Wednesday, May 30, 2018

Ramadhan #12 - Menyambut UAS dalam Gelimang Berkahnya Ramadhan

Wajah-wajah sumringah terpampang nyata kala dinyatakan pertemuan kelas ini telah hampir mencapai ujungnya. Tidak lupa, wajah-wajah grogi nan was-was juga terpampang jelas kala disampaikan Ujian Akhir Semester (UAS) akan segera dijelang. Selain dua wajah tersebut ada juga wajah-wajah cuek cenderung happy karena perkuliahan semester genap ini sudah hampir selesai.
Apapun wajah yang mereka tampakan, semoga tidak menjadi pertanda lainnya, selain pertanda optimisme yang begitu tinggi meraih nilai UAS terbaik. Seharusnya, di bulan yang penuh berkah ini dimanfaatkan oleh setiap umat islam untuk memanjatkan doa dan harapannya seraya melakukan banyak amal kebaikan. Termasuk juga yang akan menghadapi ujian di sekolah, panjatkan doa sebanyak yang kau mau, kelak InsyaAllah Allah SWT akan mendengar dan mengabulkan apa yang kamu butuhkan.
Bahagia berpuasa, bahagia pula menyambut masa-masa ujian yang akan segera tiba. Semoga di bulan Ramadhan ini jerih payah proses belajar yang telah ditempuh oleh setiap umat manusia, diganjar oleh Allah SWT dalam bentuknya yang terbaik, hasil ujian yang amat memuaskan misalnya. Baik bagi para pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, maupun tingkat Perguruan Tinggi.
Semoga semuanya semakin semangat belajar walau dalam keadaan haus dan menahan lapar. Semoga dalam sibuknya belajar semuanya tetap ingat kewajiban beribadah, semata-mata hanya untuk mengutamakan akhirat demi menjamin baiknya kehidupan di dunia.
Tetap semangat, karena proses tidak akan pernah menghianati hasil.
Happy fasting and be happy to face the sweet thing, UAS!
Welcoming UAS and succes for you guys!
(dnu, ditulis sambil pake masker - coba tebaakkk... masker bengkoang apa masker gojek??? hahaha...., 28 Mei 2018, 20.54 WIB



Ramadhan #11 - Ngabuburit di Anjungan DI Aceh, TMII

Hari ini (27/5), penantian terhadap adzan maghrib saya isi dengan bercerita bersama Aan, si Boneka Topi Berbaju Merah, tentang Semangat Menghafal Al Quran. Dengan mengambil tempat di Anjungan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, sebanyak 250 orang Hamba Allah yatim & piatu yang dikoordinir oleh kakak-kakak panitia dari Komunitas We Share We Care, sukses berkumpul dalam kegembiraan di bulan Ramadhan.
.
Bahagia, terharu dan terasa amat beruntung hari ini bisa berkumpul dengan mereka. Anak-anak yang fasih membacakan ayat-ayat suci Al Quran, anak-anak yang piawai tampil dalam kelompok hadroh, serta anak-anak yang tak lagi mempertanyakan mengapa kita harus berpuasa di Bulan Ramadhan. Anak-anak yang sungguh pemahamam ilmu agamanya jauh di atas saya, berhasil memberikan pajaran berharga sore tadi.
.
Di tengah derai hujan yang turun jelang maghrib, suasana berbagi keceriaan kian terasa hangat. Baru bertemu sore itu, namun rasa persaudaraannya begitu hebat.
.
Aan, Si Boneka Topi Berbaju Merah, menceritakan kisahnya yang tidak percaya diri saat akan mengikuti lomba menghafal Al Quran di sekolahnya. Ia terus mengurung diri karena merasa hafalannya tidak lebih banyak bila dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Aan lantas bertanya pada Tita, temannya di kelas, apa rahasia Tita sehingga ia mampu menghafal begitu banyak surat dalam Al Quran. Tita mengatakan, kita hanya perlu terus berusaha dekat dengan Al Quran agar semakin hari semakin bertambah hafalan kita.
.
Dekat dengan Al Quran dimaksudkan dengan senantiasa membaca Al Quran setiap hari, selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran, dan selalu menyempatkan diri untuk mengaji. Aan lantas bergembira, ia akan mengikuti saran dari Tita untuk selalu berusaha dekat dengan Al Quran.
.
Cerita pendek yang juga menjadi pesan pribadi bagi saya, bukan hanya Aan, atau anak-anak lainnya yang ada di dalam acara. Semoga suatu hari nanti kita dapat menjadi hafidz/hafidzah, dan mampu menjadi penolong orang tua kita di akhirat kelak.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil selonjoran - inhale exhale - mahasiswa yang mau ujian tapi gw yang deg-degan hahaha..., 27 Mei 2018, 21.59 WIB)








