
Setiap orang tentu memiliki cerita serunya sendiri-sendiri di ramadhan kali ini. Semuanya pasti membawa manfaat, tetapi mungkin tidak akan kita sadari saat ini, melainkan di suatu hari nanti.
Begitu juga dengan cerita sore ini, perseteruan manja dengan Bude sang penjual takjil di kantor.
Bude : "Mbak Dewi, ini ada bubur ketan item, mau ndak..?"
Saya : "Saya maunya bubur sumsum Bude...."
Bude : "Ini enak juga lho Mbak... Mau ya...."
Saya : "Ngga ah bude, yang lain aja...."
Bude : "Lho... enak beneran... ya mau ya... santannya dicampur apa dipisah?"
Saya : "Ya udah, dipisah ya Bude..."
Bude : "Mbak Dewi, santan dicampur apa dipisah?"
Saya : "Dipisah mawon Budeeeeee......."
....... hening beberapa saat... Terlihat sang Bude sedang khusyuk membungkus bubur untuk saya.... Tapi beberapa saat kemudian, tampak wajah Bude di tengah-tengah etalase dagangannya sambil berkata agak kencang "Mbak... ini santannya dicampur opo dipisaaahh?"
Saya : "Pisaaaaahhh Budeeeee......"
MasyaAllah...
Hahaha.....
(dnu, ditulis sambil memandangi bubur ketan item bikinan Bude, 24 Mei 2018, 16.33 WIB)


Ramadhan #6 - Bertemu dengan Teman-teman lama adalah Anugerah

Selasa (22/5), Allah SWT mempertemukan saya dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Wah senang sekali... ini juga namanya rejeki, karena setiap pertemuan pasti membawa berkahnya sendiri-sendiri.
Bertemunya tidak disengaja, tidak diduga bahkan dinyana haha..., sehingga silaturahmi yang tanpa perencanaan ini terjadi begitu mengharukan hahahaha....
Sambil mengikuti sebuah acara, kami yang sama-sama berpuasa kompak menanti adzan maghrib tiba. Ya iya laaahh.... hahaha....
Begitu adzan maghrib berkumandang, kami lantas menikmati takjil dan sajian makan malam di acara tersebut. Seraya melahap makanan dan minuman kami berbincang tentang masa lalu yang pernah dilalui di kantor yang sama, maupun berbincang tentang masa depan kami masing-masing hahaha....
Sore itu saya belajar, bahwa silaturahmi sungguh benar harus dijaga. Saya juga belajar bahwa menjaga silaturahmi sungguh akan membawa rezeki, buktinya setelah pertemuan tersebut saya berkenalan dengan seseorang yang merupakan teman dari teman saya itu dan berdiskusi tentang pergelaran acara yang menjadi passion saya hahaha... Semoga acaranya kesampaian, aamiin.... Tetapi apapun itu tetap saja semuanya adalah rezeki dan anugerah.
Bertemu dengan teman lama adalah anugerah yang indah, seindah menanti adzan maghrib tiba sepanjang bulan Ramadhan ^.^
(dnu, ditulis sambil mikir lebaran berapa hari lagi ya... hahah...., 22 Mei 2018, 21.15 WIB)


