Friday, July 20, 2018

Skyworld Indonesia Diskusi Bareng Astronom Dunia dalam Seminar Internasional di Italia


Bertempat di Chianti, Italia pada Rabu - Jumat (11-13/7) lalu, penyedia wahana edukasi astronomi Skyworld Indonesia menjadi salah satu peserta workshop astronomi tingkat international yang bertajuk The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, yang diselenggarakan oleh Observatorio Polifunzionale del Chianti (OPC), Italia. Dengan mengusung tema besar Astrotourism, di sebuah Observatorium yang berdiri di atas bukit perkebunan anggur dan zaitun sejumlah Astronom dan pegiat Astronomi dari berbagai negara berkumpul dan membahas tentang perkembangan serta prospek masa depan dunia astronomi. Salah satu proyeksi masa depan terkait dunia astronomi yang dibahas adalah tentang pengemasan astronomi secara popular dalam industri pariwisata, di mana hal ini dapat menjadi warna baru untuk sisi eduwisata.

Astrotourism atau Wisata Astronomi, yang lebih mudah dipahami sebagai Wisata Kelangitan merupakan salah satu bentuk diversifikasi bidang keastronomian untuk mengenalkan lebih luas lagi mengenai sains dan pengetahuan astronomi kepada publik melalui media yang rekreatif.

Pariwisata Astronomi saat ini berhasil tampil sebagai primadona baru dalam industri pariwisata, namun sangat disayangkan beberapa waktu terakhir bidang pariwisata ini mulai terpapar oleh lompatan budaya milenial yang berbasis sains dan teknologi. Hal ini mengakibatkan para pelaku industri wisata edukasi kelangitan perlu bekerja keras untuk menunjukkan bahwa astronomi juga merupakan bidang yang tidak kalah menarik dan justru memiliki kelebihan yang mendidik. Pandangan ini diungkapkan oleh senior auditor OECD (Badan kerjasama Ekonomi Internasional) Renzo Turatto, sebagai salah satu pembicara dalam workshop tersebut.

Salah satu astronom dari Armenia, Sona Farmanyan turut membagikan pengalamannya dalam mengelola Kompleks Observatorium Byurakan, Claudio Mallamaci, Argentina. Selain itu ia juga menyampaikan rencana acara yang akan digelarnya berkaitan dengan fenomena alam Gerhana Matahari Total di Argentina yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2019 mendatang.

Astronom lainnya yakni Olayinka Fagbemiro yang berasal dari Nigeria turut membagikan pengalamnnya saat menggelar acara wisata astronomi yang meretas permasalahan gender di negerinya. Selain itu, Amelia Ortiz-Gil dari Spanyol juga memaparkan pandanganya dalam hal pentingnya memberi kesempatan yang lebih luas lagi bagi para penyandang disabilitas untuk dapat turut menikmati keseruan wisata astronomi.

Astronom Indonesia Dr. Chatief Kunjaya selaku perwakilan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Ma Chung, Malang, Jawa Timur ini dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan gambaran besarnya mengenai potensi yang ada di Indonesia untuk mengembangkan bidang wisata kelangitan. Ia juga memiliki pandangan bahwa wisata ini mampu berkembang di Indonesia hingga mencapai skala dunia, di mana salah satu modal yang telah dimiliki adalah adanya kompleks Observatorium baru di Gunung Timau, Nusa Tenggara Timur. Untuk lebih memperkuat pemaparan, secara visual grafis juga ditampilkan poster workshop yang berjudul “The Beauty and History of the Southern Hemisphere Sky”. Tampilan ini berbicara tentang keindahan alam, keragaman budaya dan bertebarannya situs-situs arkeologi di Indonesia yang semakin menarik bila diperkaya dengan benang merah astronomi.

Di beberapa negara Eropa terutama Italia yang dikatakan sebagai gudangnya sains astronomi, sejak abad pertengahan telah berkembang sebuah proto-industri astronomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha. Hal ini diungkapkan oleh Tania Johston dari ESO Supernova Jerman, termasuk juga pelaku Industri Kreatif seperti dari Bas Bleu, Provider Komunikasi Visual, dan Stella Errante biro pengelola kunjungan wisata kelangitan ke berbagai penjuru dunia.

Seminar yang berlangsung selama kurang lebih tiga hari ini juga memberi kesempatan kepada peserta baik dari kalangan Astronom maupun praktisi industri wisata dan industri kreatif lainnya untuk berbagi pengalaman. Mulai dari bagaimana mengemas sebuah Star Party dengan pengamatan benda langit malam hari, menggagas wisata napak tilas perjalanan hidup tokoh astronomi dunia seperti Galileo atau Secchi dengan mengunjungi beberapa situs yang terkait, hingga menawarkan wisata arkeo-astronomi yang akan menambah wawasan baru, di mana umumnya wisata ini dikenal sebagai obyek wisata konvensional.

Selain itu, untuk memberikan suasana dan sensasi astro-tourism yang lebih kuat terasa, disela-sela padatnya kegiatan panitia mengajak para peserta menikmati paket liburan astronomi di Chianti dengan mengunjungi pabrik pengolahan anggur Docg, serta melakukan observasi bintang sambil menikmati makan malam di alam terbuka. Sebagai hiburan, dihadirkan pula seorang aktor yang berperan sebagai Galileo Galilei yang bermonolog tentang kisah hidupnya di hadapan para peserta workshop.

Skyworld Indonesia terbilang beruntung dapat mengirimkan perwakilannya untuk mengikuti seminar internasional ini, karena hal ini sejalan dengan visi dan misi penyedia jasa eduwisata astronomi yang terletak di TMII Jakarta Timur ini, yang ingin menjadi salah satu lokasi eduwisata astronomi yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia tetapi juga bagi dunia. Demikian pula dengan adanya kesempatan berada di daerah perbukitan berhawa sejuk yang dikenal sebagai penghasil Anggur Merah Docg serta minyak zaitun terbaik di Eropa ini, merupakan pengalaman yang tidak hanya berkesan namun juga amat berharga.

Menurut Direktur OPC Prof. Emanuele Pace, hasil seminar ini akan dilanjutkan secara teknis keilmiahan dalam kelompok kerja internal di Asosiasi Astronomi Internasional, sementara setiap langkah terapannya harapannya dapat dilakukan oleh setiap pihak yang peduli. Seperti yang dilakukan oleh para astronom di Eropa bersama para pelaku industri wisata, yang begitu serius menggarap astrotourism demi memaksimalkan potensi wisata yang dimilikinya. Sayangnya kondisi ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang sebenarnya begitu memiliki potensi namun terlihat belum terlalu bersemangat melakukan upaya-upaya seperti tersebut.

“Sepertinya kita lebih senang mengurusi begitu banyak hal agar terlihat sibuk meskipun tidak ada yang serius, dari pada terlalu serius untuk mengurusi satu dua hal saja yang orang lain tidak lihat...” pungkas komisaris Skyworld Indonesia Sonny Teguh A. Atmosentono selaku perwakilan Skyworld Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah yang hadir dalam acara berskala internasional tersebut.

(dnu)