Ramadhan #10 - High Quality Saturday at Campus with Old Friends ❤

Hari ini, Sabtu (26/5), kurang lebih seperenam dari 24 jam saya habiskan di kampus tercinta untuk menghadiri acara Expert Sharing. Pembicaranya adalah teman saya sendiri, seorang Best Graduate di kelas MM angkatan 2017, @yudidwiharjo .
.
Karena menuntut ilmu harus dilakukan kapan saja, pun hari ini yang masih hangat di 10 hari pertama puasa Ramadhan, salah satu aktifitas yang saya pilih adalah ke kampus. Walaupun dalam keadaan berpuasa, termasuk pembicaranya, namun acara ini tetap berlangsung dengan menyenangkan.
.
Mengangkat tema Analisis Balance Score Card Melalui Pendekatan 7S McKinsey, teman saya ini lancar sekali memaparkan banyak hal yang terkait dengan tema tersebut. Keren lah... Seneng punya teman pintar, berharap dapat tertular pintarnya hahaha... Aamiin...
.
Seperti yang kaum muslimin ketahui, ada ungkapan yang mengatakan agar kita berkumpul dengan orang-orang sholeh. Salah satu tujuannya adalah agar kita termasuk di dalamnya, dapat menjadi sepertinya, atau kita mampu mempelajari tauladan-tauladan baik darinya.
.
Jika kita berkumpul dengan suatu kaum maka kita termasuk darinya. Jadi jika kita berkumpul dengan orang-orang keren seperti yang ada di kanan kiri saya, maka yang termasuk di dalam gambarnya semoga tertular kerennya hahaha... Aamiin....
.
(dnu, ditulis sambil mikir napa harga kacang mede mahal bener yak wkwkwkw..., 26 Mei 2018, 21.49 WIB)



Ramadhan #9 - Pedagang Asongan Lemper Ayam yang Istiqomah


Ini adalah pemandangan lalu lintas yang hampir terjadi setiap malam di wilayah selatan Jakarta. Panorama kemacetan yang tiap armada mobilnya memancarkan cahaya keindahan, turut dilengkapi pula dengan adanya pedagang asongan Lemper Ayam yang dijual Rp 5.000 per buah.

Pedagang asongan makanan berat namun ringan ini tidak seorang diri. Bersama rekannya dua atau tiga orang lainnya, konsisten berjualan setiap hari. Demikian pula dengan bulan Ramadhan ini.

Tidak peduli waktu telah menunjukkan malam hari, ia tetap berjualan. Tidak peduli apakah orang-orang yang terkena macet ini bisa jadi sudah membatalkan puasanya atau sudah makan malam, ia tetap berjualan. Ia cukup istiqomah berjualan, bahkan terkadang di bawah rintik hujan ia tetap menjajakan dagangannya.

Ia tentu sangat percaya pada rejeki yang telah diatur oleh-Nya, sehingga ia tetap saja berjualan, walau apapun keadaan dan kemungkinan-kemungkinannya.

Saya coba ambil pelajarannya, jika ingin menjadi manusia yang maju maka mutlak harus berusaha, istiqomah atau konsisten mewujudkan keinginannya. Menjauhkan fikiran negatif yang hanya akan membuat diri terus mundur ke urutan yang paling belakang, alias tidak ada kemajuan.

Allah SWT menyukai orang-orang yang sabar, yang senantiasa berusaha dalam setiap keadaan.

Teruslah berproses untuk menuju kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Karena proses tidak akan menghianati hasil.

(dnu, ditulis sambil dipijitin sama tukang pijit, 25 Mei 2018, 21.05 WIB)


Ramdhan #8 - Ubah Lelah Menjadi Lillah


Insya Allah setiap langkah akan membawa berkah jika diniatkan untuk Ibadah.
Setiap inchi niat diri juga akan membawa rezeki jika selalu melibatkan Allah di dalam hati.
.
Ubahlah rasa lelah menjadi lillah, semata-mata hanya untuk menuai ridho Allah, mendapatkan sayangnya Allah dan meraih cintanya Allah.
.
Tetapi setiap langkah tidak akan menjadi lelah jika dilakukannya dengan selalu menyertakan Allah. Begitu juga sebaliknya, semuanya hanya akan menjadi lelah hanya jika tidak ada Allah di dalamnya.
.
Maafkanlah kesalahan-kesalahan orang lain setiap kali akan beranjak tidur. Bersihkan hati, lalu tidurlah dengan lapang tanpa ada kelelahan jiwa yang terasa sulit menjadi lillah.
.
Pun dalam tidur, bawalah Allah di dalamnya.
Semoga apa yang telah kita lakukan satu hari ini akan meraih keberkahan Allah, dunia dan akhirat.
.
Aamiin...
.
(dnu, ditulis sambil nahan mata kriyep-kriyep tapi adek bayi yang udah mau masuk SD belom bisa tidur, 24 Mei 2018, 22.39 WIB)