Ramadhan #5 - Belajarlah dengan Caramu, Sebahagiamu

Hari ini (21/5) ngabuburit di kelas, belajar bareng mahasiswa, hingga akhirnya adzan maghrib pun tiba. Anak-anak milenial ini selalu bersemangat saat di kelas, apapun metode pembelajarannya. Presentasi kelompok, presentasi perorangan, ceramah biasa, diskusi, hingga adu ketangkasan maju ke depan kelas untuk uji pengetahuan pribadi.
Kelas sore ini berlangsung seru dan menyenangkan, tanpa terasa 5 menit lagi tiba waktunya berbuka puasa.
Banyak celoteh dari generasi zaman now ini, mulai dari "Bu, pulang cepet ya Bu... kan puassa...". Ada juga yang merajuk "Bu... jangan banyak-banyak ngomong kita ya Bu... haus...", hahaha... Yah begitulah suara-suara manja anak-anak muda berusia kepala dua.
Seiring berjalannya detik demi detik, menit demi menit, hingga jam demi jam akhirnya kami pun terlena pada prose pembelajaran sore ini. Mereka yang tadinya tidak ingin banyak bicara, justru paling ramai membahas materi dan menuliskan jawaban di papan tulis. Selain itu, mereka juga yang tadinya merengek minta pulang cepat akhirnya terhanyut dalam suasana kelas dan kita pun selesai kelas pada jam yang seharusnya. Yah... karena memang mulai dan selesai harus tepat waktu sih hahaha...
Bagi sebagian orang puasa memang berat, apalagi bagi anak-anak hahaha... Tapi... jika kita mengisi waktu diantara imsyak dengan waktu berbuka dengan hal-hal yang positif, berfaedah, seru dan menyenangkan tentu semuanya akan terasa lebih ringan. Demikian pula halnya dengan hari ini, bisa jadi jika tidak diisi dengan aktifitas kegiatan belajar mengajar yang seru dan menegangkan mungkin kami sekelas akan cepat bosan. Bagaimana dapat dikatakan menegangkan? Sederhana saja, mereka harus adu ketangkasan mengumpulkan nilai kuis hari ini dengan cara adu cepat tulis di papan tulis hahahaha....
Hasilnya bagaimana?
Semua semangat meraih nilai.
Semua semangat mencari jawaban terbaik, yang artinya semua semangat mempelajari materi yang diberikan hari ini.
Semua terhanyut dalam suasana belajar.
Akhirnya bagaimana?
Tiba-tiba kumandang adzan maghrib pun terdengar, dan sontak seluruh penghuni kelas mengucap "Alhamdulillaaaahhh.... Buu... buka Bu....." Hahahaha....
Sambil membatalkan puasa, lanjutkan sedikit lagi materi yang tersisa dan berikutnya.... "selamat berbuka puasa gaeessss... see you next week.... !!!"
... dan kelas pun bubar ...
(dnu, ditulis sambil minum es kelapa yang dibeli tadi siang dan udah ngebet banget diminum dari tadi siang hahahaha...., 21 Mei 2018, 21.46 WIB)




Ramadhan #4 - Karena Kejujuran Akan Menyelesaikan Masalah

Hari ini (20/5) sempat menonton sinetron, alhamdulillah mendapat insight positif dari salah satu dialog dalam sinetron tersebut. Lumayan lah sutradara, penyusun naskah atau siapapun tim kreatif yang terlibat dalam penggarapan tontonan tersebut Insya Allah mendapat pahala, karena minimal satu orang dari pemirsanya mendapatkam energi positif atas karya yang telah dibuatnya.

Telah banyak dipahami bersama bahwa saty kebohongan yang diluncurkan maka akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya yang nyaris tiada akhir. Seseorang yang bersilat lidah tentu tidak ingin kebenaran yang disembunyikannya diketahui oleh orang lain. Berangkat dari hal tersebut maka orang yang berbohong akan mengeluarkan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Terlihat jelas di sini ya, penyakit berbohong laksana bola saju yang bergulir terua menerus dan akan semakin besar. Akankah suatu permasalahan selesai dengan paparan kebohongan? Untuk sementara waktu bisa jadi iya, tetapi jangan pernah lupa bahwa sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Demikian pula dengan si tupai, sepandai-pandainya ia melompat maka akan jatuh jua.

Adalah hakikat kejujuran yang dapat menyelesaikan suatu permasalahan, saat ini dan juga selamanya. Mengapa demikian? Dari sisi orang yang berkata maupun bersikap jujur, tidak ada lagi sesuatu hal yang ia sembunyikan. Dengan keadaan yang demikian tentu ia akan merasa tenang dan nyaman dalam menjalani hari-hari. Tidak ada ketakutan akan sesuatu, maupun kekhawatiran lainnya yang berpotensi menghasilkan masalah baru suatu hari nanti.

Orang yang jujur hidupnya Insya Allah akan tenang. Mengatakan hal yang benar sekalipun itu pahit mutlak lebih baik bermanis-manis ria dalam kebohongan.

Semoga di bulan suci ini kita dapat sama-sama belajar ya, semakin meningkatkan kadar iman dan taqwa. Tidak berbohong untuk hal sekecil apapun, karena tidak pernah ada yang namanya white lie atau berbohong demi kebaikan. Namanya saja sudah bohong, ya jelas tidak ada baik-baiknya, yang benar adalah berkata jujur untuk kebaikan.

Yuk kita selalu berkata benar !
Berani karena benar dan tetap berani untuk mengungkap kebenaran !

(dnu, ditulis sambil duduk sandaran salah selonjoran salah semuanya salah yang benar cuma kejujuran hahahah... entahlah wkwkwkw...., 20 Mei 2018, 19.54 WIB)



Ramadhan 3# - Rumput Tetangga Tidak Selalu Tampak Lebih Hijau

Siang tadi (19/5) sambil menunggu waktu berbuka puasa yang masih 4 jam lagi, iseng-iseng saya jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ketika sampai di kasir untuk membayar suatu barang tiba-tiba terfikir mengenai grafik pekerjaan mereka di bulan Ramdhan ini. Demikian pula saat membeli makanan cepat saji yang dapur restonya ditampakkan kepada pembeli. Lagi-lagi terfikir suasana kerja mereka di bulan suci ini.

