Sunday, April 22, 2018

Menjadi Perempuan Produktif di Era Revolusi Industri 4.0

Judulnya terasa agak berat, tetapi sebenarnya ringan saja bahasan yang ingin saya angkat. Hanya berbicara hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh para perempuan Indonesia di era Revolusi Industri 4.0, karena berangkat dari banyak pendapat yang menyatakan perempuan hanya mampu belanja, menghabiskan dana, hihi haha bersama teman lama, hingga bercanda yang faedahnya pun tidak ada. Maka melalui artikel ini justru ingin diluruskan bahwa wanita, apapun profesinya sesungguhnya berkesempatan membuat dirinya lebih berarti terlebih saat ini yang apa-apa telah banyak didigitalisasi. Bukan sekadar untuk mematahkan pendapat-pendapat tersebut, tetapi lebih kepada menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan Indonesia juga bisa menjadi luar biasa dalam bidang yang masing-masing dikuasainya.

Saat ini hampir seluruh sisi kehidupan manusia telah bersentuhan dengan yang namanya digitalisasi, banyak hal dilakukan melalui sistem komputerisasi yang tidak dapat dipungkiri bahwa hal ini sangat memudahkan aktifitas kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari berjualan online, pesan makan online, membayar tagihan ini itu secara online, hingga memanggil tukang pijit pun dapat dilakukan secara online. Melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligent, hampir seluruh lini kehidupan manusia dimudahkan oleh kemajuan teknologi yang terjadi pada revolusi industri ke empat saat ini.

Lantas perempuan bisa apa di era yang serba canggih saat ini? Apakah bisa menjadi pribadi yang lebih produktif usai menjalankan semua kewajiban sebagai individu/istri/ibu? Jawabannya adalah bisa.

Berjualan online. Perempuan-perempuan yang nyaris tanpa punya modal dana kini bisa menjadi “pedagang” suatu produk dengan bermodalkan telepon pintar. Berjualan melalui media sosial, atau hanya berkirim gambar produk melalui aplikasi pesan singkat, bukan tidak mungkin Anda akan mendapatkan pembeli di sini. Anda ingin berjualan pakaian namun tidak memiliki cukup dana untuk menyetok pakaian tersebut di gudang Anda? Mudah saja, simpan gambarnya, dan bagikan secara online kepada semua orang yang Anda kenal, maka saat itulah Anda sudah tengah berjualan pakaian.

Anda gemar berbagi ilmu dan memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni namun tidak memiliki banyak waktu untuk mengajar di luar rumah? Jangan bersedih, di era serba digital saat ini telah banyak menjamur ruang-ruang belajar yang digelar secara virtual. Proses belajar mengajar ini dilakukan di dunia maya, sehingga bagi siapa saja khususnya perempuan yang ingin mengaktualisasikan diri dan membuat dirinya lebih berarti dalam bidang pendidikan, dapat menempuh jalur ini.

Bagaimana dengan yang gemar memasak dan ingin mencoba peruntungan dalam bidang makanan dan minuman ini, namun terdapat sedikit keraguan karena tidak ingin mengalami rugi besar-besaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjajak makanan lagi-lagi melalui dunia maya baik itu media sosial ataupun platform bisnis lainnya dengan sistem pesanan dimuka atau Open PO (Purchasing Order). Model pemesanan yang seperti ini dapat mengurangi kemungkinan kerugian yang dialami penjual karena tidak menyediakan banyak produk lalu tidak habs terjual dan akhirnya basi maka lantas dibuang.

Menjamurnya bisnis jejaring saat ini juga bisa menjadi salah satu pilihan alternatif bagi para perempuan Indonesia yang ingin bekerja. Sistem pekerjaan tersebut pada dewasa ini tentu dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem komputerisasi dunia maya, tidak seperti beberapa tahun lalu yang sangat mengandalkan pertemuan langsung/tatap muka dengan calon konsumennya. Dengan berbagai cara promosi yang dimiliki oleh para pengelola, media sosial dan aplikasi pesan singkat yang kini ada menjadi senjata utama untuk melancarkan bisnisnya. Sah-sah saja, karena memanfaatkan berbagai perangkat halal untuk menyukseskan diri dan orang lain adalah hal yang tidak dapat disalahkan.

Hal lainnya yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan di era Revolusi Industri 4.0 adalah menjadi “pembagi pengalaman atau pendapat” atau dalam bahasa kerennya adalah narasumber virtual. Lagi-lagi jika memiliki latar belakang pendidikan yang senada dengan pengalaman yang ingin dibagikan, maka seorang wanita yang memiliki keterbatasan waktu atau tenaga untuk pergi bekerja ke luar rumah, maka menjadi seorang “nara sumber” dapat dilakukannya di dunia maya.

Melalui tahapan membentuk komunitas, tentunya kumpulan atas orang-orang yang satu visi, lalu mengumpulkannya dalam wadah komunikasi online, seorang perempuan telah dapat memulai aktivitas barunya untuk turut menambah wawasan individu lainnya. Dengan berbagi pengalaman, masukan atau suatu pandangan, seseorang dapat berdikusi dengan tanpa halangan ruang dan waktu melalui aplikasi pesan singkat di era teknologi saat ini. Misalnya Anda memiliki background pendidikan Psikologi dan Anda memang gemar sekali berbagai pengalaman atau hal-hal lain seputar dunia Psikologi, maka bukan tidak mungkin Anda dapat membagikan wawasan kepada orang lain secara terus menerus. Seiring berjalannya waktu, pekerjaan sederhana yang Anda lakukan dengan konsisten dan diiringi doa maka bukan tidak mungkin suatu hari nanti akan menghasilkan buah yang manis. Selanjutnya dengan melakukan aktifitas yang sama dalam waktu yang juga lama, maka hal tersebut akan menjadi profesi yang begitu menyenangkan bagi Anda.

Di era revolusi industri yang ke empat ini sesungguhnya akan memudahkan umat manusia dalam beraktifitas dalam hidupnya, namun bisa jadi tidak semua manusia dapat mengambil dampak-dampak positif atas perubahan era ini. Mengapa demikian? Karena hanya individu yang memiliki jiwa inovatif dan produktif sajalah yang mampu bergerak maju bersama perubahan yang kerap terjadi. Jangan sampai terjadinya revolusi industri kali ini tidak dimanfaatkan, disikapi dan disesuaikan dengan baik terhadap pola hidup kita, karena akibatnya justru akan membuat hidup kita semakin terbelakang, tidak maju dan berkembang karena terlalu banyak alasan yang mengatasnamakan perubahan zaman yang semakin edan.

(dnu, ditulis sambil makan bakmi goreng jawa tanpa sayur dan bawang tapi ternyata ngga enak karena sepertinya ada rasa yang hilang tapi yang pasti bukan rasaku padamu, 22 April 2018, 20.41 WIB)