Thursday, May 24, 2018

Ramadhan #7 - Seru-seruan Sambil Menanti Adzan

Pengalaman menunggu adzan maghrib tiba di bulan ramadhan memang menjadi keasyikan tersendiri. Ada yang senang berjalan-jalan sore sambil membeli makanan ringan di sepanjang jalan, namun ada juga yang senang berkutat dengan pekerjaannya di kantor hingg suara bedug maghrib terdengar. Semua punya cara asyiknya sendiri, dengan anggapan yang sama yaitu perputaran waktu tidak akan terasa begitu lambat.
Sama halnya dengan saya, di hari Ramadhan ke 7 saya ngabuburit di sebuah tempat nan megah luar biasa, di kawasan Jakarta Selatan. Alhamdulillah ya bisa ngabuburit di ruangan yang amat sejuk tapi mampu membuat badan menggigil hahaha... Jarang-jarang nih... biasanya jelang maghrib di kantor atau maksa buka puasa di tengah kemacetan hehe...
Sambil menikmati acara bedah buku seorang Bapak hebat bernama Sofjan Wanandi, saya dan teman-teman nyaris lupa dengan kuatnya rasa lapar. Terlebih saat mendengarkan sambutan dari Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, jelang maghrib itu menjadi amat sendu karena dapat mendengarkan secara live suara merdunya Pak Wakil Presiden. Alhamdulillah, pengalaman yang istimewa, walau saya dan teman-teman duduk di ujung belakang ruangan, dan Pak Jusuf Kalla berada di panggung sisi muka ruangan, yang jadinya saya dan beliau ujung-ujungan, tetap saja hangatnya aura kebapakan beliau sampai ke dalam hati .... ^.^
Bapak Sofjan Wanandi seorang pengusaha yang sempat memimpin Asosiasi Pengusaha Indonesia selama kurang lebih 12 tahun telah memberikan inspirasi bagi kaum muda. Di usia beliau yang sudah diatas kepala 5 tentu bukan hal yang mudah untuk terus berkarya. Tapi tidak dengan Pak Sofjan, ia tetap mengisi hari-harinya dengan sangat berkualitas, dan hingga moment sore kemarin itu entah moment peluncuran buku beliau yang ke berapa. Sepertinya sudah banyak hehe....
Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, begitu juga dengan ngabuburit saya di acara launcing buku Pak Sofjan kemarin. Jadi membayangkan kira-kira di masa tua nanti apakah masih sanggup untuk berkarya dan bermanfaat untuk orang banyak, persis seperti Pak Sofjan.
Begitu juga tentang energi beliau yang masih prima, bicara pun mantap, gerak gerik masih segar, benar-benar menginspirasi. Keramahan beliau juga patut diacungi jempol. Siapalah saya yang tiba-tiba mengulurkan tangan kepada beliau, tapi beliau dengan senyumnya yang sungguh kebapakan ramah menyambut dan menjabat erat tangan saya yang mungil ini wkwkwkw..... Baik sekali Bapak ini.... Karena saya belajar dari pengalaman terdahulu, pernah ada seseorang yang tidak sehebat Pak Sofjan pura-pura tidak lihat saat saya mengajaknya bersalaman, hahaha....
Lagi-lagi sore itu menjadi pengalaman yang menarik bagi saya. Beberapa drama pun terjadi di antara saya dan teman-teman. Ada yang berhalusinasi "wah enak banget ya kalau jadi anaknya Pak Sofjan", ada juga drama tentang "bisik-bisik dalam pengaturan strategi untuk mengambil pangsit goreng sebelum diambil oleh orang lain" hahahha.... Tidak lupa terjadi juga drama perebutan butiran-butiran kurma wkwkwkw.... Apalagi drama tentang "kolak tanpa isi" alias cuma kuahnya saja, turut menjadi bagian dari keseruan menanti adzan.
Setiap orang tentu memiliki cerita serunya sendiri-sendiri di ramadhan kali ini. Semuanya pasti membawa manfaat, tetapi mungkin tidak akan kita sadari saat ini, melainkan di suatu hari nanti.
Begitu juga dengan cerita sore ini, perseteruan manja dengan Bude sang penjual takjil di kantor.
Bude : "Mbak Dewi, ini ada bubur ketan item, mau ndak..?"
Saya : "Saya maunya bubur sumsum Bude...."
Bude : "Ini enak juga lho Mbak... Mau ya...."
Saya : "Ngga ah bude, yang lain aja...."
Bude : "Lho... enak beneran... ya mau ya... santannya dicampur apa dipisah?"
Saya : "Ya udah, dipisah ya Bude..."
Bude : "Mbak Dewi, santan dicampur apa dipisah?"
Saya : "Dipisah mawon Budeeeeee......."
....... hening beberapa saat... Terlihat sang Bude sedang khusyuk membungkus bubur untuk saya.... Tapi beberapa saat kemudian, tampak wajah Bude di tengah-tengah etalase dagangannya sambil berkata agak kencang "Mbak... ini santannya dicampur opo dipisaaahh?"
Saya : "Pisaaaaahhh Budeeeee......"
MasyaAllah...
Hahaha.....
(dnu, ditulis sambil memandangi bubur ketan item bikinan Bude, 24 Mei 2018, 16.33 WIB)