Pertama adalah tentang para pekerja di suatu gerai pakaian, beberapa petugas kasir tampak sibuk melayani pembeli dalam hal proses pembayaran. Di sisi lain para pramuniaga juga sibuk melanyani pembeli yang ingin melihat-lihat barang atau mencobanya.

Suasana mall menjelang Hari Raya Idul Fitri memang semakin hari semakin ramai, dan itu berarti kesibukan para pramuniaga pun meningkat. Ini yang saya katakan grafik kesibukan yang angkanya naik bukan kepalang di bulan Ramadhan.

Masyarakat Indonesia memang terbiasa mewujudkan suka citanya menyambut hari kemenangan dengan membeli barang-barang baru untik digunakan saat menerima tamu atau melakukan halal bi halal. Selain karena terbiasa ada juga yang memang telah menjadi kebutuhan yang mau tidak mau memang harus dipenuhi jelang Hari Raya, menyediakan beberapa jenis makanan misalnya. Tidak hanya karena akan kedatangan tamu dan sanak saudara, tetapi juga sebagai persediaan untuk kebutuhan pribadi.

Ke dua, yakni tentang para pekerja di sebuah resto cepat saji. Setelah saya memesan sebuah makanan untuk dibungkus, seorang karyawan resto langsung menyiapkan makanan tersebut dengan cara di panggang beberapa saat. Dapur restonya terbuka, terlihat jelas bagaimana petugas dapur meramu beberapa bahan makanan, hingga menjadi matang dan siap untuk dimakan.

Hal menarik dari kisah resto cepat saji ini adalah mengenai kemungkinan mereka yang berpuasa namun wajib bekerja menyiapkan makanan tidak peduli bulan ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya. Tentu mereka tidak boleh tergoda karena mencium aroma masakannya ataupun tergoda karena hanya sekadar melihat wujud makanannya. Rasanya orang dewasa pun bisa saja tergoda makanan di siang hari saat berpuasa, karena setan tidak hanya menggoda anak kecil saja.

Dua contoh tersebutlah yang dapat saya kaitkan dengan sebuah pendapat lalu kemudian saya simpulkan, bahwa rumput tetangga tidak selalu tampak lebih hijau.

Mengapa demikian?

Ketika di pusat-pusat perbelanjaan karyawannya begitu sibuk bekerja, bahkan mustahil jam kerja mereka dikurangi dalam rangka menikmati bulan Ramadhan, justru di beberapa perusahaan lain terjadi sebaliknya. Banyak perusahaan yang memberi kebijakan kepada karyawannya untuk masuk lebih lambat dan pulang lebih cepat di bulan ramadhan. Terlepas dari berbagai alasan yang dimiliki perusahaan, poin penting yang perlu dilihat adalah banyak terdapat diluar sana bidang pekerjaan yang loading pekerjaannya justru meningkat saat ramadhan datang. Kondisi ini memaksa para karyawannya untuk extra effort, sambil berpuasa atau bahkan sambil berbuka puasa, yang artinya saat berbuka puasa pun mereka tidak boleh lama-lama karena konsumen telah menunggu.

Tidak jarang kita melihat "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau", dan tidak sedikit hal-hal yang membuat kita iri pada pekerjaan orang lain. Berdasarkan contoh di atas nyatanya ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa tidak selamanya rumput tetangga tampak lebih hijau.

Sangat jelas adanya kisah ini dapat dikembalikan pada tatanan rezeki. Memang sudah rezekinya kita bekerja di perusahaan saat ini, dan memang sudah rezekinya mereka bekerja di perusahaannya masing-masing. Semua tentu ada positifnya dan ada hal-hal baiknya. Hal penting yang perlu masing-masing dari kita lakukan hanyalah bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita saat ini dan terus ikhtiar agar semakin hari semuanya dapat semakin baik. Kita juga tidak perlu sawang sinawang atau melihat hidup orang lain sepertinya lebih asyik dari hidup kita, karena rumput tetangga tidak melulu lebih hijau dari rumput kita.

Ada saatnya rumput tetangga tampak lebih hijau yang sebenar-benarnya hanya tampak.

(dnu, ditulis sambil nonton Indonesia Border yang kece abis, 19 Mei 2018, 22.29)