Monday, January 22, 2018

Rapi

Sekelumit potret kehidupan sehari-hari yang rapi dan tertib di sebuah kota kecil di Negeri Sakura. Tidak terlihat sampah berserakan, cerminan bahwa mereka selalu membuang sampah pada tempatnya. Tata letak penanaman pohon, pembuatan jalan setapak dan pendirian bagian-bagian bangunan rumah yang begitu baik, tanda bahwa mereka memperhatikan kenyamanan hidup tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Lihat satu mobil yang parkir, lurus, rapi, tidak menutupi jalan ataupun pintu rumah. Tidak seperti yang banyak dikeluhkan orang Indonesia, parkir mobil tetangga menghalangi jalan, menghalangi depan rumah, hingga sulit untuk memasukkan atau mengeluarkan mobilnya sendiri karena jalanan terhalang mobil tetangga yang parkir tak beraturan.

Melucu Tidak Harus Mencemooh


Para pembaca yang budiman, rekan-rekan sebangsa dan setanah air Indonesia, sungguh apa yang terucap dari mulut kita akan menunjukkan seperti apa kualitas diri kita, dan sungguh apa-apa yang terucap dari mulut kita akan diminta suatu pertanggung jawaban oleh-Nya. Oleh karena itu hati-hatilah dalam berbicara, bersikap, bertindak, terlebih lagi jika ditampilkan di muka umum.



Artikel ini ditujukan secara gamblang atas perhatian kepada kasus dua orang komika atau pelawak yang kini dipermasalahkan oleh sebagian masyarakat akibat dari konten lawakannya. Ada apa dengan materinya? Apakah tidak berkualitas sehingga mengecewakan banyak orang? Ya, bagi sebagian orang dianggap sangat tidak berkualitas. Mengapa demikian? Karena mencemooh terhadap suatu agama telah dibawa di dalamnya.



Terlebih lagi yang membuat situasi semakin panas adalah yang melucu memiliki keyakinan yang berbeda dengan agama yang dijadikan materi lucu-lucuannya. Terang saja hal ini menimbulkan kemarahan agama lain yang merasa “bercanda bukan begitu caranya”. Semestinya sih masih banyak pengalaman-pengalaman hidup lainnya yang lebih baik untuk dijadikan materi lawakan.



Jika kita melecehkan suatu agama, membuat agama menjadi bahan bercandaan, melucu di sana-sini membawa-bawa agama dan bahkan Tuhan, merasa sukses begitu mendengar gemuruh tepuk tangan akibat candaannya, apakah kita lantas merasa tidak ada yang salah? Saya fikir agama apapun tidak ingin dijadikan bahan bercandaan.



Agama begitu sakral, agama adalah keyakinan yang merupakan urusan antara manusia dengan Tuhan. Lantas bagaimanakah cara berfikirnya jika hal yang amat sangat tinggi nilainya itu dijadikan bahan lucu-lucuan?



Apakah seseorang mendadak terlihat begitu pintar jika berhasil melucu dengan cara mempermainkan suatu keyakinan? Apakah seseorang menjadi terlihat begitu keren saat berhasil melucu dengan cara melecehkan kebesaran Tuhan?



Tentu siapa pun tidak ingin agamanya dijadikan bahan tertawaan. Dari hati yang paling dalam, tentu siapapun tidak ingin keyakinannya dijadikan bahan lucu-lucuan, dan apa pun yang terjadi di bumi ini tentu semuanya atas kehendak Tuhan. Kesenangan atau kesusahan adalah bentuk cobaan dari Tuhan. Termasuk juga terbentuknya alam semesta beserta jagat raya yang tiada batas ini adalah hasil ciptaan Tuhan.



(dnu, ditulis sambil nonton Dua Sisi di TV One, 17 Januari 2018, 21.55 WIB)

Apa yang Kita Jalani, Sulit Mereka Pahami...


Sebagai makhluk sosial tentu kita tidak hidup sendirian, ada teman, kerabat, saudara, sampai yang kekinian haters pun ada. Seluruh atau sebagian dari mereka terkadang ada yang memiliki sikap peduli namun berlebihan, serba ingin tahu tentang kita bahkan tentang seluruh hidup kita. Peduli pada sesama jika dilakukan dalam batasan yang wajar sesuai hubungan kita dengan orang lain tentu dapat dipahami. Misalnya kepedulian orang tua terhadap anaknya, kakak kepada adiknya, atau suami kepada istrinya dan sebaliknya, tentu wajar jika dilakukan dengan sangat berlebihan, namun bagaimana jadinya jika hanya ada hubungan pertemanan atau bahkan kenal pun tidak kita memberikan kepedulian yang begitu jauh? Apakah tidak melampaui batas namanya?



Rasa peduli yang melampaui batas dapat mengarah pada penerimaan yang negatif. Keingintahuan kita pada orang lain tentang mengapa ia mengambil suatu keputusan bagi hidupnya, yang menurut kita itu adalah keputusan yang salah, adalah tidak tepat. Mengapa kita memberikan penilaian terhadap keputusan orang lain? Buat apa kita menyayangkan keputusan yang diambil oleh orang lain? Apakah kita dapat dengan presisi memahami alasannya secara kita tidak menjalani hidupnya?



