Thursday, May 24, 2018

Ramdhan #2 - Apalah Saya, Cuma Butiran Debu di Padang Pasir...

Siang ini sambil menunggu berkumandangnya adzan maghrib, dan sambil membayangkan semangkok bubur sumsum dicampur kolak biji salak, saya dan teman-teman biasa bercengkerama tentang beraneka topik bahasan. Entah sedang membahas apa tiba-tiba sampailah pada ucapan dari seorang teman yakni "ah apalah gw, cuma butiran debu di padang pasir... ". Jika tidak keliru, kalimat tersebut dapat diartikan bahwa kita ini bukan orang hebat, hanya orang biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang lain. Butiran debu itu haluuuusss sekali... ditambah lagi keberadaannya di padang pasir yang isinya di sana pasir semua. Kalimat tersebut mencerminkan seseorang yang keciiiilll sekali dibanding orang lain dalam hal kemampuan.

Ah... rasanya agak kurang elok ya jika kita merendahkan diri terlalu rendah seperti itu. Terbaikdari yang paling terbaik adalah rendah hati, bukan rendah diri. Mengingat hal ini saya lantas teringat kembali pada ujaran seorang guru yang pernah berkata "kadang kala kita perlu lho berbangga hati atas apa yang ada dalam diri kita... ".

Kalimat dari guru tersebut terus terngiang di telinga hingga kini. Menurut saya sangat benar adanya bahwa kita perlu berbangga hati, tentunya dengan tetap adanya batasan-batasan yang membuat kita tidak lantas menjadi jumawa. 

Mengapa kita perlu berbangga hati? 

Karena Allah SWT telah menciptakan manusia, termasuk kita, lengkap dengan kelebihannya masing-masing. Kita dilahirkan ke muka bumi dengan membawa keunikan masing-masing yang tentu saja dapat kita jadikan modal kebaikan dalam menjalani hidup. 

Berhentilah menganggap diri ini adalah butiran debu yang mudah sekali beterbangan ke sana ke mari terlebih lagi jika tertiup angin. Anggaplah kita adalah mutiara-mutiara ciptaan Tuhan yang dibekali kilauan masing-masing dan memiliki nilai keunggulan masing-masing. Berikutnya hanya perlu dilanjutkan dengan berbagai usaha dari kita, agar bagaimana kilauan-kilauan yang sebenarnya telah dibawa sejak lahir dapat nampak ke permukaan dan digunakan untuk jalan kebaikan. Tentunya dengan upaya yang baik nan elok, dan tidak merugikan orang lain. 

Mutiara-mutiara macam kita ini sangat bisa bersinar dengan cara kita sendiri-sendiri. Tiap butiran mutiara tentu memiliki cahayanya sendiri, dan jika cahaya itu tertutup lumpur maka kerjakanlah segenap usaha agar lumpurnya segera sirna lalu hanya kilauan indah saja yang terlihat di sana. 

Berbangga hati dengan batasan itu sah-sah saja, mengapa? Karena perasaan yang baik ini dapat memicu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, yang lebih semangat lagi dalam menggapai mimpi, apapun bentuknya.

Rendah diri atau minder yang berkepanjangan hanya akan membuat kita terus terjaga dalam kubangan energi negatif. Kita semakin malas berusaha karena menganggap tidak ada kelebihan apapun yang tersemat dalam diri ini. Hidup kita akan begitu-begitu saja karena tidak ada energi positif yang mendorong kita ke arah yang lebih baik. 

Percaya diri itu bukan halu. 
Berbangga hati itu bukan mimpi. 
Semua itu hanya ungkapan syukur kita atas kelebihan yang telah Allah SWT berikan dalam diri dan hidup di dunia ini. 

So, stop katakan "aku cuma debu.... ". 
No! Setiap dari kita adalah mutiara yang hanya perlu bersinar dengan caranya sendiri-sendiri. 

Note : diangkat dari kisah nyata, cerita seru sore bersama Mbak Adisti Hapsari dan Mbak Lintang yang saya gatau FBnya dia apa 😂😂😂

(dnu, ditulis sambil nungguin Pak Edwin pulang kerja - ciyeeehh... Uhuk.... Hahaha..., 18 Mei 2018, 21.04 WIB)