Ramadhan #6 - Bertemu dengan Teman-teman lama adalah Anugerah

Selasa (22/5), Allah SWT mempertemukan saya dengan teman-teman yang sudah lama tidak bersua. Wah senang sekali... ini juga namanya rejeki, karena setiap pertemuan pasti membawa berkahnya sendiri-sendiri.
Bertemunya tidak disengaja, tidak diduga bahkan dinyana haha..., sehingga silaturahmi yang tanpa perencanaan ini terjadi begitu mengharukan hahahaha....
Sambil mengikuti sebuah acara, kami yang sama-sama berpuasa kompak menanti adzan maghrib tiba. Ya iya laaahh.... hahaha....
Begitu adzan maghrib berkumandang, kami lantas menikmati takjil dan sajian makan malam di acara tersebut. Seraya melahap makanan dan minuman kami berbincang tentang masa lalu yang pernah dilalui di kantor yang sama, maupun berbincang tentang masa depan kami masing-masing hahaha....
Sore itu saya belajar, bahwa silaturahmi sungguh benar harus dijaga. Saya juga belajar bahwa menjaga silaturahmi sungguh akan membawa rezeki, buktinya setelah pertemuan tersebut saya berkenalan dengan seseorang yang merupakan teman dari teman saya itu dan berdiskusi tentang pergelaran acara yang menjadi passion saya hahaha... Semoga acaranya kesampaian, aamiin.... Tetapi apapun itu tetap saja semuanya adalah rezeki dan anugerah.
Bertemu dengan teman lama adalah anugerah yang indah, seindah menanti adzan maghrib tiba sepanjang bulan Ramadhan ^.^
(dnu, ditulis sambil mikir lebaran berapa hari lagi ya... hahah...., 22 Mei 2018, 21.15 WIB)


Ramadhan #5 - Belajarlah dengan Caramu, Sebahagiamu

Hari ini (21/5) ngabuburit di kelas, belajar bareng mahasiswa, hingga akhirnya adzan maghrib pun tiba. Anak-anak milenial ini selalu bersemangat saat di kelas, apapun metode pembelajarannya. Presentasi kelompok, presentasi perorangan, ceramah biasa, diskusi, hingga adu ketangkasan maju ke depan kelas untuk uji pengetahuan pribadi.
Kelas sore ini berlangsung seru dan menyenangkan, tanpa terasa 5 menit lagi tiba waktunya berbuka puasa.
Banyak celoteh dari generasi zaman now ini, mulai dari "Bu, pulang cepet ya Bu... kan puassa...". Ada juga yang merajuk "Bu... jangan banyak-banyak ngomong kita ya Bu... haus...", hahaha... Yah begitulah suara-suara manja anak-anak muda berusia kepala dua.
Seiring berjalannya detik demi detik, menit demi menit, hingga jam demi jam akhirnya kami pun terlena pada prose pembelajaran sore ini. Mereka yang tadinya tidak ingin banyak bicara, justru paling ramai membahas materi dan menuliskan jawaban di papan tulis. Selain itu, mereka juga yang tadinya merengek minta pulang cepat akhirnya terhanyut dalam suasana kelas dan kita pun selesai kelas pada jam yang seharusnya. Yah... karena memang mulai dan selesai harus tepat waktu sih hahaha...
Bagi sebagian orang puasa memang berat, apalagi bagi anak-anak hahaha... Tapi... jika kita mengisi waktu diantara imsyak dengan waktu berbuka dengan hal-hal yang positif, berfaedah, seru dan menyenangkan tentu semuanya akan terasa lebih ringan. Demikian pula halnya dengan hari ini, bisa jadi jika tidak diisi dengan aktifitas kegiatan belajar mengajar yang seru dan menegangkan mungkin kami sekelas akan cepat bosan. Bagaimana dapat dikatakan menegangkan? Sederhana saja, mereka harus adu ketangkasan mengumpulkan nilai kuis hari ini dengan cara adu cepat tulis di papan tulis hahahaha....
Hasilnya bagaimana?
Semua semangat meraih nilai.
Semua semangat mencari jawaban terbaik, yang artinya semua semangat mempelajari materi yang diberikan hari ini.
Semua terhanyut dalam suasana belajar.
Akhirnya bagaimana?
Tiba-tiba kumandang adzan maghrib pun terdengar, dan sontak seluruh penghuni kelas mengucap "Alhamdulillaaaahhh.... Buu... buka Bu....." Hahahaha....
Sambil membatalkan puasa, lanjutkan sedikit lagi materi yang tersisa dan berikutnya.... "selamat berbuka puasa gaeessss... see you next week.... !!!"
... dan kelas pun bubar ...
(dnu, ditulis sambil minum es kelapa yang dibeli tadi siang dan udah ngebet banget diminum dari tadi siang hahahaha...., 21 Mei 2018, 21.46 WIB)