Pun sebaliknya, kita tentu tidak nyaman jika ada seseorang yang begitu “kepo” terhadap hidup kita, toh mereka tidak mengalami apa yang kita alami bukan? Lantas mengapa mereka begitu ingin tahu bahkan tidak sedikit yang menyayangkan terhadap suatu keputusan yang bukan urusannya? Ini yang namanya toleransi dalam pertemanan. Setiap individu butuh privasi, karena setiap orang dilahirkan dengan cerita hidupnya sendiri-sendiri.



Jaga hati, jaga fikiran. Jangan mudah menduga lalu menghakimi atau bahkan menyayangkan apa yang telah orang lain lakukan. Karena setiap yang seseorang lakukan tentu berangkat dari sebuah alasan, pun jika dijelaskan alasannya mungkin sulit bagi kita untuk memahaminya. Begitu juga sebaliknya, karena apa yang kita jalani terkadang sulit mereka pahami.



Note : Judul mengutip dari lirik lagu Melawan Dunia milik RAN feat Yura Yunita



(dnu, ditulis sambil si Uni Betawi kecewa karena indak ado sinetron Minang nan Rancak soal Amak Iyam dan Bujang haha...., 14 Januari 2018, 21.16 WIB)

Gemas! Belum Ada KUHP, Bolehkah Kaum Penolak Menindak Sendiri LGBT?


Dua kali dalam dua malam menyaksikan acara bincang-bincang tentang LGBT (Lesbian, Guy, Biseksual dan Transgender) di salah satu stasiun televisi akhirnya membuat saya gatal untuk turut beropini. LGBT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi di kalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual, untuk menunjukkan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas (Wikipedia).



Saat ini Mahkamah Konstitusi (MK) menolak mengadili gugatan soal LGBT dan kumpul kebo. MK menyerahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Pemerintah untuk mengaturnya dalam sebuah Undang-undang.



Singkatnya, sampai dengan saat ini masih belum ada sebuah konsekuensi hukum pidana bagi para pelaku LGBT di Indonesia. Selanjutnya apa yang terjadi? Masyarakat cemas. Di satu pihak memandang pelaku LGBT tidak perlu dihukum pidana dengan alasan tertentu, dan di pihak lain merasa siapapun yang terbukti LGBT perlu ditindak tegas melalui hukum pidana yang sesegera mungkin harus ada dan berlaku di negeri ini.



Di tengah kondisi seperti ini, di mana semakin banyak remaja, dewasa maupun orang tua yang terjangkit penyakit penyimpangan seksual, namun belum ada hukum yang mumpuni untuk menindaknya, apa yang dapat kaum penolak LGBT lakukan? Sebagai rakyat biasa, bagi kaum yang memiliki pemahaman bahwa LGBT adalah penyakit penyimpangan seksual berbahaya yang sangat perlu dibinasakan, perlu turut ambil bagian untuk menyelamatkan keberlangsungan hidup bangsa Indonesia.



Bukan hanya telah melanggar norma agama, LGBT ini juga telah melanggar hak hidup orang lain yang menjadi korbannya. Salah satu hal berat yang berdampak adalah rasa trauma yang diidap oleh korban LGBT yang akan terbawa selama hidupnya. Dengan kenyataan yang seperti ini hukuman apa yang pantas diterima oleh para pengidap LGBT? Cukupkah hanya dengan penjara belasan tahun saja? Tentu saja tidak. Pun jika hukuman mati dijatuhkan, tetap saja rasa trauma para korban tidak akan dapat dihilangkan.



Berangkat dari hal tersebut di mana negera ini belum juga menetapkan sanksi hukum pidana bagi para pengidap LGBT, bolehkah jika masyarakat bertindak untuk memberikan sanksi lebih dari sekadar sanksi sosial? Mengapa masyarakat perlu bertindak? Karena hal ini merupakan bentuk penyelamatan diri, keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas pada umumnya. Perilaku LGBT yang sangat mengganggu kehidupan umat banyak sangat perlu ditindak tegas.



Mengapa dikatakan sanksi yang lebih dari sekadar sanksi sosial? Karena sanksi mengucilkan saja sangat tidak cukup. Mereka dengan sangat mudah dapat membentuk komunitasnya yang baru, di daerah yang baru dan menularkan kerusakan dirinya dengan sangat mudah.



Lantas jika boleh bertanya pada negara, bolehkah kaum penolak LGBT bertindak sendiri terhadap para pelaku LGBT dan kumpul kebo ini? Jika tidak segera di atasi maka bukan tidak mungkin bangsa Indonesia akan hancur oleh perilaku seksual yang menyimpang dari sebagian kecil rakyatnya yang dibiarkan begitu saja.



Gemas!



(dnu, ditulis sambil gemes-gemes gimana gituh!, 21 Desember 2017, 13.50 WIB)