Ramadhan #4 - Karena Kejujuran Akan Menyelesaikan Masalah

Hari ini (20/5) sempat menonton sinetron, alhamdulillah mendapat insight positif dari salah satu dialog dalam sinetron tersebut. Lumayan lah sutradara, penyusun naskah atau siapapun tim kreatif yang terlibat dalam penggarapan tontonan tersebut Insya Allah mendapat pahala, karena minimal satu orang dari pemirsanya mendapatkam energi positif atas karya yang telah dibuatnya.

Telah banyak dipahami bersama bahwa saty kebohongan yang diluncurkan maka akan melahirkan kebohongan-kebohongan lainnya yang nyaris tiada akhir. Seseorang yang bersilat lidah tentu tidak ingin kebenaran yang disembunyikannya diketahui oleh orang lain. Berangkat dari hal tersebut maka orang yang berbohong akan mengeluarkan kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Terlihat jelas di sini ya, penyakit berbohong laksana bola saju yang bergulir terua menerus dan akan semakin besar. Akankah suatu permasalahan selesai dengan paparan kebohongan? Untuk sementara waktu bisa jadi iya, tetapi jangan pernah lupa bahwa sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai suatu saat akan tercium juga. Demikian pula dengan si tupai, sepandai-pandainya ia melompat maka akan jatuh jua.

Adalah hakikat kejujuran yang dapat menyelesaikan suatu permasalahan, saat ini dan juga selamanya. Mengapa demikian? Dari sisi orang yang berkata maupun bersikap jujur, tidak ada lagi sesuatu hal yang ia sembunyikan. Dengan keadaan yang demikian tentu ia akan merasa tenang dan nyaman dalam menjalani hari-hari. Tidak ada ketakutan akan sesuatu, maupun kekhawatiran lainnya yang berpotensi menghasilkan masalah baru suatu hari nanti.

Orang yang jujur hidupnya Insya Allah akan tenang. Mengatakan hal yang benar sekalipun itu pahit mutlak lebih baik bermanis-manis ria dalam kebohongan.

Semoga di bulan suci ini kita dapat sama-sama belajar ya, semakin meningkatkan kadar iman dan taqwa. Tidak berbohong untuk hal sekecil apapun, karena tidak pernah ada yang namanya white lie atau berbohong demi kebaikan. Namanya saja sudah bohong, ya jelas tidak ada baik-baiknya, yang benar adalah berkata jujur untuk kebaikan.

Yuk kita selalu berkata benar !
Berani karena benar dan tetap berani untuk mengungkap kebenaran !

(dnu, ditulis sambil duduk sandaran salah selonjoran salah semuanya salah yang benar cuma kejujuran hahahah... entahlah wkwkwkw...., 20 Mei 2018, 19.54 WIB)



Ramadhan 3# - Rumput Tetangga Tidak Selalu Tampak Lebih Hijau

Siang tadi (19/5) sambil menunggu waktu berbuka puasa yang masih 4 jam lagi, iseng-iseng saya jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ketika sampai di kasir untuk membayar suatu barang tiba-tiba terfikir mengenai grafik pekerjaan mereka di bulan Ramdhan ini. Demikian pula saat membeli makanan cepat saji yang dapur restonya ditampakkan kepada pembeli. Lagi-lagi terfikir suasana kerja mereka di bulan suci ini.

Pertama adalah tentang para pekerja di suatu gerai pakaian, beberapa petugas kasir tampak sibuk melayani pembeli dalam hal proses pembayaran. Di sisi lain para pramuniaga juga sibuk melanyani pembeli yang ingin melihat-lihat barang atau mencobanya.

Suasana mall menjelang Hari Raya Idul Fitri memang semakin hari semakin ramai, dan itu berarti kesibukan para pramuniaga pun meningkat. Ini yang saya katakan grafik kesibukan yang angkanya naik bukan kepalang di bulan Ramadhan.

Masyarakat Indonesia memang terbiasa mewujudkan suka citanya menyambut hari kemenangan dengan membeli barang-barang baru untik digunakan saat menerima tamu atau melakukan halal bi halal. Selain karena terbiasa ada juga yang memang telah menjadi kebutuhan yang mau tidak mau memang harus dipenuhi jelang Hari Raya, menyediakan beberapa jenis makanan misalnya. Tidak hanya karena akan kedatangan tamu dan sanak saudara, tetapi juga sebagai persediaan untuk kebutuhan pribadi.

Ke dua, yakni tentang para pekerja di sebuah resto cepat saji. Setelah saya memesan sebuah makanan untuk dibungkus, seorang karyawan resto langsung menyiapkan makanan tersebut dengan cara di panggang beberapa saat. Dapur restonya terbuka, terlihat jelas bagaimana petugas dapur meramu beberapa bahan makanan, hingga menjadi matang dan siap untuk dimakan.

Hal menarik dari kisah resto cepat saji ini adalah mengenai kemungkinan mereka yang berpuasa namun wajib bekerja menyiapkan makanan tidak peduli bulan ramadhan ataupun bulan-bulan lainnya. Tentu mereka tidak boleh tergoda karena mencium aroma masakannya ataupun tergoda karena hanya sekadar melihat wujud makanannya. Rasanya orang dewasa pun bisa saja tergoda makanan di siang hari saat berpuasa, karena setan tidak hanya menggoda anak kecil saja.

Dua contoh tersebutlah yang dapat saya kaitkan dengan sebuah pendapat lalu kemudian saya simpulkan, bahwa rumput tetangga tidak selalu tampak lebih hijau.

Mengapa demikian?

Ketika di pusat-pusat perbelanjaan karyawannya begitu sibuk bekerja, bahkan mustahil jam kerja mereka dikurangi dalam rangka menikmati bulan Ramadhan, justru di beberapa perusahaan lain terjadi sebaliknya. Banyak perusahaan yang memberi kebijakan kepada karyawannya untuk masuk lebih lambat dan pulang lebih cepat di bulan ramadhan. Terlepas dari berbagai alasan yang dimiliki perusahaan, poin penting yang perlu dilihat adalah banyak terdapat diluar sana bidang pekerjaan yang loading pekerjaannya justru meningkat saat ramadhan datang. Kondisi ini memaksa para karyawannya untuk extra effort, sambil berpuasa atau bahkan sambil berbuka puasa, yang artinya saat berbuka puasa pun mereka tidak boleh lama-lama karena konsumen telah menunggu.

Tidak jarang kita melihat "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau", dan tidak sedikit hal-hal yang membuat kita iri pada pekerjaan orang lain. Berdasarkan contoh di atas nyatanya ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa tidak selamanya rumput tetangga tampak lebih hijau.

Sangat jelas adanya kisah ini dapat dikembalikan pada tatanan rezeki. Memang sudah rezekinya kita bekerja di perusahaan saat ini, dan memang sudah rezekinya mereka bekerja di perusahaannya masing-masing. Semua tentu ada positifnya dan ada hal-hal baiknya. Hal penting yang perlu masing-masing dari kita lakukan hanyalah bersyukur atas apa yang terjadi pada diri kita saat ini dan terus ikhtiar agar semakin hari semuanya dapat semakin baik. Kita juga tidak perlu sawang sinawang atau melihat hidup orang lain sepertinya lebih asyik dari hidup kita, karena rumput tetangga tidak melulu lebih hijau dari rumput kita.

Ada saatnya rumput tetangga tampak lebih hijau yang sebenar-benarnya hanya tampak.

(dnu, ditulis sambil nonton Indonesia Border yang kece abis, 19 Mei 2018, 22.29)



Ramdhan #2 - Apalah Saya, Cuma Butiran Debu di Padang Pasir...

Siang ini sambil menunggu berkumandangnya adzan maghrib, dan sambil membayangkan semangkok bubur sumsum dicampur kolak biji salak, saya dan teman-teman biasa bercengkerama tentang beraneka topik bahasan. Entah sedang membahas apa tiba-tiba sampailah pada ucapan dari seorang teman yakni "ah apalah gw, cuma butiran debu di padang pasir... ". Jika tidak keliru, kalimat tersebut dapat diartikan bahwa kita ini bukan orang hebat, hanya orang biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain. Butiran debu itu haluuuusss sekali... ditambah lagi keberadaannya di padang pasir yang isinya di sana pasir semua. Kalimat tersebut mencerminkan seseorang yang keciiiilll sekali dibanding orang lain dalam hal kemampuan.

Ah... rasanya agak kurang elok ya jika kita merendahkan diri terlalu rendah seperti itu. Terbaikdari yang paling terbaik adalah rendah hati, bukan rendah diri. Mengingat hal ini saya lantas teringat kembali pada ujaran seorang guru yang pernah berkata "kadang kala kita perlu lho berbangga hati atas apa yang ada dalam diri kita... ".

Kalimat dari guru tersebut terus terngiang di telinga hingga kini. Menurut saya sangat benar adanya bahwa kita perlu berbangga hati, tentunya dengan tetap adanya batasan-batasan yang membuat kita tidak lantas menjadi jumawa. 

Mengapa kita perlu berbangga hati? 

Karena Allah SWT telah menciptakan manusia, termasuk kita, lengkap dengan kelebihannya masing-masing. Kita dilahirkan ke muka bumi dengan membawa keunikan masing-masing yang tentu saja dapat kita jadikan modal kebaikan dalam menjalani hidup. 

Berhentilah menganggap diri ini adalah butiran debu yang mudah sekali beterbangan ke sana ke mari terlebih lagi jika tertiup angin. Anggaplah kita adalah mutiara-mutiara ciptaan Tuhan yang dibekali kilauan masing-masing dan memiliki nilai keunggulan masing-masing. Berikutnya hanya perlu dilanjutkan dengan berbagai usaha dari kita, agar bagaimana kilauan-kilauan yang sebenarnya telah dibawa sejak lahir dapat nampak ke permukaan dan digunakan untuk jalan kebaikan. Tentunya dengan upaya yang baik nan elok, dan tidak merugikan orang lain. 

Mutiara-mutiara macam kita ini sangat bisa bersinar dengan cara kita sendiri-sendiri. Tiap butiran mutiara tentu memiliki cahayanya sendiri, dan jika cahaya itu tertutup lumpur maka kerjakanlah segenap usaha agar lumpurnya segera sirna lalu hanya kilauan indah saja yang terlihat di sana. 

Berbangga hati dengan batasan itu sah-sah saja, mengapa? Karena perasaan yang baik ini dapat memicu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih semangat lagi dalam menggapai mimpi, apapun bentuknya.

Rendah diri atau minder yang berkepanjangan hanya akan membuat kita terus terjaga dalam kubangan energi negatif. Kita semakin malas berusaha karena menganggap tidak ada kelebihan apapun yang tersemat dalam diri ini. Hidup kita akan begitu-begitu saja karena tidak ada energi positif yang mendorong kita ke arah yang lebih baik. 

Percaya diri itu bukan halu. 
Berbangga hati itu bukan mimpi. 
Semua itu hanya ungkapan syukur kita atas kelebihan yang telah Allah SWT berikan dalam diri dan hidup di dunia ini. 

So, stop katakan "aku cuma debu.... ". 
No! Setiap dari kita adalah mutiara yang hanya perlu bersinar dengan caranya sendiri-sendiri. 

Note : diangkat dari kisah nyata, cerita seru sore bersama Mbak Adisti Hapsari dan Mbak Lintang yang saya gatau FBnya dia apa 😂😂😂

(dnu, ditulis sambil nungguin Pak Edwin pulang kerja - ciyeeehh... Uhuk.... Hahaha..., 18 Mei 2018, 21.04 WIB)


Ramadhan #1 - Karena Rejeki Tidak Melulu Soal Materi

Allah kirimkan teman yang baik, yang beda ayah beda ibu tetapi hangat seperti lahir dari rahim yang sama, juga merupakan rejeki.
Allah berikan tim kerja yang selalu ceria dalam berbagai suasana, itu juga rejeki.
Allah sajikan teh manis hangat, roti bakar dan pisang berbalut meises coklat, tepat waktu tanpa meleset sedikitpun dari waktu berbuka puasa, juga rejeki.
Sore ini saya berencana pulang kerja dengan menggunakan jasa ojek online. Sejak siang hari saya sudah memikirkan bagaimana buka puasanya nanti, kalau masih di jalan tetapi sudah adzan berarti melipir untuk membatalkan puasa terlebih dahulu bersama abang ojek. Hal lainnya, jika menaruh target adzan maghrib sudah tiba di rumah agar berbuka puasanya lebih nyaman, maka si abang ojek harus ngebut tiada terkira. Sepertinya hal ini juga agak susah direalisasikan mengingat perjalanan 22 KM dari kantor ke rumah hampir setiap hari macet-macet manja.
Pada kenyataannya Allah SWT berkehendak lain, sore ini berkesempatan buka puasa bersama teman-teman di kantor dengan sajian roti bakar, kentang goreng dan pisang coklat yang lucu. Berbukanya santai, duduk manis, di ruangan yang sejuk. Tidak tergesa-gesa di jalan yang mengharuskan sekadar minum di tepi jalan raya jika menumpang ojek.
Sudah sejak siang saya galau tentang bagaimana prosesi buka puasa nanti. Sudah berfikiran jelek yakni pasti buka di jalan, pasti jalanan macet, pasti harus ngebut ojeknya, pasti bingung pegangan ojeknya, dan pasti-pasti hal jelek lainnya yang terus berputar di kepala.
Kehendak Allah SWT memang selalu yang terbaik bagi umatnya, dan Allah SWT memang Maha Baik dengan tidak mengabulkan fikiran jelek hambanya. Justru Allah SWT memberikan kenikmatan yang tiada terkira dan melebihi yang hambanya minta.
Selain makanan yang enak, perjalanan pulang pun lancar selancar-lancarnya, padahal naik taksi, yang saya fikir pasti tiada ampun macetnya untuk perjalanan kendaraan roda empat.
Di hari pertama bulan ramadhan ini Allah SWT lagi-lagi meyakinkan umatnya bahwa rejeki tidak melulu soal materi. Begitu juga dengan segala kemudahan yang terjadi di sana sini jelas merupakan sebuah rejeki yang wajib disyukuri.
(dnu, ditulis sambil nunggu sahur hahaha... 17 Mei 2018, 21.55 WIB)


Wednesday, May 9, 2018

Debat Calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat; “Saya belum paham benar Undang-undang...”


Kalimat miris itu terucap dari bibir salah satu calon Wakil Bupati Bandung Barat yang berprofesi sebagai artis, malam tadi dalam acara Debat Calon Bupati dan Wakil Bupati yang ditayangkan televisi swasta I News TV. Sebagai rakyat biasa saya merasa amat sedih jika memiliki pemimpin daerah khususnya yang memimpin wilayah tempat tinggal saya tidak atau belum memahami Undang-undang apapun yang berlaku di negara kita, Republik Indonesia. Kasarnya, akan jadi apa suatu daerah jika dipimpin oleh seseorang yang secara gamblang mengatakan belum paham terhadap suatu Undang-undang.



Tidak hanya memilih kepala negara yang tidak mudah, memilih kepala daerah pun demikian adanya. Terlebih lagi kepala daerah adalah wakil rakyat atau penerus suara yang terbilang paling dekat dengan rakyatnya. Lantas apa jadinya jika pemimpin yang didambakan dapat menjadi penyambung suara rakyat, belum mengerti mengenai peraturan yang berlaku di negara ini, kira-kira apa yang akan beliau lakukan?



Berbakti pada negeri, juga umum menjadi niat baik para calon kepala daerah di Indonesia. Terlebih untuk hal yang satu ini, sudah jelas bahwa bekal pahamnya seluruh peraturan yang berlaku di negeranya wajib dimengerti, dipahami, dihayati dan mampu untuk diaplikasikan. Jika dasarnya saja belum dapat dipahami maka bagaimana selanjutnya para pejabat daerah dapat bekerja? Apa yang akan dikerjakannya?



Inovasi, kerjasama, integritas atau hal-hal sejenis lainnya sangat tidak cukup menjadi bekal perjalanan memimpin suatu daerah tanpa memahami benar peraturan atau Undang-undang yang memayunginya. Bisa-bisa kebijakan yang dibuat atau tindakan yang dilakukannya bertentangan pada Undang-undang dan tidak akan pernah meraih cita-cita daerah yang diusungnya semasa kampanye.



Sebagai warga negara Indonesia, sebagi penikmat acara televisi, dan sebagai calon pemilih dalam pesta demokrasi PILKADA Serentak mendatang, merasa amat sedih dan miris mendengar pernyataan dari salah satu calon wakil bupati yang dengan gamblang mengatakan dirinya belum paham benar terkait Undang-undang yang ditanyakan oleh lawan debat tadi malam. Walaupun bukan penduduk Bandung Barat dan Calom Bupati serta Wakil Bupati tersebut tidak akan menjadi pemimpin daerah tempat tinggal saya untuk saat ini, namun kejadian di televisi malam tadi cukup membuats aya berfikir apakah hanya beliau yang belum paham mengenai suatu Undang-undang atau masih lebih banyak lagi? Bisa jadi, hanya saja tidak secara terang benderang dinyatakan di muka umum.



Lalu apa jadinya suatu negara jika masih banyak pemimpinnya yang belum paham Undang-undang? Hanya bekerja saja tanpa bekal pemahaman peraturan negara rasanya mustahil dapat terealisasi dengan baik. Dilihat dari sisi yang berbeda, apakah calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah merasa cukup dengan saling melengkapi satu sama lain, yang satu paham benar peraturan dan pendampingnya santai saja walaupun tidak paham karena akan ambil bagian dari sisi yang lainnya saja. Dilihat dari kaca mata siapapun, setiap orang yang telah menyatakan siap menjadi pemimpin daerah atau negara ini tentunya wajib mengetahui, memahami, menghayati, mengamalkan, dan menjalankan apa yang telah menjadi peraturan. Hal-hal lain yang dapat dilakukan adalah membuat perbaikan terhadap peraturan tersebut jika memang ada yang perlu disesuaikan untuk kemaslahatan masyarakat.



Sebagai masyarakat awam tentu kita harus pintar-pintar menentukan pilihan kepada tangan siapa pembangunan suatu daerah akan dilabuhkan. Menjadi pemilih yang cermat tentu juga tidak mudah, karena setiap pasangan calon memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, maka di sinilah dibutuhkan kejelian dari masyarakat untuk menjatuhkan hatinya.



Pilihlah yang tepat, yang mampu membawa daerah tempat tinggal kita ke arah yang lebih baik.